5.06.2010

seminar teologi sistematis

UNISITAS DAN UNIVERSALITAS KESELAMATAN YESUS DALAM
KONTEKS PLURALITAS AGAMA DI INDONESIA

1. Pendahuluan

Gereja Katolik adalah gereja yang berasal dari Yesus. Artinya gereja katolik mempunyai dasar dalam apa yang disebut komunitas awali, komunitas para rasul. Yesuslah yang membentuk para rasul sebagai batu dasar bagi terbentuknya komunitas awali. Yesus menjelaskan maksud kedatangan-Nya ke dunia di hadapan para rasul dan mewartakan Kerajaan Allah. Para rasul inilah sebagai penerus untuk mewartakan kerajaan Allah yang dibawa oleh Yesus. Komunitas awali ini diyakini sebagai cikal bakal lahirnya gereja sekarang. Oleh karena itu, Gereja merupakan “locus” di mana kerajaan Allah, kerajaan keselamatan menjadi nyata. Gereja katolik sekarang melanjutkan dan meneruskan misi Yesus serta menyerukan bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan semua orang.
Persoalan yang muncul adalah bagaimana konsep keselamatan dalam agama Katolik diterima dan diakui oleh orang-orang yang beragama lain. Semua agama, baik yang mati maupun yang hidup, yang kuno maupun modern, yang teistik maupun non-teistik, tentu mempunyai dasar iman dan keyakinannya sendiri dan juga mempunyai kebenaran iman yang sifatnya mutlak. Terlepas apakah klaim ini valid atau tidak, rasional atau irasional. Jikalau demikian, masih relevankah konsep keselamatan universal yang diajarkan oleh Yesus Kristus dalam agama Katolik di tengah pluralisme agama?
Dalam konteks negara indonesia yang di dalamnya terdapat beberapa agama, pertanyaan di atas pantas untuk diangkat dan dicuatkan kepermukaan. Oleh karena kepentingan inilah, maka penulis mencoba mengangkat tema: “ Unisitas dan Universal keselamatan Yesus dalam konteks pluralitas agama di Indonesia.”

2. Unisitas dan Universal Keselamatan dalam Yesus

Dalam agama katolik adalah sangat jelas konsep keselamatan yang diajarkan oleh Yesus. Konsep kesemalatan ini mempunyai pendasaran Biblis yang kuat dan kokoh. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Bdk. Mrk 16:15-16). Misi universal Gereja lahir dari perintah Yesus ini. Yesus datang untuk menyelamatkan semua orang. Gereja katolik mempunyai dasar yang kuat akan corak pewartaannya mengenai keselamatan. Dasar yang kuat akan pewartaannya dapat ditemukan dalam pokok-pokok isi fundamental imat Kristiani yakni rumusan Credo.
Dari teks di atas sebetulnya terkandung di dalamnya tiga kebajikan teologis dalam agama Katolik yakni iman, harap dan kasih. Ketiga kebajikan teologis di atas mau melengkapi manusia bagi dialog religius dengan Allah. Karena itu, manusia tidak bisa dibenarkan dan diselamatkan tanpa kebajikan iman, harap dan kasih.

a. Yesus Kristus, Allah-manusia yang menyelamatkan

Gereja Katolik mengakui dan mengimani bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Melalui penjelmaan menjadi manusia, Yesus mengambil rupa kemanusiawian manusia. Dia adalah Pribadi manusia yang otentik. Ia mengalami dan merasakan apa yang dialami dan dirasakan oleh manusia. Yesus yang diwartakan oleh gereja Katolik adalah Yesus yang mengajar dan berjalan keliling dari dese ke desa dan dari kota ke kota. Yesus yang diakui ini adalah satu-satunya penyelamat bagi manusia.
Karya penyelamatan Yesus bersumber pada persekutuan keallahan dan membuka jalan bagi siap saja yang mengimani Dia untuk memasuki kemesraan persekutuan dengan Allah Tritunggal. Persekutuan ini telah dimulai di dunia melalui Yesus dan Keselamatan dari Allah itu pertama-tama direalisasikan dalam realitas dunia dan realitas sejarah. Lalu bagaimana dengan konsep keselamatan dalam Yesus? Apakah dengan demikian Gereja dan agama dilihat sebagai sarana keselamatan? Agama dan gereja bukanlah keselamatan itu sendiri, melainkan sakramen dari keselamatan yang direalisasikan oleh Allah dalam dunia ciptaan ini melalui manusia dalam konteks hidup tertentu dan terbatas. Gereja adalah tanda. Tanda penaman eksplisit dan pemenuhan tertinggi dari keselamatan. Gereja hidup dengan berakar dalam keselamatan yang dilaksanakan Allah. Dengan demikian, pewartaan gereja mengenai keselamatan yang dibawa oleh Yesus, memiliki dasar yang kuat pada ajaran Yesus sendiri.

b. Sifat unisitas dan universal keselamatan dalam Yesus

Yesus adalah Putera kekal yang berasal dari Bapa. Dalam Dialah segala harapan mencapai kepenuhan. Ia sudah ada sebelum dunia dijadikan dan seluruh alam ciptaan mencapai kepenuhan dalam Dia. Yesus yang diwartakan oleh Gereja sekarang adalah kepenuhan alam ciptaan, seluruh sejarah. Para bapa sinode mengatakan bahwa Yesuslah satus-satunya perantara universal. Persoalannya, agama lain tidak mengimani Yesus. Bagaimana mungkin Yesus sebagai satu-satunya perantara universal? Bagaimana konsep keselamatan dalam agama Katolik diterima dan diakui oleh orang-orang yang beragama lain? Ternyata pertanyaan-pertanyaan di atas mendapat jawabannya bahwa bagi mereka yang tidak secara eksplisit menyatakan iman akan Dia sebagai Sang penyelamat, keselamatan turun sebagai rahmat dari Yesus Kristus melalui komunikasi Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menaburkan ‘benih-benih sabda’ yang hadir dalam pelbagai adat istiadat dan kebudayaan, sementara mempersiapkan mereka demi kematangan sepenuhnya dalam Kristus. Jadi letak universalitas keselamatan Yesus sebagai kebenaran iman Katolik, bahwa kehendak penyelamatan universal Allah yang Satu dan Tritunggal disajikan dan dicapai sekali untuk selamanya dalam misteri inkarnasi, wafat dan kebangkitan Putera Allah.
Unisitas karya keselamatan Yesus bersumber pada persekutuan keallahan, pada hidup dan karya Tritunggal. Persekutuan keallahan ini membuka jalan bagi orang yang beragama lain untuk masuk dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal. Dengan mengambil kodrat manusia dan menderita sengsara dan wafat di salib, Yesus ingin merebut manusia untuk diselamatkan. Di sinilah sangat tampak perwujudan rencana Allah, sebab Dia datang untuk melaksanakan rencana Bapa-Nya dan untuk menyelamatkan semua manusia. Ini hanya tercapai dalam persatuan dan persekutuan-Nya dengan Allah Tritunggal. Jadi, rencana karya keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus tidak terlepas dari rencana Allah Tritunggal dan hanya dalam persatuan inilah kita dapat melihat unisitas karya keselamatan Yesus bagi agama-agama lain.

3. Pluralitas agama

Sebelum masuk dalam pembahasan mengenai pluralitas agama, penulis mencoba melihat paham Pluralisme agama. Sifat unisitas dan universal keselamatan Yesus hanya bisa dipahami dalam paham pluralisme. Pluralisme merupakan istilah ekuivok artinya menunjuk pada kesuburan ajaran katolik kita yang dengan memelihara identitas isi yang tulus dan mendalam dan tetap setia pada realitas yang univok, pada satu iman yang dibicarakan rasul Paulus dengan amat jelas dan penuh wibawa. Menurut Smith, pluralisme agama merupakan tahapan baru yang sedang dialami pengalaman dunia menyangkut agama.
Pluralisme agama secara mudah adalah istilah bagi hubungan-hubungan damai antara agama atau pluralisme agama menggambarkan pandangan bahwa agama seseorang bukanlah satu-satunya dan secara eksklusif menjadi sumber kebenaran, dan karenanya pluralisme agama meyakini bahwa kebenaran itu tersebar di agama-agama yang lain. Jadi, paham Pluralisme agama mempunyai makna yang luas. Makna yang luas itu berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda bahwa agama seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama-agama lain pun dapat ditemukan, setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan nilai-nilai yang benar. Jadi, berbicara mengenai pluralitas agama sesungguhnya kita berbicara mengenai penerimaan konsep kebenaran dalam agama-agama lain. Kebenaran suatu agama tidak dapat menjadi standar nilai iman bagi agama lain. Sifat unisitas dan universalitas keselamatan Yesus berada pada poin yakni bagaimana kebenaran iman ini didialogkan dengan agama-agama lain.
Di samping paham pluralisme agama, muncul pula paham relativisme. Aliran ini berpandangan bahwa kebenaran itu relatif, tergantung siapa yang melihatnya. Dalam kaitan dengan konsep keselamatan dalam Yesus yang sifatnya unisitas dan universal, sesungguhnya keselamatan itu sifatnya relatif. Bahaya yang bakal muncul dalam paham seperti ini ialah apa yang disebut sebagai kebenaran suatu agama hanya ditentukan oleh cara pandang orang. Itu berarti dalam pandangan ini mau mereduksi konsep kebenaran menjadi sifatnya pribadi. Aliran ini sangat tampak dalam era-postmodernisme dan cukup populer di kalangan orang yang mengaut aliran relativisme. Masing-masing agama benar menurut penganutnya-komunitasnya. Kita tidak berhak menghakimi iman orang lain. Akhirnya, kita selayaknya berkata ”agamamu benar menurutmu, agamaku benar menurutku. Kita sama-sama benar.” inilah persoalannya. Persoalan ini, sangat menggugah hati dan iman kita. Gema keselamatan yang diwartakan oleh Yesus yang sifatnya universal, lagi-lagi dipertanyakan.

4. Relevansi sifat Unisitas dan Universalitas Keselamatan dalam Yesus

Bertitik tolak dari pandangan pluralisme dan relativisme di atas, maka baiklah kita melihat dan menggali secara mendalam di manakah persis sumbangan konsep keselamatan dalam agama Katolik bagi agama-agama lain? Masih relevankah konsep keselamatan katolik dalam konteks pluralitas agama di indonesia? Di manakah letak keuniversalitasan keselamatan Yesus bagi agama-agama yang lain?
Munculnya pertanyaan di atas sesungguhnya menghantar kita untuk mengungkapkan iman kita sesuai dengan konteks zaman. Yesus dalam hidup-Nya mewartakan kebenaran Allah, bukan hanya bagi orang Yahudi, tetapi juga orang bukan Yahudi yang percaya pada Yesus. Konteks kehidupan umat manusia yang dihadapi-Nya sangatlah kompleks. Dalam kekompleksitas umat manusia inilah Yesus mewartakan kebenaran Allah. Itu berarti keselamatan itu ditawarkan kepada semua orang. Yesus sendiri bersabda: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Sabda-Nya tentu disampaikan sesuai dengan konteks pada saat itu. Jadi, pewartaan Gereja katolik mengenai keuniversalitas keselamatan dalam Yesus, tidak bisa tidak kita harus berangkat dari realitas. Realitas kekinian yakni keberadaan agama-agama lain.
Di bawah ini ada beberapa tokoh yang mencoba melihat sumbangan konsep keselamatan Yesus yang sifatnya unisitas dan universal bagi dunia dewasa ini. Pertama; Rahner berpendapat bahwa penganut agama lain mungkin menemukan karunia Yesus melalui agama mereka sendiri tanpa harus masuk menjadi penganut Kristen. Inilah yang oleh Rahner kemudian dikenal sebagai orang Kristen Anonim (anonymous Christian). Yesus, dalam pandangan Rahner masihlah menjadi norma di mana kebenaran berada dan jalan di mana keselamatan dapat diperoleh. Akan tetapi, orang tidak harus secara eksplisit masuk menjadi penganut agama Kristen agar mendapatkan kebenaran dan memperoleh keselamatan itu. Oleh karena itu, Rahner mengatakan bahwa agama lain adalah sebenarnya bentuk implisit dari agama yang kita anut.
Kedua, John Harwood Hick mengatakan bahwa semua agama sesungguhnya merepresentasikan banyak jalan menuju satu realitas tertinggi dan tunggal (Tuhan) yang membawa kebenaran dan keselamatan. Dari pernyataannya ini menjadi jelas bahwa tidak ada ruang bagi agama manapun untuk mengatakan bahwa agama mereka yang benar dan kebenaran dalam agamanya juga dapat berlaku bagi agama lain. Realitas tertinggi dan tunggal itu dicari oleh semua agama. Maka, jalan dialog sangat diharapkan di sini. Dialog yang dimaksudkan bukan menggantikan apa yang ada dalam agama katolik dengan agama lain, melainkan lebih tepat untuk mendampingi ke arah misteri kesatuan. “Oleh karena itu semua orang yang diselamatkan, kendati melalui berbagai cara, ikutserta menghayati satu misteri keselamatan dalam Yesus Kristus melalui Roh-Nya.” Berbicara mengenai misteri keselamatan berarti kita berbicara pada ranah iman. Smith mencoba dengan menjabarkan iman akan Yesus. Iman akan Yesus berakar dalam Injil. Ia mencoba mengangkat dan memberikan contoh pada bangsa Israel. “Nowhere in Israel have I found such faith.” Smith meminta kita untuk melihat Yesus dan para pengikutnya. Oleh karena itu, iman menurut dia adalah kesatuan dan sikap dasar manusia.
Pernyataan Rahner dan John Harwood Hick di atas senada dengan pernyataan Konsili Vatikan II dalam dokumen Dominus Iesus. Di dalam dokumen ini dinyatakan bahwa:
“Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat dan tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah dan ajaran-ajaran yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran yang menerangi semua orang.”

Sumbangan yang paling nyata mengenai pernyataan bahwa Yesus adalah satu-satunya penyelamat, ini dapat dilihat bagaimana keterlibatan gereja dalam masalah-masalah konkret dewasa ini. Nilai universalitas keselamatan Yesus, terungkap dalam keberpihakkan gereja dalam masalah keadilan, kebebasan manusia sebagai citra Allah, solidaritas kepada yang miskin dan menderita, cinta kasih kepada sesama. Ini semua menemukan kepenuhanya dalam Yesus. Konsili vatikan II mengatakan:
“kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada satu pun yang sungguh manusiawi yang tak bergema di hati mereka.”

Selanjutnya, Konsili Vatikan II mengajarkan dalam Konstitusi Lumen Gentium, bahwa:
“di luar geraja Katolik itu ada terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran”, dan bahwa “mereka yang bukan karena kesalahan sendiri tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati yang jujur mencari Allah serta-karena terdorong oleh rahmat- dengan perbuatanya berusaha memenuhi kehendak Allah yang dikenal karena suara hati, bahwa mereka itu dapat memperoleh keselamatan abadi.

Dari argumentasi yang dikemukakan oleh Konsili Vatikan II di atas, menjadi jelas bahwa keselamatan Yesus dalam agama katolik tidak bersifat mutlak. Meskipun demikian, Gereja katolik masih terbuka terhadap semua agama untuk melihat kebanaran iman yang ada dalam masing-masing agama. Keikutsertaan umat lain dalam keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus terletak pada kesetiaan mereka untuk mencari Allah dan memenuhi kehendak-Nya dengan jujur. Oleh karena itu, sifat unisitas dan universal keselamatan Yesus dalam agama katolik tidak bertentangan dengan konsep Pluralisme agama, karena dalam pluralisme tetap mengakui bahwa di setiap agama mempunyai kebenaran tersendiri dan tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kebenaran yang sifatnya mutlak dan menjadi patokan bagi agama yang lain. Semua agama, yang teistik maupun non-teistik, dapat dianggap sebagai ruang atau jalan yang bisa memberi keselamatan, kebebasan, dan pencerahan. Semuanya valid, karena pada dasarnya semuanya merupakan respons otentik yang beragam terhadap the Real (hakikat ketuhanan) yang sama.


5. Penutup
Gereja Katolik menyakini bahwa hanya satu pengantara keselamatan yakni Yesus. Yesus melalui penjelmaan, sengsara, wafat dan bangkit membawa manusia kepada keselamatan. Keselamatan ini menjadi nyata lewat Gereja. Sebab Gereja adalah Tubuh-Nya sendiri. Melalui, bersama dan dalam Gereja, Yesus ingin mengerjakan keselamatan manusia. Jadi, dalam Gereja, Kristus mau merangkul semua orang dan mengangkat mereka untuk mengalami persatuan yang utuh dan penuh dalam dan bersama Bapa dalam kemuliaan-Nya.
Keselamatan yang diwartakan oleh Yesus, tidak mengenal “ruang dan waktu.” “Ruang dan waktu” bagi Yesus adalah seluruh dunia. “Ruang dan waktu” bukan lagi tergantung pada letak geografis, agama mana, orangnya seperti apa dan siapa, tetapi ruang dan waktu bagi Yesus adalah eksistensi terdalam manusia yang mengharapkan keselamatan. Dengan kata lain, ruang dan waktu adalah pribadi Yesus sendiri. Dalam Dialah seluruh waktu dan ruang mencapai kepenuhan. Dengan demikian keselamatan pun mencapai kepenuhan dalam Yesus Kristus. Sejak semula jemaat umat beriman telah mengakui dalam Yesus nilai keselamatan sedemikian rupa, sehingga Dia seorang diri sebagai Putera Allah yang menjadi manusia, disalibkan dan bangkit, berkat misi yang diterima dari Bapa dan dalam Kuasa Roh Kudus, berkenan mengurniakan perwahyuan dan hidup Ilahi kepada seluruh umat manusia dan kepada setiap orang.
Unisitas dan universalitas keselamatan dalam Yesus Kristus mempunyai relevansi dan nilai bagi umat manusia dewasa ini, dalam konteks pluralitas agama. Isi dan muatan keselamatan Yesus tidak bermaksud meniadakan dan mengesampingkan konsep keselamatan yang ada dalam setiap agama, melainkan untuk memberikan ciri unik Kristus dan makna yang mutlak serta universal dari keselamatan-Nya bagi semua manusia.



DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku
Mark Heim, S., Salvation Truth and difference in Religion. New York: Orbis, 1995.

Syukur Dister, Nico. Teologi Sistematika 2. Yogjakarta: Kanisius, 2004.

Dokumen Gereja

Yohanes Paulus II. Church in Asia (Gereja Di Asia), terj. R. Hardawiryana. Jakarta:
Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2000.

Yohanes Paulus II. Dominus Iesus (Tuhan Yesus), terj. R. Hardawiryana. Jakarta:
Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2001.

Pluralisme, terj. R. P. Piet Go. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2008.

Majalah

“Melintas”majalah Fakultas Filsafat universitas Parahyangan. Bandung: Fakultas Filsafat Parahyangan, 1988.


Internet

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1405:pluralisme-klaim-kebenaran-yang-berbahaya&catid=68:opini&Itemid=68,. minggu 11 Oktober 2009.

http://islamlib.com/id/artikel/pluralitas-makna-pluralisme-agama/, minggu 11-10-2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar