5.06.2010

ajaran Sosial Gereja

KEBERPIHAKAN GEREJA KEPADA ORANG MISKIN

1.Pengantar

Dokumen Gereja “Centesimus Annus” adalah kesaksian nyata akan kehidupan manusia. Manusia yang mengalami keterasingan dari sesama, manusia yang “terlempar keluar” dari citranya sebagai pribadi yang secitra dengan Allah. Manusia yang menjadi korban dari sesamanya. Dengan kata lain, manusia yang melakukan dehumanisasi terhadap sesama manusia. Dalam konteks dan situasi ini, dokumen ini memperlihatkan keterlibatan dan peran Gereja. Gereja dipanggil untuk bertindak. Gereja dipanggil ke dalam dunia, dalam persoalan-persoalan kemanusiaan manusia. Atau Gereja yang sedang men-dunia. Panggilanya ini adalah panggilan Kristus sendiri untuk berpihak kepada yang miskin dan lemah.

Alasan pemilihan Judul di atas

Alasan pemilihah judul di atas. Berbicara mengenai kaum miskin adalah berbicara mengenai realitas konkret manusia. Arah pembicaraannya bukanlah sebuah spekulasi belaka atau yang hanya berada pada tataran rasio, tetapi kita sungguh-sungguh bersentuhan dengan dunia manusia yang real. Penulis mengambil judul ini kerena berbicara mengenai kaum miskin itu bersentuhan langsung dengan hakikat dan martabat manusia. Persoalan kemiskinan bukanlah persoalan yang baru muncul, tetapi ternyata sudah sejak awal lahir seiring dengan perkembangan dan hidup manusia. Jikalau kita menengok ke belakang pada masa hidup Yesus, persoalan kemiskinan kaum miskin sudah ada, hanya mungkin akar kemiskinan dan model kemiskinan berbeda dengan apa yang dialami dewasa ini. Yesus telah menunjukkan rasa solidaritasnya kepada orang miskin dan bahkan suluruh hidup dan karya-Nya memperlihatkan perhatian-Nya kepada orang yang lemah, terbuang, sakit dan miskin.
Dewasa ini, persoalan kemiskinan yang dialami oleh kaum miskin belum tuntas. Sebagian besar masyarakat indonesia masih miskin. Angka kemiskinan yang cukup besar menyedot perhatian sejumlah orang bahkan negara-negara yang maju. Jurang antara yang kaya dan miskin semakin lebar dan bahkan tak dapat dijembatani lagi. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Begitu banyak orang atas nama pribadi atau kelompok ingin memperhatikan nasib kaum miskin. Pembesar dan yang memegang roda kepemerintahan ini seakan-akan hanya melihat dengan mata sebelah atas realitas kemiskinan yang semakin melanda negara ini. Inilah yang mendorong penulis untuk mengangkat tema tentang “kaum miskin.”
Di tengah situasi yang semakin rumit dan resah ini, Gereja semakin ditantang untuk mewujudkan Cinta Kasih Yesus. Tantangan yang dihadapi oleh Gereja juga memacu penulis untuk menguraikan tema ini. Penulis merasa terdorong untuk membahas tema ini, agar semakin menemukan suatu titik cerah bagi penulis sendiri juga Gereja pada umumnya atas nasib kaum miskin. Dokumen Centesimus Annus artikel 11 ini menyentuh persoalan-persoalan antara lain: orang miskin, pandangan mengenai manusia yang dianugerahi martabatnya oleh Allah, panggilan Kristus adalah panggilan Gereja, dasar cinta kasih keberpihakan Gereja kepada orang miskin adalah cinta kasih Kristus, faktor penyebab kemiskinan dan relevansinya dengan kehidupan dunia sekarang.

II. Option For the Poor

a. Siapakah orang miskin?

Kaum miskin adalah orang yang tidak hidup dalam kelimpahan. Orang yang secara ekonomi sangat terbatas, yang hidup serba kekurangan. Dari definisi yang sederhana ini, paling tidak dapat menghantar kita untuk memahami siapa orang miskin. Apakah pandangan tentang kaum miskin dalam dokumen ini seperti yang dikemukakan di atas? Uraian mengenai orang miskin, tidak bermaksud untuk mencari sebuah definis yang komplit, sebab masing-masing orang memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai kaum miskin.
Berbicara mengenai kemiskian merupakan wacana yang amat kompleks. Kompleks karena banyak hal yang membuat manusia menjadi miskin, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal bisa disebabkan karena tidak berpendidikan, ekonomi lemah, kesehatan, fisik dan masih banyak lagi. Faktor eksternal bisa disebabkan oleh lingkungan yang tidak mendukung misalnya perang, banjir, kekeringan, tidak mendapat lapangan pekerjaan, penindasan dari orang-orang yang berkuasa, korban politik dan sebagainya.
Dalam dokumen ini sesungguhnya yang disoroti adalah faktor-faktor eksternal, misalnya peran negara di mana negara bukan hanya melindungi hak kaum kecil, melainkan juga mengekang kebebasan pribadi. Pemerasan terhadap para pekerja oleh pemilik produksi dan dampak industrialisasi. Dalam kondisi inilah Gereja dipanggil untuk berpihak kepada yang lemah dan kecil.

b. Orang Miskin dalam Konteks Dokumen Centesimus Annus (CA)

Dokumen Centesimus Annus merupakan peringatan 100 tahun Rerum Novarum. Sebagaimana yang disoroti dalam Rerum Novarum mengulas mengenai “masalah para pekerja,” maka Gereja memusatkan perhatiannya pada orang miskin. Orang miskin mendapat prioritas perhatian yang cukup besar dan serius dari Gereja. Gereja sangat perihatin dengan nasib para pekerja di mana terjadi tindakan kekerasan. Proses industrialisasi yang menciptakan sebuah dunia yang kerdil dan tak berperikemanusiaan. Kondisi para pekerja sangat menyedihkan karena adanya jarak yang cukup dalam dan jauh antara para pekerja dengan pengusaha.
Proses industrialisasi dan perkembangan tekhnologi serta ilmu pengetahuan seakan membuat manusia terlempar keluar dari kehidupan sesama. Zaman ini bukan hanya menciptakan mesin-mesin produksi yang canggih, melainkan juga mempengaruhi mentalitas manusia. Jurang pemisah antara pengusaha dan para pekerja semakin dalam. Sang pengusaha semakin makmur karena memiliki mesin produksi, sedangkan yang tidak memiliki sarana produksi semakin miskin.
Dalam kondisi seperti ini, Gereja dipanggil untuk mengambil bagian dalam nasib sesama yang miskin. Option for the poor adalah pilihan Gereja. Misi ini didasari oleh misi Yesus Kristus sendiri. Dasar misi ini adalah Cinta kasih Kristus. Dokumen Centesimus Annus ini memberikan kepada kita bagaiman usaha dan keterlibatan Gereja yang dibilang cukup gemilang dalam memperhatikan nasib sesama yang miskin.

c. Pandangan Mengenai Manusia yang Dianugerahi Martabatnya oleh Allah

Perhatian dan dedikasi Gereja terhadap sesama yang miskin, lebih dari sekedar karena mereka miskin dan hidup mereka yang sangat memperihatinkan. Dedikasi Gereja terhadap orang miskin karena Gereja mau mengangkat martabat manusia yang luhur, yang diinjak oleh sesama. Gereja mau mengangkat kembali martabat manusia sebagai citra Allah, sebagai ciptaan Allah yang paling mulia dan luhur dari segala ciptaan.
Berbicara mengenai martabat manusia berarti berbicara mengenai pribadi manusia yang konkter, nyata, historis dan bukan pribadi manusia yang abstrak. Dalam hal ini, Gereja berhadapan dengan setiap pribadi, karena setiap orang adalah bagian dari misteri Penebusan, dan melalui misteri Penebusan ini Kristus menyatukan diri-Nya dengan setiap orang selamanya. Oleh karena itu, Gereja tidak dapat mengabaikan kemanusiaan manusia. Pandangan ini sangat jelas diungkapkan oleh dokumen Centesimus Annus dalam artikel yang lain. Penulis mengangkat salah satu no artikel yang sangat bersentuhan dengan hal di atas misalnya Centesimus Annus artikel 53. Di sana dikatakan bahwa “pribadi manusia ini adalah langkah utama yang harus ditapaki Gereja dalam melaksanakan misinya…langkah yang telah dijejaki oleh Kristus sendiri, satu-satunya jalan menuju misteri Inkarnasi dan Penebusan.” Inilah satu-satunya prinsip yang menginspirasi Gereja dalam keberpihakannya kepada orang miskin. Dalam usaha mewujudkan martabat manusiawi, Gereja menunjukkan sikap mengutamakan cinta kasih rakyat miskin serta tak bersuara, sebab Tuhan mengidentifikasikan Diri dengan mereka secara istimewa.

d. Option For the Poor, Pengamalan Cinta Kasih Krsitus

Option for the poor adalah wujud pengamalan cinta kasih Kristus. Cinta kasih yang tidak pilih kasih, tidak memandang buluh, suku, agama, ras dan budaya. Cinta kasih ini diterjemahkan dalam wujud pelayaan dan kesaksian hidup. Namun, pada poin ini cinta kasih lebih mengutamakan mereka yang miskin, terlantar, menderita dan sebagainya akibat perampasan hak dan kewajibannya, dan eksploitasi. Pengamalan cinta kasih kepada orang miskin merupakan bentuk konkret Gereja meneladani dan mengikuti Kristus. Melalui keberpihakan Gereja terhadap orang miskin, Gereja telah menampilkan jati dirinya yang cemerlang dan tanda-tanda di mana injil telah diwujudkan dalam tindakan nyata.

III. Panggilan Gereja Terhadap Orang Miskin

a. Dasar panggilan Gereja: Yesus inspirator

Yesus adalah inspirator bagi Gereja dalam meneruskan misinya di dunia. Misi Gereja adalah meneruskan apa yang telah diajarkan, dipraktik oleh Yesus. Yesus telah menunjukkan secara konkret keperpihakan-Nya kepada yang lemah dan miskin. Itulah misi kedatangan-Nya agar semua orang mengalami kebahagiaan dan sukacita dalam-Nya, karena di hadapan Allah semua manusia sama, tidak ada perbedaan entah miskin entah kaya, yang berpendidikan dan tidak berpendidikan, rakyat biasa dan penguasa dan sebagainya. Jadi, panggilan Gereja adalah panggilan Kristus sendiri.
Keperpihakan Gereja terhadap orang miskin merupakan panggilannya. Sejak awal telah memperlihatkan kepada kita bahwa Gereja terlibat dalam masalah-masalah sosial. Dokumen Centesimus Annus telah menampilkan tokoh Paus Leo XIII yang gencar memperhatikan nasib sesama yang mengalami penindasan dan kemiskinan secara khusus yang dialami oleh para buruh yang kemudian melahirkan ensiklik Rerum Novarum. Peran Gereja dalam memperhatikan nasib buruh mendapat tempat yang penting dalam sejarah Gereja.
Paus Leo XIII mendorong negara untuk mengupayakan kesejahteraan sesama yang miskin, memperhatikan ekonomi mereka, memberikan sumbangan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, menjamin kelangsungan hidup sesama dengan menghormati dan melindungi hak-hak pribadi. Namun, Paus menyadari bahwa peran negara kepada sesama tidak boleh mengabaikan kebebasan pribadi. Karena itu, bukan hanya peran negaralah yang dapat memecahkan persoalan dan kesukaran sosial. Negara hanya berperan untuk melindungi hak-hak setiap orang dan bukan untuk menindas dan memperbudak mereka. Hal ini sungguh-sungguh disadari oleh Paus Leo XIII. Panggilan Gereja terhadap orang miskin telah mewarnai seluruh dinamikan dan perkembangan Gereja.
Yesus, bukan hanya mewartakan Kerajaan Allah melainkan juga berbuat, bertindak melalui mukjijat penyembuhan, pengusiran roh jahat, dan sebagainya. Gereja pun melakukan hal yang sama di mana Gereja bukan hanya mewartakan sabda Allah, tetapi juga bertindak dan berbuat sesuatu yang nyata dan konkret melalui pengabdian kepada sesama yang menderita, miskin, kelaparan, sakit dengan memberikan sumbangan dan memberikan pelayanan sakramen-sakramen. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh Gereja sejak munculnya dokumen ensiklik Rerum Novarum tahun 1891 sampai dengan dokumen Centesimus Annus 1991, tidak terlepas dari hidup dan karya Yesus. Bagi Yesus kemanusiaan manusia jauh lebih penting dari pada pelaksanaan hukum Taurat. Yesus mau membela kemanusiaan manusia yang seringkali diabaikan oleh manusia hanya karena hukum.
Keberpihakan Gereja kepada orang miskin dalam dokumen Centesimus Annus memperlihatkan perjuangan Gereja terhadap kemanusiaan. Persoalan manusiawi dan morallah yang tampak di sana. Sungguh inilah persoalan esensial yang digeluti oleh Gereja dengan melibatkan diri pada orang miskin. Bagi Gereja benda dan harta bukanlah pelaku utama dalam proses pengembangan. Oleh karena itu, persoalan yang dihadapi oleh Gereja melampaui masalah ekonomi dan tekhnologi. Gereja memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah keutuhan pribadi manusia. Manusia yang secitra dengan Allah, yang telah dianugerahi segala rahmat dan martabat keilahian serta hak-hak yang tidak boleh dirampas oleh manusia lain daripadanya.

b. Panggilan Kristus adalah Panggilan Gereja

Panggilan Gereja terhadap orang miskin yang dikemukan oleh dokumen Centesimus Annus menyentuh hakikat manusia yang paling dalam. Artinya keberpihakan Gereja terhadap orang miskin lebih daripada karena keadaan mereka yang miskin, tetapi Gereja melihat manusia dalam keseluruhanya dan keutuhannya sebagai manusia. Pada poin ini sesungguhnya usaha dan tindakan Gereja sudah cukup mendalam. Gereja mau mengangkat kembali kodrat manusia sebagai ciptaan Allah. Gereja mau mengembalikan keutuhan manusia sebagai pribadi, makluk yang secitra dengan gambar dan rupa Allah Sang Pencipta. Dengan kata lain, kepedulian Gereja terhadap kaum miskin jauh melampaui masalah-masalah yang sifatnya artifisial atau masalah-masalah seperti ekonomi, tekhnologi, upah dan sebagainya.
Panggilan Gereja terhadap orang miskin adalah juga panggilan dari dan kepada Kristus. Dasar panggilan Gereja adalah Cinta kasih Kristus sendiri. Gereja hanya meneruskan dan melanjutkan apa yang telah dibuat dan diperintahkan oleh Yesus. Gereja dipanggil untuk mengambil bagian dalam pengalaman susah, senang, dukacita dan sukacita kaum miskin. Dalam usaha untuk memajukan dan memperhatikan martabat manusiawi kaum miskin, Gereja menunjukkan sikap penuh cinta kasih. Sebab Gereja menyadari bahwa dalam diri kaum miskinlah Yesus hadir secara istimewa. Sebagaimana Yesus tidak pilih kasih dalam pelayaan, demikian juga Gereja. Prioritas Gereja adalah pelayanan. Pelayanan merupakan bentuk kesaksian nyata Gereja dan rasa solidaritas kepada kaum miskin.
Dunia adalah medan di mana manusia dapat mewujudkan dirinya bagi sesama. Sebaliknya ternyata manusia juga medan dan dunia bagi Allah untuk meneruskan kerajaan Allah di dunia. Allah tidak hanya mendampingi manusia dalam perjalanan sejarah, melainkan Allah menyapa manusia dalam tanggung jawabannya atas sejarah. Pergulatan Gereja dengan segala masalah yang menimpa kaum miskin, mendesak Gereja untuk memusatkan perhatiannya pada martabat pribadi manusia yakni martabat sesama manusia Yesus Kristus dan martabat manusia yang menjadi ungkapan diri Allah.

IV. Faktor Penyebab Kemiskinan

Berbicara mengenai option for the poor dan segala persoalan yang melilit di dalamnya, mau tidak mau harus mencari akar penyebab semuanya itu. Dalam dokumen Centesimus Annus memperlihatkan bahwa masalah para pekerja sungguh menyentuh langsung persoalan orang miskin. Persoalan kemiskinan yang dialami orang miskin disebabkan oleh proses industrialisasi atau revolusi industri yang ada pada zaman itu.
Proses industrialisasi atau revolusi industri menciptakan suatu kondisi yang memprihatinkan bagi para pekerja. Kondisi yang memperihatikan itu dilukiskan dengan adanya pratik kekerasan terhadap massa. Sebagaimana yang telah saya kemukakan di atas bahwa revolusi industri sungguh bersentuhan langsung dengan para pekerja, maka munculnya proses industrialisasi membuat kondisi kaum pekerja semakin memburuk. Di sana terlihat adanya kemerosotan moral. Kemerosotan moral tampak pada pemerasan terhadap para pekerja yang membuat nasib mereka semakin tak menentu. Harus diakui bahwa dalam situasi seperti ini gambaran manusia sebagai “homo homini lupus” tercermin di sana, di mana manusia karena ketamakan akan harta dan kekayaan memperbudak para pekerja yang tidak mempunyai sarana produksi.
Di atas saya telah menyinggung soal moralitas yang merosot akibat proses industrialisasi. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi menciptakan logika berpikir manusia bahwa sesama manusia tidak berarti apa-apa dan bernilai, yang bernilai hanya harta dan kekayaan. Moral para pekerja diinjak-injak. Moral para pengusaha dan pemilik sarana produksi karena diboncengi oleh perkembangan tekhnologi dan iming-iming untuk mencari kekayaan sendiri, tidak lagi memperhatikan nasib sesama dan moralnya sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Jadi, kemerosotan moral merupakan jalan pemerasan terhadap kaum pekerja.
Dampak lebih lanjut dari proses industrialisasi adalah tidak adanya penghargaan atas martabat manusia. Martabat sesama manusia sebagai pribadi atau individu yang bebas, merdeka, yang otonom, yang mempunyai hak atas kebahagiaan tidak dijunjung tinggi dan bahkan di kekang. Martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang paling mulia dan luhur dihancurkan dan dicemari oleh segelintir orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Jadi, proses industrialisasi bukan hanya memberikan gambaran akan perkembangan dunia, tetapi juga tidak adanya penghargaan atas martabat manusia. Dalam kaitan dengan persoalan martabat manusia ini, Paus Yohanes Paulus II dalam seri Dokumen Gereja no. 57 tahun 2000 mengatakan bahwa manusia yang telah diciptakan seturut citra Allah dan dikarunia martabat anugerah Allah serta hak-hak manusiawi yang tidak boleh dirampas dari padanya.

V. Relevansi

Sebelum masuk dalam uraian mengenai peran Gereja dan negara kepada kaum miskin dalam dunia dewasa ini, baiklah terlebih dahulu kita mencoba mendikte dan menelisik keadaan manusia dewasa ini. Dewasa ini, banyak persoalan yang melilit bangsa dan warga negara Indonesia. Salah satunya adalah persoalan kemiskinan yang dialami oleh kaum miskin dan bagaimana menanggulangi kemiskinan yang ada di negara ini?

a. Sketsa Dunia Dewasa ini

Wacana mengenai kemiskinan dan keberpihakan kepada orang miskin, bukanlah hal yang baru. Sejak dulu sampai sekarang masalah seputar kemiskinan dan penanggulangan terhadap kemiskinan telah membuka mata semua orang. Akan tetapi, hal ini belum juga selesai. Jurang antara yang kaya dan miskin semakin dalam dan tak terjembatani lagi. Di tengah perkembangan dan perubahan dunia yang begitu cepat dan alat-alat tekhnologi yang canggih, angka kemiskinan justru tetap menjadi fenomena yang segar untuk dibicarakan. Rasa-rasanya di sini terlukis suatu paradoks kehidupan di mana satu sisi negara indonesia yang kaya akan sumber daya alam, tetapi di sisi lain realitas kemiskinan masih saja melanda dan melilit sejumlah warga.
Selain itu, suhu politik, korupsi, peperangan, bencana, pemerasan, kekerasan adalah faktor sosial yang melahirkan angka kemiskinan semakin besar di bumi pertiwi ini. Inilah model baru lahirnya kemiskinan, dan terciptaan situasi-situasi sosial yang semakin buruk. Para penguasa dan pemerintah yang bergerak dalam dunia berpolik, kadang mengorbankan yang miskin. Mereka hanya menyuarakan kepada semua orang untuk memperhatikan kaum miskin, sementara mereka sendiri berpangku tangan dan hanya bermain pada tataran wacana. Janji-janji palsu sekelompok orang atau secara pribadi demi memenangkan dan mendapat suatu kedudukan sosial dengan memperalat kaum miskin, janji-janji manis untuk memberikan perhatian secara khusus kepada orang miskin tenyata hanyalah sebuah utopia belaka. “Habis manis sepahnya di buang.” Mungkin inilah slogan yang tepat untuk menggambarkan betapa manusia dewasa ini dengan pengetahuannya yang luas dapat memperalat sesama. Setelah mendapat kedudukan yang baik dalam kursi kepemerintahan, lupa akan janjinya. Adalah sangat ironis sekali. Kalau dulu kaum buruh akibat revolusi industri mereka diperas, sekarang inilah bentuk pemerasan, kekerasan model baru.
Berhadapan dengan realitas yang demikian, ternyata masih banyak lembaga sosial yang berkecimpung dalam menangani malasah kaum miskin terutama masalah para buruh. Tujuan mereka jelas yakni ingin menyelamatkan nasib mereka yang lemah, yang tidak memiliki undang-undang perlindungan hukum yang pasti. Bagaimana dengan Gereja?

b. Peran Gereja

Bagaimana peran gereja dalam kondisi seperti ini? Misi penginjilan Gereja dewasa ini dapat berpijak pada instrumentum Laboris No. 51, dengan menekankan dialog segitiga; pertama dengan kaum miskin, kedua dengan penganut agama lain, ketiga dengan kebudayaan. Aspek pertama, dialog dengan orang miskin. Kenyataan membuktikan bahwa penduduk indonesia hampir sebagian besarnya kaum miskin. Oleh karena itu, perhatian kepada kaum miskin mendapat prioritas yang besar dari Gereja. Bagaimana Gereja menjalan dialog ini? Dengan meneladani model perseketuan para rasul perdana, Gereja dapat membukan ruang dialog dengan kaum miskin. Persekutuan para rasul perdana ini nyata lewat perayaan ekaristis. Persekutuan ini adalah persekutuan cinta dengan memberikan penekanan khusus pada pesan sosial Yesus. Gereja akan mulai menjalankan misi dialog dengan orang miskin jikalau Gereja secara sungguh-sungguh mendalami pesan sosial Yesus dalam Kitab Suci.
Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan orang miskin. Yesus adalah penyelamat bagi semua orang miskin. Yesus melibatkan diri dalam dialog dengan kaum miskin, orang buta, lumpuh, pengemis, sakit dan sebagainya. Oleh karena itu, Model bagi Gereja adalah Yesus sendiri. Misi cinta kasih Gereja dan seluruh pelayanannya hendaklah mengalir dari Yesus sendiri dan Sabda-Nya yang dapat memberikan daya dan kehidupan bagi yang miskin dan lemah. Sabda-Nya yang memberikan kehidupan atas nama dan demi kepentingan kaum miskin.
Aspek kedua adalah dialog dengan penganut agama lain. Apa kepentingan agama lain dalam membahas keberpihakan Gereja terhadap orang miskin? Dalam dunia sekular dan pluralitas agama, panggilan Gereja terhadap orang miskin seringkali mendapat cibiran dan cemoohan dari penganut agama lain. Misalanya ketika terjadi gempa, banjir, dan masalah sosial lainnya, Gereja tidak tinggal diam dan hanya berpangku tangan. Meskipun tanpa membawa bendera agama, seringkali kehadiran dan keterlibatan Gereja untuk membantu sesama yang mengalami musibah dinilai oleh orang dari agama lain sebagai bentuk kristenisasi. Dalam rangka untuk menghindari dan mengurangi kemungkinan akan adanya pandangan seperti ini, maka Gereja perlu membangun suatu ruang dialog dengan agama lain sehingga misinya untuk membantu mereka yang miskin dan yang mengalami bencana tidak dapat dihalangi oleh anggapan seperti itu. Ruang dialog dengan agama lain, pertama-tama bukanlah bermaksud untuk menyamakan konsep dan paham atau harus berdiri di atas satu paham yang sama, melainkan untuk membuka kemungkinan baru di mana setiap agama dapat mengakui dan menghargai kehadiran agama lain dalam keberagaman dan keunikannya.
Aspek ketiga adalah dialog dengan kebudayaan. Faktor kebudayaan sangat menentukan untuk terima tidaknya suatu pewartaan dan kehadiran Geraja. Dengan mempelajari dan memahami kebudayaan suatu daerah akan dengan mudah injil cinta kasih yang ditawarkan kepada sesama itu diterima. Yesus hadir dalam budaya tertentu dan dalam konteks budaya itulah Yesus memulai misi-Nya. Misi-Nya berangkat dari konteks manusia dengan segala struktur dan dinamika hidup di dalamnya. Oleh karena itu, keberpihakan dan keterlibatan Gereja kepada orang miskin juga harus memperhatikan budaya.

c. Kekhasan Panggilan Gereja

Panggilan Gereja kepada orang miskin adalah panggilan semua orang Kristen yang melalui pembaptisan telah dipersatukan dengan Yesus. Panggilan ini sesunguhnya sudah terjadi dan dimulai dari bejana baptis. Di sanalah kita telah dengan setia dan rela mau mengambil bagian dalam misi Yesus. Bejana baptis adalah medan pertama kali kita menjalankan misi Yesus. Dasarnya di sana. Melalui jawaban ‘ya’ kita untuk mengikuti Kristus sesungguhnya kita telah dengan sadar dan mau, menyatakan diri untuk terlibat dalam hidup sesama sebagaimana Yesus lakukan dan jalankan. Oleh karena itu, panggilan Gereja kepada orang miskin juga merupakan panggilan kita semua. Kita diundang untuk berladang dan bermisi dalam ladang dan wilayah misi yang sama yakni kaum miskin.
Dalam kaitan dengan undangan Gereja di atas, salah satu hal yang direfleksikan setelah Konsili Vatikan II adalah apakah arti dan hidup menggereja di tengah kancah kemiskinan? Pertanyaan ini sesungguhnya ingin mempertacam kekhasan panggilan Gereja kepada orang miskin yang dapat membedakan dengan lembaga-lembaga sosial, lembaga-lembaga publik lainnya yang sama-sama mempunyai keperihatinan kepada orang miskin.

Keprihatinan Gereja, Keprihatinan Dunia

Keprihatinan Gereja kepada kaum miskin merupakan keprihatinan seluruh dunia. Keprihatinan ini adalah sebuah undangan kepada seluruh umat manusia, secara khusus umat Allah yang mengimani Kristus sebagai Sang Juru Selamat untuk merefleksikan hakikat panggilan kita kepada kaum miskin atas masalah yang selalu melilit negara kita secara khusus kaum miskin. Gereja selalu memandang dengan penuh kasih sayang terhadap nasib kaum miskin sambil mengupayakan kegiatan berpastoral dan sosial. Kegiatan pastoral dan sosial ini bertujuan untuk memperkembangkan manusia secara utuh baik segi jasmani maupun rohani, material dan spiritual. Pada poin “material dan spiritual” inilah yang membedakan bentuk keberpihakan Gereja kepada kaum miskin dengan lembaga sosial lainnya.
Persoalan kaum miskin merupakan persoalan kemanusiaan, di mana mereka membutuhkan jaminan atas hak hidup layak. Oleh karenanya, Gereja Katolik melalui komisi keadilan, perdamaian, pastoral mengundang semua umat manusia untuk membuka mata terhadap realitas kemiskinan yang dialami kaum miskin.
Keprihatinan Gereja bukan hanya menyentuh persoalan kaum miskin. Sesungguhnya dewasa ini, bentuk keberpihakan Gereja terhadap masalah sosial sangat kompleks. Dalam kekompleksitasan masalah seperti itu, kemiskian mempunyai arti baru. Romo F. Magnis-Suseno mengatakan kemiskian dalam arti bahwa orang tidak menguasai sarana-sarana fisik secukupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, untuk mencapai tingkat kehidupan yang masih dapat dinilai manusiawi. Kemiskinan yang dialami oleh kaum miskin sesungguhnya bukanlah kesalahan kaum miskin, tetapi akibat kondisi-kondisi objektif kehidupan mereka. Artinya kemiskinan bukanlah akibat kehendak mereka sendiri misalnya malas, suka judi. Namun, sebagian besar akibat ketidakadilan struktural. Ketidakadilan struktural maksudnya kemiskinan disebabkan karena strukturalisasi politik, ekonomi, idiologi dan sebagainya di mana hanya sebagai kecil orang saja yang hanya menikmati sarana-sarana produksi dan dalam pengambilan keputusan terhadap hidup bermasyarakat. Inilah yang dialami oleh kaum miskin dewasa ini.

c. Peran Negara

Negara memiliki peran yang sangat besar dalam menangani masalah kemiskinan yang dialami oleh kaum miskin. Negara yang dimaksud adalah aparat pemerintah. Pemerintah negara berkewajiban untuk melindungi hak-hak hidup setiap orang secara khusus hak untuk mendapatkan hidup bahagia bagi yang miskin.
Langkah dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sangat diharapkan oleh mereka yang ekonominya lemah. Oleh karena itu, pemerintah perlu menerapkan prinsip keadilan. Prinsip keadilan agar dapat menjunjung tinggi hak dan kewajiban setiap pribadi. Prinsip keadilan artinya memberikan apa yang menjadi hak dan kewajiban dengan tidak memandang buluh, suku, ras, agama dalam melihat setiap pribadi.
Namun, seperti yang dikemukan dalam dokumen ini, bahwa dengan memberikan wewenang kepada negara untuk memecahkan persoalan-persoalan sosial, itu bukan berarti negaralah yang mengatur segalanya, melainkan ada batas di mana negara harus memperhatikan kebebasan dan hak-hak pribadi manusia. Maka, peran pemerintah juga harus memperhitungan dimensi personal manusia.

VI. Penutup

Dengan bertitik tolak dari persoalan dan realitas di atas, sesungguhnya ini merupakan undangan Gereja kepada kita semua agar bersama-sama merajut harapan dan menatap hari depan sesama yang miskin. Sebagaimana Gereja adalah tanda dan harapan kehadiran Allah yang berziarah dalam sejarah manusia, hadir dan bergumul dalam persoalan-persoalan kemanusiaan di tengah dunia, maka kita semua juga menjadi tanda dan harapan bagi mereka yang menderita, sakit, lapar dan membutuhkan bantuan. Keberpihakan, keprihatinan dan kepedulian Gereja kian hari kian mendobrak kedalaman nurani dan budi setiap insan. Melalui dokumen Centesimus Annus artikel No. 11, Gereja mau mengajak kepada semua orang beriman untuk tidak hanya berpangku tangan dan hanya bermain pada wacana mengenai persoalan kemiskinan dan keberpihakan kepada semua orang terutama mereka yang miskin, menderita, terasing dan menjadi korban ketidakadilan. Dengan peduli kepada mereka yang terpinggirkan dari kehidupan modern saat ini, Gereja mengundang seluruh umat beriman untuk mengambil bagian dalam upaya mengangkat martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang sempurna, yakni manusia sebagai citra Allah, gambar dan wajah Allah yang penuh dengan kemuliaan di dunia ini.
Keprihatianan Gereja terhadap kaum miskin yang diperlihatkan oleh dokumen Centesimus Annus pada zamannya, kini masih sangat kontekstual dan relevan dengan segala kompleksitas persoalan yang melanda umat manusia dewasa ini. Keanekaragaman persoalan yang ada menunjukkan tanda-tanda di mana wajah Allah mulai dirusakan akibat praktik ketidakadilan, pemerasan, strukturalisasi politik, ekonomi dan idiologi. Jadi, dengan berpihak kepada kaum miskin Gereja mau mengembalikan dan memulihkan kembali wajah Allah yang rusak akibat keserakahan manusia.


DAFTAR PUSTAKA

Banawiratma, J. B., (ed.). Kemiskinan dan Pembebasan, Yogyakarta: Kanisius, 1987.

Hardawiryana, R., (terj.). Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial Gereja, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1999.

Kieser, Bernhard. Moral Sosial; keterlibatan Umat dalam Hidup bermasyarakat,
Yogjakarta: Kanisius, 1987.

Kirchberger, Georg dan John M. Prior (ed.). Yesus Kristus Penyelamat; misi cinta dan
pelayanan-Nya di Asia, Ende: Arnoldus, 1999.

Paulus II, Yohanes. Church in Asia (Gereja di Asia) diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, Jakarta: Dokumen dan Penerangan KWI, 2000.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar