6.13.2009

homles mind

HOMLESS MIND
(By Fano S. )
Modernitas merupakan
bagian dari proses sejarah dunia dan umat manusia. Keterpurukan kondisi umat manusia bukan hanya disebabkan karena "penyalahgunaan" peran agama oleh penganutnya saja, tetapi yang tak kalah hebat juga dipengaruh sisi negatif yang dihasilkan modernitas. Tarik-menarik antara tradisi (agama) dan modernitas menjadi wacana yang masih hangat untuk selalu diperdebatkan. Ada kesan bahwa agama bertolak belakang dengan modernitas. Benturan antara modernitas dan nilai-nilai tradisi serta agama memang bukan sesuatu yang mudah untuk diatasi. Benturan itu disebabkan kecenderungan modernitas menggeser dan menggantikan norma-norma yang sudah mengakar di masyarakat. Sejak zaman Renaisance, manusia memasuki ”dunia baru”, dunia yang begitu berbeda dengan tatanan dunia sebelumnya. Dalam kehidupan di dunia baru ini manusia mengalami proses transformasi yang sangat signifikan, begitu cepat dan mencengangkan. Dunia baru yang digambarkan di sini nampak jelas lewat kehadiran sains dan teknologi canggih yang membuat segala sesuatu menjadi mudah, tidak berjarak dan tidak tersekat oleh waktu, ruang dan tempat. Sains dan teknologi tidak lain dari produk ratio manusia.
Terminologi ratio mau menunjukan betapa mudah dan gampangnya manusia memfasilitasi keperluan manusia. Kecanggihan sains dan tekhnologi abad modern ini secara pelan tetapi pasti telah membuka ruang dan cakrawala baru dalam tatanan peradaban kehidupan manusia. Peradaban itu direkontruksi kembali dan telah memberikan warna baru bagi kehidupan manusia. Hal itu nampak jelas di mana, sesuatu yang dahulunya dianggap tabu, misteri dan merupakan wilayah metafisis bahkan teologis, dengan sains dan teknologi menjadi riil dan lumrah. Sebagai contoh, sebut saja tentang penjelajahan manusia ke semesta lain, seperti perjalanan ke bulan dengan hanya menggunakan pesawat ulang alik baik yang berawak maupun yang tidak berawak; teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Akan tetapi, betapa pun manusia telah berhasil dan terus berhasrat mengeksplorasi dan menguak tabir misteri kosmis termasuk dirinya, namun keberadaan manusia itu sendiri tetap saja menjadi misteri yang hingga kini, bahkan entah sampai kapan pun tak terungkapkan. Dengan kata lain, produk ratio manusia yang terungkap dalam sains dan teknologi tidak menjamin untuk mengungkapkan ada-nya manusia.
Seiring dengan perjalanan waktu, manusia semakin terpesona dengan perkembangan sains dan teknologi sebagai produk kerja ratio. Bahkan ironisnya, oleh karena berbagai kemudahan yang dialami oleh manusia, manusia telah berani meniscayakan ”ratio” yang terbukti telah berhasil menghadirkan sains dan teknologi. Namun tanpa disadari seiring dengan itu pula manusia telah mereduksi keniscayaan realitas lainnya termasuk agama dengan berbagai elemen spiritual yang terkandung didalamnya. Keterpesonaan akan perkembangan sains dan teknologi yang berakhir pada peniscayaan terhadap ratio dan mereduksi realitas agama membuat manusia memandang dan menghadirkan dunia dengan segala persoalannya sebagai realitas yang sederhana. Dari sini manusia mulai melihat segala realitas dan nilai-nilai yang terkandung dalam agama sebagai sesuatu yang absurd. Hal ini disebabkan oleh karena manusia menyadari sesuatu yang dijalankannya hanya sebatas pada rutinitas belaka. Nilai-nilai spiritual agama dirasakan sebagai ritus yang bergerak, berputar bagaikan roda. Tidak ada sesuatu yang baru. Hal ini disebabkan karena manusia telah terkontaminasi oleh hal-hal yang mudah, menarik dan indah yang disuguhkan oleh dunia ini. Maka di sini sesungguhnya manusia menghayati dan menjalankan kehidupan beragama sebagai tarian sakratulmaut. Ungkapan ini mau menunjukan sebuah bentuk keprihatinan akan keberadaan agama di tengah perkembangan sains dan teknologi. Sadar atau tidak agama pada titik ini sedang berhadapan dengan sebuah rivalitas sains dan teknologi. Dunia menuntut agar agama berubah sesuai dengan trend dan perkembangan zaman. Akan tetapi, dilain sisi Agama "ditantang" untuk bisa hidup secara eksistensial. Oleh karena itu, agama perlu menempatkan diri dalam konteks kekinian (historisitas) dan kedisinian (lokalitas). Konteks kekinian dan kedisinian dimaksud agar agama tidak lagi dikatakan "mati atau sebagai tarian sakratul maut” di tengah carut-marutnya dunia melainkan mampu menghadirkan dirinya di tengah-tengah berkecamuknya tarian modernitas saat ini. Dalam dunia baru ini dengan segala kekompleksitasannya, peran agama tidak bisa dipandang sebelah mata. Realitas menunjukan bahwa kehidupan di dunia baru ini sangat dinamis dan merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan. Oleh karena itu, perlu direspon dalam konstruksi pemahaman agama yang dinamis pula. Dengan demikian, pemaknaan terhadap nilai-nilai agama akan melebur pada situasi di mana konteks dan realitas yang melingkupi kehidupan manusia menjadi sangat diperhitungkan.
Sains dan tekhnologi yang merupakan produk ratio manusia membawa dampak bagi keberadaan agama. Agama memang betul-betul dipolitisir oleh ratio yang dari waktu kewaktu selalu melahirkan ide-ide kreatif. Ungkapan yang mau menunjukan akan keberadaan ini adalah homless mind (pikiran yang tak berumah). Homless mind secara jelas terlihat di mana ratio yang melahirkan sains dan teknologi dengan segala kemudahannya, tetapi justru dengan ini manusia meniscahayakan ratio termasuk agama dengan segala embel-embel di dalamnya. Oleh karena itu, di sini agama dituntut untuk mampu menampilkan jati dirinya di atas kancah perubahan zaman. Semuanya itu terletak pada bagaimana diri kita (manusia) sebagai penganut agama mau berpikir secara rasional dan kritis akan segala sesuatu yang kita terima. Realitas menunjukan bahwa agama sekarang bagi sebagian masyarakat modern telah kehilangan semangat komunalnya oleh karena manusia selalu merationalisasikannya. Manakala manusia selalu mengedepankan rationya, maka agama menjadi sangat pribadi dan individualistik dan Ketika agama menjadi pribadi dan bersifat individualistik maka, kearifan nilai agama ditafsirkan secara subjektif. Namun yang jelas dengan adanya kebebasan berfikir manusia dituntut untuk mampu memahami agama sesuai dengan konteks dan keyakinannya sendiri. Dengan kata lain, agama ini terkait dengan ragam kontruksi penafsiran manusia, ketika konteks berubah maka pemahamannya pun bisa berubah.
Peradaban agung manusia selalu melahirkan konflik yang berkecamuk pada diri individu-individu yang menghidupinya. Dampaknya membias pada agama. Agama lantas menjadi obyek kritisme dan bahkan tidak dihargai lagi. Agama dilihat hanya sebatas ritualisme yang menjemukan dan merupakan rumusan-rumusan tua dari pemujaan resmi. Persoalannya bukan karena kehadiran tehknologi dalam kehidupan manusia melainkan manusia yang tak mampu lagi membendung keinginannya dalam menempatkan dirinya terhadap perkembangan sains teknologi. Inilah fenomena yang tengah terjadi yang mencirikan modernitas. Dengan demikian, pada abad yang dikepung berbagai konsekuensi buruk modernitas ini, manusia pada zaman ini pantas menyandang predikat sebagai homeless mind.
Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan sains dan teknologi dapat membawa berkah bagi kehidupan manusia berupa kemudahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Saat ini kita dapat merasakan bahwa hampir semua pekerjaan dapat dikerjakan oleh mesin mulai dari yang paling berat, rumit dan sulit hingga yang paling sederhana, gampang dan mudah. Dunia seperti itu diistilahkan dengan dunia yang telah dilipat. Hal ini disebabkan oleh kenyataan betapa kehadiran sains dan teknologi telah membuat aktivitas hidup manusia semakin efektif dan efisien. Kehadiran sains dan teknologi dalam seluruh ritme kehidupan manusia, seakan-akan tidak bisa hidup tanpanya sebagaimana manusia sebagai makhluk sosial. Demikian adanya bahwa sains dan tehknologi memudahkan, membuai dan memanjakan kehidupan kita. Akan tetapi perlu kita ingat bahwa modernitas adalah produk ratio manusia yang ambigu. Dikatakan ambigu karena menghadirkan dua sisi yang saling berhadapan. Satu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dengan segala kemudahan dalam hampir seluruh konstruk kehidupan manusia, tetapi di lain sisi secara sadar atau tidak sesungguhnya kita terjebak dalam produk ratio.

Keniscayaan Modernitas
Modernisasi adalah sebuah keniscayaan sejarah yang pasti ada menyeimbangi sebuah peradaban manusia, tak peduli apakah ia menghendakinya atau tidak. Modernitas bagaikan air bah yang terus menerjang benteng-benteng kokoh mitologis masyarakat primitif dan bahkan manusia di abad modern ini dengan menggantinya dengan bangunan baru yang lebih rasional, kritis dan liberal. Modernisasi merupakan suatu proses raksasa menyeluruh dan global. Tak ada bangsa atau masyarakat yang dapat mengelak darinya.
Secara terminologi kemodernan dapat dipahami sebagai sebuah kondisi atau keadaan di mana muncul serangkaian perubahan dan peningkatan dalam kehidupan manusia, mulai dari sistem birokrasi, rasionalisasi, kemajuan dalam bidang teknis dan pertukaran global yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia era pra-modern. Modernisme sebagai “pencarian otonomi individu”, menekankan pada perubahan nilai secara kuantitas, efisiensi dalam produksi, dan kekuatan serta keuntungan di atas simpati terhadap nilai-nilai tradisional atau lapangan pekerjaan dalam ruang publik maupun pribadi. Keberhasilan tersebut technical capacities dan global exchange—merupakan konsekuensi material dari ideologi modernisme, yang kemudian memarginalisasikan peran agama. Dari sini kemudian muncul perdebatan di mana orang banyak mendudukkan modernisasi.
Anomalitas Modernitas
Adalah hal yang tak terbantahkan, bahwa sains dengan penemuan-penemuan spektakulernya membawa berkah bagi manusia dengan segala kemudahan dalam menjalankan segala aktivitasnya. Namun pada sisi lain, konsesi aksesif kemoderan telah melahirkan ruptures pertahanan dalam kehidupan. Inilah yangg dinamakan dengan Anomali Modernitas. Dampak paling krusial dari modernitas adalah terpinggirkannya manusia dari lingkar eksistensinya sebagai pribadi yang beragama. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasar pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spritualitas dirinya terpinggirkan. Meskipun secara kuantitatif manusia mengalami kemajuan yang spektakuler, namun secara kualitatatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan. Bagaimana agama menjawabi persoalan seperti ini?
Pembacaan kritis terhadap agama dengan "merevitalisasi" tradisi akan mampu merespon tantangan modernitas. Agama dan modernitas bukanlah dua kutub yang selamanya akan selalu berlawanan, tetapi akan terjadi ruang dialog dan kritik dalam menyikapisegalamacamperubahan. Pada dasarnya tidak semua agama dapat menjawab persoalan kemanusiaan. Hanya agama yang menjamin pemenuhan spritualitas dan tidak bertentangan dengan sains dan teknologilah yang dapat bertahan. Selain itu pendekatan beragama yang cenderung eksklusif juga tidaklah cocok untuk ditawarkan pada hari ini dan masa yang akan datang karena pada masyarakat yang terbuka semacam ini agama semacam itu cenderung menyulut konflik.
Modernitas senyatanya tidak hanya menghadirkan dampak positif (afirmatif), tapi juga dampak negatif (negasi). Terhadap dampak negatif ini, pertanyaan kita selanjutnya adalah apa yang seyogyanya kita lakukan, sementara modernitas dengan niscaya terus bergerak dengan tanpa memperdulikan apakah di balik gerakannya terdapat bias negatif? Modernitas yang merupakan kristalisasi budi daya manusia adalah keharusan sejarah yang tak terbantahkan, dengan demikian satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah menjadi partisipan aktif dalam arus perubahan modernitas, sekaligus membuat proteksi dari akses negatif yang akan dimunculkan. Dalam kondisi seperti ini, maka agama merupakan satu tawaran dalam kegersangan dan kehampaan pikiran yang tak berumah manusia modern.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar