5.06.2010

seminar teologi sistematis

GEREJA MUSAFIR SEBAGAI ANTISIPASI
HIDUP ESKATOLOGIS

1. Pengantar

Gereja bukanlah kumpulan ajaran Yesus Kristus, tetapi pribadi-pribadi yang mengimani dan menghayati ajaran Yesus Kristus sebagai Sang Juruselamat manusia. Melalui pembaptisan mereka masuk dalam persekutuan dengan Allah sebagai Bapa. Persekutuan ini dibangun atas dasar yang sama yakni iman akan Yesus. Oleh karena itu, menjadi jelas bahwa Gereja yang merupakan persekutuan pribadi-pribadi yang mengimani dan menghayati ajaran Yesus, dibangun atas dasar yang kokoh yakni Yesus Kristus.
Gereja bukan dibangun oleh Yesus. Gereja lahir dari bentuk persekutuan yang dibangun oleh Yesus dengan para murid-Nya. Persekutuan para murid perdana ini didasarkan pada iman akan Yesus. Para murid perdana hanya melanjutkan apa yang telah diajarkan oleh Yesus. Para rasullah yang pertama membuat Gereja itu bertumbuh. Mereka dapat dikatakan sebagai fondasi Gereja. Hal itu dapat ditelusuri secara historis melalui tulisan-tulisan Perjanjian Baru dan jgua berbagai dokumen yang ada dalam sejarah Gereja. Para Rasul dipilih secara langsung oleh Yesus dan diserahi tugas untuk menggembalakan umat. Mereka disebut sebagai guru dan saksi utama Kristus. Mereka bukan hanya disebut sebagai causae efisiens tetapi juga sebagai causa exemplaris Gereja dan orang Kristen. Keapostolikan merupakan struktur dasar Gereja. Jadi, Gereja sudah terbentuk dalam kelompok para murid perdana ini.
Gereja sekarang merupakan penerus Gereja perdana. Semua yang mengambil bagian dalam persekutuan dengan Allah melalui Yesus Kristus dipanggil kepada keselamatan. Panggilan akan keselamatan ini telah mulai dalam Gereja, sekarang dan saat ini. Jadi, Gereja merupakan wujud nyata di mana karya keselamatan Allah terjadi. Atau dengan kata lain, Gereja merupakan sakramen keselamatan. Namun, keselamatan akan mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Tugas gereja adalah membawa orang pada keselamatan melalui sakremen-sakramen.
Gereja yang sedang berziarah sekarang adalah Gereja yang menuju persatuan dengan Allah. Melalui Gereja kita semua yang telah dibaptis dipanggil dalam Kristus dengan perantaraan rahmat Allah, kita akan disempurnakan dalam kejayaan surgawi (LG no 48). Dengan demikian menjadi jelas bahwa Gereja sekarang sesungguhnya merupakan antisipasi akan hidup eskatologis. Hidup eskatologis artinya hidup dalam persatuan yang penuh dan utuh dengan Allah Bapa.

2. Sifat-sifat Eskatologis Gereja Musafir

a. Gereja sebagai paguyupan

Ada dua hal yang mau dikatakan mengenai Gereja sebagai Paguyupan. Pertama, sehubungan dengan pengalaman akan Allah, Gereja tidak lain selain suatu persekutuan/komunio kaum beriman. Komunio yang dimaksud adalah persekutuan Allah dan Manusia. Dalam kepentingan inilah Konsili Vatikan II mencoba menjelaskan gereja. Gereja adalah sakramen yaitu tanda dan sarana keselamatan (LG No.1). Mengapa poin keselamatan penting untuk dibahas pada bagian ini? Karena keselamatan mengandaikan adanya Komunio dan terjadi manakala ada komunio antara Allah dan manusia. Komunio adalah tujuan universal seluruh sejarah umat manusia, terlaksana secara istimewa di dalam sejarah itu dalam diri Yesus Kristus. Tujuan ini tidak terhenti ketika ada persekutuan antara manusia, tetapi lebih lagi ketika terjadi persekutuan dengan Allah. Yesus Kristus adalah tanda nyata kepenuhan komunio itu. Kepenuhan manusia terjadi dalam komunio dengan Allah. Dapat disimpulkan bahwa manusia yang berjalan mencari kepenuhan hidup menemukan jawabanya dalam persatuan dengan Allah. Komunio berarti kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi Allah.
Kedua, partisipasi antaranggota dalam membangun communio, semua pelayan dalam Gereja pada hakekatnya merupakan partisipasi dan kolaborasi dalam bangunan ‘Tubuh Kristus.’ Comunio antara Allah dengan manusia tidak dapat mengabaikan komunio yang dibangun antar sesama manusia. Keduanya salin berkaitan. Keberkaitannya terletak pada bagaimana komunio yang dibangun antar sesama manusia mengarah pada komunio dengan Allah. Kumunio antar sesama manusia akan mencapai kepenuhannya dalam dan bersama Allah pada akhir zaman. Atau sebaliknya relasi kita dengan Allah mesti mendorong kita untuk berelasi dengan sesama. Itulah hakekat manusia sebagai makluk sosial dan rohani. Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes melihat “landasan yang mengungkapkan martabat manusia terletak dalam panggilannya untuk bersatu dengan Allah.” Alasan mendasarnya karena setiap orang adalah bagian dari tubuh yang satu atau anggota dari Kepala sama yakni Kristus sendiri. Oleh karena itu, Konsili Vatikan II tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa antara Gereja yang kelihatan dan Gereja yang tidak kelihatan harus dipisahkan. Bagi Konsili Vatikan II, keduanya adalah satu dan menampilkan hal yan satu dan sama. Dokumen GC menekankan kembali akan aspek kelihaan dan tak kelihatan dari Gereja. Comunio eklesial mengalir dari kodrat Gereja sebagai suatu realitas yang kompleks sebagai komunita spiritual, sacramental dan yuridis.

b. Gereja sebagai sakramen keselamatan

Gagasan Gereja sebagai sakramen mulai muncul pada abad XIX. Otto Semmelroth membahasa Gereja sebagai sakramen sebab di dalamnya terdapat dua aspek yang esensial yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Ia berpegang pada defenisi yang diberikan oleh Konsili Trente yaitu sakramen sebagai tanda kelihatan yang mengandung dan memberi rahmat yang mana diungkapkan secara langsung oleh tanda itu sendiri. Berbicara mengenai Gereja sebagai sakramen hanya akan dipahami jikalau frame berbikir kita tidak terlepas dari Yesus. Dengan kata lain, berbicara mengenai sakramen berarti pertama-tama kita berbicara mengenai Yesus Kristus. ‘If the Christ is the sacrament of God, the church is for us the sacrament of christ; she represent him, in the full and ancient meaning of therm, she really makes him present. She not only carries on his work, but she is very continuation.’ Jikalau Kristus adalah Sakramen Allah, maka Gereja merupakan sakramen Kristus bagi kita; Gereja mewakili Dia secara penuh dan asli serta membuat Dia sungguh-sungguh hadir. Gereja bukan hanya melanjutkan karya-Nya, tetapi Gereja itu adalah kelanjutan-Nya sendiri.’ Jadi, berbicara mengenai Geraja sebagai sakramen keselamatan hanya dapat dipahami dalam kerangka Kristosentris.
Dewasa ini, konsep Gereja sebagai sakramen seringkali berada pada tataran antropologis. Artinya tidak terlepas dari aspek personal. Aspek personal dari fungsi sakramental maksudnya Gereja sebagai sakramen keselamatan menjadi jaminan keselamatan oleh iman akan Yesus Kristus. Gereja sebagai sakramen tentu bukan hanya mengungkapkan apa yang tidak kelihatan, tetapi juga himbauan untuk melekat pada apa yang ditandai. Yang ditandai tidak lain adalah Yesus, yang oleh pambaptisan kita menjadi anggota dari Tubuh-Nya yang satu. Jadi, Yesus adalan tanda yakni seluruh hidup dan diri-Nya, yang sekaligus menghadirkan Allah sendiri.
Gereja perlu untuk keselamatan. Ia adalah tanda dan juga sarana keselamatan. Ia juga adalah jaminan bagi keselamatan. Namun, paham seperti ini tidak menyempitkan keselamatan hanya pada mereka yang mengimani Yesus. Keselamatan tetap ada dalam oang-orang yang tidak secara langsung mengimani Yesus sebagai juru selamat.
Dalam sakramentalitas Gereja bukan hanya termasuk ketujuh sakramen yang ditetapkan Yesus Kristus, melainkan sebagai Sabda Allah dan struktur-struktur Gereja itu sendiri. Mengapa Allah menghendaki karya keselamatan-Nya mempunyai struktur sakramental? Pertama, karena manusia terdiri atas roh dan zat dan untuk sampai pada dunia roh harus melalui dunia zat. Kedua, manusia adalah mahluk sosial politis yang hidup dan merealisasikan diri dan membangun komunikasi dengan orang lain. Dengan demikian, gagasan sakramentalitas memenuhi tuntutan somatik dan tuntutan sosio-politis. Melalui kategori sakramentalitas ini, sesungguhnya yang mau dikatakan adalah kesatuan dan perbedaan. Kesatuan yang dimaksudkan adalah kesatuan kedua unsur realitas Gereja yakni yang kelihatan dan tidak kelihatan, interior dan eksterior, institusional dan karismatis, kodrati dan adikodrati.
Konsili Vatikan II merumuskan sakramentalitas keselamatan untuk mendefenisikan kodrat dan fungsi-fungsi umat Allah yang baru. Dalam amanat sebelum Ia berpisah dengan para Murid-Nya, Ia mangatakan sesudah Aku pergi dan meninggalkan dunia ini, Aku akan menarik semua orang kepada -Ku. “apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku" (Yoh 12:32). Ia mencurahkan Roh Kudus Kepada murid-muridnya tat kala Ia bangkit dari mati, dan membentuk Tubuh-Nya yaitu Gereja sebagai sakramen universal keselamatan.
Wujud nyata dari komunikasi Allah dengan Manusia, secara nyata hadir dalam diri Yesus. Yesus Kristus adalah aktualisasi keselamatan kita, komunikasi kita dengan Allah. Allah yang menjelma menjadi manusia menunjukkan bahwa Allah ingin mengkumunikasikan Diri-Nya dan mau berkomunikasi dengan manusia.. Yesus adalah sakramen dan menjadi fondasi dari setiap sakramen. Karena itulah maka, Gereja disebut sebagai sakramen. Ia (Gereja) menjadi perpanjangan dari tugas sakramentalis Kristus. Ia tidak dari dirinya sendiri berfungsi sebagai sakramen. Karena itu Gereja bukan hanya obyek keselamatan, melainkan juga subyek, alat, sakramen bagi keselamatan orang lain. Gereja bukan hanya paguyuban orang yang diselamatkan, tetapi juga paguyuban orang yang menyelamatkan.
St. Thomas menekankan tiga fungsi utama sakramen. Pertama, sebagai mengenangkan wafat kristus. Kedua, tanda yang menunjukkan buah dalam diri kita dihasilkan sengsaran-Nya, yaitu rahmat. Ketiga, tanda kenabian yag mewartakan kemulian yang akan datang. Ketiga fungsi ini dijalankan secara unggul oleh Gereja. Dalam hal ini Gereja bertugas untuk memelihara kenangan akan Kristus, meneruskan karya keselamatan yang dimulai oleh Kristus dan mewartakan serta mencicipi kedatangan kerajaan Allah.

c. Gereja Bersifat Kudus (bdk. LG 48)

Sebagaimana “kudus” merupakan salah satu sifat Gereja, ‘kudus’ juga menjadi sifat yang menunjukkan dimensi eskatologis Gereja Musafir. Sejak di dunia ini, Gereja sudah disebut kudus. Gereja berkat pembaptisan telah menjadi kudus, menjadi anak-anak Allah, menolak setan, dan hanya mengimani Kristus. Rahmat pembaptisan inilah yang menguduskan manusia. Dengan demikian, sejak di dunia ini, Gereja telah menjadi kudus dan memang demikian hakekat Gereja adalah kudus.
Akan tetapi Gereja belum mengalami kesempurnaan kekudusan itu. Kesempurnaan ini hanya akan diperoleh jikalau umat manusia mengalami “pembaharuan sempurna dalam Kristus” (LG 48) yaitu ketika kita mati terhadap dosa dan bangkit bersama Kristus. Kesempurnaan kekudusan juga diperoleh berkat “kebersamaan dengan seluruh umat manusia” yang berjalan “menuju tujuan yang sama” sebab kesempurnaan kekudusan itu adalah kesempurnaan Gereja.

d. Gereja sebagai Tanda Harapan Eskatologis

Konsili Vatikan II dalam artikel no. 48 memperlihatkan Gereja Musafir sebagai tanda harapan akan hidup eskatologis. Di manakah letak Gereja Musafir sebagai tanda harapan eskatologis? Dasar harapan umat Allah akan kehidupan eskatologis mempunyai pendasaran Biblis, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru misalnya, Luk 2:25 di mana dikatakan bahwa Simeon “menantikan penghiburan bagi bangsa Israel.” Dalam Perjanjian Lama misalnnya Kitab Yesaya 42:4 “ Pada-Nya bangsa-bangsa akan berharap.” Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pengaharapan menunjukkan kepercayaan pasti pada kesetiaan Allah.
Pengharapan adalah kepercayaan pasti pada kesetiaan Allah, telah mulai dalam Gereja yang sedang berziarah di dunia ini. Melalui Gereja dan dalam Gereja umat Allah yang sedang berziarah di dunia ini, menantikan akan kehidupan yang penuh dalam persatuannya dengan Allah. Pengharapan ini bukanlah sebuah pengharapan yang sia-sia, sebab Yesus sendiri telah berjanji untuk memberikan dan menyediakan tempat bagi umat-Nya. Jadi, dasar pengharapan umat Allah adalah Yesus sendiri.
Gereja Musafir sesungguhnya telah menghadirkan kehidupan eskatologis. Kehidupan eskatologis itu, hadir dalam dan melalui diri Yesus serta karya-Nya. Ketika Yesus kembali ke pangkuan Bapa-Nya, karya keselamatan yang dibawa-Nya diteruskan oleh Roh Kudus dan melalui Roh Kudus diteruskan oleh para murid-Nya dan melalui para murid-Nya lahirlah Geraja untuk meneruskan karya keselamatan itu. Umat Allah yang percaya pada Kristus dipanggil untuk bersatu dengan-Nya melalui Geraja. Persekutuan umat Allah dalam Gereja sekaligus merupakan antisipasi akan persekutuan penuh pada akhir zaman. Dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal-lah kepenuhan persekutuan umat Allah yang sedang berziarah di dunia ini.
Gereja Musafir adalah Gereja yang sedang berjuang. Kata “berjuang” mau menunjukkan bahwa Gereja Musafir belum sempurna, sehingga ia harus berjuang untuk sempurna. Kesempurnaan ini hanya mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Selama perjuangannya di dunia ini, Gereja Musafir juga menantikan penuh pengharapan akan kehidupan eskatologis. Namun, dalam situasi pengaharapan ini, Geraja Musafir oleh Roh Kudus yang dicurahkan ke atas Geraja merupakan tanda bahwa keselamatan telah terjadi dan kehidupan akhir zaman sudah mulai terlaksana di sini dan saat ini.

3. Letak Antisipasi Geraja Musafir bagi Hidup Eskatologis

Gereja Musafir sebagai antisipasi akan kehidupan eskatologis. Meskipun, keselamatan telah mulai dalam Gereja dan melalui Gereja Keselamatan Allah menjadi nyata, tetapi pada saat yang sama Gereja Musafir mengharapkan kehadiran putera-puterinya yang sesungguhnya. Gereja Musafir digambarkan seperti wanita yang menderita sakit bersalin dan penuh dengan dosa. Sebagaimana wanita melahirkan anak-anaknya, demikian juga Gereja setiap kali melahirkan putera-puteri Allah, tetapi karena ditekan oleh berbagai pencobaan dan derita, Gereja menderita sakit dan juga atas ulah tingkahlaku umatnya yang tidak setia pada Allah dan menjauh dari Allah. Oleh karena itu, Kristus datang untuk membebaskan dan mengangkat kembali anak-anak-Nya dalam kemuliaan-Nya dan mempersatukan mereka kembali dalam ikatan cinta-Nya yang mesra. Dalam situasi seperti ini, Gereja Musafir memberikan pengharapan bahwa akan tiba saatnya di mana umat Allah yang baru melihat dunia dan zaman baru. Dunia dan zaman baru ini tidak lain adalah persatuan dengan Allah secara nyata dalam kemuliaan-Nya melalui Kristus Yesus.
“Uniting ourselves with Christ, we receive divine grace which gives human nature strength for victory over sin and death, and the Lord Jesus Christ has shown people the way to victory over sin by His teaching, and he grants them eternal life, making them partakers of His eternal kingdom by His Resurrection. In order to receive that divine grace from Him the closest possible contact with Him is necessary.”
Gereja Musafir “memberikan kesaksian” akan hidup eskatologis. Hidup eskatologis sudah mulai saat ini dan hidup Gereja sedang mencicipi kehidupan eskatologis. Kesaksian Gereja akan kehidupan eskatologis tampak jelas dalam persekutuan dan persatuannya dengan Umat Allah. Persatuan dan persekutuan ini mengambil bentuk dasar pada persekutuan Allah Tritunggal. Persekutuan dan persatuan ini akan mencapai kepenuhanya dalam persatuan dengan Alla Tritunggal dalam kemulian-Nya. Jadi, melalui dan dalam persekutuan dan persatuan antar sesama, Gereja menunjukkan kesaksian akan persatuan dengan Allah Tritunggal dalam kehidupan eskatologis.

4. Hubungan Gereja Musafir dan Hidup Eskatologis

Berbicara mengenai hubungan antara Gereja Musafir dan hidup Eskatologis mengandaikan adanya persekutuan. Persekutuan ini dibangun atas dasar yang sama yakni Yesus. Baik Gereja Musafir maupun hidup Eskatologis tetap bersatu dalam Kristus. Hubungan keduanya bertolak dari hidup dan karya Yesus. Seluruh pewartaan dan pribadi-Nya menampakan kerajaan Allah. Namun, Kerajaan Allah itu secara jelas dalam kehadiran nyata Yesus di dunia ini. Konsili mengatakan: “Namun pada tempat pertama, Kerajaan Allah dinampakan dalam pribadi Kristus sendiri, Putera Allah dan Putera Manusia yang datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi orang banyak” (Mrk 10:45).
Gereja dengan dilengkapi Roh Kudus mewartakan dan meneruskan Kerajaan Allah ini kepada seluruh bangsa. Benih kerajaan Allah sesungguhnya sudah mulai tumbuh di dunia dan Gereja tetap mendambakan kesempurnaanya dalam persatuan dengan Allah. Gereja dan Kerajaan Allah keduanya saling berhubungan. Dalam konteks inilah kita dapat memahani sifat eskatologis dari Gereja Musafir.
Hubungan keduanya terletak pada hal ini bahwa di samping Gereja menantikan kedatangan Kerajaan Allah (zaman eskatologis) berkat karya Yesus, Gereja juga hasil karya Penyelamatan Yesus dan di dalamnya umat Allah akan menikmati keselamatan melalui tanda. Tanda yang dimaksudkan di sini adalah bahwa Gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan bagi manusia.Gereja merupakan sarana keselamatan dan melaluinya Allah menyampaikan keselamatan itu kepada dunia. Jadi, kerajaan Allah (hidup eskatologis) sudah mulai dicicipi secara eksplisit dalam Gereja dan melalui Gereja kerajaan Allah diwartakan keseluruh dunia.
Hubungan keduanya secara konkret dapat kita lihat bagaimana relasi orang yang masih hidup dengan orang yang telah meninggal dunia. Meskipun, berbeda dalam cara ada baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, tetapi keduanya satu dalam “satu Tubuh” yakni “Tubuh Kristus sendiri.” Who or what is the body of Christ? The body of Christ is the Church, made up of all those who have accepted Jesus Christ as their personal Savior. Each Christian, then, is a part of the body of Christ. Letak kesatuan hubungan keduanya antara lain; Pertama, Gereja disatukan dalam ikatan cinta yang sama kepada Allah. Kedua, Gereja diikat dalam dan oleh Roh kudus sehingga sama-sama menjadi milik Kristus. Ketiga Gereja disatukan karena terjalin komunikasi kekayaan rohani.

5. Relevansinya dalam hidup sekarang

Hidup umat manusia zaman sekarang ditantang oleh perkembagan zaman. Tantangan zaman yang begitu dahsyat seringkali menguncangkan iman. Iman bertaruh dengan segala tawaran dunia. Masalah yang melilit kehidupan manusia begitu kompleks. Di tengah pergolakan zaman dan persoalan yang begitu rumit, masihkah Gereja memberikan harapan akan kehidupan yang bahagia di akhir zaman? Apakah Gereja dapat menjawabi segala persoalan umat Allah?
Menanggapai segala persoalan dan pertanyaan di atas sesungguhnya Gereja lewat sabda Allah yang diwartakannya memberikan kesaksian dan harapan akan umat manusia yang terombang-ambing oleh zaman. Surat rasul Paulus kepada jemaat di Roma, menjadi dasar yang kuat bagi Gereja untuk memberikan kesaksian akan kehidupan eskatologis. “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18).
Kata-kata St. Paulus di atas sungguh menyentuh persoalan dan dapat menjawab segala kerisauan umat manusia dewasa ini. Dalam ketakberdayaan dan kekerdilan hidup baik secara jasmani maupun secara rohani, pesan St. Pualus di atas dapat menghantar dan memberikan pengharapan kepada umat, bahwa ternyata pencobaan, penderitaan, dukacita dan sebagainya, tidak sebanding dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia yang tetap setia kepada-Nya. Semua yang dialami di dunia ini, akan diubah menjadi sukacita yang besar dalam surga. Pada poin ini, Gereja sesungguhnya telah memberikan sinar dan cahaya kepada dunia, bahwa akan datang saatnya di mana Anak Manusia (Yesus Kristus) memberikan tempat yang layak dan bahagia dalam kemuliaan-Nya bersama Bapa-Nya.

6. Penutup

Gereja Musafir atau yang sedang berjalan dan berjuang di dunia, ini menjadi tanda dan harapan akan kehidupan eskatologis. Gereja disebut sebagai tanda akan kehidupan eskatologi, karena Gereja memperlihatkan sekaligus Gereja yang kelihatan dan Gereja yang tak kelihatan. Gereja yang kelihatan adalah Gereja yang Musafir yang dalam peziarahannya di dunia telah mencicipi akan kehidupan eskatologis. Sedangkan Gereja yang tak kelihatan menunjuk pada Gereja eskatologis atau pada hidup eskatologis. Gereja yang kelihatan dan Gereja tak kelihatan meskipun secara lahiriah terpisah, akan tetapi mempunyai ikatan dan relasi. Ikatan dan relasi itu tampak dalam doa-doa baik dari mereka yang masih hidup kepada mereka yang sudah mengalami kebahagian dalam Surga, atau yang masih berada dalam api penyician maupun doa dari mereka yang sudah mengalami kebahagian dalam surga bagi yang masih berziarah di dunia ini. Gereja disebut sebagai tanda harapan eskatologis karena dalam tubuh Gereja itu sendiri sadar akan dirinya bahwa ia belum sempurna sehingga ia selalu berharap untuk mencapai kesempurnaan. Kata “harapan” juga mau menunjukkan bahwa umat Allah sangat menantikan kebahagian, setelah melewati dan beralih dari dunia ini yang penuh dengan dosa, ketidaksetiaan dan himpitan zaman.
Gereja Musafir sesungguhnya telah mengantisipasi semuanya itu dalam persekutuan yang nyata dalam kehidupan sekarang. Gereja melalui sakramen-sakramen ingin membawa umat Allah untuk bersatu secara penuh dengan Allah mulai saat ini hingga pada kepenuhannya yakni dalam surga bersama Bapa, Putera dan Roh Kudus.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU-BUKU

Dulles, Avery. Models of the Church. New York: Doubleday, 1974.

Kirchberger, G., Gereja Yesus Kristus Sakramen Roh Kudus. Ende: Nusa Indah, 1991.

Riyanto, Armada (ed.). Membangun Gereja dari Konteks.Malang: Dioma, 2004.

Syukur Dister, Nico. Teologi Sistematika 2. Yogyakarta: Kanisius, 2004.


DOKUMEN GEREJA

Hardawiryana, R., Dokumen Konisli Vatikan II. Jakarta: Obor, 1993.

Paulus II, Yohanes. Gereja Di Asia diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2000.

INTERNET

http://www.allaboutgod.com/body-of-christ.htm, diakses Selasa, 3 oktober 2009.

http://www.orthodoxinfo.com/general/stjohn_church.aspx, diakses Selasa, 3 Oktober 2009.

http://books.google.co.id/books?id=PnzxgXZ48WsC&pg=PA106&lpg=PA106&dq=gereja+sebagai+sakramen+menurut+Otto+Semmelroth&source=bl&ots=UUDCDhoBLF&sig=DypVQXVvyQqqpiHdCdZDTe97LaU&hl=id&ei=1kz1StGhIMbakAXLu6WrAw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&ved=0CA4Q6AEwAw#v=onepage&q=gereja%20sebagai%20sakramen%20menurut%20Otto%20Semmelroth&f=false, diakses Sabtu, 7 November 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar