5.06.2010

teologi pastoral kaum muda

KAUM MUDA : TEKS
Sebuah upaya pastoral dalam membina kaum muda
(Pendekatan Pastoral Dari bawah)
By fabianus Selatang, Smm
1. Pengantar
KAUM MUDA: TEKS. Judul ini kesannya sangat sederhana dan mungkin membingungkan. Penulis mengusung tema ini berdasarkan kenyataan model pastoral kaum muda katolik dewasa ini juga merupakan kristalisasi diskusi selama perkuliahan Teologi pastoral selama ini. Penulis mengangakat tema sebagai sebuah upaya pastoral dalam membina kaum muda katolik. Metode pendekatan adalah dari bawah. Pendekatan dari bawah yang kami maksudkan adalah penulis berangkat dari kaum muda itu sendiri, penulis pertama-tama melihat kaum muda sebagai “teks”, sebagai subjek dan bukan sebagai obyek kajian. Artinya membiarkan “teks” itu sendiri (kaum muda) yang berbicara.
Dewasa ini, sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa seringkali kita mendengar pembicaraan mengenai kaum muda selalu berangkat dari sudut padang atau perspektif mereka. Kaum muda dijadikan sebagai objek kajian. Kaum muda sebagai sasaran penelitian. Dampaknya, seringkali orang melihat segala ketimpangan dan kekurangan yang terjadi dalam diri kaum muda, seolah-olah itu adalah kesalahan dan kelamahan kaum muda dan langsung dialamatkan kepada mereka. Dengan kata lain, metode pendekatanya adalah pendekatan dari atas. Pendekatan yang demikian cenderung bersifat subjektif.
Pendekatannya bersifat subjektif. Artinya pembina berusaha mencocok-cocokan apa yang ada dalam pikirannya dengan realitas yang dialami oleh kaum muda. Penulis tidak hendak mengatakan bahwa pendekatan ini jelek dan tidak baik, tetapi penulis mencoba melakukan sebuah terobosan baru. Terobosana itu adalah dengan melakukan pendekatan dari bawah, dari kenyataan kaum muda.
Dalam uraian selanjutnya, penulis akan menguraikan beberapa metode yang dapat memberikan pendasaran dan masukan bagi pendampinagan kaum muda. Namun, sebelum masuk pada metode pendekatan ini, penulis akan menguraikan latar belakang permasalah, kaum muda adalah teks, sebuah upaya baru, metode dan pendekatan dan akhirnya penutup.
2. Latar belakang masalah
Dewasa ini, banyak orang mempunyai keprihatinan akan peran kaum muda katolik dalam Gereja. Keprihatinan mereka oleh karena banyak kaum muda yang kurang terlibat dalam kegiatan mengggereja. Banyak kaum muda katolik yang mencoba menghindar dari kegiatan-kegiatan menggereja. Tak jarang kita juga menjumpai hal yang sangat fenomenal dalam masyarakat di mana banyak kaum muda Katolik yang pindah agama.?
Dalam menyikapi fenomena seperti itu, seringkali sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang pribadi atau sudut pandang mereka yang berkecimpung dalam karya pastoral kaum muda. Kita berbicara mengenai kaum muda beradasarkan apa yang tampak secara lahiriah, apa yang ada dalam benak, dan apa yang terkonsep dalam pikiran kita. Apa akibatnya? Kita tidak dapat mengatakan apa-apa mengenai realitas yang dialami oleh kaum muda. Dengan demikian, konsep, rancangan dan argumentasi kita tidak menjawab dan menyentuh sama sekali apa yang dialami oleh kaum muda.
Fenomena lainnya di mana model pembinaan kaum muda dewasa ini lebih bersifat kolektif. Artinya tidak ada perbedaan satu dengan yang lain baik dari segi usia maupun pendidikan, karena batasan usia kaum muda juga mengalami kekaburan. Tida ada teori yang pasti. Ketidakjelasan batasan usia ataupun pendidikan merupakan internal kelemahan karya pastoral kaum muda dan akhirnya membuat kaum muda itu sendiri bingung. Implikasinya sangat jelas terhadap pembinaan kaum muda. Arah dan tujuan yang hendak mau dibawa atas kaum muda menjadi kabur. Hampir pasti metode yang pakai dan diterapkan kepada semua kaum muda sama. Tidak ada perbedaan. Dengan kata lain, Formasi Dasar dalam rangka pembinaan kaum muda belum terlalu kuat dan dalam
Kecenderungan umum dalam rangka pembinaan kaum muda tercermin dalam ungkapan klise ”agar kaum muda dikemudian hari mampu bertanggung jawab atas keberlangsunagn Gereja.” Pernyataan ini seolah-olah kaum muda dalam ke-pemuda-annya belum menunjukan dirinya sebagai bagian dari Gereja dan bertanggung jawab terhadap Gereja. Dengan adanya ungkapan seperti ini, secara tidak langsung memvonis kaum muda bahwa mereka tidak ada artinya apa-apa terhadap Gereja dan tidak memberikan sumbangan yang bernilai bagi keberlangsungan hidup Gereja.
Kenyataan lain bahwa pembinaan kaum muda katolik masih ditangani oleh para frater, bruder, suster dan pastor. Ini sangat berpangaruh terhadap model pembinaan kaum muda. Implikasinya sangat jelas, di mana kegiatannya lebih fokus pada kegiatan rohani semata misalnya ibadat, retret, rekoleksi, camping, piknik dan sebagainya, sedangkan kegiatan yang memasyarakatkan kaum muda kurang mendapat perhatian yang serius. Kegiatan-kegiatan yang bersifat rohani bukan berarti tidak baik, tetapi tidak ada keseimbangan antara yang rohani dan profan (kegiatan kemasyarakatan). Sasaran kegiatan rohani ini agar mereka semakin dekat dengan gereja, kembali kepangkuan Gereja atau mereka berkumpul asal kumpul karena senang dengan teman-teman. Akhirnya mereka tidak melihat manfaat dan arah kegiatan bagi hidup mereka. Apa yang melatarbelakangi semuanya itu?

3. Kaum Muda: Teks
Uraian mengenai mengenai “kaum muda: teks” mungkin sebuah upaya baru dalam pendekatan pastoral terhadap kaum muda katolik. Yang baru bukan mau mengatakan bahwa model pendekatan pastoral terhadap kaum muda sebelumnya atau sebagaimana yang diungkapkan dalam latar belakang masalah di atas tidak sesuai dengan zamannya lagi atau model pendekatan lama. Yang baru maksudnya lebih pada sebuah trobosan dalam rangka membina kaum muda katolik secara utuh. Dikatakan sebagai sebuah trobosan baru, karena selama ini hal ini mungkin luput dari perhatian para agen pastoral terutama mereka yang secara khusus menangani kaum muda katolik.

Siapakah kaum muda? Pertanyaan ini tidak bermaksud untuk memberikan definisi secara definitif terhadap kaum muda apalagi definisi kaum muda berdasarkan usia. Penulis tidak membatasi kaum muda berdasarkan usia, sebab banyak teori yang dapat mengklasifikasi kaum muda. Namun, penulis melihat kaum muda sebagai “teks”.

“Teks” ini mempunyai kompleksitas nilai yang hendak ia perjuangkan dan permasalahan yang dihadapinya. Oleh karena itu, seorang pembina atau agen pastoral harus sungguh-sungguh mengetahui dan mengenal “teks” itu secara mendalam. Mengetahui dan mengenal bukan hanya sebatas hal-hal lahiriah, melainkan lebih pada bagian integral dari dirinya. Mengenal dia apa adanya. Dia yang tidak berdasarkan konsep dalam diri para pembina. Dia yang tidak direduksi oleh segala pengetahuan yang sudah terkonsep dan tersusun rapi dalam pikiran para pembina. Dia yang tidak tereklusif oleh konsep, tetapi dia yang selalu terbuka terhadap kemungkinan. Dia adalah medan yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan itu antara lain; idealisme yang tergolong masih murni, daya juang yang bebas dari perhitungan untung rugi, optimisme dan kegairah hidup, dinamisme dan kreativitas dan sebagainya. Dengan kata lain, dia yang hadir dan tampil sebagaimana adanya. Jadi, mengetahui dan mengenal berarti para pembina mesti berenang dalam lautan dunianya, dalam dirinya, hidupnya, kompleksitas potensi yang ada dalam diri kaum muda.
Oleh karena kaum muda masih memiliki segala kemungkinan, maka yang sangat perlu diperhatikan adalah para pembina kaum muda katolik harus berpikir objektif dan bukan berpikir subjektif. Berpikir subjektif terkesan di sana ada unsur pemaksaan, di mana segalanya mesti sesuai dengan keinginan atau perasaan subjek yang empunya pikiran. Subjek yang dimaksud tidak lain adalah mereka yang membina dan menangani kaum muda katolik. Sebaliknya, berpikir objektif tidak lain adalah berpikir positif. Dengan berpikir secara objektif siapapun yang menangani kaum muda akan mampu memberikan nilai yang tepat kepada seseorang menurut adanya atau sesuai kebenaran yang ada dalam diri orang atau kaum muda tersebut. Di sana subjek yang menangani kaum muda berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan pola pikir dan kondisi subjek yang sebanarnya. Penulis merasa bahwa hal ini masih kurang diperhatikan dalam kerangka membina kaum muda katolik.

4. Sebuah upaya baru
Dengan melihat sekian persoalan yang terungkap dalam latar belakang masalah di atasa maka, pada bagian ini penulis memaparkan beberapa solusi yang terungkap dalam metode dan pendekatan kaum muda yang ditawarkan oleh penulis. Namun, untuk sampai pada motede dan pendekatan yang diupayakan baiklah kita menelisik persoalan itu dan mencari kemungkinan lain untuk dapat menjawab segala persoalan yang tengah terjadi dengan kaum muda katolik dewasa ini.
Di atas telah dikatakan bahwa pembinaan kaum muda masih berfokus pada hal-hal rohani yang diberikan oleh kaum berjubah. Pernyataan ini tidak dapat disangkal kerena memang demikianlah kenyataannya. Oleh karena itu, untuk sampai pada hal ini, maka penulis menelisik situasi pastoral.
Tinjauan mengenai situasi pastoral kaum muda dalam Gereja tidak terlepas dari tiga komponen yang terlibat aktif atau seabagai agen pastoral. Ketiga komponen itu adalah klerus (hierarki), kaum religius (biarawan/i) dan kaum awam. Sebagaimana yang sudah disingaliri bahwa pola pastoral masih lebih menitik beratkam pada kaum religius daripada umat Allah. Tidak mengherankan karena kaum religius dipersiapkan secara khusus menjadi agen pastoral. Ke sanalah mereka dipanggil. Persoalannya ketika pola ini berjalan, terasa dan sangat tampak bahwa segalanya harus diatur dari atas. Semua harus berjalan sesuai pola dan menerapkan secara metah kepada kaum muda.
Kenyataan ini sangat kental dan terasa terhadap arah dan warna pembinaan kaum muda katolik. Oleh karena terlalu menekankan struktur hierarki, maka peran kaum awam kurang mendapat tempat dalam karya pastoral Gereja. Kaum awam hanya sekadar pambantu para biarawan/biarawati dalam kegiatan pastoral. Partisipasi dan keterlibatan kaum awam lebih bersifat sebagai pembantu. Hal yang lebih menyedihkan juga di mana kaum muda tidak diberikan kesempatan untuk memimpin terhadap kaum muda lainnya. Suara-suara mereka kadang tidak didengarkan, bahkan tidak diberi kesempatan dan kepercayaan untuk memegang suatu tanggung jawab tertentu kendati pun ada, hal itu tidak menunjukan bahwa mereka sangat diperlukan. Kaum muda pada umumnya masih dianggap tidak mampu. Dengan kata lain, wajah pastoral Gereja katolik adalah wajah lama dan karenanya banyak kaum muda di tempatkan di pinggiran, tidak melibatkan dirinya secara utuh dan penuh.

Kurang terlibatnya kaum muda dalam hidup menggereja, pindah agama yang terjadi di kalangan kaum muda, bisa jadi orang muda tidak berminat lagi atau tidak simpatik dengan cara pendampingan terhadap kaum muda. Selain itu, mungkin juga karena tidak adanya klasifikasi yang jelas dalam soal pembinan kaum muda. Metode pendekatannya yang mungkin perlu dibenahi. Di bawah ini, penulis menawarkan beberapa metode dan pendekatan:

1. Pendekatan Pribadi
Pendekatan pribadi dipakai karena pribadi manusia adalah khas. Khas dalam arti seorang berbeda dan unik dari orang lain. Oleh karena itu, pendampingan dan pembinaan kaum muda harus juga ditemui dan dibina dalam kekhasan itu sebagai diri yang unik, sehingga pribadi (kaum muda) tersebut berkembang sepenuhnya.
Pendekatan pribadi bertujuan untuk menyapa mereka sebagaimana adanya. Menyapa atas kebutuhan, keinginan, harapan, persoalan, kecenderungannya, psikologinya dan sebagainya. Dalam kaitan dengan uraian menganai kaum muda: teks, itu berarti seorang pendamping perlu melihat, membaca, mengerti “teks” itu sebagaimana adanya dan mengambil langkah selanjutnya. Melihat berarti melihat apa adanya “teks” itu, tanpa dipengaruhi oleh berbagai hal lain, cara pandang, konsep, dan sebagainya. Membaca artinya pembina mesti mengetahui keadaan, situasi, latar belakang keluarga, pendidikan, usia “teks” tanpa harus menginterpretasikan “teks”. Mengerti artinya pembina mesti sungguh-sungguh memahami kebutuhan dari “teks” itu sendiri.
Ketiga point di atas, penting sebagai bahan dasar yang dapat diolah oleh pembina dalam mendampingi kaum muda. Pembina tidak dengan serta merta mendikte kaum muda, tanpa harus terlebih dahulu melihat, membaca dan mengerti “teks”. Pendekatan pribadi akan membawa manfaat.

2. Pendekatan Kelompok
Pendekatan ini merupakan pembinaan pribadi dalam kelompok maupun kelompok sebagai suatu kesatuan yang dinamis. Pendekatan kelompok yang dimaksud mencakup kelompok kecil dan besar.
Pertama kelompok kecil. Dalam kelompok kecil seperti ini, pembinaan kaum muda akan terasa sangat efektif, karena dalam kelompok kecil ini seorang pembina akan mengetahui dengan pasti segala potensi yang ada dalam diri kaum muda.
Kedua, kelompok besar. Dalam kelompok ini, akan membantu setiap pribadi untuk mengenal lingkungan kaum muda dan mengenal satu dengan yang lain. Pengenalan lingkungan ini, bermanfaat untuk saling meneguhkan satu dengan yang lain.

METODE
Metode-metode yang digunakan dalam pembinaan umumnya adalah metode androgogi dengan ciri-ciri eksperiensial dan dialogis partisipatif.

1. Eksperiensial
Ciri yang pertama ini hendak mengajak kaum muda untuk menggumuli pengalaman-pengalaman hidup/iman untuk menemukan sendiri arti dan makna baru bagi perkembangannya. Pergumulan dengan pengalaman pribadi kaum muda membantu mereka untuk bertumbuh dan berkembang sebagai pribdai yang dewasa. Mereka perlu menggali pengalaman, agar dari sana akan terlihat dengan jelas motivasi, kerinduan dan harapan ketika mereka bergabung dengan teman-teman lainya.
Mengapa hal ini penting? Karena dengan mengetahui pengalaman entah yang menyenangkan atau yang menyedihkan, kaum muda dibantu untuk menerima pengalaman itu dan menjadikan pengalaman itu sebagai sesuatu yang berarti baginya serta membantu pembina untuk mengarahkan kaum muda sesuai yang mereka dambakan.

2. Dialogis partisipatif
Dialogis partisipatif artinya kaum muda itu sendiri sebagai subjek, aktor utama dalam proses pembinaan. Kaum muda bukan sebagai objek kajian semata. Kaum muda mesti terlibat dan aktif untuk mengungkapkan dirinya. Jakalau demikian, maka posisi pambina yang membinan kaum muda bukanlah sebagai pribadi yang bertindak seolah-olah antara bawahan dan atasan. Dalam rangka membangun sebuah lingkungan pembinanaan yang sesuai dengan yang diharapkan, maka ada beberapa point yang mesti ditelisik mengenai agen pastoral atau pembina;

a. Pembina sebagai pelayan
Pembinanaan kaum muda sebagai kegiatan pastoral Gereja pada hakikatnya mesti dipahami sebagai pelayanan; suatu keprihatinan aktif yang menyata dalam tindakan yang membebaskan dan menyembuhkan, memekarkan potensi dan pertumbuhan kaum muda dalam menjawab kebutuhan mereka serta memampukan mereka menggumuli pengalaman dan membimbing mereka menuju tujuan hidupnya.
Karya pelayanan pastoral kaum muda dituntut suatu sikap tertentu dari siapa pun yang mau terjun dalam medan pastoral kaum muda. Sikap-sikap itu antara lain sikap sebagai abdi, pelayan yang selalu siap melayani kebutuhan kaum muda dengan menempatkan kaum muda sebagai “teks”, pusat, subjek bina dan bukan sebagai objek yang hanya diperalat untuk kepentingan pembina.

b. Pembinan sebagai pendamping
Baik dalam pendekatan pribadi maupun kelompok, hendaknya selalu diingat bahwa seorang pembina adalah pendamping. Pada poin yang kedua ini, subjek bina atau kaum muda itu sendiri yang akhirnya menentukan dan memilih. Pembina hanya sekedar pendamping. Oleh karena itu, ia hanya bertindak mengarahkan dan menuntun kaum muda. Ia tidak boleh menggiring kaum muda sesuai dengan kemauannya dan arah yang ia inginkan. Pembina tidak memilih dan menentukan serta memutuskan sesuatu, melainkan hanya membantu kaum muda untuk menentukan sikapnya.



5. Penutup
Pertanyaan di atas; apa yang melatarbelakangi semuanya itu? Jawaban yang kita temukan antara lain: mungkin karena cara pendekatan terhadap kaum muda belum memadai. Gereja memang telah menyediakan wadah untuk membina dan membentuk kaum muda, tetapi seringkali hal itu berbenturan dengan kurangnya tenaga yang sungguh membaktikan dirinya dalam karya pastoral kaum muda.
Selain itu, kaderisasi agen pastoral terutama bagi kaum awam masih belum mendapat prioritas yang intensif. Karya pastoral yang hanya diembankan oleh kaum berjubah, kadang dan bahkan tidak menyapa apa-apa persoalan yang dialami kaum muda. Mungkin kerena masih terlalu menekakan pola dan struktur hierarki yang ketat.
Kaum awam, sebagaimana yang diungkapkan di atas hanya sebatas sebagai tokoh pembantu para biarawan atau biarawati. Padahal mereka setiap hari ada, hidup dan mengalami secara nyata keberadaan hidup dalam bermasyarakat, mengetahui dengan pasti apa yang terjadi dalam hidup bermasyarakat, sesungguhnya dapat membantu dalam memberikan pendampingan terhadap kaum muda secara baik. Sayang sekali, peran awam belum mendapat apresiasi positit dalam Gereja dalam rangka membina kaum muda.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang canggih dewasa ini, bukan sesuatu yang mustahil telah menggiring, membawa, dan menghantam eksistensi kaum muda. Tawaran dunia profan lebih menggiurkan daripada hal-hal rohani. Kaum muda seakan-akan didorong dan dipacu untuk saling bersaing dengan sesamanya untuk meninkmati setiap perubahan dan perkembangan tekhnologi. Hiburan-hiburan yang ditawarkan dunia jauh lebih menarik ketimbang yang ditawarkan oleh Gereja. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, model pendekatan karya pastoral kaum muda semakin ditantang dan diuji.
Akhirnya faktor internal kaum muda tidak kurang menjadi penghalang bagi mereka untuk terlibat dan mengambil bagian secara untuh dalam hidup menggereja. Faktor internal itu antara lain; tidak ada kemauan, individualisme yang sangat tinggi, ekslusivisme di mana kaum muda hanya bergaul dan berkumpul hanya dengan teman-temannya sendiri, orang lama, orang yang disenanginya. Ini semua dapat disebut sebagai latar belakang yang membuat mereka mengalami hal-hal seperti yang terungkap dalam latar belakang masalah di atas.
DAFTAR PUSTAKA

BUKU-BUKU
Mukese, John Dami. Menjadi Manusia Kaya Makna. Jakarta: Obor, 2006.

Spektrum. Dokumentasi Dan Informasi KWI. No.2 & 3 Tahun XXXIII, 2005.

Tangdilintin, Philips. Menjajaki Arah dan Bentuk Kaderisasi Pembina Kaum Muda. Seri Pastoral No. 53, Yogyakarta: Pusat Pastoral, 1981.

DATA INTERNET

http://www.mail-archive.com/santothomas_kelapa2@yahoogroups.com/msg00216.html, Akses Rabu, 21-4-2010.

http://books.google.co.id/books?id=RupZ8_wh5VEC&pg=PA9&lpg=PA9&dq=metode+androgogi&source=bl&ots=UMbN-ISIgq&sig=NUgyUKIseg1Botc-Gk2EkNm7wcQ&hl=id&ei=e7rRS96JB8yyrAfDh9SHDg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=12&ved=0CCYQ6AEwCw#v=onepage&q=metode%20androgogi&f=false, Akses Jumaat, 23-4-2010.

http://akudanomk.wordpress.com/2008/04/29/pendekatan-dan-metode-pembinaan-kaum-muda/, Akses Jumaat, 23-4-2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar