6.13.2009

st.ignatius dr antikia

SANTO IGNATIUS DARI ANTIOKHIA

I. Pengantar
Iman kita bukanlah hasil usaha kita semata-kata. Artinya, kita beriman karena orang lain yang membawa kita kepada iman. Keyakinan orang lain yang lebih dulu beriman memberikan inspirasi bagi kita untuk semakin beriman, bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga dalam perbuatan. Kesaksian mereka merupakan cerminan bagi kita bagaimana harus beriman.
Penyaksi iman utama dalam kehidupan kita sebagai umat katolik adalah mereka yang berwenang mengajar dalam Gereja. Mereka itu adalah.Magisterium Gereja. Mereka diangkat oleh Gereja sebagai pengajar iman baik oleh karena kesalehan hidup maupun oleh kharisma serta kuasa yang diberikan Gereja kepada mereka.
Dalam makalah singkat ini kita akan membicarakan St. Ignatius dari Antiokhia uskup dan martir sebagai salah satu contoh penyaksi dan pengajar iman sejati. Ia menunjukkan bagaimana iman itu harus dihayati dan dibela, terutama ketika iman itu dituntut untuk dipertanggungjawabkan. Hal ini akan kita lihat dari sejarah hidup dan ajaran St. Ignatius dari Antiokhia yang akan kami uraikan di bawah ini.

II. Riwayat Hidup
St. Ignatius adalah seorang uskup di Antiokhia, murid Santo Yohanes Rasul, yang hidup pada akhir abad I. Ia menjadi uskup kedua sesudah St. Petrus. Anthiokia, pada awal perkembangan kekristenan adalah pusat pertumbuhan umat Kristen. Umat Kristen pada saat itu berada dalam situasi penganiayaan dan pengejaran oleh kaisar Trajanus (98-117). Sebagai seorang uskup ia mempunyai otoritas yang sangat menentukan bagi perkembangan Gereja. Sementara itu, Kaisar Romawi mengarahkan penindasan mereka terhadap para uskup sebagai pemimpin jemaat. Kepada umat Kristen, kaisar hanya menawarkan dua pilihan: mati atau murtad. Jikalau murtad dan menyangkal imannya, ia akan selamat. Namun, St. Igantius berpegang teguh pada imannya akan Yesus Kristus. Oleh karena itu, ia dibawa ke Roma untuk dihukum mati. Dalam perjalanannya ke Roma, ia menulis empat surat yang ditujukan kepada umat di Efesus, Magnesia, Tralles, dan Roma serta ketiga suratnya yang lain ditujukan kepada jemaat di Filadelfia, Smirna, dan kepada Polikarpus saat perpisahannya. Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Ignatius menekankan beberapa tema penting untuk menjawabi persoalan yang sedang umat hadapi ketika itu yaitu inkarnasi, pentingnya persatuan dan ketaatan kepada otoritas Gereja, ekaristi sebagai pengikat perdamaian, kekuatan Salib, dan penaklukan atas dosa dan kematian. Akan tetapi, dalam uraian selanjutnya kami hanya akan membahas salah satu tema dalam surat kepada umat di Efesus yaitu “Inkarnasi”.
Latar belakang lahirnya ajaran inkarnasi ini sangat erat kaitanya dengan situasi umat Kristen pada masa transisi dan krisis iman oleh karena waktu itu umat berhadapan dengan suatu ajaran akan pribadi Kristus yang belum sungguh mempunyai dogma yang pasti. Dalam konteks ini, munculah aliran-aliran yang mencoba menafsirkan akan pribadi Yesus. Salah satunya Docetisme, suatu bidaah yang hidup pada masa awal gereja. Docetisme adalah bidaah yang menyangkal realitas jasmaniah Kristus dari kelahiranNya sampai wafatNya di kayu Salib; Kristus sebagai Putra Allah hanyalah seolah-olah saja seperti manusia. Sejalan dengan berkembangnya bidaah ini, iman para rasul yang dimiliki umat perdana mendapat tantangan. Sebagai pemimpin umat, para Bapa apostolik berusaha menjawabi tantangan yang sedang dihadapi umat saat itu. Iman umat perdana akan peristiwa inkarnasi terus ditekankan oleh para pemimpin umat supaya umat tidak terjerumus dalam aliran yang menyesatkan. Keyakinan iman seperti ini yang ditekankan kembali oleh Ignatius dalam suratnya kepada umat di Efesus.

III. Ajaran Ignatius dari Antiokhia tentang Inkarnasi
Secara etimologis, inkarnasi berasal dari kata Latin yaitu incarno (in dan caro) yang berarti menjadi daging; menjelma; menjadi manusia. Oleh kaum Kristiani, pengertian ini dipakai juga untuk mengungkapkan keyakinan akan peristiwa penjelmaan Yesus Kristus menjadi manusia. Jadi, Inkarnasi adalah keyakinan bahwa, demi penyelamatan dunia Putera Allah menjelma menjadi manusia, lahir dari perawan Maria, wafat di Salib dan bangkit dari mati dalam kemanusiaan yang mulia.
Dalam hal ini, inkarnasi harus dipahami secara meyeluruh. Dalam arti, seluruh kehidupan Yesus adalah pengungkapan inkarnasi itu sendiri. Dikatakan demikian karena Allah yang menjelma menjadi manusia bukan hanya terungkap pada peristiwa kelahiranNya, melainkan peristiwa inkarnasi harus dipahami dalam seluruh hidup Yesus karena seluruh kehidupan Yesus menyatakan Allah yang mengalami kemanusiaan kita secara utuh dalam pengalaman hidup manusia, masuk dalam sejarah hidup manusia. Puncak penjelmaan ini adalah wafat Yesus di salib. Kematian Yesus mengungkapkan Yesus yang sungguh ilahi dan sungguh manusia.
Ignatius kembali menekankan hal ini dengan maksud bila kita menerima dan mengakui Kristus yang mati di Salib, kita menerima bahwa Kristus itu sungguh Allah yang menjelma menjadi manusia, menyelamatkan dan mengembalikan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian, kita mengakui karya Allah yang menyelamatkan kita hanya karena Allah berinkarnasi yang berpuncak pada wafat dan kebangkitanNya. Sebab apabila kita menyangkal penjelmaan Yesus dan puncaknya pada kematiannya di kayu salib berarti kita menolak karya Allah yang menyelamtakan kita. Dengan demikian kta menolak keselamatan Allah.
Kepada jemaat di Efesus, Ignatius menyampaikan ajaranya tentang Allah yang menjelma menjadi manusia melalui perawan Maria. Dengan demikian ia mengajak umat untuk menolak ajaran Docetisme. Ia mendorong jemaat untuk sungguh-sungguh mengimani Yesus Kristus yang sungguh Allah yang menjelma menjadi manusia. Hal ini menjadi penting untuk menjawabi persoalan yang dialami oleh umat di Efesus. Berkaitan dengan itu, St. Ignatius menyatakan demikian:
“Avoid heretics like wild beasts; for they are mad dogs, biting secretly. You must be on your guart against them; their bite is not easily cured. There is only one physician [who can cope with it], a physician who is at once fleshly and spiritual, generate and ingenerate, God in man, true life in death, born in Mary and of God, first passible than impassible, Jesus Christ our Lord.”

Kita telah mengetahui latar belakang kehidupan umat Kristen saat itu. Ignatius menggambarkan ajaran ini seperti anjing-anjing gila yang ketika menggigit sulit untuk dilepaskan lagi. Demikian halnya apabila umat Kristen menerima ajaran sesat tersebut.
Surat di atas ditulis Santo Ignatius dengan misi mengembalikan iman umat pada iman yang benar akan Yesus Kristus yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia yang menjelma melaui perawan Maria. Karena hanya dengan jalan itulah kita memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, dia mendorong umat beriman untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan yang sejati akan Yesus Kristus. Dalam konteks ini, ia mendorong seluruh jemaat untuk menolak ajaran sesat itu karena, menurut Ignatius, sekali umat beriman terjerumus dalam keyakinan sesat itu, sangat sulit untuk kembali kepada ajaran iman yang benar.
Ajaran inkarnasi yang ditekankan oleh St. Ignatius merupakan inti iman Kristiani. Menyadari hal itu, ajaran St. Ignatius yang tentu merupakan inti iman para rasul, sangatlah menentukan identitas Kekristenan sepanjang sejarah. Menyangkal peristiwa inkarnasi berarti menyangkal seluruh keutuhan iman krisriani, seperti yang tertera dalam Credo para rasul. Kesadaran akan hal ini yang mendorong St. Ignatius untuk menyadarkan umatnya supaya tetap teguh berpegang pada iman yang benar akan Yesus Kristus.

IV. Relevansi
Kita hidup dalam situasi dunia yang berbeda dengan St. Ignatius. Akan tetapi, kita tetap berpegang pada inti iman yang sama. Sebagaimana iman yang hidup pada awal Gereja mendapat tantangan yang serius, demikian juga dengan iman yang kita hayati saat ini.
Pada zaman modern ini, persoalan iman seringkali dinomorduakan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin “menguak” misteri iman. Sebagai kaum beriman akan Kristus, kita dituntut untuk mempertahankan iman kita akan Kristus yang lahir, sengsara, wafat dan bangkit.
Menarik, sebagai uskup Ignatius menanggapi persoalan yang dihadapi umatnya bukan dengan menyerang secara langsung bidaah yang sedang berkembang, melainkan lebih pada usaha menguatkan iman umat agar setia kepada kemurnian imannya akan Kristus. Hal inilah yang mesti kita pelajari dari keutamaan St. Ignatius dari Antiokhia.
Pertama, Bagi Iman Gereja secara umum. Ajaran Ignatius dari Antiokhia tentang Inkarnasi kemudian menjadi inti iman Gereja hingga saat ini. Inkarnasi atau penjelmaan Allah menjadi manusia adalah credo yang tidak dapat disangkal dalam Iman katolik yang tetap eksis sampai sekarang. Pada zaman St. Igantius, ajaran tentang Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia belum diresmikan secara definitif dalam Gereja. Namun, sebagai bapa apostolik ia telah meletakan ajaran bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia yang terjadi melalui penjelmaan dalam rahim perawan Maria. Meskipun pada awalnya ajaran itu lahir karena munculnya bidaah Docetisme, tetapi ajaran Ignatius tentang Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia adalah awal bagi ajaran Gereja yang secara resmi diakui dalam konsili Nicea I (325), Kalsedon (451), Konstantinopel (680/681). Ajaran ini kemudian menjadi inti iman Kristiani yang tetap hidup hingga sekarang bahkan selama agama Katolik itu ada. Magisterium sebagai yang berwewenang mengajar dalam Gereja memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjaga keutuhan iman.
Kedua, Bagi Agen Pastoral. Teladan St. Ignatius dari Antiokhia menginspirasikan para agen pastoral untuk peka dengan persoalan yang dihadapi umatnya. Pada Zaman sekarang, kemajuan Teknologi telah mengalihkan umat dari Tuhan. Teknologi menjadi agama baru bagi umat kita. Selain itu, munculnya berbagai buku dan tulisan yang berusaha melawan dan manyangkal kebenaran iman Gereja. Bagaimana kita menyikapi semuanya itu?
Ketiga, Bagi Mahasiswa Filsafat dan Teologi. Sebagai mahasiswa yang mempelajari secara khusus filsafat dan teologi, kita dipersiapkan agar memiliki pemahaman iman yang benar sehingga mampu mempertanggungkanjawabkannya kepada mereka yang menuntut pertanggungjawaban atas iman itu sendiri. Akhirnya, diharapkan agar kita mampu merefkleksikan iman dan menjawab kontek berdasarkan iman kristiani.

V. Refleksi
Inkarnasi, Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus melalaui Maria mengungkapkan suatu misteri penting, Allah yang agung mau masuk ke dalam pengalaman dan sejarah manusia secara utuh. Inilah wujud kerendahan hati dan kasih Allah yang amat besar terhadap manusia karena melalui inkarnasi inilah Allah mewujudkan misi-Nya untuk mengembalikan martabat manusia sebagai anak-anak Allah dan menyelamatkannya kembali dari perbudakan dosa. Dengan kata lain, melalui inkarnasi Allah menunjukkan kehendak-Nya untuk memanggil kembali setiap orang kepada kekudusan. Bahwa dengan penjelmaan diri Allah ini, manusia dipanggil untuk mengalami Allah secara dekat dalam pengalaman hidup secara nyata sebagaimana Allah sendiri masuk ke dalam pengalaman hidup manusia; membawa Allah dalam seluruh pengalaman hidup kita hingga pada akhirnya mampu menjadi serupa dengan Dia. Keyakinan ini menjadi penting oleh karena tatkala kita sungguh percaya bahwa Allah sungguh menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus dan mengalami kemanusiaan secara utuh, kita dibawa pada kesadaran akan keluhuran martabat manusiawi kita yang diselamatkan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Pengalaman hidup manusia yang sungguh diarahkan kepada Allah dapat menghantar manusia pada perjumpaan dan persatuan yang sempurna dengan Allah.
Seluruh perjalanan hidup manusia sesungguhnya mengarah pada suatu tujuan yang sama, yakni perjumpaan dan persatuan yang sempurna dengan Allah. Hal ini hanya mungkin kalau manusia mampu mengimani sungguh penjelmaan diri Allah dalam diri Yesus dan menerima karya keselamatan yang dibawa oleh Yesus sendiri yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan-Nya. Sebab, keyakinan ini membawa kita kepada kesadaran akan panggilan hidup kita yang sesungguhnya dan kesadaran tersebut akan menguatkan dan mendorong kita terus-menerus untuk belajar menjadi rendah hati, membiarkan diri kita dibentuk oleh Allah untuk semakin menjadi serupa dan bersatu dengan Dia dalam seluruh pengalaman hidup kita kini dan akan mendapat pemenuhannya tatkala kita mencapai kehidupan kekal bersama Allah. Sebagaimana yang dikatakannya kepada orang Kristen di Efesus, St. Ignatius sungguh menekankan iman yang sejati akan Allah yang menghendaki keselamatan kepada seluruh umat manusia, bahkan dengan jalan penjelmaan, masuk secara utuh dan mengalami pengalaman manusia sampai pada kematian-Nya di kayu salib. Seluruh umat manusia dipanggil kepada persatuan dengan Allah yang mulai diwujudkan oleh setiap orang dalam seluruh pengalaman hidupnya.
Hidup kita saat ini juga adalah sebuah perjalanan untuk menjadi kudus. Tentu hal menjadi kudus mengacu pada sebuah proses yang panjang yang hanya mungkin terjadi kalau kita sungguh mengimani karya keselamatan yang dikerjakan Allah dalam diri Yesus dan kesadaran kita akan panggilan kekudusan dalam diri setiap manusia. Sebab, iman dan kesadaran ini akan mengarahkan manusia untuk membaktikan seluruh pengalaman hidupnya dalam kerangka menuju kekudusan. Konkretnya adalah iman akan Allah yang menjelma menjadi manusia yang membawa misi keselamatan. Kesadaran kita akan panggilan kekudusan yang ada di dalam setiap kita, menguatkan kita untuk senantiasa mengarahkan hidup kita kepada kekudusan ini, sehingga panggilan yang kita hayati saat ini, proses belajar yang tengah kita geluti, proses formasi yang kita jalani, seluruh aktifitas dan pengalaman hidup kita senantiasa diarahkan dalam kerangka yang sama, yakni kepada kekudusan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar