5.06.2010

ASG 2

PERJUANGAN SEORANG ’JEANNE’
Apresiasi Film “Jean Of Arc”


Gambaran pribadi Jean.

Film ini menceritakan tentang seorang gadis Perancis yang masih kekanak-kanakan, yang mendapat stigmata dari Tuhan berupa pedang. Ia percaya bahwa pedang itu adalah pertanda dari Tuhan. Ketika sampai di rumah, ia menyadari bahwa ia mendapatkan misi dari Tuhan untuk membawa kemenangan Perancis atas Inggris. Diceritakan bahwa ia sering melakukan pengakuan dosa pada seorang pendeta. Ia adalah seorang yang pemberani, pandai berbicara, mempunyai kemampuan dalam dirinya. Latar belakang film ini adalah perang merebut kekuasaan antara Perancis dan Inggris. Inggris dipimpin oleh raja Henry VII, sedangkan Prancis dipimpin oleh Raja Charles. Jean hidup dalam lingkungan yang boleh dibilang sangat keras, tidak aman, peperangan, pembunuhan, antara harapan dan kematian, ketidakpastian hidup dan sebagainya. Secara kusus, ia telah menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri, di mana banyak orang Perancis dibunuh bahkan juga kakaknya sendiri dibunuh dan diperkosa.
Dapat disimpulkan bahwa rasa kebencian dan dendam mulai tertanam dalam diri Jean dengan melihat situasi yang demikian. Oleh karena keyakinan yang dalam, bahwa ia mendapat stigmata dan sebagai utusan dari Tuhan, kemudian ia menghadap raja Perancis dan menyatakan diri sebagai orang yang siap menyelamatkan Perancis. Permohonannya dikabulkan dan oleh raja Charles ia diangkat sebagai panglima pasukan. Alhasil, ia memperoleh kemenangan yang gemilang, tetapi ia ditangkap oleh tentara Inggris karena dianggap berbahaya. Namun, dari pihak gereja setempat membela Jean dengan syarat harus menandatangani surat yang menyatakan bahwa ia akan dibebaskan dari hukuman dibakar hidup-hidup. Tetapi ternyata isi surat itu menyatakan bahwa ia tidak mengakui Tuhan dan penyihir. Selain itu, ia dipaksa mengenakan pakaian laki-laki sehingga raja mempunyai alasan untuk menghukum dia. Gereja tidak dapat berbuat apa-apa selain menyerahkan kepada raja untuk dibakar hidup-hidup.
Bagaimana gereja melihat Vision?

Gereja memang mengakui Vision. Namun, untuk sampai pengakuan oleh gereja tidaklah mudah. Nah, dari film ini kita dapat melihatnya secara jelas. Dari sikap para uskup tampak jelas, bahwa untuk mengakui dan menerima apakah seseorang sungguh-sungguh mendapat Vision dari Tuhan, itu tidak mudah dan gampang. Gereja katolik tidak menerima dan mengakui begitu saja yang namanya Vision. Prosesnya cukup lama dan melalui suatu penelitian yang cukup akurat dan melalui pembuktian yang solid. Gereja memang mengakui bahwa setiap orang mempunyai karunia dan karisma tersendiri. Namun, untuk dapat dikategorikan sesuatu apakah itu Vision tidak mudah. Namun, menurut saya keputusan dari pihak gereja terlalu menekankan apa yang namanya kuasa hierarki. Kuasa hierarki maksudnya gereja mempunyai wewenang mutlak untuk memgambil keputusan terhadap sesuatu hal khususnya dalam persoalan vision yang diterima oleh Jean. Gereja tidak menghargai previlasi pribadi orang. Gereja dalam hal ini para uskup, melihat bahwa pengakuan Jean yang menyatakan ia menerima tanda dari Tuhan hanyalah halusinasi belaka, sentimen pribadi untuk membalas kekejaman yang dilakukan oleh orang Inggris terhadap keluarga, masyarakat pada umumnya dan sebagai. Inilah yang melatarbelakangi Jean untuk memimpin pasukan dalam berperang. Ia menyatakan diri sebagai utusan Tuhan.

Kelemahannya yang digambarkan dalam film ini

Dalam film ini tampak terlihat adanya kesenjangan dalam ranah gereja. Gereja terlalau cepat mengambil keputusan. Gereja seolah bertindak otoriter. Keotoriteranya terlihat jelas ketika Jean dengan jujur menyampaikan apa yang dialaminya, gereja tidak menghiraukannya. Lagipula, Jean adalah seorang anak kecil, sehingga kebenaran yang disampaikannya dianggap remeh dan tidak didengarkan. Gereja ingin mempunyai pembuktian yang solid mengenai Vision yang dialami oleh Jean. Gereja kurang menghargai apa yang namanya karunia pribadi.

Kedua, tidak adanya otonomi dalam gereja. Karena gereja dan negara satu, sehingga persoalan gereja sering dicampuradukan dengan persoalan negera. Gereja satu sisi, sebagai sakramen keselamatan yang tampak dalam dunia dan ingin menyelamatkan umat. Namun, di sisi lain, gereja karena ditekan oleh negara sehingga gereja menuruti keputusan yang diambil oleh pihak negara. Ini tampak jelas, di mana uskup tidak mengetahui apa isi surat yang ditandantangani oleh Jean, yang justru membuat Jean harus dipenjarakan dan dibakar hidup-hidup. Ada suatu dilematis di mana persoalan yang sebetulnya menjadi tanggung jawab gereja, tetapi tak dapat dielakan persoalan itu juga menjadi tanggung jawab negara. Antara wewenang gereja dan negera selalu sejalan dan yang paling menyedihkan ketika negara bersikap otoriter dan tidak mengindahkan apa yang menjadi wewenang gereja. Yang sangat ironisnya Gereja yang mengangkat raja, tetapi raja bisa mengusir uskup.

Ketiga, tidak ada penghargaan terhadap perempuan. Suara perempuan sama sekali tidak diperhitungkan dan didengarkan. Jean adalah representasi para perempuan zaman itu yang ingin menyuarakan suara persamaan hak dan kewajiban sebagai perempuan. Apa yang dialami oleh Jean harus diakui bahwa inilah model praktik politik pada zaman itu. Dapat dikatakan praktik politiknya cacat. Ini dapat disaksikan dari sikap dan tindakan baik raja maupun para prajuritnya, yang oleh kekuasaan jabatan dan pangkat mereka dapat bertindak sesuka hatinya.
Keempat, kebenaran yang dimanipulasi. Jean menjadi korban dari manupulasi kebenaran. Tolak ukur kebenaran hanya ada pada raja.

Sumbangan terhadap gereja sekarang dari apa yang diceritakan dalam film ini.
Dari uraian mengenai kepribadian, pandangan gereja tentang vision dan kelemahan yang dilukiskan dapat film ini, saya mencoba melihat beberapa hal yang merupakan sumbangan film ini bagi kehidupan gereja sekarang.

Pertama, Konsep hubungan agama dan negara. Hubungan gereja dan negara perlu dibangun atas dasar penghargaan dan kesadaran bahwa baik negara maupun gereja mempunyai batas-batas dan wewenang terhadap kelangsungan setiap pribadi manusia. Karena itu hubungan yang dibangun bukan saling menundukan satu dengan yang lain, dalam bentuk negara agama (negara tunduk pada agama atau sebaliknya) seperti pratik kehidupan gereja dan negara yang dilukiskan dalam film ini. Gereja dan negara adalah dua entitas yang mesti otonom, yang mana baik gereja maupun negara mempunyai kekuasaan yang berbeda. Meskipun secara institusional gereja dan negera terpisah, itu tidak berarti keduanya saling mengusai karena orang-orang yang sama adalah warga negara sekaligus juga warga Gereja.

Kedua, zaman sekarang tentu berbeda dengan zaman dahulu. Perbedaan itu misalnya perkembangan Teknologi, cara perpikir, kebudayaan, mentalitas manusia dan sebagianya. Semua elemen ini mewarnai dan mempengaruhi manusia baik dari segi internal maupun eksternal. Nah, gereja sekarang mesti belajar dan bercermin serta merefleksikan tindakan yang dilakukan oleh gereja pada abad pertengahan dalam kaitan dengan vision. Di era sekarang di mana-mana terdengar bahwa seseorang mendapat penglihatan atau berupa penampakan. Gereja mempunyai wewenang untuk menseleksi apakah itu benar-benar terjadi atau hanya rekayasa pribadi yang mempunyai motif dibalik itu yakni untuk mendatangkan keuntungan. Meskipun gereja mempunyai wewenang untuk menseleksi itu tidak berarti gereja dalam mengambil tindakan disertai dengan kekerasan terhadap pribadi yang mendapat penglihat, tanda, atau penampakan seperti yang dilukiskan dalam film ini. Sikap gereja pada abad pertengahan rasa-rasanya tidak menunjukan nilai keselamatan dari kehadiran gereja di tengah dunia. Karena itu, gereja sekarang mesti merubah cara pandang terhadap pribadi manusia. Artinya, pengakuan akan kebenaran sesuatu tidak mutlak dari gereja, tetapi juga memperhatikan pribadi manusia yang bersaksi.

Ketiga, seruan profetis. Jean adalah tokoh profetis. Ia tampik sebagai pemimpin untuk menyelamat bangsa Prancis. Dari sana, kita dapat mengatakan bahwa pewartaan akan kabar gembira atau peran kenabian itu bukan hanya tugas laki-laki, tetapi juga perempuan. Dalam zaman sekarang, kita dapat melihat bahwa perempuan kurang diperhatikan dan bahkan diabaikan. Suara mereka bahkan kurang diperhitungkan. Sesungguhnya gambaran pribadi Jean, mendekonstruksi cara pandang kita terhadap peran perempuan untuk zaman sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar