5.06.2010

seminar teologi sistematis

SIFAT ESKATOLOGIS GEREJA MUSAFIR
DAN PERSATUANNYA DENGAN GEREJA SURGAWI

Pendahuluan

Ada dua hal yang hendak kita dalami pada bagian ini. Pertama, kita akan mendalami sifat eskatologis Gereja musafir. Pada bagian ini disajikan identitas kita sebagai anggota Gereja dan mengapa Gereja musafir memiliki identitas eskalotogis. Kedua, setelah kita memahami ciri eskatologis Gereja musafir, kita akan mendalam bagaimana persatuan dan hubungan antara Gereja Musafir (Gereja yang sedang berjalan menuju alam eskatologis) dengan Gereja surgawi (Gereja yang sudah secara penuh hidup dalam alam eskatologis). Kemudian bagaimana persekutuan itu dirayakan dan dihayati dalam kehidupan.

1. Sifat Eskatologis Gereja Musafir

Pokok acuan untuk memahami sifat eskatologis Gereja Musafir adalah hubungan Gereja dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah nyata di dalam Gereja berkat pencurahan Roh kudus. Gereja Musafir mendapat tugas untuk melanjutkan karya Allah itu berkat kesatuannya dengan Roh kudus. Persatuaan Kristus dan Gereja Musafir dalam Roh kudus membawa Gereja untuk menikmati suasana kerajaan yang abadi.
Menjadi Gereja Musafir adalah sebuah panggilan untuk menampakkan Kerajaan Allah itu dalam peziarahannya. Gereja Musafir dipanggil dalam Kristus (bdk 48). Sebagaimana Kristus memanggil para murid-Nya, demikian pula Ia memanggil kita untuk bersatu dengan-Nya melalui Gereja. Sebagaimana Ia mengutus Roh kudusNya setelah Ia naik ke surga, demikian pula Ia mencurahkan Roh kudusNya kepada kita melalui pembaptisan (bdk LG 48). Dengan pembaptisan kita menerima rahmat Roh kudus untuk menjadi anggota Gereja. Roh kudus inilah yang memberikan identitas “orang kudus” kepada kita. Maka, menjadi Gereja Musafir adalah hakikat panggilan kita untuk menuju kekudusan.
Kekudusan sebagai anggota Gereja secara penuh diwujudkan pada “akhir zaman.” Akan tetapi, kita telah mencicipi rahmat kekudusan itu pada saat ini. Dengan kata lain, kita (Gereja Musafir) sudah mencicipi dan mengemban identitas sebagai Gereja eskalotogis. Pertanyaannya di mana letak sifat eskalotogis Gereja Musafir itu?

1.1 Gereja Bersifat Kudus (bdk LG 48)

Sebagaimana “kudus” merupakan salah satu sifat Gereja, ia juga menjadi sifat yang menunjukkan dimensi eskatologis Gereja Musafir. Sejak di dunia ini, Gereja sudah disebut kudus. Gereja berkat pembaptisan telah menjadi kudus, menjadi anak-anak Allah, menolak setan, dan hanya mengimani Kristus. Rahmat pembaptisan inilah yang menguduskan manusia. Dengan demikian, sejak di dunia ini, Gereja telah menjadi kudus dan memang demikian hakekat Gereja adalah kudus.
Akan tetapi Gereja belum mengalami kesempurnaan kekudusan itu. Kesempurnaan ini hanya akan diperoleh jikalau umat manusia mengalami “pembaharuan sempurna dalam Kristus” (LG 48) yaitu ketika kita mati terhadap dosa dan bangkit bersama Kristus. Kesempurnaan kekudusan juga diperoleh berkat “kebersamaan dengan seluruh umat manusia” yang berjalan “menuju tujuan yang sama” sebab kesempurnaan kekudusan itu adalah kesempurnaan Gereja.

1.2 Gereja Bersifat Sakramen (LG 48)

Keberadaan Gereja di dunia ini bersifat sakramental. Karya keselamatan Allah nyata dalam diri Yesus Kristus. Setelah naik ke surga, Yesus mengutus Roh kudus ke atas para rasul. Melalui pewartaan para rasul, banyak orang dibaptis dalam nama Yesus. Berkat kuasa Roh kudus inilah, Yesus sendiri membentuk TubuhNya yaitu Gereja. Roh kudus menggerakkan, mengundang, dan membentuk suatu persekutuan orang-orang untuk menjadi anggota TubuhNya.
Berkat persatuan dengan Kristus, Gereja melanjutklan karya keselamatan yang dibawa Kristus dengan pewartaan, pelayanan, kesaksian, dan persaudaraan, serta perayaan. Karya perutusan Gereja ini menjadi sarana untuk menghantar orang kepada persatuan dengan Kristus.
Karya perutusan Gereja ini merupakan bentuk peran Gereja untuk mengambil bagian dalam hidup-Nya yang jaya. Dalam hidup-Nya yang jaya, Ia sendiri yang memberikan makan dan minum yakni Tubuh dan darah-Nya. Dengan demikian, keberadaan Gereja menampilkan tanda dan kehadiran Kristus dan yang melaluinya keselamatan Allah terjadi di dunia ini. Dengan perkataan lain, Gereja adalah sakramen keselamatan, tanda dan sarana keselamatan Allah.

1.3 Gereja yang Berpengharapan

Gereja musafir adalah Gereja yang sedang berjuang. Perjuangan selalu mengandaikan adanya pengharapan. Dalam perjuangan hidup dalam dunia ini, Gereja musafir mengharapkan keselamatan pada akhir zaman.
Roh kudus yang dicurahkan kepada Gereja merupakan suatu tanda bahwa keselamatn sudah dialami oleh Gereja di tengah perjuangannya itu. Justru dengan demikian, berkat kuasa Roh kudus, Gereja berjuang untuk melanjutkan karya Yesus di dunia. Dalam hal ini Gereja terlibat aktif dalam karya keselamatan Allah.
Roh kudus itu juga menyatukan Gereja dengan Kristus. Oleh karena dalam dunia ini Gereja telah bersatu dalam Kristus dalam Roh kudus, demikian juga di akhirat. Semua orang yang dibabtis dalam Roh Yesus mengalami keselamatan. Dengan demikian, Gereja memiliki harapan bahwa di dunia eskatologis, Gereja bersatu dengan Kristus secara sempurna. Jadi, Roh kudus itulah merupakan jaminan pengharapan kita. (LG 48)

2. Persekutuan Gereja Musafir dan Gereja Surgawi

Lumen Gentium melihat bahwa di dalam Kristus Gereja menjadi suatu “persekutuan” (LG 50). Persekutuan hendak menekankan salah satu sifat Gereja yaitu “satu.” Kristuslah yang menjiwai kesatuan itu melalui pembaptisan. Gereja yang telah disatukan oleh Roh Kristus tentu memiliki iman yang sama akan Kristus. Oleh karena itu Gereja tidak dipisahkan dari Kristus. Sebab Gereja adalah tubuh mistik Kristus yang hanya hidup dalam kesatuan dengan Sang kepala yaitu Kristus sendiri. Jadi, Gereja adalah tubuh Kristus sendiri yang hidup dalam satu Roh, dan diikat dalam satu iman akan Kristus.
Oleh karena Gereja adalah satu dan hidup dalam satu Roh, serta disatukan dalam iman yang sama akan Kristus, maka Gereja tidak dapat dipisahkan oleh kematian. “Sebab oleh babtis kita telah dikuburkan bersama dengan Dia ke dalam kematian”; tetapi bila “kita telah dijadikan satu dengan apa yang serupa dengan wafat-Nya, kita juga akan disatukan dengan apa yang serupa dengan kebangkitan-Nya”. Gereja yang hidup dan yang telah mati boleh berpisah secara jasmaniah, tetapi bukan demikian secara rohaniah. Sebab Gereja adalah Tubuh Mistik, Tubuh Rohani Kristus, yang dibentuk berkat karunia Roh Kudus melalui sakramen-sakramen.
Dengan melihat uraian di atas kita dapat menemukan bahwa Roh Kristus sendirilah yang menyatukan Gereja menjadi satu persekutuan. Dari pihak Gereja, iman yang sama akan kristus menjadi tali pengikat persekutuan itu. Dengan demikian, Gereja terbentuk menjadi satu Tubuh.
Jadi, dengan “Satu Tubuh”, Gereja mencakup Gereja Musafir, Gereja yang sedang dimurnikan, dan Gereja jaya. Sebagai satu tubuh, ada beberapa ciri kesatuan Gereja. Pertama, Gereja disatukan dalam ikatan cinta yang sama kepada Allah. Kedua, Gereja diikat dalam dan oleh Roh kudus sehingga sama-sama menjadi milik Kristus. Ketiga Gereja disatukan karena terjalin komunikasi kekayaan rohani.


3. Hubungan antara Gereja di dunia dan Gereja di surga

Persekutuan rohani sebagai satu Tubuh dalam Kritus menuntut suatu relasi rohani pula. Persekutuan mengandaikan adanya relasi, adanya hubungan. Relasi ini dibangun atas dasar iman, harapan, dan kasih. Berangkat dari sinilah kita dapat memahami bagaimana hubungan antara Gereja di surga dengan Gereja di dunia. Dasar hubungan itu adalah keutamaan Kristen itu sendiri yaitu iman, harap, dan kasih.
Iman, harap, dan kasih ini diwujudkan dalam kesaksian hidup. Para rasul dan para martir adalah mereka yang rela mati untuk memberikan kesaksian hidup tentang Kristus. Kemudian banyak orang merasa dipanggil untuk memberikan kesaksian yang sama dengan menghayati hidup miskin dan perawan. Tersapa oleh kesaksian dan pewartaan mereka, banyak orang juga terpanggil untuk menghayati hidup dalam keutamaan kristiani. Kini, Gereja patut menghormati mereka karena mereka telah menghayati iman, harapan, dan kasih. Gereja juga pantas untuk menghormati mereka yang telah meninggal sebab semasa hidup mereka telah menghayati iman dan cinta kasih yang sama. Jadi, hubungan kita dengan para kudus di surga diwijudkan dalam sikap hormat kita kepada mereka. Ini yang pertama.
Kedua, hubungan kita dengan “para kudus di surga’ terungkap juga dalam kenyataan bahwa kita memohon doa mereka. Kita memohon doa mereka oleh karena kita yakin bahwa mereka berada “di sisi kanan” Allah. Mereka telah mencapai “persatuan yang sempurna dengan Yesus Kristus” (LG 50). Kristus yang bangkit sebagai yang sulung telah menebus mereka dari dosa. Memohon doa kepada para penghuni surga merupakan suatu tanda kesaksian iman, harapan, dan cinta kasih akan kristus. Dengan memohon doa para kudus sebenarnya kita mengungkapkan iman bahwa Kristus hadir dalam diri para kudusNya.
Ketiga, kita yang masih mengembara di dunia ini merenungkan hidup mereka. Mereka adalah orang suci, telah dikuduskan, dan dibenarkan oleh Allah oleh karena cinta kasihNya. Allah telah mengubah tubuh mereka yang fana menjadi tubuh yang lestari menjadi serupa dengan “wajah Kristus.” Dengan merenungkan hidup mereka, kita mendapat “dorongan baru” untuk dengan teguh melangkah menuju “persatuan yang sempurna dengan Kristus”. Jadi, merenungkan hidup para kudus di surga merupakan bentuk bagaimana kita menjalin hubungan dengan mereka.
Namun perlu disadari bahwa teladan “para penghuni surga” bukan menjadi suatu alasan yang mendasar mengapa kita menghormati, merayakan atau mengenangkan mereka. Meenghormati, mengenangkan, dan merayakan orang kudus merupakan tanda persaudaraan dan kesatuan kasih dalam Roh antara kita yang masih ada di dunia ini dengan para kudus di surga. Seperti halnya, persekutuan Gereja musafir terarah untuk mendekatkan diri dengan Kristus, demikian halnya keikutsertaan dengan para kudus juga menghantar kita untuk semakin dekat dengan Kristus. Jadi, demikianlah kita hidup dan dipersatukan dalam kasih Kristus.

4. Liturgi sebagai Puncak Persekutuan Gereja

Gereja Musafir, sejak awal kekristenan menyadari bahwa mereka yang telah meninggalkan dunia ini masih terasa ‘hidup” dalam kedekatan iman, harapan, dan kasih. Gereja awali “merayakan kenangan akan mereka yang telah meninggal” (LG 50). Yohanes Krisostomus (347-407) mencatat, “Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka . . . Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka”. Dari sini kita dapat mengatahui bahwa Gereja awali telah menghormai dan mendoakan mereka yang telah meninggal.
Penghormatan dan kenangan itu bukan hanya bersifat personal, bukan hanya sebuah fenomena psikologis, bukan bernostalgia. Kenangan itu dirayakan dengan sangat ‘hikmat”; perayaan Gereja; merayakan iman, harapan, dan kasih.
Dalam perayaan ini, Gereja mendoakan mereka yang masih berada dalam “api penyucian” dan mengenangkan serta memohon doa dari mereka yang telah disucikan. Bagi mereka yang masih berada di ‘api penyucian”, kita berdoa kepada Allah mohon pengampunan akan segala dosa mereka. Kepada mereka yang telah disucikan, kita memohon doa mereka. Santo Gregorius Agung (590-604) mengatakan, “Kita harus percaya bahwa sebelum pengadilan masih ada api penyucian. . .” Penyucian itu merupakan karya kerahiman dan kasih Allah sendiri. Untuk itu, doa-doa kita sangat diperlukan karena orang yang telah meninggal hanya mengharapkan doa-doa kita. Dan kita juga memohon doa mereka yang yang telah “berada di sisi kanan” Bapa.
Berdoa untuk orang yang telah meninggal itu bisa dijalankan secara pribadi dalam kesatuan iman dengan seluruh Gereja dan melalui perayaan liturgis baik ibadat arwah maupun ekaristi. Akan tetapi, setiap kali kita merayakan ekaristi, Gereja selalu mendoakan para arwah orang beriman dan mempersembahkan kurban pelunas dosa.
Lebih dari sebuah wadah untuk mendoakan orang yang telah meninggal, ekaristi merupakan saat di mana persatuan cinta kasih terwujud. Dalam ekaristi Gereja merayakan dan memuji keagungan Allah. Saat yang sama Gereja Mufasir bersatu dengan Gereja jaya dalam suasana surga untuk sama-sama memuji Allah Tritunggal. Sepeti yang dikatakan oleh Scot Hahn, perayaan ekaristi adalah perayaan surga di dunia. Maka, persekutuan Gereja secara nyata diwujudkan dalam perayaan ekaristi bersama Santa Maria, Santo Yosep, para martir, dan semua orang kudus. Sebab mereka adalah model hidup Gereja. Melalui liturgi yang kita rayakan di dunia ini “kita mencicipi Liturgi surgawi” (SC 8). Perayaan cinta kasih ini akan dialami secara penuh ketika seluruh Gereja dan para kudus bersujud menyembah Allah dalam dalam kebahagiaan surga.

5. Pedoman Pastoral

Berpastoral selalu mengandaikan iman. Sebab, hakikat karya pastoral adalah mewartakan iman. Iman Gereja akan “adanya persekutuan hidup dengan para saudara yang telah meninggal dunia atau sesudah meninggal masih mengalami pentahiran” (LG 51), masuk dalam isi pewartaan.
Dalam hal ini, pertama-tama konsili menekankan bahwa kita perlu meluruskan pandangan dan praktik yang hanya menekankan aspek lahiriah dari perayaan orang kudus. Perayaan itu pada hakikatnya berisi “pujian kepada Kristus dan Allah”. Ibadat yang sejati kepada para kudus bukan pertama-tama dalam banyaknya perbuatan lahiriah, melainkan dalam seberapa besanya cinta kasih kita yang disertai tindakan nyata.
Kedua, perlu ditekankan bahwa hubungan kita dengan para penghuni surga, yaitu hubungan cinta kasih yang dilandasi iman, tidak melemahkan praktik devosional kita kepada para kudus. Iman menjadi landasaan yang kokoh bagi poraktik kesalehan kita.

Penutup

Kita dipanggil untuk bersatu dengan Kristus melalui Gereja. Identitas kita sebagai anggota Gereja telah terwujud dalam dunia ini sampai pada pesatuan definitif dengan Kristus. Akan tetapi, di dunia ini kita telah mengecap tanda eskatologis di mana kita telah dipanggil menjadi kudus, menjadi sakramen keselamatan, dan memiliki harapan akan kehidupan kekal.
Persekutuan cinta sebagai anggota Gereja dalam iman akan Kristus berkat karya Roh kudus membentuk kita menjadi “Tubuh Kristus” dengan Kristus sebagai kepala. Di sini Gereja Musafir dan Gereja jaya menjalin relasi rohani. Relasi rohani ini tampak dalam hal ini bahwa Gereja Musafir mengenangkan dan merayakan persekutuan itu sambil mengharapkan kehidupan abadi. Puncak perayaan Gereja akan terwujud ketika semua anggota Gereja merayakan liturgi surgawi di surga.
Konsili Vatikan II memberikan sumbangan bagaimana Gereja sungguh memiliki perhatian rohani akan keberadaan mereka yang telah meninggal dunia. Sambil mengenangkan dan menghormati orang-orang yang telah meninggal, Gereja merayakan karya Agung Allah yang nyata dalam diri mereka.

Daftar Pustaka

Buku-buku

Dister, Niko Syukur, Teologi Sistematika 2,, Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Hardawiryana, R. (penerj.), Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Obor, 1993.

Hahn, Scott & Regis J. Flaherty, Catholic for a Reason III: Scripture and the Mystery of Mass, Malang: Dioma, 2008.

Kirchberger, G., Gereja Yesus Kristus Sakramen Roh Kudus, Ende: Nusa Indah, 1987.


Data Internet

http://www.ekaristi.org/vat_ii/Konstitusi_Dogmatis_Tentang_Gereja.ph, diakses 31 Oktober 2009.

http://www.ekaristi.org/vat_ii/Konstitusi_Dogmatis_Tentang_Gereja.php, diakses 31 Oktober 2009.

http://heatubun.blogspot.com/2007/09/eskatologi.html, diakses Senin, 2 November 2009.

http://yesaya.indocell.net/id631.htm, diakses 31 Oktober 2009.

http://heatubun.blogspot.com/2007/09/eskatologi.html, diakses Senin, 2 November 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar