5.06.2010

FILSAFAT POSMODERN

BETAPA SULITNYA MENGEMBALIKAN KEHIDUPAN YANG ORISINIL


Pengantar
John D Caputto lahir sebagi seorang filsuf kontemporer yang juga ebrgulat dengan masalah hermeneutika. Bagi dia hermeneutika itu harus menampilkan wajah baru dengan menepis secara tuntas wajah lama hermeneutika yang masih terikat dengan unsur sosio-kultural dan nilai historis dari sebuah teks. Hermeneutik yang dalam istilah sehari-hari diartikan sebagai interpretasi atau penafsiran, pada awalnya merupakan metode penelitian dalam human sciences, yang merupakan bagian dari pergulatan manusia dalam menemukan pengetahuan yang berharga. Dan pengetahuan itu berjung pada pelegalan untuk berkuasa. Knowledge is power, demikian kata Michael Fauchault. Namun bagi Capputo, yang mewarisi tradisi hermeneutika para filsuf yang mempengaruhinya, hermeneutika adalah usaha untuk menemukan nilai terdalam dari teks ayng bersumber dari teks itu sendiri dan bukan dari laur teks serta tidak mempunyai pretensi untuk berkuasa seperti pemahamab Fouchault.

Isi
Aristoteles mengatakan hidup sulit dimengerti. Mengapa sulit? Karena para perumusnya yang merumuskan memahami persoalan dan mudah dalam merumuskannya, tetapi ketika itu menjadi sebuah teks dan kemudian orang membacanya ternyata teks itu tidak semudah yang dipikirkan dan dirumuskan oleh para perumus.
Heidegger mengatakan “factical life” hidup yang nyata, yang konkret ini atau kenyataan yang ada cenderung melihatnya sebagai suatu yang mudah. Maka ia mengedepankan “hermeneutika of facticity.” Ini semacam bedah untuk melihat dan membaca kehidupan yang orosinil. Menurut dia kehidupan yang sekarang merupakan kumpulan kepingan-kepingan kehidupan. Kepingan-kepingan kehidupan itu yang membentuk sebuah teks. Untuk kembali pada eksistensi yang nyata dan sesuai dengan fakta yang sesungguhnya itu sangat sulit. Bagaimana mengembalikan kehidupan yang orisinil?

“Hermeneutika of facticity” kemudian disertai dengan diskursus metafisika. Metafisika yang dimaksudkan adalah metafisikan secara umum. Dengan disertainya metafisika bertujuan untuk memberikan pencerahan mengenai persoalan dan kesulitan untuk mengembalikan kehidupan yang orisinil. Gagasan metafisika ini dikemukakan oleh Derida. “Hermeneutika of facticity”-nya Heidegger meyakini bahwa kehidupan itu sulit dan sukar, karena itu ia mengharapkan agar kita waspada dan hati-hati untuk memecahkan dan memutuskan akan ketidakteraturan dalam adanya sesuatu. Penafsiran baru ini tidak akan membuat sesuatu menjadi mudah, tetapi lebih mengungkapkan kembali kehidupan yang sulit dalam ADA dan WAKTU, sebelum metafisika memperkenalkan kepada kita sebagai suatu jalan keluar yang cepat dan mudah untuk kembali pada perubahan terus-menerus.
Metafisikan selalu berangkat dari pertanyaan akan sesuatu. Metafisika selalu berangkat dari keragu-raguan, kecemasan, akan adanya sesuatu hal. Maka ia mulai mempertanyaan hal itu. Namun, pertanyaan metafisika kerap menimbulkan persoalan dan bukannya menjawabi dan menemukan keorisinialnya sesuatu hal. Heidegger tidak mempertanyakan yang ada, ia membiarkan ada sebagaimana adanya di sana. Di sanalah Heidegger melakukan Hermeneutika Metafisika atau Heidegger melakukan dekonstruksi metafisika.
Johanes Climacus menulis iktisar untuk menjelaskan dan menjernihkan ringkasan metafisika Hegel. Pembahasan pemikiran Johanes Climacus dalam teks ini tidak secara gamblang diperlihatkan oleh Caputo. Namun, bagi Caputo Johanes dan para pengikut Kiegegard—para Constantin/constantius adalah tokoh penting baginya, mereka termasuk yang memahami hermeneutika.
Pengulangan. Constantin mengawali pembicaraan mengenai pengulangan ini dengan sebuah problem para Heraklitos yakni bagaimana pribadi yang eksis menciptakan waktu dan perubahan terus-menerus? Dia mengatakan lewat pengetahuan. Pengetahuan manusia itu selalu berubah dan bertambah terus-menerus. Dengan pengetahuan, manusia memiliki ruang untuk berubah terus-menerus sepanjang manusia itu ada. Paham orang Yunani “pengulangan” sebagai suatu pergerakan mundur. Orang Kristen pengulangan ke depan. Jadi, bagi dia pengulangan bukanlah pengulangan yang sama seperti orang Yunani memproduksi kembali, tetapi sebauh produksi yang kreatif yang mendorong ke depan.
Caputto menyadari bahwa hermeneutika baru itu menemukan permulaan sisi radikalitasnya dalam diri Heidegger. Ia mengakui juga bahwa filsuf-filsuf besar sesudahnya adalah para pemikir radikal. Dalam hal ini Gurunya Heidegger yaitu Edmund Hurserl juga diperhitungkan dalam proyeknya. Dia diperhitungkan karena Heidegger sebenarnya melanjutkan karya-karya gurunya itu. Edmund Hurserl telah memberikan gambaran tentang perubahan terus menerus dan dan prinsip pengulangan dari segala sesuatu. Segala pengulangan itu elbih ebrmakna dari apa yang diulang. Heidegegr meneruskan pemikirannay ini dalam sebuah bukunya yang berjudul Being andTtime. Buku ini juga adalah proyek yang tidak sempat diselesaikan secara tuntas oleh Heidegger. Proyeknya ini dilengkapi oleh Derrida dan memberikan jasa yang sangat besar dalam pemkirannya yang kahs dengan terminology dekosntruksinya itu. Dia mengakui abhwa dalam memahami teks kita harus membaca secara ganda. Selain kita berusaha memahami maksud pengarang, kita juga berusaha menemukan apa yang disisihkan, dipinggirkan bahkan yang direpresi oleh pengarang. Pembacaan ini sejatinya untuk melawan kebiasaan dalam memandang realitas sebagai oposisi biner di mana segala sesuatu itu berlawanan satu sama lain serta menilai realiats itu dengan prinsisp superioritas dan inferioritas. Misalnya, perempuan itu lebih rendah dari laki-laki, yang genap itu lebih baik dari yang ganjil, dan lain sebagainya.
Caputto tidak mengikuti prinsip hermeneutika yang sudah matang dan mapan serta tidak mau diusik lagi dari tidur manisnya. Atas dasar ini, ia berseberanghan dengan para filsuf jaman romantisisme seperti Shleimacher dan Wilhem Dilthy. Kedua filsuf ini masih bergulat dengan pembacaan lama atas teks di aman mereka amsih teikat dengan latar belakang sejarah serta pengalaman personal pencipta teks. Dia tidak mau mengikuti cara ini. Dia membuat suatu sistem yang baru yang sifatnya radikal yaitu melihat teks secara lebih dalam. Dan kedalaman dari sistenya yang baru itu terpaut secara terbuka pada pola dekontruksinya Derrida. Ketika dia hendak membangun sebuah hermeneutika, ia pertama-tama mengobrak-abrik teks dengan cara dekonstruksi. Setelah dekontruksi selesai proyeknya dilanjutkan dengan sebuah hermeneutika. Dan di sinilah letak radikalitasnya hemeneutika ala John D Capputo.
Kami melihat bahwa Capuuto adalah anak tunggal dari perkawinan dua filsuf yang besar yaitu Heidegger seorang murid Husserl dan Deridda yang meneruskan proyek Heidegger. Ajdi dia adalah seorang capputo yang heidegerian dan deridderian. Dia mencoba membangun sistematika pemikirannya yang didasarkan atas enomenologi (Hermeneutika of Facticity) Heidegger dan dekonstruksinya Deridda.

Kesimpulan

Jadi hermeneutika sangat sulit. Hermeneutika adalah suatu pemikiran yang radikal yang mencurigakan mengenai jalan keluar yang mudah, secara khusus meragukan filsafat, metafisika yang hanya selalu melakukan itu. Hermeneutika ingin melukiskan kesulitan kita dan mencoba menjadi keras hati dan untuk bekerja “dari bawah.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar