6.13.2009

refleksi live in

CORETAN INI...
(Fr. Fano)
Coretan ini lahir dari pergulatan batinku selama masa liburan. Lahir dari sebuah getaran gelombang hidup yang dirasakan, dialami dan dihayati. Kini kukristalkan dari endapan kesadaran hidupku. Saya sadar bahwa kata yang diucapkan terbang tak menentu, tetapi apa yang tertulis tetap tinggal selamanya, maka saya berani merangkaikan kata demi kata dalam “coretan ini” untuk membingkai pergulatan batinku.

Awal kisah...
Mungkin saudara heran, kaget dan bahkan timbul rasa protes dalam hati yang menghantar pada tepian pemikiran sehingga lahirlah sederetan pertanyaan untuk membuktikan kebenaran, mengapa refleksinya berbeda dengan teman-temanku yang lain. Bukan tanpa alasan jikalau saat ini refleksiku lain daripada yang lain. Bagi saya perbedaan tidak menjadi soal. Pengalamanlah yang membuat semuanya berbeda. Awal kisah, dalam kesempatan wawancara dengan P. Wim, salah satu agenda penting yang saya sampaikan kepada beliau adalah mengenai kondisi tangan yang patah. Pertemuan ini, menggudang harapan dalam hati. Harapan ini kemudian hari mengukir dan melahirkan pengalaman yang saya refleksikan saat saat ini. Singkat kata, dia mengajurkan untuk melakukan pemeriksaan/cek up pada dokter.
Sore itu Senin, 17-06-2008 saya dan fr. Santoso pergi ke dokter ahli tulang yang persis tempat prakteknya di RKZ. Waktu itu, saya membawaserta hasil rontgen yang dilakukan sebelumnya. Ketika dokter melihat kondisi tangan saya, ia sangat pesimis. Pesimis karena posisi tulangnya tumpang tindih. Baginya tak ada jalan lain untuk meluruskannya, selain dioperasi. Setelah melewati sebuah perjanjian, ia merekomendasikan untuk operasi. Mendengar kata operasi, sejenak aku tertegun dan diam tanpa kata. Sifatnya spontanitas. Dok...operasi? sahutku. ‘ya operasi’ balasnya. Jantungku bergetar ketakutan. Aku menatap dalam wajah dokter. Pandanganku tak beranjak dalam ruangan tempat kerjanya yang berukuran 5x5 meter. Dengan cepat dokter menyapu lamunanku yang tak bertepi. “Kamu takut?”, dokter mencoba meregangkan suasana. “nggak dok...nggak takut kok ! gumamku”. Sesungguhnya hati berkata lain. Aku telah menipu isi hatiku pada saat itu. Aku berusaha menyembunyikan kegetiran perasaanku, dengan berlaku ramah dan senyum di hadapannya. Akhir kata, setelah selesai berbicara mengenai operasi yang akan di jalankan besoknya, saya keluar dari kamarnya. Fr. Santoso yang dengan setia menunggu aku di ruang tunggu, menjempu aku sambil bertanya: “gimana jadi operasi ga?” ‘Jadi, operasinya besok jam 12.00 siang’ balasku. Meskipun ia bukan ahli psikologi, tetapi rupa-rupanya ia mampu membaca isi hatiku. Ia berusaha meyakinkan aku dengan berkata: “jangan cemas dan takut, kamu tak tahu nanti bagaimana jalannya operasi. Berdoalah mohon kekuatan dan keteguhan hati dari Tuhan lewat Bunda Maria”. Kali ini saya berkata jujur bahwa sesungguhnya saya takut dan cemas. Takut karena saya belum pernah mengalami bagaimana rasanya operasi, juga tatkala saya terlalu jauh membayangkan bagaimana tim dokter mematahkan tulang tanganku yang sudah sambung dan bengkok. Ini merupakan pergulatan yang cukup besar dan menguras seluruh tenaga, energi dan pikiran.

RkZ yang bersejarah...
Hari itu Rabu, 20-6-2008 saya berada di rumah sakit untuk menjalani operasi. Perasaan paling dominan yang menggerogti diri saya adalah cemas. Aku tak tahu bagaimana menyikapi perasaan ini. Namun, suatu gerakan spontanitas terucap dari dalam hati dan menggema dalam sanubari yakni kata salam Maria. Seiring dengan detak jantung kulantunkan doa salam Maria. Perlahan batinku merasa tenang. Doa salam Maria bagaikan air mengalir yang menghanyutkan luapan kecemasanku dalam waktu. Bibirku bagaikan gerak pena juru tulis, mendendangkan terus doa ini dalam hati, sambil menanti saatnya untuk dibawa ke ruang operasi. Dalam posisi seperti ini, bagiku waktu terasa cepat berlalu. Pergulatan batinku pun larut bersama waktu. Saya merasakan ini persis saat-saat menjelang operasi. Para suster perawat baik yang senior maupun yang yunior (masih kuliah) dengan penuh semangat dan dijiwai oleh semangat pelayanan, mereka mempersiapkan tempat tidur roda bagi saya. Detik-detik inilah yang sangat menegangkan bagiku dan terlebih kusus tatkala para suster perawat mulai beraksi menanggalkan pakaian pada tubuhku. Setelah saya berada di atas tempat tidur roda, mereka mulai melepaskan satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhku. Tubuhku hanya dibalut dengan selembar kain putih polos dan transparan. Awalnya saya malu dan berat untuk menanggalkan pakaian di depan para perawat. Namun, saya harus mengalah pada konteks. Sesuatu yang selama ini tak pernah kualami rasanya berat utuk menerima kenyataan ini. Meskipun batin menolak, tetapi mau apalagi, saatnya harus menerima kenyataan ini. Tentu saja sebagai laki-laki memiliki perasaan malu. Apalagi status sebagai seorang frater. Namun, dalam kondisi seperti ini, identitas dan status sebagai seorang frater tidak dapat berkata banyak. Saya hanya diam.

Bahasa membisu............
Di hadapan mereka identitas sebagai frater dinomorduakan. Bahasa membisu untuk mendeklarasikan suatu gerakan protes. Kebisuan kata justru membawa kesadaran bahwa posisi saya lebih sebagai pasien dan bukan sebagai frater. Satu nilai yang saya peroleh dari sini ialah bahwa sikap penyerahan diri yang total amat penting. Jikalau selama ini penghayatan penyerahan diri secara total hanya dinyatakan dalam kesediaan untuk memberikan diri hanya kepada Tuhan dalam menjawabi panggilan ini, total memberikan diri dalam seluruh dinamika hidup komunitas dan lain-lain sebagainya. Namun, dalam kondisi seperti ini penyerahan diri secara total juga mendapat arti. Saya mengartikan kata penyerahan dalam konteks ini sebagai suatu peleburan. Peleburan diri dalam konteks. Peleburan dalam arti bagaimana saya harus masuk dalam situasi/konteks ini dan membiarkan konteks berbicara bagi identitas saya sebagai seorang frater. Nah, pada titik ini kosep penyerahan diriku semakin diperkaya. Inilah salah satu poin yang menurut saya sangat memperteguh pemahaman akan nilai penyerahan diri saya kepada Tuhan dalam jalan panggilan ini. Selain itu, nilai pelayanan merupakan poin bukan sekedar diangkat dalam refleksi ini. Poin ini sungguh menghartar saya akan nilai pelayanan Tuhan yang diejawantahkan dalam diri konfrater dan orang yang memperhatikan saya.


Nilai pelayanan...
Saya sangat kagum dengan para perawat dalam hal pelayanan. Saya berani mengatakan bahwa mereka adalah “hamba-hamba pelayan”. Seluruh diri dan tugas mereka dijiwai oleh semangat pelayanan. Keutamaan-keutamaan dari Bunda Maria seperti kesetiaan, ketekunan, ketabahan, kesabaran nyata dalam diri mereka dan sungguh mewarnai seluruh dinamikan pelayanan mereka. Mereka dengan penuh setia mendampingi dan merawat saya. Meskipun demikian, hari-hari berada di rumah sakit, tak luput dari perasaan susah dan senang. Senang karena banyak orang datang mengunjungi entah keluarga mereka sendiri atau kenalan. Yang saya maksudkan adalah bahwa dengan penampilan mereka yang selalu ceria memperteguh dan menyadarkan saya bahwa hidup ini tak perlu ditangisi entah dalam kondisi sakit ataupun sehat. Selain itu, penghargaan nilai hidup amat penting karena dengan itu saya dihantar pada sebuah tepian hati untuk selalu bersyukur kepada Dia Sang penentu kehidupan.
Nilai hidup itu, secara nyata dapat saya amati pada pasien yang berada di samping kiri-kanan saya. Jikalau dibandingkan dengan penderitaan yang saya alami dengan mereka hampir pasti tidak sebanding. Di sinilah saya sesunggungnya bersuka cita akan nilai kehidupan dan merasa dikuatkan. Meskipun beratnya derita yang mereka alami, toh masih bisa senyum, apalagi saya. Susah karena kedua tangan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tangan kiri dioperasi dan tangan kanan di pasang infus. Praktis bahwa kedua tangan saya di borgol sehingga tidak dapat bergerak dan melakukan sesuatu. Nah, pada titk ini kehadiran kofrater amat penting. Saya tidak merasa sendirian. Teman-teman setia menjaga saya, hari-hari di rumah sakit. Hati saya dikuatkan dan diteguhkan.
Tangan teman-teman dan para perawat merupakan perpanjangan dari tangan Tuhan. Saya merasakan Tuhan selalu bersama saya dalam kondisi seperti ini. Ia tidak meninggalkan saya seorang diri. Pengalaman yang dialami di rumah sakit, saya alami juga di komunitas. Teman-teman tidak menutup mata melihat kondisi yang tengah saya alami. Dengan caranya masing-masing mereka membantu saya. Lagi-lagi saya tidak sendirian. Pengalaman dilayani memampukan saya untuk terbuka melayani siapa saja. Sesunggunya saya merasa bahwa pengalaman penderitaan ini mengajarkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah dialami. Misalnya saat mandi atau ke toilet. Betapa deritanya hati ini ketika berhadapan dengan dua kegiatan di atas. Namun, ada saja cara untuk mengatasi kesulitan ini sehingga saya mampu melewatinya dengan penuh kegembiraan.

Salib.........?
Apakah yang saya alami ini sebagai salib? Saya berani mengatakan bahwa ini adalah salib. Salib yang saya alami tentu tidak sebanding dengan salib yang dialami oleh Yesus. Salib yang dialami oleh Yesus merupakan ungkapan cinta yang lahir dari rasa solidaritas Bapa dan ungkapan cinta itu sendiri adalah salib. St.Montfort menerapkan istilah salib untuk “penderitaan”. Ia mengatakan bahwa semua manusia (kristiani) itu memikul salib karena penderitaan, dan bisa dialami oleh orang baik dan jahat (bdk. Inter nos no.41-Juli 1996, thn VII hlm.4). Bagiku derita ini adalah salib. Salib dalam pengertian di mana saya harus rela memberikan dan mengkondisikan diri oleh pristiwa yang tengah dialami. Memberikan dan mengkondisikan diri dalam artian bahwa saya meminimalisir segala keinginan dan hasrat untuk melakukan sesuatu, layaknya seorang yang sehat seperti teman-teman lainnya. Bagi saya ini merupakan pergolakan yang amat besar dalam diri, di mana segala kegiatan terbatas. Nah, dalam hal inilah salib memberikan arti pada derita. Dengan sepenuh hati saya memikulnya. Salib ini menjadi ringan karena disatukan dalam salib Yesus. Salib Yesus jauh lebih berat daripada yang saya alami ini. Yesus mencintai salib-Nya sebagai wujud cinta-Nya kepada bapa. Saya mencintai salib ini karena Yesus terlebih dahulu mencintai saya lewat kematian-Nya di salib. Dalam salib inilah saya menemukan kediaman-Nya. Senada dengan itu, St. Montfort berkata: Dia menetapkan kediaman-Nya di dalam salib dengan begitu kuatnya, sehingga anda tidak dapat menemukan-Nya di tempat lain di dunia ini, kecuali dalam salib(bdk CKA 180

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar