6.13.2009

kejahatan

Tuhan Kebaikan, Tuhan Kejahatan
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Pertanyaan saya kemudian, apakah betul bahwa sumber kejahatan itu di luar Tuhan? Apakah tidak mungkin kejahatan ada dalam Tuhan sendiri? Kalau kejahatan secara mutlak di luar Tuhan, apakah dalam konsepsi monoteisme hal itu tidak berujung kepada kemusyrikan, karena akibatnya adalah adanya dua Tuhan: Tuhan Kebaikan (The Hero) dan Tuhan Kejahatan (The Villain)? Apakah itu tidak menyekutukan Allah?
09/05/2004 06:40 #
Komentar
Komentar Masuk (43)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)
Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 >
ass.wr.wb.
Dalam tulisan sdr ulil yang berjudul Tuhan kebaikan, dan Tuhan kejahatan adalah sikap yang terlalu lepas dari kontrol pikiran anda. karena seperti kita ketahui Tuhan sendiri maha benar dan mutlak.
Kejahatan disebabkan bukan dari diri Tuhan, melainkan dari salah satu mahluk ciptaan Tuhan yang bernama Iblis. Iblis sangat besar dalam menggoda manusia yang bertujuan menjadikan manusia tersesat di dunia. jadi anda sebagai seorang muslim harus menyakini ke mutlakakan kebenaran Tuhan. ( hanya Tuhan yang mengetahui dari tuan-tuan manusia )
wasallam,
Mhd.Iqbal
#1. Dikirim oleh muhammad Iqbal pada 11/05 08:05 AM
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Menarik sekali apa yang telah dikemukakan oleh Saudara Ulil Abshar Abdalla tentang Tuhan kebaikan dan Tuhan Kejahatan ini. Tapi hal yang saya selalu pikirkan selama ini, terkadang saya juga mempunyai pemikiran-pemikiran diluar batas pemikiran dan akal saya. Saya suka memikirkan zat Tuhan, tentang takdir (qadha dan qadhar) dan hal-hal yang lainnya.
Untuk Saudara Ulil Abshar Abdala, menurut saya bahwa kekuatan akal dan pikiran itu bukan segala-galanya. Kita memang diberikan akal dan pikiran oleh Tuhan, tapi kekuatan akal dan pikiran kita tidak bisa menjangkau kekuatan Tuhan.
Akal dan pikiran yang saat ini kita pakai, terkadang belum bisa menemukan jawaban-jawaban yang pasti mengenai misteri-misteri Ilahi. Mengenai Tuhan, takdir dan ruh karena memang Tuhan sendiri telah berfirman bahwa janganlah memikirkan zat-Ku tetapi lihatlah ciptaan-Ku.
Mengenai kebaikan dan kejahatan, pada dasarnya Tuhan telah menggariskan dengan jelas. Tergantung kepada manusia itu sendiri. Apakah mau ke jalan kebaikan ataukah ke jalan kejahatan ???
Jangan selalu suhuzon (buruk sangka) kepada Tuhan. Sebenarnya kita diberikan dua opsi, pertama jalan kebaikan, yaitu jalan yang Tuhan ridhai, kedua jalan kejahatan yaitu jalannya Iblis dan syetan, yang tidak ingin manusia pada jalan kebaikan.
Pada kesempatan tanggapan ini pula saya ingin bertanya dan memberikan komentar tentang keberadaan Jaringan Islam Liberal. Pertama, apa yang melatarbelakangi Ulil dan teman-teman membentuk komunitas seperti ini. Kedua, apa tujuan dan target daripada terbentuknya Jaringan Islam Liberal. Ketiga, adakah orang/organisasi yang bermain di belakang Jaringan Islam Liberal yang ingin menggerogoti dan menghancurkan Islam. Keempat, darimana dana operasional dan gaji para karyawan.
Mengenai komentar saya : Pertama, tidak ada Islam Liberal atau Islam fundemantalis, yang ada hanyalah Islam. Tidak ada pengelompokan/pengkotak-kotakan tentang Islam. Jangan hanya karena ada sebagian umat yang sangat keras dalam penegakkan syariat maka dikatakan Islam fundementalis, atau karena ada sebagian umat yang mempunyai perbuatan dan pikiran yang sekuler ala Barat maka dikatakan Islam Liberal.
Kedua, terkadang saya berfikir semakin pintar dan cerdas dalam mengkritisi sesuatu, sering sekali orang tidak mau lagi melakukan sesuatu yang telah ditentukan oleh Tuhan. Seperti shalat dan lainnya.
Padahal Nabi Muhammad SAW, sekalipun ia seorang Rasul yang telah diberikan tiket masuk surga terlebih dahulu, tidak sombong seperti kita. Ketiga, jangan saling menyalahkan dan membenarkan pemikiran dan akalnya. Jangan saling menyalahkan kelompok/umat yang lain. Disinilah letak kehancuran umat Islam selalu mudah di adu domba. Jalinlah ukhuwah Islamiyah, bentuk tali persaudaraan pererat silaturahmi pupuk persatuan dan kesatuan. Semoga Tuhan memberikan kemenangan dan meridhai kita semua, Amin.
Saya berharap semoga redaksi JIL bisa memberikan tanggapan dan jawaban kepada saya melalui email.
Saya mohon maaf apabila dalam tulisan saya banyak kesalahan dan kekurangan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
#2. Dikirim oleh Hermawan pada 11/05 01:06 PM
Mungkin banyak yang merasa malu mempunyai Tuhan yang punya sisi Jahat dalam Diri-Nya. Tetapi saya merasa lebih malu punya Tuhan yang Mendua.
Sebagai seorang Monotheis, saya yakin benar bahwa Tuhan adalah satu-satunya Eksistensi, dan segala eksistensi ciptaan berasal dari Eksistensi Tunggal-Nya, tak terkecuali eksistensi dari Kejahatan. Tuhan “Menciptakan dari Diri-Nya Sendiri”
Bagi saya, Tuhan adalah Segalanya, dan segalanya adalah Tuhan. Saya paling geli mendengar seorang yang merasa beraqidah Tauhid, tetapi menganggap kita dan semua ciptaan-Nya (tentu saja termasuk di dalamnya Kejahatan) terpisah dari Tuhan.
Karena bila kita menganggap ada eksistensi di luar Diri-Nya, berarti kita meyakini ada “jarak"(tentu saja bukan dalam arti fisik) antara Tuhan & ciptaan-Nya. Dan bila kita meyakini ada “jarak” antara kita dengan Tuhan, sama saja kita mengakui adanya “eksistensi lain” atau “ruang"(tentu saja bukan dalam arti fisik) diantara kita dan Tuhan yang melingkupi kita dan Tuhan. Atau dengan kata lain: “menganggap Kejahatan terpisah dari Tuhan, sama saja mengakui adanya “eksistensi lain” yang yang lebih Besar dari Tuhan, karena tidak mungkin yang dilingkupi lebih besar dari yang melingkupi.
Di dalam Alquran disebutkan: “kemanapun engkau menghadap, di situlah Wajah Allah”. Artinya “Dunia” ini, dengan segala Kebaikan dan Kejahatannya adalah cerminan dari “Sifat2-Nya, Pikiran2an-Nya, Perasaan2-Nya, Kehendak-Nya, dan Perbuatan2-Nya. Ketika kita merasakan Kasih Sayang, perasaan itu juga menjadi bagian dari Perasaan Agung-Nya. Demikian juga kalau kita berniat jahat, pikiran itu akan menjadi bagian dari Pikiran-Nya, dan bila niat jahat itu kita lakukan, itu akan menjadi bagian dari Perbuatan-Nya.
Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. kita tidak perlu malu punya Tuhan yang Jahat, karena dalam kejahatan itu terletak Keagungan-Nya. Barang kali kata yang paling tepat untuk memahami Tuhan, meminjam rumusan Fritjoff Schuon (Seorang Filosof Muallaf dari Prancis): “Tuhan adalah Kepastian Mutlak, tetapi Dia juga Segala Kemungkinan yang Tak Terbatas”. Di dalam Kemungkinan Yang Tak Terbatas itulah, terletak Keagungan-Nya.
Dengan kesadaran itu, sebagai hamba yang berbakti, kita tentu akan selalu menjaga perasaan, pikiran, sifat2, dan perbuatan kita, karena: kita tidak ingin “mencoreng” Wajah Allah.
Wallahu A’lam Bishshowaab
Kustiyadi
#3. Dikirim oleh Kustiyadi pada 12/05 12:05 AM
Hebat, seperti pemikiran-pemikiran Anda yang lain, saya kagum dengan keberanian dan kekritisan di artikel ini. Subhanallah. Saya sendiri tidak sependapat dengan para fundamentalis yang menuding Bung Ulil kelewat menuhankan akal. Bagi saya, interpretasi dan argumentasi keagamaan Anda tak lebih dari proses ber-Islam, mencari jalan menuju keselamatan yang kontekstual.
Cuma, kali ini kok argumentasi Anda sangat ringkih. Silogisme-nya terasa melompat ketika memunculkan “kemusyrikan”. Juga, sepertinya Anda lupa bahwa tuhan, rasul dan akal adalah hal berbeda. Darimanakah manusia sekarang mendapatkan interpretasi yang lebih baik tentang agama, atau tuhan? Paling utama tentu kitab suci. Dan, sangat mungkin terjadi distorsi perjalanan nilai mulai dari tuhan, kitab suci hingga ke manusia. Jadi, kalaupun “kejahatan” muncul, perjalanan itulah tempat akal bermain-main, menggugat dan berspekulasi.
#4. Dikirim oleh mochamad husni pada 12/05 05:06 AM
Kalau menurut saya mas Ulil, kita perlu dibedakan antara Tuhan sebagai pencipta dan tuhan yang kita fahami secara akal. Yang mas Ulil uraikan menurut saya adalah tuhan yang difahami secara akal saja, yang selalu berevolusi, temporer dan dinamis. Tuhan yang difahami secara akal saja akan sangat eksklusif, artinya “tuhan” diciptakan oleh sebuah hasil ciptaan. Akibatnya “tuhan” menjadi milik manusia/akal. Dalam kasus ekstrim, hal semacam ini bisa sangat bertentangan dengan ajaran tauhid. Sedangkan Tuhan adalah pencipta akal.
#5. Dikirim oleh Yusril Yusuf pada 12/05 05:06 AM
Kejahatan memang berada di luar tuhan, dan itu sudah menjadi ketetapan Allah. Jika kejahatan berada di dalam tuhan, kita sebagai manusia tidak perlu menyembah tuhan, seperti kita tidak perlu mentaati pemimpin yg zalim. Jadi jika kejahatan itu di dalam tuhan menurut saya tidak logis. Sebenarnya Allah bisa saja menghilangkan kejahatan di muka bumi ini, tetapi Dia tdk melakukannya karena untuk menguji manusia.
Jadi menurut saya, ketika menulis sesuatu, bung ulil jangan terjebak dengan pendapat-pendapat pemikir non muslim yg tidak pernah membaca dan mengkaji firman tuhan yg sebenarnya ( al quran)
#6. Dikirim oleh umar katab pada 12/05 07:06 AM
Assalamu’alaikum Wr Wb
Entah atas dasar apakah saudara ulil abshor menuliskan tentang keyakinanya bahwa ada tuhan kebaikan dan tuhan kejahatan (entah ‘Tuhan’ mana yang saudara maksudkan..???), serta kemungkinan Tuhan juga masih berproses sebagamana manusia (maaf jika saya salah menulis). Tapi menurut yang saya fahami (lihat qur’an surat ke 90 : 10 ; surat 90 : 8 ; surat 76 : 3 ; surat 64 : 2 ; surat 18 : 29) bahwa Tuhan (Allah SWT) memang memberikan dua jalan pada kita yaita jalan Takwa-jalan kebenaran dan kebaikan dan jalan fujur-jalan salah dan sesat, dan untuk memilihnya kita diberi perangkat berupa “Akal” yang karena akal inilah kita berbeda dengan mahluk lainnya.
Jadi menurut saya sekarang tinggal bagaimana kita mengelola akal kita apakah akan kita pupuk dengan takwa ataukah dengan fujur...baru kita bisa melihat hasilnya kemudian....
Oleh karena itu saya tidak setuju dengan pendapat saudara dalam tulisan saudara tentang ‘Tuhan’ (jika Tuhan yang saudara maksudkan adalah Allah SWT)… karena sudah jelas sekali bahwa sifat ‘kejahatan’ adalah sifat yang mustahil bagi-Nya…
Wallahu’alam.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
#7. Dikirim oleh Muhammad Ayyash pada 12/05 11:06 AM
Bagi saya, apa yang Bung Ulil utarakan tadi sesuatu yang sangat wajar. Bagi mereka yang pernah membaca buku The Tao of Islam karangan Sachiko Murata, maka kita bisa mengerti tentang konsep Jamal dan Jalal Allah. Artinya disamping Allah mempunyai sifat pengasih dan penyayang, Allah juga punya sifat Maha Keras Siksaannya.
Jadi, Setan adalah manifestasi terkuat dari sifat Jalal Allah yang kemudian mengejawantah menjadi simbol kejahatan, dan malaikat adalah manifestasi dari Sifat Jamal. Hanya manusia yang kemudian menjadi makhluk yang termanifestasi dari “Dua Tangan Allah”....
Artinya.. Tuhan adalah sumber kebaikan.. juga sumber kejahatan.... Suatu kesimpulan yang tidak ingin menghina Tuhan.. tapi hanya ingin mencoba memahami Tuhan…
#8. Dikirim oleh Mahyiddin Daud pada 12/05 11:06 AM
Permasalahannya bukan pemisahan antara Tuhan Kebaikan dan Tuhan Kejahatan, tetapi kebaikan dan kejahatan itu sendiri bagi manusia telah terdefinisikan oleh akal, walaupun dia sebenarnya juga merupakan sebuah fitrah., tapi bukan hal yang ghaib.
Karena terdefinisi oleh akal, yang adakalanya juga terpolarisasi oleh kultural, rule-rule produk manusia, dll, maka kebaikan dan kejahatan adakalanya merupakan produk dari sebuah proses, yang dalam ajaran agama sering disebut sebagai takdir.
Takdir, didefinisikan sedemikian rupapun tetap saja merupakan kuasa Allah.
Menurut saya, pemahaman manusia tentang tuhan bukan berarti Tuhan itu sendiri. Untuk meraih Tuhan, selain pemahaman akal perlu pengalaman-pengalan agama, sebagai pemicu pada mengenal Tuhan. Pengalaman-pengalaman agama yang menurut saya menjembatani antara pemahaman tentang tuhan dengan Tuhan itu sendiri.
#9. Dikirim oleh Yusril Yusuf pada 12/05 12:06 PM
Saya seorang yang awam ttg agama..tapi perkenankan saya menanggapi karena dalam proses keyakinan ke-tauhid-an ( Ke Ilahiyatan ) saya selama ini sebagai muslim yang masih mencari pijakan yang tepat ditengah heterogenitas akidah yang ada..saya beranggapan anda terlalu mengagungkan akal, sedangkan akal bersifat relatif artinya pada saat dahulu orang belum menemukan bulan, handphone, TV, fax dll..orang belum dapat membayangkan teknologi itu sedangkan dalam Islam diketahui bahwa sifat manusia itu sombong dan saya tidak perlu menjabarkan arti sombong krn sifat dari tulisan anda merefleksikan dari jiwa itu sendiri.
Saya yakin bahwa manusia diciptakan dari Dzat yang satu tapi dari kesombongannya mereka membuat Tuhan sendiri sendiri ..karena pada fitrahnya semua manusia ingin kembali menemukan sang penciptanya...dan fitrah itu sendiri letaknya di kalbu bukan di akal..sifat dari kerelatifan akal membuat akal itu sendiri bersifat lemah dan mudah dipengaruhi oleh akal-akal yang lain...jadi kesimpulan dari tulisan anda diatas memang Allah menciptakan kebaikan dan kejahatan tapi karena kekuasaan Allah...Allah berhak dan tidak ikut campur mengijinkan patisipasi dari syaitan untuk kejahatan seperti dalam kisah nabi Ayub A.S
#10. Dikirim oleh deny pada 12/05 12:06 PM
Akal mendorong pada kesimpulan bahwa adalah “tidak masuk akal” jika ada kekuatan yang berada diluar Tuhan sehingga sampai pada aksioma bahwa Tuhan Kebaikan adalah juga Tuhan kejahatan. Penjelasan lebih lanjut (yang terus-menerus dituntut oleh akal) adalah bahwa hal tersebut menjadi “masuk akal” jikalau Tuhan adalah Tuhan yang berproses.
Pertanyaan (saya) berikutnya : Apakah Tuhan berproses tanpa terikat dimensi waktu dan tanpa tujuan sebagai batas akhir proses? Apakah manusia dan alam semesta yang juga memiliki kekuatannya masing-masing juga adalah sistem yang sebenarnya berada di dalam Tuhan? Sehingga Tuhan adalah juga manusia dan adalah juga alam semesta? Bisakah disimpulkan bahwa Tuhan yang maha sempurna adalah juga Tuhan yang tidak sempurna? Dan dijelaskan lebih lanjut bahwa Tuhan berproses dari tidak sempurna menjadi sempurna? ..........
Pertanyaan2 di atas baru datang dari saya pribadi, sebagai cabang dari pokok pikiran mas Ulil. Saya juga bertanya-tanya pertanyaan dari cabang-cabang pemikiran orang lain seperti apa ya?
Rasanya tidak perlu harus ada wahyu dari langit terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa memikirkan kesejatian Tuhan adalah sesuatu proses yang tanpa henti (kalau tidak mau dibilang absurd) Namun menyia-nyiakan talenta kehausan akan kesejatianNya adalah lebih absurd lagi. Apalagi dengan pernyataan menakutkan bahwa menguras akal mempertanyakan Tuhan adalah kesesatan.
Pada intinya, sebenarnya saya ingin bahwa pada saatnya kita bisa memperoleh hikmah dari pemikiran seperti ini. Berangkat dari keyakinan saya bahwa semua proses yang jujur selalu menghasilkan hikmah yang bermanfaat.
Ok silakan meneruskan perenungannya. Mas Ulil boleh yakin bahwa paling tidak ada 1 orang yang akan membacanya
Omong2, ada nggak tulisan tentang “menuhankan” rasa ? )
#11. Dikirim oleh deyvata pada 12/05 01:05 PM
Saya tertarik untuk menaggapi komentar dari sdr. umar katab:
kejahatan berada di “luar” tuhan Dari Website - Dikirim: 12/05/2004 14:05
Kejahatan memang berada di luar tuhan, dan itu sudah menjadi ketetapan Allah. Jika kejahatan berada di dalam tuhan, kita sebagai manusia tidak perlu menyembah tuhan, seperti kita tidak perlu mentaati pemimpin yg zalim. Jadi jika kejahatan itu di dalam tuhan menurut saya tidak logis. Sebenarnya Allah bisa saja menghilangkan kejahatan di muka bumi ini, tetapi Dia tdk melakukannya karena untuk menguji manusia.
Jadi menurut saya, ketika menulis sesuatu, bung ulil jangan terjebak dengan pendapat-pendapat pemikir non muslim yg tidak pernah membaca dan mengkaji firman tuhan yg sebenarnya ( al quran)
- umar katab, jakarta
Pertanyaan saya untuk sdr. umar katab, dan sdr2 yg sependapat:
Jika kejahatan itu di dalam tuhan menurut sdr. umar tidak logis, apakah logis menurut logika Tauhid, mempercayai ada eksistensi di luar Tuhan?
Bila ada eksistensi di luar Tuhan, tentu di antara Tuhan dan eksistensi “di luar-Nya” itu, harus ada ruang / jarak dong?
Lebih besar mana, ruang yang ada di antara Tuhan dan “di luar Tuhan” dengan Tuhan yang ada di dalam-Nya?
Keyakinan saya:
Tuhan Maha Besar, artinya, tidak ada eksistensi yang lebih besar dari Tuhan, dan Tuhan melingkupi segala eksistensi. Bila ada eksistensi di luar Tuhan, maka eksistensi di luar Tuhan itu pasti lebih besar dari Tuhan. Inilah Logika Tauhid menurut saya.
Apakah anda meyakini Tuhan Maha Besar, dan meliputi segalanya, dan Dia adalah eksistensi Tunggal, Tidak ada Eksistensi lain selain-Nya, atau anda menganggap ada eksistensi “di luar” Tuhan? semua terserah anda! Mau menjadi Monotheis, atau Polytheis!
“Singgasana Allah meliputi Langit dan Bumi”, dan kita tahu, di dunia kita: ada Kebaikan, dan ada Kejahatan. Semuanya berada di dalam Singgasana Tuhan.
#12. Dikirim oleh Kustiyadi pada 12/05 04:05 PM
Pertama mengenai penggunaan akal, silakan search di al Quran, maka akan didapati bahwa HANYA muslim/mukmin-lah yang dinyatakan sbg memanfaatkan akalnya oleh Quran, sdngkan lainnya adalah “laa ya’qilun”. Dengan ini, maka menggunakan akal secara MAKSIMAL justru adalah perintah Allah. Mungkin teman2 “fundamentalis” itu menganggap penggunaan akal bisa bertentangan dg wahyu, pdahal tidak seperti itu. Ini pernah saya bahas di suatu komentar saya di web ini.
Kedua, mahluk hanya bisa paham sesuatu dengan bahasa mahluk itu. Allah nggak butuh bahasa, sebab Allah nggak butuh sesuatu. Maka, istilah2 kebaikan, kejahatan dan sifat2 Allah (asmaul husna) itu semuanya adalah bahasa manusia, sehingga sah2 saja kalau kita berusaha memahaminya.
Ketiga, renungan mas Ulil ini sebetulnya didukung oleh ayat “innallaha ala kulli syai’in qadir”. Mungkin beliaunya sungkan menyitir ayat, sebab mau menggarisbawahi penggunaan akal . Berdasarkan pemahaman bhw Allah itu menguasai segala sesuatu, maka benarlah bahwa “kejahatan” pun datangnya dari Allah. Sengaja saya beri tanda kutip sebab ada dualism makna, yaitu jika kita nisbatkan kepada Allah berbeda dg jika dinisbatkan ke mahluk.
Ayat itu juga didukung oleh ayat2 lainnya yg udah disitir di komentar2 lainnya, yaitu mengenai pengilhaman jalan kebaikan dan kejahatan, mengenai wajah Allah, tiupan Ruh Allah, dll. Semuanya menunjukkan bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah. Allah adalah the Only Source, dan pemahaman selanjutnya akan menyimpulkan bahwa Allah is Wajibul Wujud, bukan mumkinul Wujud.
Selanjutnya, kalau kita ingat bahwa Allah itu laisa kamitslihi syai’ (none is like the like of Allah), maka Allah itu adalah The Only Wujud. Prinsip ini memperkuat perintah Allah agar kita nggak merenungkan Dzat-Nya. Tapi perenungan mas Ulil kali ini saya pikir sama sekali BUKAN usaha memikirkan Dzat-Nya, tapi usaha me-resolve konflik dualism ketuhanan yg secara nggak sadar banyak dipercayai kaum muslimin.
Nah, kembali kepada dualism makna itu. Ambil contoh, penguasa yg merasa besar dan se-wenang2 sebetulnya adalah cerminan dari sifat Akbar dan Jabbar. Hal ini adalah “jahat” ketika dinisbatkan kepada mahluk, tapi sempurna ketika dinisbatkan kepada Allah. Why? Sebab Allah is Alone, sdgkan mahluk itu banyak. Saling interaksi antar mahluk membuat peng-ejawantah-an sifat2 sempurna Allah pada mahluk memerlukan syarat2 tertentu. Mencerminkan sifat Akbar dan Jabbar (dan juga sifat2 Allah lainnya) ada syarat2nya, yg kalau nggak dipenuhi akan menjadikan pelakunya sebagai pelaku kejahatan.
Contoh lain, kesukaan lelaki kepada wanita cantik (dan sebaliknya)adalah cerminan dari sifat Allah yg menyukai keindahan. Tapi pencerminan sifat sempurna ini akan menjadi “jahat” jika syarat2 tertentu tidak dipenuhi. Misalnya perbuatan merebut istri/suami orang, berzina, dll.
Contoh lain lagi, setiap single mahluk sebetulnya adalah suatu kesempurnaan. Silakan amati binatang yg paling ugly sekalipun. Perhatikan kemampuan yg Allah anugerahkan kepadanya, insya Allah kita akan memuji-Nya akan kesempurnaan yg Dia karuniakan. Tapi, ketika binatang itu kita tempatkan dalam interaksi dg mahluk lain, maka baru istilah “ugly” atau bahkan “jahat” itu muncul. Singa manjadi “kejam” ketika dia memburu mangsanya, ular berbisa menjadi “jahat” ketika dia mematuk orang, tikus comberan menjadi “ugly” ketika dibandingkan dg kucing angora, dll.
Semoga menjadi jelas, bahwa adanya interaksi antar mahluklah yang membuat suatu pencerminan sifat sempurna Allah menjadi “kejahatan”, jika syarat2 tertentu tidak terpenuhi. Syarat2 itupun hakikatnya adalah pencerminan sifat2 Allah juga, sehingga berlakulah prinsip innallaha ala kulli syai’in qadir itu. Silakan direnungkan sendiri dengan mangambil banyak contoh2 lainnya.
As for Allahu laisa kamitslihi syai’ (incomparable to anything), semoga ini selalu kita ingat. Benar bahwa Allah itu Tuhan Kebaikan sekaligus Tuhan “Kejahatan”, tapi proses nggak bisa dinisbatkan kepada Allah. Proses adalah sesuatu yg terikat oleh waktu, maka menganggap Allah itu berproses berarti menisbatkan keterbatasan pada-Nya, yg hanya berarti bahwa Dia comparable to mahluk. Tapi sepertinya “proses” yg dimaksud bang Ulil punya pengertian yg metafor, makanya dikasih tanda kutip.
OK, ada baiknya kita tunggu lanjutan dari renungan bang Ulil ini.
Wassalaam
#13. Dikirim oleh Abdullah bin Umar pada 12/05 08:06 PM
Saya adalah seorang Islam fundamentalis, dan jelas bukan seorang teman bagi anda, jadi rasa-rasanya tidak usah dipanggil dengan sebutan teman. Berbicara tentang tuhan sebagai sebuah proses adalah sebuah hal yang lucu menurut saya, sebab tuhan itu sendiri tidak pernah “diciptakan”. mendefinisikan sebuah persepsi yang dibuat oleh saudara Ulil adalah sebuah konsepsi yang sangat jauh menyimpang, kehidupan yang saudara ulil gambarkan hanyalah sebuah proses main-main, dimana semuanya merupakan sebuah trik yang berawal dari sebuah sumber, berproses itu artinya membutuhkan waktu sedangkan Allah SWT berfirman jika menginginkan sesuatu cukup kunfayakun.
Bagaimana mungkin sebuah sumber dapat dikatakan sebagai sebuah proses, intinya begini sebuah kehidupan adalah cobaan segala sesuatu itu berjalan atas kehendak Allah, dan tidak pernah memerlukan sebuah proses seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, sebagai contoh jika Allah menginginkan kematian saudara Ulil saat ini juga, maka akan terjadi saat itu juga. Berbicara tentang sumber kebaikan dan kejahatan itu dari Tuhan, sebenarnya dibutuhkan sebuah proses untuk berpikir, intinya seperti ini Allah SWT berfirman, Aku seperti apa yang dipikirkan oleh hambaku, maka jika anda berpikir tentang Allah merupakan sebuah sumber kebaikan, maka kebaikanlah yang akan anda dapat, dengan cara menjalankan perintah dan larangan-Nya, jika anda berpikiran tentang Tuhan sebagai sumber kejahatan, maka keburukanlah yang akan anda dapat, dan jika anda menganggap tuhan sebagai sumber kebaikan dan kejahatan adalah sebuah kesalahan besar, Tuhan ini selalu memberikan kebaikan dan tidak pernah memberikan kejahatan, karena segala perbuatan walaupun sebesar jarah akan mendapat balasan, akan tetapi dikarenakan pemikiran anda yang mengatakan tuhan sebagai sumber kejahatan, maka keburukanlah yang akan saudara dapatkan dari tuhan. Jika anda menyangka Tuhan berproses, dalam arti dapat terjadi sebuah peristiwa “bergaining”, maka tolaklah kematian anda jika anda sanggup menolaknya, tolaklah takdir Allah jika anda sanggup menolaknya, dan rubahlah jenis kelamin anda jika anda bisa bernegosiasi dengan tuhan untuk merubah jenis kelamin, jawabannya tidak mungkin bisa, tapi tantanglah Allah untuk mengutuk saudara, saya yakin dalam beberapa saat akan segera anda alami.
Sekali lagi sebuah proses itu timbul jika dan hanya jika kita memiliki sifat sebagai mahluk, dan Allah SWT adalah “pencipta” mahluk, sebuah sebab yang tanpa sebab. Jika menyangka bahwa tuhan berproses dan pernah salah, coba anda terbitkan matahari dari arah yang berlawanan, maha suci Allah , dan maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
#14. Dikirim oleh Riki Nuryadin pada 13/05 11:05 AM
Assalamu ‘alaikum ...
Tuhan kebaikan dan Tuhan kejahatan??
Ada Ambiguitas makna ‘Tuhan’. Maksud saya, kita kagak tahu yang dimaksud Tuhan oleh Mas Ulil apa sih? Kalau Tuhan yang dimaksud oleh Mas Ulil adalah Akal (Rasionalitas), maka kemungkinan adanya Tuhan Kebaikan danTuhan Kejahatan cukup besar.
Ada beberapa buku yang patut untuk dijadikan rujukan mengenai tema “berbahaya” seperti. Buku Anthony Kenny tentang “berTuhan ala Filsuf”. buku kedua tentang bahasan konsep Keadilan dan Kasih Sayang yang dianut Mu’tazilah.
Dari tulisan diatas bisa sedikit dibaca bahwa ketika akal yang menemukan Tuhan maka ada sesuatu yang pincang. Kisah Nabi Ibrahim adalah bukti real dalam proses pencarian Tuhan melalui akal (nalar). Bedanya dengan Mas Ulil adalah tidak menggunakan Fitrah (Qalb) dalam mencari dan mempercayai Tuhan.
Terima Kasih… Wassalam ...
#15. Dikirim oleh Abu Shaikul pada 13/05 01:06 PM
Pemikiran tentang adanya alam terang dan alam gelap sudah sejak dahulu kala ada ditengah-tengah pemikiran manusia.
Pemikiran ini sebenarnya sudah sangat klasik. Mungkin sejak manusia mengenal pikirannya maka sejak itu pula manusia mengenal keadaan ini. Mungkin pemikiran ini pula yung menciptakan “TUHAN”.
Saya sering mengungkapkan dengan cara ini : Suatu saat dalam dunia purba, terjadilah perselisihan antara dua orang. Yang satu menyatakan bahwa ayam lebih dahulu ada daripada telur. Sedang yang satu mengatakan telur yang ada lebih dulu baru ayam. Karena mereka tidak mampu memecahkannya maka mereka datang ke orang bijak. Orang bijak itu lalu mengatakan, “Yang lebih dahulu ada itu TUHAN, baru kemudian ada ayam dan telur.”
Begitu juga ketika mereka saling bertengkar tentang laut atau darat yang lebih dahulu ada. Mereka datang ke orang bijak itu. Dengan marah si orang bijak berkata, “Dasar keturunan Monyet kalian, sudah diberitahu, bahwa TUHANlah yang ada lebih dahulu. Baru yang lain” Lalu kata saya, “Nah jadi sebenarnya TUHAN itu ada karena diciptakan oleh manusia karena ketidak tahuannya dan kebodohannya.”
Temen saya yang mendengar cerita ini langsung berkata, “Lalu siapakan yang menciptakan tumbuhan, hewan dsb” Jawab saya, “Dasar keturunan Monyet!”
Mengkomentari tulisan anda saya hanya berfikir. Jangan-jangan nanti ada Tuhan Terang, Tuhan Gelap, Tuhan besar, Tuhan kecil yang semuanya itu adalah TUHAN yang sebenarnya kita ciptakan sendiri?
Apakah Tauhid berarti Tuhan itu juga bengis selain Kasih? Kalau Tuhan itu juga bengis bukan salah Manusia kalau dia juga bengis karena dia adalah citra dari sang Khalik, apakah begitu?
#16. Dikirim oleh Agus Wahyu P. pada 14/05 11:06 AM
Terkadang saya bingung dalam mencoba memahami cara berpikir para filsuf. Di satu sisi mengatakan tuhan adalah kesempurnaan bahkan maha sempurna tapi di satu sisi yang lain kondisi yang dialami manusia yang nota bene tidak sempurna secara sederhana disandarkan kepada tuhan. mengapa saudara ulil tidak mencoba membuat pandangannya agar lebih mengkilat lagi dengan mengatakan bahwa prosesual yang terjadi pada manusia itu dalam tuhan tidak lagi muncul dikotomi baikburuk tapi yang ada adalah kebaikan yang bergradasi mengingat tuhan adalah kebaikan mutlak, puncaknya kesempurnaan.
Ada satu pertanyaan menggelitik dari saya, ketika saudara Ulil mencoba menjadikan filsafat Alfred Whitehead sebagai landasannya. Katakanlah kita menerima teori itu tapi dari mana Ulil mengetahui itu juga berkaitan dengan masalah kebaikan dan keburukan..?
Kalau dalilnya adalah karena manusia ciptaan tuhan maka berarti tuhan juga punya yang demikian itu dari mana..?
Artinya mas Ulil masih berputar dalam lingkaran itu juga..
#17. Dikirim oleh Saleh Lapadi pada 14/05 03:05 PM
Tuhan menyiptakan segalanya dalam suatu dalam keseimbangan spt panas-dingin, pria-wanita, demikian juga dengan kebaikan dan kejahatan dengan contoh setan yg memilih jalan kejahatan dan malaikat sebagai mahluk ciptaannya yg berpihak kepada kebaikan.
#18. Dikirim oleh Muh Islam pada 15/05 04:05 AM
Wacana Mas Ulil itu baik untuk didiskusikan. Pada dasarnya, jika kita tergolong kelompok manusia yang percaya Tuhan, kita bisa berhenti untuk mencari Tuhan, dan menyatakan bahwa hal tersebut adalah “keyakinan”. Tidak perlu diperdebatkan. Atau kita juga bisa mencari terus (berproses) dan mengembangkan ide-ide ke-Tuhan-an sampai menemukan “formula” terbaik sebagai landasan dari keyakinan kita. Ada hal yang menggugah saya di sini, yaitu mengenai “diskusi yang bermanfaat”, saya ingin tahu juga sebenarnya apa “result” yang Mas Ulil harapkan dari diskusi-diskusi yang bikin kening berkerut itu? bukankah tema semacam itu hanya akan “berguna” di level “elite” intelektual? Dan bukankah kita punya banyak agenda yang harus di diskusikan yang hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat? Apakah kita sudah benar-benar mengkaji (dan menularkan)konsep “hidup dalam perbedaan?” apakah sudah berdampak pula dalam komunitas yang lebih luas? Secara pribadi, mendiskusikan “Tuhan” sangatlah menarik buat saya, tapi bagaimana dengan kelompok- yang jumlahnya sangat besar- yang hanya ingin tahu apakah “konsep keberagaman” itu sesuai/tidak sesuai dengan “konsep Islam” ?(misalnya), atau hal-hal lain yang dapat dijadikan landasan yang kuat untuk “menjalani hidup”. Jangan sampai kita ikut-ikutan terjebak dalam “kehidupan elite” yang sekarang sedang “gemes” ingin segera duduk di singgasana senayan, meskipun banyak bom meledak di Ambon.
#19. Dikirim oleh Silvio Ojak PS pada 15/05 04:06 PM
Bagaimana kejahatan itu bisa mengalahkan kebaikan? Karena pada dasarnya kejahatan itu perlu “kebaikan” untuk dijahati. Bagaimana iblis (sebagai sosok jahat sempurna) bisa hidup jika semua sudah menjadi jahat? Yang terpikirkan oleh saya adalah sampai dititik tertentu, kejahatan akan menjahati dirinya sendiri! Menghancurkan eksistensinya sendiri. Tentu saja ini mengherankan, buat apa dia melakukan itu?
Menurut saya, di level praktis, kebaikan itu harus ada dan kejahatan itu “perlu” (untuk memberi makna pada kebaikan). Oleh karena itu, yang penting adalah suatu sistem pengaturan terhadap bentuk-bentuk kejahatan, sebagai implikasi dari pengakuan atas “keberadaan” mereka. Sehingga kita tak perlu merepotkan diri (di level konsep) untuk memberantas korupsi, judi, prostitusi, dll. Apalagi mengingkari fakta akan keberadaannya. Dan biarkan “kejahatan” menghancurkan dirinya sendiri.
http://islamlib.com/id/komentar/tuhan-kebaikan-tuhan-kejahatan/































Mengapa Ada Penderitaan ?




MENGAPA ADA PENDERITAAN? (1)

Dalam ilmu theologia dikenal istilah “Theodicy”, yaitu berasal dari dua kata Yunani: “Theos” (Allah) dan “dikaios” (adil/benar). Istilah tsb pertama kali digunakan oleh Leibniz[1] pada thn 1710. Theodicy dikaitkan dengan usaha kita memahami keadilan dan kebenaran Allah, khususnya dalam masalah dan penderitaan-penderitaan yang terjadi. Pemahaman terhadap “Theodicy” berupaya untuk melihat bahwa di dalam segala kesulitan dan penderitaan yang terjadi, Allah tetap dipercayai sebagai Allah yang baik dan penuh kasih.

Dalam kondisi bangsa kita yang terus menerus dilanda berbagai bencana dan masalah yang mengakibatkan berbagai macam penderitaan, judul artikel tsb di atas merupakan pertanyaan yang sangat relevan dan penting untuk dibahas. Barangkali, beberapa dari dari daftar pertanyaan berikut pernah kita dengar. Atau, malah kita tanyakan, baik secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak. “Kalau Allah baik, mengapa saya menderita seperti ini?” “Kalau Allah baik, mengapa anak laki-laki saya satu-satunya meninggal dunia?” “Kalau Allah baik, mengapa Dia memanggil pasangan saya begitu cepat?” “Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan kakak saya kecelakaan dan mengalami kelumpuhan?” “Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan ayah saya terus menerus sekarat di rumah sakit, hingga kami hidup menderita begini?” Dan di tengah-tengah meningkatnya tuntutan hidup, barangkali banyak orang muda yang bertanya: “Kalau Allah baik, mengapa saya selama bertahun tahun terus jadi pengangguran?” Sedangkan yang lainnya bertanya, “Kalau Allah baik, mengapa doa saya tidak dijawab dan hingga sekarang tidak mendapatkan jodoh?”

Bagaimana kita menjawab pertanyaan tersebut di atas? Apakah Allah sungguh-sunguh baik? Saya kira, semua yang beriman kepada Allah dapat menjawab pertanyaan tersebut di atas dengan tegas: Allah memang baik, sungguh amat baik. Sifat Allah yang sangat baik itu dapat ditemukan dalam lembaran-lembaran Kitab Suci agama manapun.

Satu hal yang pasti.

Ada satu kalimat bijak yang mengatakan, “Apa yang jelas kamu lihat di dalam terang, jangan ragukan, ketika kamu hidup di dalam kegelapan”. Saya kira, nasehat seperti itu sangat tepat diberikan kepada semua orang yang mengalami kesulitan hidup. Kadangkala, masalah kehidupan dapat sedemikian kelam, sehingga kehadiran Allah diragukan, tidak lagi dilihat atau dialami.

Dalam kondisi seperti itu, maka cara yang terbaik adalah mendengar firmanNya. Alkitab, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru menyaksikan satu hal dengan sangat pasti, yaitu kasih dan kebaikan Allah. Kasih dan kebaikan Allah itu dapat dilihat sejak lembar pertama Alkitab, yaitu kisah penciptaan (Kejadian 1). Ketika membaca bagian tersebut, seorang Rabi Yahudi pernah bertanya: “Mengapa Allah repot-repot menciptakan dunia dan segala isinya? Mengapa Dia bersusah-susah menciptakannya sampai berhari-hari, selama enam hari? Apakah Dia tidak sangguh menciptakannya hanya dalam waktu singkat?” Rabi tersebut menjawab, bahwa sesungguhnya, Allah mampu melakukannya. Tapi hal itu sengaja Dia lakukan di dalam rahmat dan kasihNya yang besar, agar kita semua tidak merusak ciptaanNya, namun semakin menghargainya.

Memang benar, jika kita memperhatikan kisah penciptaan, maka jelas terlihat bahwa “Allah repot-repot”, bukan karena Dia harus menciptakan dunia dan segala isinya, dalam arti ada kewajiban bagiNya. Juga bukan karena ada seorang pribadi yang memaksaNya. Alasan penciptaan adalah diri Allah sendiri yang penuh kasih. Sebagaimana seorang teolog menegaskan: “The reality of creation is the extension of God’s love”. Allah yang penuh kasih itulah yang sangat jelas digambarkan oleh Alkitab. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh.4:16).

Selanjutnya, jika kita mengamati manusia yang diciptakan Allah tersebut, kita juga melihat bagaimana baiknya Allah terhadap manusia. Allah menempatkan manusia di sebuah taman yang sangat indah, yang dikenal sebagai taman Eden. Taman itu bukan saja indah dan segar karena ditanami dengan berbagai-bagai pohon yang menarik, tetapi juga sejuk karena sekitarnya dialiri oleh aliran-aliran sungai (Kej.2). Bukan saja demikian, Allah yang baik tersebut menyerahkan semua, ya segala ciptaanNya: ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, segala jenis ternak di darat (Mazmur 8) untuk kita nikmati secara GRATIS! Tidak membayar satu sen pun.

Setelah manusia diciptakan, kita membaca, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka... berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung burung di udara dan atas segala binatang...(Kej.1:28). “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas” (Kej.2:16). Bukankah firman tersebut di atas sungguh menunjukkan betapa baiknya Allah itu? Dengan mengetahui serta menghayati semua itu, sewajarnyalah kita bersyukur kepadaNya. Atau, jika penderitaan sudah sedemikian rupa sehingga membuat kita sulit untuk bersyukur, setidaknya kita tidak lagi mempertanyakan Allah atas segala penderitaan tersebut. Kita tidak lagi menimpakan segala permasalahan yang terjadi dalam diri kita kepadaNya. Sebaliknya, dengan berani mencari permasalahan di dalam diri dan sekitar kita sendiri.- (bersambung)

.

[1] Seorang ahli filsafat dan matematik dari Jerman (1646-1716).


Mengapa Ada Penderitaan? (2)

Jika kita telah yakin bahwa Allah sungguh-sungguh baik dan penuh kasih, maka pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kita menjelaskan masalah penderitaan dan kejahatan yang ada di sekitar kita? Bagaimanakah manusia memahami kasih dan kebaikan Allah dalam setiap bencana dan penderitaan yang kita alami? Sesungguhnya, theodicy merupakan pertanyaan klasik yang terus menerus dipertanyakan di setiap abad dan tempat. Masalah theodicy sungguh tidak mudah dijelaskan. Kita dapat kembali ke abad mula-mula dan memperhatikan pandangan bapak-bapak Gereja seperti Thomas Aquinas, Augustinus, dll yang terus bergumul dengan tema tsb.

Demikian juga, theolog-theolog besar abad lalu seperti Karl Barth mengakui kesulitan dalam menjelaskan hal tsb. Seorang teolog skeptik yang bernama David Hume memberikan pernyataan sbb: “Apakah Allah ingin mencegah kejahatan tapi Dia tidak sanggup melakukannya? Jika demikian, Dia tidak maha kuasa. Atau, Dia sebenarnya sanggup melakukannya tetapi tidak menghendakinya? Jika demikian, Allah itu jahat. Atau Allah itu memiliki keduanya, Allah sanggup mencegah kejahatan dan penderitaan dan juga berkeinginan untuk melakukannya. Jika demikian, mengapa ada penderitaan?”[1]

Berbagai pandangan tentang theodicy

Di tengah berbagai macam kesulitan dan penderitaan yang ada di sekitar kita, adalah baik untuk mengetahui berbagai pemahaman yang diberikan untuk menjelaskan hal tsb.

Pertama. Menolak kemahakuasaan Allah. Salah satu cara yang dianggap dapat menyelesaikan masalah penderitaan/kejahatan tsb di atas adalah pandangan yang sangat berbau filsafat, yang disebut dengan “Finitisme”, yaitu pandangan yang menolak kemahakuasaan Allah. Menurut pandangan ini, Allah memang berkehendak untuk mencegah segala macam kejahatan dan penderitaan, di mana hal itu secara jelas telah dinyatakan bertentangan dengan kehendakNya. Namun demikian, adanya kejahatan dan penderitaan di dunia ini menunjukkan bahwa memang Allah tidak mahakuasa. Edgar S. Brightman, seorang professor dalam bidang filsafat dari Universitas Boston mengembangkan konsep Allah yang terbatas tsb sebagai jawaban terhadap masalah kejahatan.[2] Menurut Brightman, Allah bekerja dalam “a given context”, atau konteks yang sudah dari “sono” nya. Apa yang disebutnya dengan “uncreated laws of reason –logic, mathematical relations, and the Platonic Ideas” merupakan bagian dari kekekalan. Karena itu, dalam “a given context” tsb ditemukan dua kriteria berikut. Pertama, segala unsur dan elemen dalam konteks tsb bersifat kekal yang berada di dalam pengalaman Allah. Kedua, semua elemen tsb bukan merupakan produk dari sebuah kehendak atau aktivitas yang menciptakannya. Brightman mengatakan: “... we should speak of a God whose will is finite”.[3]

Kedua, pandangan yang mirip dengan pandangan tsb di atas adalah paham dualisme, seperti yang dianut oleh Zoroastrianisme dan Manichaenisme. Menurut pandangan ini, alam dan dunia semesta tidak dikendalikan oleh satu kekuatan besar, tetapi mereka melihat adanya dua “ultimate principles”: kuasa kebaikan dan kuasa kejahatan. Dengan demikian, di dunia ini sedang berjalan dua kerajaan, di mana keduanya berjalan bersama-sama. Tentu saja Allah bertarung dengan kuasa kejahatan tsb. Namun tidak ada kepastian akan hasil yang akan dicapai. Menurut paham ini, Allah memang berusaha untuk menaklukkan kejahatan, dan Dia akan melakukannya sekiranya Dia sanggup. Tapi sayang, dalam kenyataannya, Allah tidak mampu.

Ketiga, ada yang mencoba menyelesaikan masalah kejahatan dengan menyangkali adanya fakta kejahatan itu sendiri. Sebagai contoh, filsuf Benedict Spinoza menegaskan bahwa hanya ada satu substansi dalam alam semesta, yaitu substansi Allah. Segala sesuatu terjadi sebagai akibat dari substansi Allah tsb. Allah telah dan sedang mengendalikan segala sesuatu yang berakhir kepada kesempurnaan.[4] Demikian juga, Mary Baker Eddy, yaitu pemimpin aliran Christian Science berpendapat bahwa hanya ada satu realitas, yaitu Allah, yang disebutnya sebagai “the infinite mind”. Dia menegaskan: “Spirit atau Roh itu bersifat nyata dan kekal; sedangkan materi bersifat tidak nyata dan sementara”.[5] Menurut Mary, sebenarnya kejahatan tsb tidak ada. Dia menulis: “It has no reality. It is neither person, place nor thing, but simply a belief, an illusion of material sense”.[6]

Logika yang diberikan oleh Mary adalah, jika Allah adalah sumber dan penyebab segala sesuatu, maka hal itu pasti baik. Lalu dari mana asalnya kejahatan itu? Dia sendiri menjawab pertanyaan tsb dengan mengatakan: “It never originated or existed as an entity. It is but a false belief”.[7] Itulah sebabnya, menurut pandangan ini, jika seseorang itu sakit, tidak perlu pergi ke dokter untuk mencari kesembuhannya. Pandangan ini menganjurkan untuk mencari jawaban di dalam pengenalan akan kebenaran, yaitu menyadari bahwa penyakit itu sebenarnya tdk ada, itu hanyalah sebuah khayalan. Jika penyakit itu dilihat sebagai sesuatu khayalan, tidak nyata, maka sebenarnya tidak ada pengaruhnya yang secara nyata bagi kita –tidak lagi dirasakan, atau hilang rasa sakit tsb. Bahkan kematian itu pun dianggap sebagai satu ilusi, di mana menurut mereka, Alkitab menegaskan bahwa kematianpun akan ditiadakan dan dihancurkan.- (bersambung).
http://www.mangapulsagala.com/readarticle.php?article_id=192






________________________________________
APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN? (Kisah Nyata)


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?
ApakahTuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas
terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini,
"ApakahTuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan
semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.
"Ya,
Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti
Tuhan
menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip
kita
bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi
bahwa
Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor
tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia
telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya
bertanya
sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak
pernah
sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut
hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu
-460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi
diam
dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata
dingin
untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga
tidak
ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita
pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk
memecahkan
cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang
gelombang
setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu
ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak
perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara
tersebut
adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda
salah,
Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.
Seperti
dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk
mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan.
Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.
Seperti
dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari
ketiadaan
cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi)
http://forum.wintersat.com/science-n-art/1974-apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan.html

zeni_zoenk Posts: n/a

Tuhan itu adalah suatu zat yang Maha cerdas...Karna itu tidak mungkin Tuhan menciptaan semua yang ada di dunia. Tuhan hanya menciptakan asal-usul kejadian atau basic dari semua hal yang kita tahu di dunia ini. Mengapa??? Itu untuk mencerdaskan mahluknya. Kreativitas alam dan mahluk di dalamnya diperlukan untuk membentuk kompleksitas dunia ini. Misalnya, atom adalah basic partikel, kemudian atom2 ini secara kreatif saling membenturkan diri dan bergabung membentuk planet2 yang kita tinggali. Tuhan kemudian menciptakan mahluk2 hidup dan pengembangan selanjutnya dari mahluk tersebut tergantung dari kreativitas mahluk dan alamnya.


Adalah kata kata yang memberi bentuk akan apa yang masuk dan keluar dari pribadi kita.
Adalah kata kata yang sanggup mengikat dua jiwa dengan cinta
Adalah kata kata yang mampu meretakkan dunia
Karena kata adalah senjata.



eh bentar..
lha tapi
"Cahaya bisa kita
pelajari, gelap tidak."
kalo ngga salah nangkep, di fisika SMA kelas 2 ada pelajaran tentang gelombang, gelombang cahaya dll.
kalo ga salah ada teori tentang 'benda gelap'. apakah itu bukankah suatu hal yang mempelajari kegelapan?

langsung:
" "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut
hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu
-460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi
diam
dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata
dingin
untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

"Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga
tidak
ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita
pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk
memecahkan
cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang
gelombang
setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu
ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.""

kalo ga salah juga, dari 2 penggalan di atas, yang menjadi patokan adalah yang bisa diukur. (cahaya, panas). dan adanya dingin, atau gelap cuma sebagai sebutan sedikitnya 'sesuatu yang bisa diukur' itu.
gelap (tak bisa diukur) hanya karena tiada cahaya (chya bisa diukur)
dingin (tak bisa diukur) hanya karena tiada panas (pnas bisa diukur)

sesuatu yang bisa diukur bisa dipelajari

berarti kesimpulan :
Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.
adalah SALAH donk.

dan kalo di sesuaikan dengan pola pikir di atas seharusnya begini
Tuhan itu ada karena ketiadaan Kejahatan.

karena
kejahatan bisa diukur dan tuhan tidak bisa diukur

bukankah begitu?
Tiada Tuhan selain imajinasi manusia
________________________________________
Tuhan itu tidak ada. Tuhan yang menciptakan manusia. Saat manusia menamakan tuhan, sebenarnya dia sudah tidak ada lagi, kita manusia telah membatasi Tuhan dengan nama. Keterbatasan tersebut yang menjadikan eksistensinya menjadi tiada. Kejahatan ada merupakan hasil dari akumulasi perbuatan manusia yang melihat sesuatu dengan pemahaman yang berbeda. dengan adanya kejahatan manusia semakin disadarkan dengan ketidaksempurnaan Tuhan dalam menciptakan manusia, dalam ketidaksempunaannya tersebutlah kita semakin menjadikan Tuhan semakin sempurna sebagai sebuah "pribadi" yang lain. Kajahatan bukan diciptakan Tuhan, manusia menjadikan kejahatan itu sendiri. Bagaimana manusia mengenal Tuhan, begitulah rupa Tuhan bagi manusia. Tuhan ada sebagai sebuah proses hidup. Tidak penting Tuhan ada atau tiada, yang paling penting bagaimana kita bersikap hidup. Tuhan tidak membutuhkan pengakuan maupun
nama besar serta pujian dari manusia. Tuhan menciptakan manusia merupakan hasil evolusi alam raya, dalam evolusi tersebutlah Tuhan bekerja.

eh bentar..
lha tapi
"Cahaya bisa kita
pelajari, gelap tidak."
kalo ngga salah nangkep, di fisika SMA kelas 2 ada pelajaran tentang gelombang, gelombang cahaya dll.
kalo ga salah ada teori tentang 'benda gelap'. apakah itu bukankah suatu hal yang mempelajari kegelapan?

kalo ga salah juga, dari 2 penggalan di atas, yang menjadi patokan adalah yang bisa diukur. (cahaya, panas). dan adanya dingin, atau gelap cuma sebagai sebutan sedikitnya 'sesuatu yang bisa diukur' itu.
gelap (tak bisa diukur) hanya karena tiada cahaya (chya bisa diukur)
dingin (tak bisa diukur) hanya karena tiada panas (pnas bisa diukur)
sesuatu yang bisa diukur bisa dipelajari
berarti kesimpulan :
Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.
adalah SALAH donk.
dan kalo di sesuaikan dengan pola pikir di atas seharusnya begini
Tuhan itu ada karena ketiadaan Kejahatan.
karena
kejahatan bisa diukur dan tuhan tidak bisa diukur
bukankah begitu?
(sori, ini pola pikirku yg ga tau filsafat

bukti adanya Tuhan
________________________________________
Weit...siapa bilang Tuhan tidak ada. Saya punya bukti Tuhan itu ada. Baiklah, sekarang coba bayangkan suatu kamar kosong yang gelap. Apa yang terjadi kalau tidak ada orang yang membuka pintu itu? tentu saja kamar akan tetap gelap, kosong, dan sepi. Sama dengan alam semesta. Bagaimana manusia ada kalau tidak ada yang mencipta? Dulu waktu SMU kita tau teori mengenai pembentukan alam semesta bahwa mahluk hidup terbentuk dari zat protein. Apakah suatu manusia yang luar biasa bisa terjadi hanya dengan protein? di mana logikanya? coba pikir baik-baik.

Sekarang kalau ada yang mengatakan, manusia hanya membatasi Tuhan dengan nama. Sekarang saya mau tanya, darimana kamu bisa memanggil orang tanpa nama? Justru pemberian nama adalah salah satu kaidah untuk meninggikan-Nya. Ada juga yang bilang kalau Tuhan adalah ciptaan manusia akibat dari ketakutan manusia. Kongkritnya gini...pernah liat anak kecil gak? kalo takut pasti mereka bilang "aku laporin ibuku, pamanku, atau ayahku" nah manusia itu lemah, akibatnya mereka mengada-ngadakan sesuatu yang lebih kuat dari dirinya dan diberi nama dengan "Tuhan" (pendapat dari Sigmund Freud). Nah berdasarkan argumenku pada alinea 1, coba dipikir, apakah Tuhan ada atau tidak. Kalau aku sich percaya 100% Tuhan itu exist!

Mari kita bahas permasalahan besar dalam sains, yakni tentang Tuhan"
kata seorang profesor filsafat yang atheis di muka kelas. Kemudian dia
meminta seorang mahasiswa baru maju ke depan kelas. "Kamu beragama,
bukan ?"

"Ya, pak."

"Jadi, kamu percaya pada Tuhan ?"

"Tentu saja."

"Apakah Tuhan baik ?"

"Jelas! Tuhan baik."

"Apakah Tuhan maha kuasa? Dapatkah Tuhan melakukan segala sesuatu ?"

"Ya."

"Coba yang satu ini. Misalkan ada seseorang sakit di sekitar sini dan
kamu bisa menyembuhkannya. Bersediakah kamu menolongnya ?"

"Ya, pak, saya bersedia."

"Maka, kamu baik!"

"Saya tidak mengatakan demikian."

"Mengapa tidak? Kamu bersedia menolong orang sakit dan menyembuhkannya
jika kamu bisa... Kebanyakan orang pun akan melakukannya jika bisa...
tetapi kenapa Tuhan tidak."

[Tiada jawaban]

"Dia tidak, bukan? Saudara saya adalah seorang beragama yang meninggal
karena kanker meskipun dia sudah berdoa meminta Tuhan menyembuhkannya.
Bagaimana bisa dikatakan bahwa Tuhan baik? Dapatkah kamu menjawabnya?"

[Tiada jawaban]

"Kamu tidak bisa, bukan ?"

Sang profesor meneguk air dari gelas di mejanya untuk memberi kesempatan
pada sang mahasiswa menenangkan diri. "Mari kita lanjutkan, anak muda.
Apakah Tuhan itu baik?"

"Ng... Ya."

"Apakah setan itu baik ?"

"Tidak."

"Darimana datangnya setan ?"

Sang mahasiswa tergagap. "Dari... Tuhan..."

"Tuhan menciptakan setan, bukan?" Sang profesor menyeringai pada seluruh
mahasiswa. "Rasanya kita akan mendapatkan banyak kegembiraan dalam
semester ini, tuan-tuan dan nona-nona." Dia kembali ke mahasiswa di
depan kelas. "Katakan, adakah kejahatan di dunia ?"

"Ya, pak."

"Kejahatan ada di mana-mana, bukan ? Apakah Tuhan menciptakan
segala-galanya ?"

"Ya."

"Jadi, siapa yang menciptakan kejahatan ?

[Tiada jawaban]

"Adakah penyakit di dunia ini ? Pelanggaran susila ? Kebencian ?
Kekerasan ? Segala hal mengerikan, apakah semuanya ada di dunia ini ?"

Sang mahasiswa merasakan kegelisahan merayapi kakinya. "Ya."

"Siapa yang menciptakan ? "

[Tiada jawaban]

Sang profesor tiba-tiba berteriak pada sang mahasiswa,
"SIAPA YANG MENCIPTAKAN SEMUA ITU? COBA KATAKAN PADA SAYA !!!"

Sang profesor memandang tajam wajah sang mahasiswa. Dengan suara dalam
dia berkata,
"Tuhan yang menciptakan semua kejahatan, bukan?"

[Tiada jawaban]

Sang mahasiswa berusaha menggapai-gapai pegangan, matanya mencari-cari,
namun gagal.

"Katakan", sambung sang profesor, "Bagaimana bisa dikatakan bahwa Tuhan
baik jika Dia menciptakan kejahatan sepanjang waktu? Semua kebencian,
kebrutalan, kesakitan, siksaan, kematian, keburukan, dan penderitaan
diciptakan Tuhan yang baik ini di seluruh dunia, bukan, anak muda?"

[Tiada jawaban]

"Tidakkah kamu melihatnya di seluruh dunia?"

[Diam]

"Tidakkah ?" tanya sang profesor menatap wajah sang mahasiswa sambil
mendesis,

"Apakah Tuhan baik ?"

[Tiada jawaban]

"Apakah kamu percaya Tuhan, nak ?"

Jawaban sang mahasiswa mengecewakannya.
"Ya, profesor. Saya percaya."

Sang profesor menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah sedih.
"Sains mengatakan bahwa kamu memiliki panca indra yang kamu gunakan
untuk mengidentifikasi dan mengamati dunia sekitar kamu.
Apakah kamu sudah melakukannya ?"

"Belum, pak. Saya belum pernah melihat Tuhan."

"Maka, katakan pada kami, pernahkah kamu mendengar Tuhan ?"

"Tidak, pak. Saya belum pernah."

"Pernahkah kamu merasakan Tuhan, mengecap Tuhanmu atau membaui-Nya ?
Intinya, apakah kamu memiliki tanggapan indra apapun tentang Tuhan ?"

[Tiada jawaban]

"Jawablah."

"Tidak, pak, saya khawatir saya belum pernah."

"Kamu KHAWATIR... kamu belum ?"

"Belum, pak."

"Tetapi kamu tetap mempercayai-Nya ?"

"...Ya..."

"Itu adalah KEPERCAYAAN!" sang profesor tersenyum arif pada sang
mahasiswa.

"Sesuai kaidah empiris, mampu uji, protokol yang dapat didemonstrasikan,
sains menyatakan bahwa Tuhanmu tidak eksis.
Apa pendapatmu tentang hal itu, nak ?
Dimanakah Tuhanmu sekarang ?"

[Tiada jawaban]

"Silakan duduk."

Sang mahasiswa duduk. Kalah.

Seorang mahasiswa lain mengangkat tangannya. "Profesor, bolehkah saya
berbicara ?"

Sang profesor berbalik dan tersenyum.
"Ah, seorang garda depan agama lainnya !"
"Mari, anak muda. Silakan kemukakan kearifan yang patut bagi rekan-rekan
anda."

Sang mahasiswa memandang sekeliling kelas lalu berkata pada sang
profesor.

"Anda sudah menyatakan hal-hal yang sangat menarik, pak. Sekarang saya
mempunyai sebuah pertanyaan untuk anda. Adakah sesuatu yang disebut
panas ?"

"Ya", sahut sang profesor. "Panas itu ada."

"Adakah sesuatu yang disebut dingin ?"

"Ya, dingin juga ada."

"Tidak, pak! Itu tidak ada !"

Seringai sang profesor membeku. Ruang kelas sekonyong-konyong menjadi
sangat dingin.

Sang mahasiswa melanjutkan. "Anda bisa mendapatkan macam-macam panas,
bahkan lebih panas, super-panas, mega-panas, agak panas, sedikit panas,
atau tidak panas, tetapi kita tidak memiliki sesuatu yang disebut
*dingin*.

Kita dapat mencapai 458 derajat di bawah nol, dimana tidak ada panas,
tetapi kita tidak bisa melampauinya lebih jauh lagi setelah itu. Tidak
ada sesuatu pun yang disebut dingin, kecuali jika kita bisa mencapai
suhu yang lebih dingin dari minus 458.
Anda lihat, pak, dingin hanyalah SEBUAH KATA yang kita gunakan untuk
MENGGAMBARKAN tentang KETIADAAN panas. Kita tidak bisa mengukur dingin.
Panas dapat kita ukur dalam satuan termal karena panas adalah energi.
Dingin bukan lawan panas, pak, melainkan ketiadaan panas."

[Diam]
Sebuah pin terjatuh berdenting di suatu tempat dalam kelas.

"Apakah ada sesuatu yang disebut gelap, profesor ?" tanya sang mahasiswa
lagi.

"Itu pertanyaan bodoh, nak. Apakah malam itu jika bukan gelap ? Apa
maksudmu ?"

"Jadi, anda mengatakan ada sesuatu yang disebut sebagai gelap ?"

"Ya..."

"Anda salah lagi, pak! Gelap bukanlah sesuatu, melainkan ketiadaan
sesuatu.

Anda bisa mendapatkan cahaya buram, cahaya normal, cahaya terang, cahaya
menyilaukan, tetapi jika anda tidak mendapatkan cahaya secara
berkesinambungan, anda tidak mendapatkan apa-apa, dan itu disebut gelap,
bukan ? Itulah pengertian yang kita gunakan untuk menggambarkan kata
tersebut. Pada kenyataannya, gelap tidak ada. Jika ada, seharusnya anda
bisa membuat gelap menjadi lebih gelap lagi."

Menahan diri, sang profesor tersenyum pada anak muda lancang
dihadapannya.

Ini benar-benar menjadi semester yang bagus. "Maukah anda menjelaskan
pada kami maksud anda, anak muda ?"

"Baik, profesor. Maksud saya adalah filosofi anda sudah cacat sejak awal
sehingga kesimpulan anda sudah pasti rancu".

Sang profesor menjadi berang. "Cacat ? Lancang benar anda !"

"Pak, bolehkah saya menjelaskan maksud saya ?"

Seisi kelas memasang telinga.

"Penjelasan... oh, penjelasan..."
Sang profesor dengan sangat mengagumkan berhasil mengendalikan diri.
Sekonyong-konyong dia bagaikan keramahan itu sendiri. Dia melambaikan
tangannya untuk menenangkan kelas agar sang mahasiswa dapat melanjutkan.

"Anda menggunakan premis tentang pasangan" sang mahasiswa menjelaskan.
"Sebagai contoh, adanya hidup dan adanya mati; Tuhan baik dan Tuhan
jahat".

Anda memandang konsep ketuhanan sebagai sesuatu yang terbatas, sesuatu
yang dapat diukur. Pak, sains bahkan tidak bisa menjelaskan pikiran. Itu
menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah terlihat, banyak
yang tidak memahaminya. Memandang kematian sebagai lawan kehidupan
adalah pengabaian fakta bahwa kematian tidak bisa eksis sebagai sesuatu
secara substantif. Kematian bukanlah lawan kehidupan, melainkan
ketiadaan kehidupan."

Sang mahasiswa mengangkat sebuah surat kabar dari meja rekannya. "Ini
adalah salah satu tabloid paling menjijikkan di negeri ini, profesor.
Adakah sesuatu yang disebut ketidaksenonohan ?"

"Tentu saja ada, sekarang..."

"Salah lagi, pak!
Anda tahu, ketidaksenonohan adalah semata-mata ketiadaan moralitas.
Adakah yang disebut ketidakadilan ? Tidak !
Ketidakadilan adalah ketiadaan keadilan. Adakah yang disebut kejahatan
?"
sang mahasiswa berhenti sejenak. "Bukankah kejahatan adalah ketiadaan
kebaikan ?"

Wajah sang profesor berubah merah. Dia sangat marah hingga sejenak
kehilangan kata-kata.

Sang mahasiswa melanjutkan, "Jika ada kejahatan di dunia, profesor, dan
kita sepakat tentang itu, maka Tuhan, jika Dia eksis, tentu akan
menyempurnakan pekerjaan-Nya melalui agen kejahatan tersebut. Pekerjaan
apakah yang Tuhan sempurnakan dengannya? Kitab suci menyatakan bahwa tiap
manusia, sesuai kebebasan keinginan sendiri, memilih kebaikan daripada
kejahatan."

Sang profesor terhenyak. "Selaku ilmuwan filsafat, saya tidak memandang
permasalahan ini ada kaitannya dengan pilihan apapun; sebagai seorang
realis, saya benar-benar tidak melihat konsep Tuhan maupun faktor
teologis lain sebagian bagian dari dunia karena Tuhan tidak bisa
diamati."

"Saya malah berpikir bahwa ketiadaan kode moral ketuhanan di dunia ini
kemungkinan adalah satu fenomena yang paling bisa diamati" sahut sang
mahasiswa. "Surat kabar membuat milyaran dollar melaporkannya setiap
minggu! Katakan, profesor, apakah anda mengajar mahasiswa bahwa mereka
berevolusi dari kera ?"

"Jika anda mengacu pada proses evolusi alamiah, anak muda, ya, tentu
saja demikian yang saya lakukan."

"Pernahkah anda mengamati evolusi dengan mata anda sendiri, pak ?"

Sang profesor mengertakkan gigi dan memandang sang mahasiswa dengan
tajam.

"Profesor, karena tidak seorang pun pernah mengamati berlangsungnya
proses evolusi dan bahkan tidak seorang pun dapat membuktikan proses ini
sebagai upaya berkesinambungan, bukankah anda sedang mengajarkan opini
anda, pak ?

Apakah anda sekarang bukan seorang ilmuwan melainkan pengkhotbah ?"

"Saya memaafkan kelancangan anda dalam nuansa diskusi filosofis kita.
Sudah selesaikah anda ?" desis sang profesor.

"Jadi, anda tidak menerima kode moral ketuhanan melakukan apa yang layak
?"

"Saya percaya pada apa adanya. Itulah sains !"

"Ahh! SAINS !"
wajah sang mahasiswa berubah sinis. "Pak, anda telah menegaskan bahwa
sains adalah studi mengenai fenomena pengamatan. Sains juga adalah
premis yang cacat..."

"SAINS CACAT ?"
sang profesor bergetar. Kelas menjadi gempar.

Sang mahasiswa tetap tegar berdiri hingga kegemparan mereda. "Untuk
melanjutkan point yang sudah anda nyatakan sebelumnya pada mahasiswa
lain, bolehkah saya memberi contoh tentang apa yang saya maksudkan ?"

Sang profesor diam. Sang mahasiswa memandang sekeliling kelas
ruang."Adakah seseorang di kelas ini yang pernah melihat otak pak
profesor ?"

Kelas serentak pecah oleh tawa. Sang mahasiswa menunjuk pada sang
profesor yang sudah remuk. "Adakah orang di sini yang pernah mendengar
otak pak profesor, merasakan otak pak profesor, menyentuh, atau membaui
otak pak profesor ?"

Tampaknya tidak seorang pun pernah melakukannya. Sang mahasiswa
menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih. "Tampaknya tidak
seorang pun pernah memiliki tanggapan indra apapun terhadap otak pak
profesor. Maka, sesuai aturan empiris, keajegan, protokol yang dapat
didemonstrasikan, sains, SAYA NYATAKAN bahwa bapak profesor kita tidak
punya otak !"

Kelas tercengkeram dalam chaos. Sang mahasiswa kemudian duduk... karena
memang demikianlah fungsi sebuah kursi.

__________________________________________________ ___________
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi)
CHATTING DENGAN TUHAN.


TUHAN : Kamu memanggilKu ?

AKU: Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin
berbincang-bincang denganmu.

AKU: Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya
sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU: Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang
sedikitpun.Hidup jadi seperti
diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi Produktifitas
memberimu hasil.
Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.

AKU: Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghidarinya.
Sebenarnya, saya tidak
mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu
beberapa petunjuk. Di
era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu
daripada mimpi,
misalnya.

AKU: OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang
membuatnya jadi rumit.

AKU: Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu
merasa khawatir karena
kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah
kamu tidak pernah merasa
senang.

AKU: Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak
ketidakpastian.

TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran
adalah sebuah pilihan.

AKU: Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN : Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah
sebuah pilihan.

AKU: Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat
dimurnikan tanpa api. Orang
baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup
mereka menjadi lebih
baik bukan sebaliknya.

AKU: Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru
pengalaman memberi ujian
dulu, baru pemahamannya.

AKU: Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami
tidak dapat hidup bebas
dari masalah?

TUHAN : Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan
kekuatan mental (Purposeful
Roadblocks Offering Beneficial Lessons (to)Enhance Mental Strength).
Kekuatan dari dalam diri
bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

AKU: Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana
harus melangkah...

TUHAN : Jika kamu melihat keluar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu
melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke
dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.

AKU: Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat
saya lakukan?

TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan
adalah ukuran yang
dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih
memuaskan daripada
mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan
orang lain bekejaran
dengan waktu.

AKU: Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada
masih berapa jauh saya
harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri,jangan hitung apa
yang tidak kau peroleh.

AKU: Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika
mereka bahagia, tidak ada
yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?".

AKU: Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?

TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa
kamu. Berhentilah
mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses
pencarian, tapi
sebuah proses penciptaan.

AKU: Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?

TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini
dengan keyakinan. Siapkan
masa depan tanpa rasa takut.

AKU: Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak
dijawab.

TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah
TIDAK.

AKU: Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah
misteri untuk
dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah padaKu. Hidup
itu indah jika kamu
tahu cara untuk hidup.


TUHAN has signed out.
__________________

Tuhan Kebaikan, Tuhan Kejahatan
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Pertanyaan saya kemudian, apakah betul bahwa sumber kejahatan itu di luar Tuhan? Apakah tidak mungkin kejahatan ada dalam Tuhan sendiri? Kalau kejahatan secara mutlak di luar Tuhan, apakah dalam konsepsi monoteisme hal itu tidak berujung kepada kemusyrikan, karena akibatnya adalah adanya dua Tuhan: Tuhan Kebaikan (The Hero) dan Tuhan Kejahatan (The Villain)? Apakah itu tidak menyekutukan Allah?
Banyak yang beranggapan bahwa pemikiran-pemikiran saya sangat “menuhankan” akal. Anggapan ini terutama disampaikan oleh teman-teman Islam fundamentalis. Teman-teman ini berpendapat bahwa akal itu, kalau diikuti, hanya akan menyeret manusia kepada kesesatan. Alasannya, akal itu lemah, terbatas, dan karena itu butuh petunjuk. Petunjuk yang sudah pasti benarnya hanya bisa datang dari Tuhan. Dengan kata lain, akal itu adalah “duta besar” Iblis dalam kehidupan manusia. Iblis sesat karena menggunakan akalnya, sehingga ketika diperintahkan sujud oleh Allah kepada Adam, Iblis menolak: “Khalaqtani min narin, wa khalaqtahu min thin, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia [Adam] dari lempung,” demikian kata Qur’an.
Pertanyaan saya kemudian, apakah betul bahwa sumber kejahatan itu di luar Tuhan? Apakah tidak mungkin kejahatan ada dalam Tuhan sendiri? Kalau kejahatan secara mutlak di luar Tuhan, apakah dalam konsepsi monoteisme hal itu tidak berujung kepada kemusyrikan, karena akibatnya adalah adanya dua Tuhan: Tuhan Kebaikan (The Hero) dan Tuhan Kejahatan (The Villain)? Apakah itu tidak menyekutukan Allah?
Ini masalah rumit yang sudah menjadi perdebatan klasik dari dulu. Mungkin terlalu mewah memperdebatkan hal ini. Apalagi kita sedang bergairah menghadapi pemilihan presiden untuk kali pertama. Tetapi, bagaimanapun juga, perkenankan saya mengutarakan pikiran saya yang masih bersifat sementara ini.
Bagi saya, sebagai penganut monoteisme, wawasan yang lebih masuk akal tentang ketuhanan adalah wawasan yang justru memandang Tuhan itu sendiri sebagai “Dzat” atau “Being” atau “Wujud” yang sedang berproses juga. Bagi teman yang pernah membaca pikiran filosof proses, Alfred Whitehead, konsepsi ketuhanan yang berwatak “prosesual” ini sudah pasti tidak aneh dan mengagetkan. Kebaikan dan kejahatan bersumber dari Tuhan yang sama, dan dalam diri Tuhan memang terdapat dua aspek yang paradoksal. Paradoks ketuhanan itulah yang kemudian “memancar” (ini istilah khas dalam filsafat: emanasi (al faidh) ke dalam kehidupan manusia. Jika manusia diciptakan dalam citra Tuhan (Imago Dei dalam konsepsi Kristen; atau wa nafakhtu min ruhi dalam konsepsi Islam), maka dengan sendirinya paradoks-paradoks yang ada dalam Tuhan sendiri akan “mengalir” pula dalam watak dan psike manusia itu sendiri.
Sebagaimana Tuhan dalam dirinya mengalami semacam “proses” yang melibatkan pertarungan antara yang “Baik” dan yang “Buruk”, sebagaimana Tuhan dalam dirinya mengalami dialektika, maka demikian pula manusia. Inilah konsepsi yang konsisten mengenai Tauhid, mengenai Tuhan yang satu: Tuhan Kebaikan sekaligus Tuhan Kejahatan. Wallahu a’lam Bisshawab (Ulil Abshar-Abdalla)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar