6.13.2009

sosiologi

SEBAB-SEBAB KETIDAKHARMONISAN DALAM KELUARGA KATOLIK DI LINGKUNGAN ST. BONEFASIUS-PAROKI SANTA PERAWAN MARIA DARI GUNUNG KARMEL-PAROKI IJEN

I. Latar Belakang
Hidup di dunia ini penuh dengan tantangan. Manusia entah pribadi atau kelompok hampir pasti mempunyai macam-macam masalah. Hidup berumah tangga pun tak luput dari masalah. Masalah itu muncul silih berganti. Karenanya tidak mengherankan perpecahan dan ketidakharmonisan selalu terjadi dalam hidup berkeluarga dan mewarnai perjalanan hidup berkeluarga itu sendiri.
Struktur masyarakat kota sangat mempengaruhi pola hidup manusia. Salah satu di antaranya adalah sikap individualisme. Individualisme merupakan penyakit kota besar yang merasuki hidup berkeluarga dewasa ini. Cara hidup seperti itu ada, seiring dengan kesibukan untuk mengejar prestasi, prestise dan status sosial. Bisnis menabung materi dalam ketatnya persaingan dan lain-lain, sungguh menyita banyak waktu dan perhatian setiap pribadi dalam keluarga entah itu antara suami/istri maupun anak-anak dengan orang tua. Nyaris tidak ada lagi waktu untuk hidup bersama, men-sharing-kan pengalaman, membina rasa kekeluargaan yang mendalam apalagi waktu untuk berdialog mengenai masalah dalam keluarga. Dalam situasi seperti ini, kesalahpahaman dan pengertian tidak dapat dipungkiri lagi, hampir pasti selalu terjadi dalam keluarga. Suasana dialog yang sehat berubah menjadi pertengkaran atau sikap dingin satu sama lain, yang tidak jarang membawa sikap protes dan bermusuhan antara anggota keluarga atau merasa dimusuhi dalam berbagai perwujudan.
Keluarga sebagai sel terkecil dari masyarakat manusia tidak luput dari pengaruh perubahan-perubahan tata dunia. Bapa Suci Yohanes Paulus II (almarhum) dalam enksikliknya tentang keluarga Familiaris Consorcio (1991) menulis:
”Keluarga pada zaman modern, sama seperti atau bahkan lebih daripada lembaga lain mana pun, telah dirundung banyak perubahan yang cepat dan mendalam yang telah berdampak pada masyarakat kebudayaan. Banyak keluarga hidup dalam kondisi ini dengan tetap setia berpegang pada nilai-nilai yang mendasar lembaga keluarga. Sementara keluarga-keluarga yang lain mengalami keraguan dan kebingungan tentang peranan mereka atau bahkan bimbang dan hampir tak pernah sadar lagi akan makna serta kebenaran tertinggi mengenai hidup menikah dan berkeluarga. Realitas perubahan ini turut mempengaruhi pola atau bentuk relasi, pergaulan dalam hidup perkawinan dan berkeluarga.”
Apa maksud dari penyataan di atas? Penyataan ini menegaskan bahwa transformasi kehidupan yang dicapai manusia dewasa ini membawa manusia pada sebuah paradoks kehidupan. Satu sisi, perubahan-perubahan yang terjadi memberikan sekian banyak kemudahan bagi manusia untuk menjadikannya hidup lebih bahagia. Namun, di lain sisi perubahan yang ada justru membawa kemelut dan menjerumuskan manusia dalam berbagai persoalan yang berujung pada ketidakharmonisan. Hal ini nampak dalam hidup keluarga katolik. Merosotnya nilai-nilai perkawinan dan hidup berkeluarga merupakan dampak negatif dari perubahan yang terjadi. Kemerosotan ini terlihat jelas dalam kasus-kasus seperti salah pengertian tentang saling ketergantungan antara suami-istri; salah paham tentang hubungan antara orang tua dan anak-anak; dan kesulitan dalam penghayatan nilai-nilai perkawinan. Kasus-kasus seperti ini hampir pasti berujung pada ketidakharmonisan hidup berkeluarga. Situasi keluarga yang semula seperti firdaus perlahan berubah menjadi neraka. Kegembiraan dan kebahagian terkikis menjadi penjara hati. Suasana keluarga berubah menjadi padang gurun, kering dan tandus. Semuanya disebabkan oleh kurangnya dialog, komunikasi antara bapa-mama dan anak-anak. Orang tua sibuk dengan dunia sendiri dan anak sibuk dalam benuanya sendiri.
Tujuan perkawaninan Kristiani adalah kelahiran dan kesejahteraan suami-istri dan anak. Tujuan ini bersifat integral dan komplementer. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya. Ketidakterpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti kebutuhan untuk mensharingkan kehangatan melalui aktivitas seksual, kebutuhan akan komunikasi yang efektif, untuk terbuka terhadap pesan dari orang lain (sesama anggota keluarga), kebutuhan untuk memahami pesan-pesan dan lain-lain membuat tujuan perkawinan yang didambakan tidak terpenuhi. Maka tak heran lahirlah serentetan persoalan dan perpecahan.
Pada dasarnya hidup berkeluarga merupakan sebuah proses pencarian. Proses untuk mencari sebuah bentuk keluarga yang sejati dan ideal. Dalam proses pencarian ini, tak pelak lagi bahwa sejumlah hambatan dan rintangan menghantam bahtera perjalanan hidup keluarga itu sendiri. Usaha untuk menemukan bentuk yang cocok dan ideal, tidak lain bertujuan untuk mencapai dan menemukan sebuah kebahagiaan hidup. Inilah harapan yang didambakan oleh setiap keluarga katolik dalam hidup berkeluarga. Namun harapan ini terkadang terbentur oleh sekian banyak kepentingan pribadi sehingga tidak mampu lagi untuk merumuskan kesamaan pola dan prinsip hidup.
II. Perumusan Masalah
Ditinjau dari ilmu sosiologi, keluarga adalah basis dari lembaga-lembaga sosial atau kelompok sosial dalam masyarakat. Keluarga dari agama manapun masuk dalam kelompok sosial ini, termasuk keluarga katolik yang kami beberkan. Keluarga memainkan paranan penting dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis. Keluarga merupakan payung utama yang menentukan keberlangsungan hidup setiap anggota keluarga. Bahagia tidaknya sebuah keluarga bergantung pada agen-agen keluarga. Agen keluarga yang dimaksud adalah orang tua. Merekalah memegang peranan penting dalam mengendalikan stir perjalanan hidup berkeluarga.
Sebagai kelompok sosial dalam masyarakat, keluarga katolik juga merupakan gereja kecil. Kalau keluarga adalah gereja maka dapat dikatakan bahwa keluarga juga merupakan mempelai Kristus. Mempelai yang mampu menghasilkan anggota-anggota tubuh Kristus. Kehidupan keluarga juga merupakan perwujudan dari cinta kasih Allah yang nyata. Dasar cinta yang dibangun dalam keluarga bersumber dari cinta kasih yang sama, yang digunakan oleh Allah sang pencipta. Keluarga merupakan suatu jalan yang biasa bagi semua orang. Jalan ini kusus dan unik yang tak dapat diulangi lagi. Sebuah jalan yang tak dapat ditarik kembali oleh seorang manusia.
Almarhum Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik yang bertemaka surat kepada keluarga-keluarga mengatakan bahwa keluarga selalu dianggap sebagai ungkapan pertama dan dasariah dari kodrat sosial manusia. Namun persoalan yang muncul adalah sejauh mana keluarga, sebagai komunitas manusiawi yang paling kecil dan paling dasariah, sangat bergantung pada sumbangan pribadi seorang pria dan seorang wanita? Padahal keluarga itu sendiri tidak lain adalah kemunitas pribadi-pribadi yang cara keberadaanya dan hidup bersamanya didasari oleh persekutuan antar pribadi.
Perjanjian perkawinan merumuskan dan memperkokoh kesejahteraan dalam perkawinan dan keluarga. Perkawinan merupakan persatuan yang unik dari pribadi-pribadi dan berdasarkan persatuan inilah maka keluarga di panggil menjadi suatu kemunitas antar pribadi. Panggilan ini tentu bertujuan untuk mencapai kesejateraan, kedamaian, keharmonisan bersama dalam keluarga. Namun, realitas berbicara lain atas penyataan di atas. Maka muncul persoalan, sejauhmana janji perkawinan menjamin keharmonisan hidup berkeluarga?
Tidak adanya keseimbangan antara pendapatan dengan pengeluaran keluarga juga persoalan yang tak kunjung henti. Sebagaimana yang telah kami kemukakan pada latar belakang di atas berkaitan dengan pengaruh kehidupan kota yang sungguh mempengaruhi pola hidup berkeluarga pada zaman sekarang maka tak dapat dihindari lagi bahwa pengaruh itu sangat bersentuhan dengan persoalan ekonomi keluarga. Ketika tuntutan zaman begitu tinggi yang tidak sesuai dengan pendapatan keluarga misalnya perubahan harga sembako maka sejumlah persoalan menghantam hidup keluarga itu sendiri. Kami melihat ini juga faktor yang menyebabkan ketidakharmonisan dalam hidup berkeluarga..

III. Hipotesa
Setelah melihat orientasi dan perumusan permasalahan, maka ada beberapa hipotesa sementara yang coba kami kemukakan berkaitan dengan hal-hal di atas.
 Pria/wanita kurang memahami arti sebuah perkawinan.
 Pria/wanita kurang memahami satu sama lain sebagai patner hidup.
 Pria/wanita kurang memahami tujuan hidup berkeluarga.
 Pria/wanita masih menggunakan ukuran tempo dulu ketika mereka masih muda (Past oriented) dalam hidup berkeluarga.
 Kurang adanya rasa memiliki sebagai suami kepada istri atau istri kepada suami.
 Sumber pendapatan keluarga yang tidak stabil.

IV. Tujuan Penelitian
Kami merasa bahwa penelitian dalam bidang ini sangat penting dan bermanfaat. Usaha- usaha untuk memahami sebab-sebab ketidakharmonisan dalam keluarga katolik yang kami beberkan dalam proposal penelitian ini, bertujuan untuk bisa berpastoral mulai dari konteks, sehingga bisa menjawab kebutuhan-kebutahan dari keluarga-keluarga yang mengalami persoalan. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk membangun sikap kesadaran dalam diri setiap orang; entah ketua lingkungan, katekis maupun orang-orang yang bergelut dalam reksa pastoral dan secara kusus bagi kami sendiri yang dikemudian hari akan terjun ke lapangan. Kesadaran untuk lebih peka terhadap problem yang dihadapai oleh keluarga katolik dewasa ini.
Akhirnya, penelitian ini menyadarkan kami, kira-kira pastoral dalam bentuk apa yang tepat untuk menyikapi persoalan yang dihadapai keluarga katolik sekarang, sehingga kehidupan keluarga itu sendiri tetap harmonis dan lestari.


V. Metode
Setelah mempertimbangkan waktu kami dan pihak yang akan kami temui, maka kami menggunakan metode kuesioner. Kami menggunakan metode ini karena mengingat keluarga yang hanya sedikit waktu ada di rumah. Metode ini kami pertimbangkan juga akan hambatan, tantangan yang mungkin datang secara tak terduga dalam melakukan penelitian dikemudian hari.

VI. Proses Penelitian
Usaha yang akan kami tempuh dalam proses pengambilan data antara lain:
 Menghubungi ketua kelompok/lingkungan tempat pengambilan data,
 Menghubungi keluarga-keluarga tertentu sebagai representasi dari keluarga katolik yang ada dalam satu lingkungan/kelompok,
 Dalam pengambilan data, kami akan membagikan kuesioner kepada suami-istri dan anak-anak dalam keluarga yang dituju.

VII. Sampel
Lingkungan St. Bonefasius merupakan salah satu lingkungan yang ada dalam Paroki Ijen. Kami mengambil lingkungan ini sebagai sampel penelitian, karena mudah dijangkau dan dekat. Lagi pula, tempat ini merupakan tempat pastoral dari antara konfrater kami. Sehingga kami merasa mudah dalam mendekati keluarga yang akan diteliti. Sekedar gambaran, bahwa keluarga katolik yang ada dalam lingkungan ini, ada dan hidup di tengah mayoritas agama Islam.

VII. Pertanyaan Kuesioner

a. Petunjuk: Pilihlah jawaban pertanyaan berikut dengan melingkari/memberikan tanda silang. Jawaban kiranya apa yang lahir secara spontan, sesuai dengan hati nurani:
1. Saya adalah: A. Bapak B. Ibu C. Anak laki-laki D. Anak perempuan
2. Saya adalah seorang A. Katolik B. Islam C. Kristen Protestan
3. Usia saya: A. 15-20 B. 20-30 C. 30-40 D. 41-50
4. Pendidikan terakhir saya: A. SMU B. Diploma C. Sarjana Strata 1 D. Sarjana Strata 2
5. Saya berasal dari suku: A. Jawa B. Batak C. Flores D. Cina
6. Ayah saya beragama: A. Islam B. Katolik C. Kristen-Protestan D. Hindu
7. Ibu saya beragama: A. Islam B. Katolik C. Kristen-Protestan D. Hindu
8. Suami saya beragama: A. Islam B. Katolik C. Kristen-Protestan D. Hindu
9. Istri saya beragama: A. Islam B. Katolik C. Kristen-Protestan D. Hindu
10. Saya bekerja sebagai: A. PNS B. Pegawai swasta C.Wiraswasta
11. Saya bekerja di luar rumah: A. 1-3 jam sehari B. 4-6 jam sehari C. 7-8 jam sehari.
12. Penghasilan dalam keluarga rata-rata setiap bulan: A. Di bawah 1.000.000 B.1.000.000-2.000.000 C. 3.000.000-5.000.000 D. Di atas 5.000.000
13. Saya dibaptis saat: A. Bayi B. Kanak-kanak C. Remaja D. Dewasa
14. Saya berasal dari keluarga: A. Kaya. B. Miskin C. Pas-pasan
15. Saya melihat suami/istri: A. Patner seumur hidup B. Hanya sebatas teman hidup.

b. Petunjuk: Anda diminta untuk mengisi kolom kosong yang tersedia di lajur kanan dengan memberi tanda [ ] berkaitan dengan penyataan-penyataan yang ada di lajur kiri!
S=setuju, TS=tidak setuju, R=ragu-ragu
No Pernyataan-pernyataan S TS R
1 Penghayatan hidup berkeluarga dalam lingkungan, yang mana agama Katolik minoritas sangat berbeda dengan orang yang tinggal di mana agama katolik menjadi mayoritas
2
Penghayatan hidup berkeluarga saya mendapat pengaruh sangat besar dari situasi sosial yang ada di sekitar.
3
Hidup di tengah mayoritas agama lain mendorong saya untuk semakin menghayati janji perkawinan secara matang.
4 Saya seorang yang setia kepada suami/istri.
5 Semakin tertantang hidup berkeluarga seseorang, khususnya di tengah mayoritas agama lain, semakin dalam relasi antara sesama anggota keluarga.
6 Saya adalah orang yang setia pada janji perkawinan.

7 Saya memilih hidup berkeluarga karena kemauan sendiri, paksaan dari orang tua dan ikut-ikutan.
8 Pendapatan ekonomi rendah maka semakin rendah pula penghayatan akan nilai-nilai hidup berkeluarga.
9 Hidup berkeluarga yang harmonis dapat ditunjukkan melalui sikap, perbuatan dan tindakan yang nyata seperti rendah hati, bertanggung jawab, rasa belaskasih, mudah memberikan maaf kepada orang lain, rasa kepekaan sosial yang tinggi, setia kepada orangtua atau suami-istri.
10. Kesetiaan, saling menghargai, menghormati bukan hanya ditujukkan ketika mengalami suasana senang, bahagia dan gembira, melainkan juga dalam pengalaman suka duka, kegagalan, perselisihan.


VII. Penutup
Berbicara mengenai persoalan hidup berkeluarga memang sangat kompleks. Kekomplektisitas dapat dilihat dari berbagai bidang kehidupan. Bidang-bidang kehidupan yang mewarnai perjalanan sebuah keluarga itulah yang kemudian turut mempengaruhi situasi dan keadaan hidup berkeluarga itu sendiri.
Kami menyadari bahwa masih banyak bidang kehidupan yang tidak diangkat dalam uraian di atas. Kami juga menyadari akan keterbatasan kemampuan kami dalam mengolah berbagai informasi entah melalui TV, majalah dan lain-lain yang terjadi dalam keluarga katolik dewasa ini. Oleh karena itu, segala saran dan kritikan dari Romo dalam menyempurnakan isi proposal penelitian kami ini, dengan hati yang terbuka kami siap menerimanya.














Daftar pustaka

”Keluarga Dan Komunikasi: Musafir, Ziarah Mencari Diri”, Maumere: STFK Ledalero, Vol. I-2, Thn. XV Juni 2003.
Paus Yohanes Paulus II. Surat Kepada Keluarga-Keluarga, diterjemahkan oleh J. Hadiwikarta. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2 Febuari, 1994.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar