6.13.2009

data kitab suci

ALKITAB, FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Oleh Ir Stanley I. Sethiadi.
1. PRAKATA.
Pergumulan "Alkitab, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Alam" adalah studi dan pergumulan hidup saya sampai sekarang (tahun 2003). Pada bulan April 1964 (umur 25 tahun) saya lulus dari ITB jurusan elektroteknik. Antara 1964-1994 saya mendapat nafkah saya dari bidang teknik. Tetapi saya senantiasa mengikuti perkembangan mutakhir dari ilmu pengetahuan alam praktis maupun teoretis. Saya juga mempelajari filsafat terutama filsafat ilmu pengetahuan. Teologi baru saya pelajari secara serius sejak 1994. Semua kesaksian dan artikel yang dimuat di-"Sahabat Surgawi" semoga jadi berkat bagi yang membacanya. Semua ini demi kemuliaan nama Allah Tritunggal yang saya sembah. Kalau ada satu atau lebih orang yang imannya dikuatkan olehnya, maka tujuan saya tercapai. Semoga ada diantara mereka yang lebih qualified dari saya, yang tergerak untuk mempelajari dan mengamalkan persoalan ini lebih dalam dan lebih luas dari saya.
Pada saat ini, saya amati ada banyak sekali salah pengertian dari orang Kristen akan hakekat ketiganya Alkitab, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Alam. Banyak teolog (tidak semua) yang mempunyai persepsi yang salah mengenai apa itu yang disebut "ilmiah". Mulai dari Tubingen Schule di-Jerman banyak teolog mengira bahwa mereka harus mempelajari Alkitab secara "ilmiah". Mereka kembangkan apa yang mereka sebut sebagai "Studi Kritis Alkitab" ("Biblical Critical Studies"). Mereka kira studi itu adalah ilmiah, oleh karena itu benar. Mereka lalu kembangkan suatu teologi yang ada yang menyebut "Teologi Modern" dan ada yang sebut "Teologi Liberal". Teologi Liberal makin lama makin jauh menyimpang dari Alkitab dan tidak lagi menyentuh hati nurani dan rasio jemaat. Akibat kesalah pahaman ini gereja-gereja di-Eropah Barat menjadi makin lama makin kosong, ditinggalkan jemaatnya. Di-Amerika Serikat keadaan belumlah separah Eropah Barat karena disana sekitar tahun 1920, ada suatu gerakan besar untuk "Kembali ke-Alkitab". Di-Eropah Barat ada juga gerakan seperti itu, tetapi kecil-kecilan. Di-Indonesia mulai ada teolog liberal lulusan STT tertentu. Mereka mulai berusaha mempopulerkan teologi liberal yang mereka anut. Saya merasa sangat terbeban untuk menunjukkan kesalah pengertian mereka. Semoga Allah melindungi Indonesia dari kebodohan yang terjadi di-Eropah Barat mengenai hal ini. Dan semoga Eropah Barat boleh sadar akan kekeliruan mereka dan iman yang benar boleh kembali di-Eropah Barat.
Bila Anda ada pertanyaan yang berhubungan dengan Alkitab dan Ilmu Pengetahuan Alam terutama teori Heliosentris dan teori Evolusi yang belum tercakup dalam kesaksian-kesaksian dan artikel-artikel saya di-Sahabat Surgawi, silahkan hubungi saya. Saya akan jawab sebaik mungkin dan mungkin jawaban tersebut akan menjadi artikel berikut. Alamat email saya ialah Sethiadi@telkom.net atau Sethiadi@bozz.com. Bagi yang dapat berbahasa Inggris Anda juga dapat hubungi website Institute for Creation Research di http://www.icr.org .

2. PENGANTAR.
"Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan segala binatang yang merayap di bumi".
(Kejadian 1:28b).
Sejak awal terjadinya manusia, sejak Kejadian 1, Allah telah memerintahkan manusia untuk menundukkan alam dan segala binatang-binatang. Allah telah memberikan manusia otak untuk dipakai mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menaklukan alam. Akal manusia adalah anugerah Allah yang diberikan manusia untuk dipakai untuk mengerti FirmanNya dan menundukkan alam. Tetapi sayang ada manusia yang memakai akal pemberian Allah ini untuk melawan Allah. Ada teolog-teolog yang menggunakan apa yang mereka kira adalah "metode ilmiah" untuk mengritik Firman Allah dengan apa yang mereka sebut "Studi Kritis Alkitab". Hendaknya para teolog tersebut mengerti dahulu dengan jelas apa itu metode ilmiah. Metode ilmiah sangat baik untuk dipakai menundukkan alam, tetapi jangan dipakai untuk mengritik Firman Allah dengan "Studi Kritis Alkitab", terutama apa yang mereka sebut sebagai "Kritik Atas" atau "Higher Criticism" yang sangat melemahkan iman, padahal belum tentu benar dan tidak pernah dapat dibuktikan benar. Saya kini melangkah setapak lebih jauh dengan mengatakan bahwa kesimpulan "Higher Criticism" yang melemahkan iman Kristen adalah salah.

3. AGAMA KRISTEN DAN ILMU PENGETAHUAN MULA-MULA .
Mula-mula tidak ada pertentangan antara agama Kristen dan ilmu pengetahuan. Adam mungkin hanya makan buah-buah yang dapat dipetiknya dengan mudah. Itulah "teknologi" yang dikuasai Adam. Apakah "agama" Adam? Agama Adam adalah apapun yang diwahyukan Allah kepada Adam. Adam sudah tahu bahwa ia diciptakan Allah. Ia tahu bahwa ada yang diizinkan Allah dan ada yang dilarang. Ia juga sudah tahu bahwa melanggar larangan Allah adalah dosa dan berakibat ia dan Hawa diusir dari taman Firdaus. Zaman Kain dan Habel teknologi sudah mulai berkembang lebih jauh. Habel menjadi gembala kambing domba dan Kain menjadi petani (Kejadian 4:2). Teknologi pertanian dan peternakan sudah mulai dikembangkan. Agama zaman Kain dan Habel juga sudah mulai ada perkembangan. Mereka sudah mengadakan korban persembahan (Kejadian 4:3,4).
Kemudian Nuh sudah dapat buat bahtera. Korban persembahan juga telah menjadi lebih kompleks. Anak-cucu Nuh sudah dapat buat menara Babel (Kejadian 11). Pada zaman Musa agama berkembang dan dengan wahyu dari Allah, Musa meletakkan dasar-dasar agama Yahudi dan Kristen. Orang-orang Mesir waktu itu sudah dapat buat piramida-piramida.
4. ZAMAN YUNANI KUNO.
Zaman Yunani kuno mulai abad ke-enam sebelum Kristus. Orang pertama yang mendapat kehormatan disebut sebagai filsuf pertama ilmu pengetahuan alam adalah Thales dari Milletos. Thales berpendapat bahwa asas pertama adalah air. Anaximandros berpendapat asas pertama ialah "yang tak terbatas" (to apeiron). Anaximenes berpendapat asas pertama adalah udara. Kemudian filsafat berkembang makin lama makin kompleks. Yang paling terkenal ialah Socrates (470-399). Plato (427-347) dan Aristoteles (384-322). Archimedes mengembangkan ilmu pengetahuan praktis.
Diduga Socrates hidup semasa dengan Maleachi, nabi terakhir dari perjanjian lama. Menurut banyak teolog, setelah Maleachi Allah tidak memberi wahyu sampai kelahiran Yesus Kristus diabad pertama setelah Kristus.

5. ZAMAN PATRISTIK.
Awal berkembangnya agama Kristen pada abad pertama, sudah ada pemikir-pemikir Kristiani yang menolak filsafat Yunani. Mereka berpendapat bahwa setelah Allah memberikan wahyu kepada manusia, maka mempelajari filsafat Yunani yang non-Kristen dan non-Yahudi adalah sia-sia bahkan berbahaya. Salah seorang pemuka pikiran ini ialah Tertulianus (160-222). Tetapi pemikir-pemikir Kristen lain ada yang juga mempelajari filsafat Yunani, a.l. Yustinus Martir (?-165), Klemens dari Alexandria (150-215), Origines(185-254). Gregorius dari Nanzianza (330-390), Basilius Agung (330-379). Gregorius dari Nyssa (335—394) menciptakan suatu sintesa antara agama Kristen dengan kebudayaan Hellenistik (filsafat Yunani), tanpa mengorbankan apapun dari kebenaran agama Kristen. Tetapi ada juga karangan-karangan yang diduga ditulis oleh Dionysios yang sangat berbau neoplatonis.
Bapak gereja yang paling besar dari zaman Patristik ini ialah Augustinus (354-430). Ia menulis a.l.. "Confesiones" (pengakuan-pengakuan), "De Civitate Dei" (kota Allah). Augustinus diakui sebagai Bapak Gereja yang besar oleh orang-orang Katolik Roma maupun orang-orang Protestan. Dalam teologinya jelas ada pengaruh Plato. Tetapi pada umumnya ia berpegang ketat pada Alkitab yang diterimanya sebagai Firman Allah.
ZAMAN SKOLASTIK DAN ABAD PERTENGAHAN.
Abad ke-5 sampai abad ke-9 terjadi perpindahan bangsa-bangsa. Suku bangsa Hun pindah dari Asia ke-Eropah. Bangsa Jerman pindah pindah melewati perbatasan kerajaan Romawi. Dan begitu seterusnya. Eropah kacau balau. Perkembangan teologi dan filsafat tidak begitu besar. Nama seperti Boethius (480-534) dan Alcuinus berasal dari masa ini.
Baru pada akhir abad ke-9 muncul nama-nama yang mempengaruhi teologi dan filsafat seperti Johanes Scotus Eriugena (810-877), Anselmus dari Canterbury (1033-1109), Petrus Abelardus (1079-1142), Ibn Sina (980-1037) orang Arab dengan nama latin Avicenna, Ibn Rushd (1126-1198) juga orang Arab dengan nama latin Averroes,Moses Maimodes (1135-1204) orang Yahudi, Bonaventura (1221-1274), Albertus Agung (1205-1280) dan yang paling terkenal ialah Thomas Aquinas (1225-1274). Thomas Aquinas sangat terpengaruh oleh filsafat Aristoteles. Orang Katolik terima Thomas Aquinas sebagai Bapak gereja. Orang protestan banyak menolak argumen-argumen Thomas yang terlalu terpengaruh oleh Aristoteles sehingga kadang-kadang menyimpang dari exegese yang sehat dari Alkitab.
Yang mau saya tekankan disini adalah bahwa teologi dan filsafat saling mempengaruhi walaupun ada peringatan dari Tertulianus akan bahayanya pengaruh filsafat non-Kristen pada iman Kristiani. Kalau pada zaman Patristik pengaruh Plato yang terasa sangat dominan pada teologi masa itu, pada zaman abad pertengahan pengaruh Aristoteles yang sangat dominan.
6. ZAMAN MODERN.
Abad Pertengahan berakhir pada abad ke-15 dan kemudian disusul dengan zaman Renaissance. Zaman Renaissance berlangsung pada akhir abad ke-15 dan 16. Kesenian, sastra musik berkembang dengan pesat. Ada suatu kegairahan baru, suatu pencerahan. Ilmu pengetahuan mulai dikembangkan oleh Leonardo da Vinci (1452-1519), Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johannes Kepler (1571-1630), Galileo Galilei (1564-1643).
Renaissance dilanjutkan dengan abad rasio (The age of Reason) pada abad ke-17 dan abad pencerahan (The age of enlightenment) pada abad ke-18. Karya Galileo Galilei diteruskan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727) dll. Filsafat dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1623), Rene Descartes (1596-1650), Baruch de Spinoza (1632—1677), G.W. Leibnitz (1646-1716), Blaise Pascal (1633-1662), G. Berkeley (1665-1753), David Hume (1711-1776), Imanuel Kant (1724-1804) dll.
Newton mengembangkan Fisika Klasik. Newton sering disebut sebagai Bapak ilmu pengetahuan alam modern. Pada tahun 1687 Newton menulis bukunya yang sangat terkenal : "Philosophiae naturalis principia mathematica". Ilmu pengetahuan alam berkembang dengan pesat. Makin lama makin pesat. Timbul suatu optimisme akan kesanggupan manusia. Kewibawaan gereja menjadi sangat merosot karena peristiwa Copernicus/Galileo. (Lihat artikel "Teori Geosentris versus Teori Heliosentris").
Semua perkembangan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan alam ini mempunyai dampak yang sangat besar pada iman orang Kristen. Para teolog masa itu sangat terpengaruh dengan filsafat dan ilmu pengetahuan alam masa itu. Ini nampak jelas dalam teologi mereka. Pengaruh ini ada positifnya tetapi ada juga negatipnya. Pengaruh positip (menurut orang-orang Protestan) adalah Gerakan Reformasi. Orang-orang Katolik Roma mula-mula sangat mengutuk gerakan ini.

7. GERAKAN REFORMASI.
Reformator yang paling besar adalah Martin Luther (1483-1546). Sebelum Luther sebenarnya sudah ada reformator-reformator lain seperti John Wycliffe (1325-1384) di-Inggris dan Johanes Hus (…..-1415) di-Bohemia. Huss dibakar hidup-hidup oleh Paus Johanes XXIII pada tanggal 6 Juli 1415. Tetapi teologi mereka masih sangat terbatas dan pengaruh mereka didunia juga masih sangat terbatas. Erasmus (1466- ) juga mempunyai pengaruh yang besar pada Luther. Mereka adalah perintis reformasi teologi. Perjuangan Martin Luther diteruskan oleh John Calvin, Zwingli dan lain-lain. Setelah Luther mengadakan reformasi teologis, berdirilah gereja-gereja reformasi mula-mula diseluruh Jerman, tetapi kemudian diseluruh dunia. Pada tanggal 31 Oktober 1514 Luther memasang 95 dalil digereja Wittenberg. Sampai kini, tanggal 31 Oktober diperingati sebagai hari reformasi.
Disatu pihak gerakan Reformasi kembali ketafsiran atau exegese yang sehat dari Alkitab. Mula-mula ada satu gereja reformasi. Tetapi karena banyak orang yang menafsirkan Alkitab, dan tafsiran ini berbeda-beda diantara para penafsir, gereja reformasi terpecah-pecah lagi menjadi beberapa denominasi. Denominasi-denominasi ini makin lama makin banyak. Hal ini berlangsung sampai sekarang.
Abad ke-19 disebut "The Age of Ideology" dan abad ke-20 disebut "The Age of Analysis". Ilmu pengetahuan alam berkembang dengan sangat pesat. Teknologi dan ilmu kedokteran ialah penerapan praktis dari ilmu pengetahuan alam berkembang dengan sangat pesat, makin lama makin pesat.
Dalam artikel "Pengaruh iman pada ilmu pengetahuan dan pengaruh ilmu pengetahuan pada iman", telah kita bahas saling mempengaruhi keduanya, Tentu saja keduanya juga terpengaruh perkembangan filsafat. Waktu trend filsafat adalah pada rationalisme, maka pengaruhnya sangat besar pada ilmu pengetahuan maupun pada agama.
8. KONSEP KEBENARAN DALAM FILSAFAT.
Apakah filsafat dapat membawa manusia kepada kebenaran? Para filsuf dizaman Yunani kuno, tidak berani mengatakan bahwa mereka telah memiliki kebenaran. Filsafat berasal dari kata Yunani Philo=Mencintai dan Sophia=Kebijaksanaan. Seorang filosof atau filsuf adalah orang yang mengaku mencintai kebenaran. Mereka tidak pernah claim telah mendapat kebenaran.
Kiita lihat bahwa para filsuf saling membantah dan saling mengritik satu dengan lain, Umpama waktu rationalisme Eropah kontinental sedang ngetrend, di-Inggris dikembangkan Empricisme. Sesuatu biarpun masuk akal, kalau bertentangan dengan pengamatan, yang mana yang "lebih benar"? Kalau orang melempar sepotong kayu kecil dan sebuah batu besar pada saat yang bersamaan, yang mana akan sampai ketanah lebih dahulu? Rasio dan perasaan manusia mengatakan batu besar akan sampai lebih dahulu. Tetapi percobaan yang dilakukan Galileo dari menara Pisa menunjukkan mereka jatuh pada saat yang bersamaan. Yang mana yang lebih dapat dipercaya? Kesimpulan rational atau kesimpulan experimental? Tentu saja kesimpulan experimental.
Ilmu pengetahuan alam kemudian memakai keduanya. Kalau percobaan mendukung kesimpulan rational orang lebih percaya kesimpulan tersebut. Tetapi kalau percobaan membantahnya, orang lebih percaya kesimpulan experimental atau kesimpulan empiris. Jadi apakah kesimpulan empiris "lebih benar" dari kesimpulan rational? Galileo dan Newton memang berpendapat begitu. Para ilmuwan setelah Newton pada umumnya mengambil sikap ini. Imanuel Kant (1724-1804) berusaha untuk menjembatani rasionalisme dan empiricisme.
Lalu apakah suatu kesimpulan empiris mutlak benar? Seorang filsuf dari Scotlandia David Hume (1711-1776) telah memberi peringatan bahwa kesimpulan empiris tidak pernah dapat dibuktikan benar. Ia menyangsikan bahwa ilmu pengetahuan pernah dapat mencapai kebenaran mutlak.
Kesimpulan umum ialah bahwa filsafat tidak pernah dapat membawa manusia kepada kebenaran, dalam artikata kebenaran "mutlak". Kebenaran relatip dan subjektip mungkin ada, tetapi kebenaran objektip dan mutlak? Tidak ada filsuf yang berani claim bahwa ia telah mendapat kebenaran mutlak dan objektip.

9. KONSEP KEBENARAN DALAM ILMU PENGETAHUAN.
Kalau dalam dunia filsafat para filsuf saling membantah satu sama lain, lain halnya dengan dunia ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan alam. Orang mengulangi percobaan-percobaan yang diambil Galileo dan Newton, hasilnya selalu mendukung kebenaran teori-teori dan rumus-rumus mereka
Walaupun Galileo dan Newton orang-orang yang beragama, hasil penemuan mereka sering dipakai orang untuk menyerang agama. Manusia dengan kecerdasan semata-mata dapat mencapai kebenaran. Tidak diperlukan wahyu. Kepercayaan akan hasil experimental manusia lebih dapat dipercaya daripada wahyu. Peringatan David Hume bahwa hasil eksperimen berapapun banyaknya tidak dapat mencapai kesimpulan yang mutlak benar praktis tidak ada yang gubris. Deisme, Materialisme, Agnosticisme dan Ateisme tumbuh dengan subur. Kewibawaan para rohaniwan makin merosot. Kalau zaman Copernicus para ilmuwan mencari pembenaran dari para Rohaniwan, mulai abad ke-18 sampai sekarang banyak rohaniwan (tidak semua) mencari pembenaran dari para ilmuwan. Newton dan metode ilmiah cara Newton sangat didewa-dewakan, termasuk oleh banyak rohaniwan. Kesimpulan-kesimpulan ilmiah oleh banyak orang, para ilmuwan, para rohaniwan apalagi kaum awam dianggap mutlak benar.
Optimisme bahwa manusia dapat mendapat kebenaran mutlak dengan metodemetode Newton makin tumbuh awal abad ke-19. Abad ke-19 disebut orang "The age of idiology". Ilmu Pengetahuan Alam dengan produknya teknologi dan terapi kedokteran berkembang dengan pesat. Teknologi mesin, listrik, komunikasi, kimia, ilmu kedokteran dll berkembang dengan sangat mengagumkan orang.
Orang makin yakin akan kebenaran mutlak dari ilmu pengetahuan alam terutama teori Newton. Teori-teori yang telah didukung oleh banyak sekali pengamatan-pengamatan dan percobaan-percobaan tidak lagi disebut teori tetapi naik pangkat menjadi hukum. Jadi kita kenal hukum Newton, hukum Ohm, hukum Mendel dll.
Pada akhir abad ke-19 diamati gejala-gejala yang mulai menggelisahkan para ilmuwan. Dalam gerakan Mercurius ada selisih 3 detik radian per abad. Selisih ini memang sangat sedikit, tetapi menggelisahkan para astronom. Kalau hukum Newton mutlak benar seharusnya tidak ada selisih itu. Pada perhitungan gaya tarik antar galaxy dengan rumus Newton ada penyimpangan. Makin besar jaraknya, makin besar penyimpangannya. Waktu itu dibidang fisika atom orang sudah dapat mempercepat elektron-elektron dalam accelerator. Pada kecepatan mendekati cahaya kembali diamati penyimpangan-penyimpangan. Makin mendekati kecepatan cahaya penyimpangannya makin besar. Par ilmuwan makin gelisah, tetapi belum ada yang tahu jawabannya.
Pada tahun 1905 seorang muda berumur 26 yang tidak dikenal, seorang pegawai kantor paten di-Swiss menulis sebuah artikel singkat dan mengirimnya kemajalah ilmu pengetahuan alam "Annalen der Physic". Artikel itu kemudian menggegerkan dunia ilmu pengetahuan alam sedunia. Artikel itu kemudian dikenal dengan nama "The Special theory of Relativity". Dalam waktu sangat singkat nama pegawai kantor paten tersebut menjadi terkenal. Namanya adalah Albert Einstein. Pada tahun 1916 Einstein menulis "The General theory of Relativity".
Sampai sekarang teori Newton masih diajarkan disekolah menengah karena relatif mudah dimengerti. Teori relatif Einstein sangat sulit untuk dimengerti. Tetapi untuk menerangkan ketiga gejala tersebut diatas, teori Einstein lebih memuaskan daripada teori Newton. Untuk kecepatan rendah dibandingkan dengan kecepatan cahaya dan jarak dekat dibandingkan jarak antar galaxy, sampai sekarang orang lebih bnyak pakai teori Newton. Tetapi untuk menerangkan gejala alam secaara keseluruhan, para ilmuwan pada umumnya berpendapat bahwa teori Einstein lebih memuaskan daripada teori Newton. Hal ini mempunyai dampak yang sangat besar dalam pemikiran dunia intelektual. Peringatan David Hume mau tidak mau dipikirkan orang lagi.
Sir James Jean (1877-1946) menulis (James Jean "Physics and Philosophy", see "The philosophers of science", Random house, 1954, page 370): "In real science also a hypothesis can never be proved true. If it is negatived by future observations we shall know it is wrong, but if future observations confirm it we shall never be able to say it is right since it will always be at the mercy of still further observations".
Albert Einstein menulis (Albert Einstein "Relativity. The Special and the General Theory", Bonanza Books, New York 1952, page 123-124): "The Theory finds the justifications for its existence in the fact that it correlates a large number of single observations and it is just here that the 'truth' of the theory lies".
David Halliday menulis ( David Hallliday "Introductory Nuclear Physics" John Wiley and Sons, New York, 1958, page 4) : "It is the role of theory to give, on the basis of as few hypotheses as possible, a simple description of as many experiments as possible. The question of the 'ultimate truth' of the hypotheses simply does not arise".
Karl Popper (1902-1994) menulis (Kees Bertens "Filsafat Barat Abad XX jilid I, page 73, Gramedia, Jakarta, 1983) : "Dengan observasi terhadap angsa-angsa putih -betapapun besar jumlahnya- orang tidak dapat sampai pada teori bahwa semua angsa berwarna putih. Tetapi cukuplah satu observasi terhadap seekor angsa hitam untuk menyangkal teori tadi".
Stephen Hawking menulis (Stephen Hawking "A brief history of time", Bantam Books, Toronto, New York, London, Sydney, Auckland, 1988, page 10): "Any physical theory is always provisional, in the sense that it is only a hypothesis: you can never prove it. No matter how many times the results of experiments agree with some theory, you can never be sure that the next time the result will not contradict the theory. On the other hand you can disprove a theory by finding even a single observation that disagrees with the predictions of the theory."
Praktis semua ilmuwan dan filsuf ilmu pengetahuan terkemuka dalam abad ke-20 ini menyimpulkan bahwa:
SEBUAH TEORI ILMIAH, TIDAK PERNAH DAPAT DIBUKTIKAN BENAR. MAKSIMAL DAPAT DIKATAKAN IA BELUM TERBUKTI SALAH.

10. PERNYATAAN KEBENARAN YESUS.
Yesus menyatakan : Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. (Yoh 14:14a)
Pernyataan diatas adalah pernyataan Yesus, pernyataan Allah dan bukan konsep manusia. Manusia hanya bisa percaya atau tidak percaya. Sia-sia manusia mencari kebenaran dalam filsafat, ilmu pengetahuan atau spekulasi-spekulasi manusia lainnya. Yesus adalah alpha dan omega. Yesus adalah kebenaran dan kebenaran adalah Yesus.

11. KESIMPULAN-KESIMPULAN DAN ANJURAN-ANJURAN.
Apa yang diperingatkan Tertulianus pada abad pertama bahwa bagi orang Kristen mempelajari filsafat Yunani tidak ada gunanya bahkan berbahaya ada benarnya. Kita lihat dari uraian diatas bahwa bila seorang teolog terkesan pada filsafat Plato, maka dalam uraian-uraian teologisnya mau tidak mau ia masukan filsafat Plato (Augustinus). Bila ia terkesan pada filsafat Aristoteles, ia masukan filsafat dan metode berpikir Aristoteles dalam teologinya (Thomas Aquinas). Dizaman modern, bila ia terkesan akan rasionalisme ia masukan filsafat rasionalisme. Demikian dalam teologi modern kita lihat pengaruh existensialisme, fenomenologisme dll. Kini orang sedang kembangkan filsafat post modern. Sudah ada teologi yang terpengaruh post modernisme. Semua itu sudah tidak murni ajaran Allah lagi, tetapi ajaran Allah dicampur ajaran manusia. Augustinus dan Calvin biarpun tidak dapat menghindarkan diri dari kepercayaan mereka diluar Alkitab, sangat menghormat Alkitab sebagai Firman Allah. Jadi dari pelbagai teologi yang ada, teologi Augustinus dan Calvin relatip murni.
Tentu saja orang tidak dapat menutup mata akan dunia sekelilingnya termasuk orang Kristen. Tetapi hendaklah pemikir-pemikir Kristen menyadari akan sejarah pemikiran Kristen seperti telah saya uraikan diatas sepintas lalu. Orang Kristen, baik filsuf, ilmuwan, teolog, penatua, aktivis gereja maupun jemaat "biasa", hendaknya menaruh Firman Allah yaitu Alkitab jauh diatas segala teori-teori buatan manusia. Belajarlah dari sejarah. Jangan mengutuk, tetapi jangan pula kompromikan Firman Allah dengan teori manusia yang manapun. Dalam artikel "Teori Geosentris versus teori Heliosentris" kita lihat bahwa kutukan gereja pada teori Geosentris membuat generasi teolog berikutnya jadi salah tingkah. Kemudian mereka kompromi dengan teori Heliosentris. Padahal teori Heliosentris dalam pandangan astronomi abad ke-20/21 sama benarnya atau sama salahnya dengan teori Geosentris. Tetapi generasi teolog yang kompromikan Alkitab dengan teori Heliosentris tersebut mengutuk teori evolusi mulai dari Buffon apalagi Darwin (1849). Kemudian generasi teolog berikutnya lagi jadi salah tingkah dan kompromi lagi. Saya telah tunjukkan bahwa teori evolusipun belum tentu benar bahkan tidak pernah dapat dibuktikan benar. Teori ilmiah yang manapun tidak pernah dapat dibuktikan benar.
Setelah saya mempelajari teologi, walaupun saya tidak pernah dapat gelar apa-apa sampai sekarang, saya juga tarik kesimpulan bahwa hal yang sama berlaku untuk teologi buatan manusia. Teologi seseorang sesungguhnya adalah tafsiran orang itu akan Alkitab. Teologi atau tafsiran Alkitab manusia manapun tidak pernah dapat dibuktikan benar. Teologi manusia manapun dibiaskan oleh asumsi-asumsi mulanya, oleh prasangka-prasangkanya, intuisi, perasaan dan pengalaman-pengalamannya, oleh teori-teori, filsafat-filsafat yang dibacanya. Yang mutlak benar hanyalah Allah. Kebenaran Allah adalah mutlak dan tak terbatas. Tetapi begitu Allah mau wahyukan sesuatu kepada manusia, maka haruslah dipakai pengertian-pengertian dan bahasa manusia yang serba terbatas. Alkitab adalah Firman Allah, tetapi ditulis, diteruskan, dikutip, diterjemahkan, dicetak dan dibaca oleh manusia yang serba terbatas. Manusia yang terbatas berusaha mengerti Allah yang tak terbatas. Allah tidak dapat salah, tetapi manusia dapat salah. Itulah sebabnya tafsiran orang Katolik sedikit lain dengan orang Protestan dan sedikit lain dengan orang Kharismatik. Tetapi walaupun tafsiran manusia akan Firman Allah dapat salah, kita tetap harus berusaha untuk mendapat pengertian yang sebaik-baiknya. Kita tetap harus berusaha untuk mendapat tafsiran Alkitab yang sebaik-baiknya. Yang terbaik adalah jangan tafsirkan Alkitab. Terima Alkitab seperti adanya. Saya setuju usaha manusia untuk mendapat Alkitab yang seasli mungkin. Usaha ini disebut juga "Kritik Bawah" atau "Lower Criticism" atau "Text Criticism". Asal kita ingat bahwa "Lower Criticism"-pun kalau itu adalah studi ilmiah maka kesimpulannya tidak pernah dapat dibuktikan benar, maksimal dapat dikatakan belum terbukti salah. Walaupun saya mempelajari juga "Higher Critisism" ("Source Criticism" dll) saya menolak semua kesimpulan yang melemahkan iman. Terimalah Alkitab seadanya. Pakailah rasio, perasaan, dan pengalaman Anda untuk lebih mengerti Firman Allah dengan lebih baik, tetapi jangan kritik Allah dan Firman Allah seperti dilakukan kaum liberal dan beberapa orang anti-Kristen.
Seorang pemikir Kristen (filsuf, ilmuwan teolog) tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh para filsuf lain dari zaman Yunani sampai sekarang. Tetapi terutama bagi seorang teolog hendaknyalah ia taruh Alkitab jauh diatas filsafat-filsafat, teori-teori serta spekulasi-spekulasi manusia. Jangan terbalik. Para teolog liberal menaruh pengetahuan manusia yang tidak seberapa itu diatas Alkitab. Para teolog Injili biarpun banyak diantara mereka yang mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan, tetap menaruh Firman Allah diatas filsafat-filsafat dan teori-teori ilmiah buatan manusia.
Maka anjuran saya kepada semua orang Kristen dari denominasi manapun juga (Katolik, Protestan, Pentakosta, Kharismatik dll) dan dalam jabatan apapun juga, Pemikir Kristen, Dosen Teologi, Teolog, Pendeta, Penatua, Aktivis gereja atau anggota jemaat "biasa" ataupun simpatisan agama Kristen sbb:
JANGAN MENGUTUK TEORI ILMIAH MANAPUN TETAPI JUGA JANGAN KOMPROMIKAN ALKITAB DENGAN TEORI ILMIAH MANAPUN. ALKITAB BERADA JAUH DIATAS SPEKULASI-SPEKULASI, TEORI-TEORI ATAU FILSAFAT-FILSAFAT MANUSIA YANG MANAPUN.

Ditulis : 2001
Revisi I : Juni 2003

http://www.dianweb.org/Khusus/SET_ALK.HTM
Learning of Slamet Widodo
________________________________________
« Perspektif Teori Sosiohistoris; Perkembangan dan Siklus
Mekanisme Perubahan Sosial; Perspektif Materialistis dan Idealis »
Perspektif Teori tentang Perubahan Sosial; Struktural Fungsional dan Psikologi Sosial
Perkembangan masyarakat seringkali dianalogikan seperti halnya proses evolusi. suatu proses perubahan yang berlangsung sangat lambat. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh hasil-hasil penemuan ilmu biologi, yang memang telah berkembang dengan pesatnya. Peletak dasar pemikiran perubahan sosial sebagai suatu bentuk “evolusi” antara lain Herbert Spencer dan Augus Comte. Keduanya memiliki pandangan tentang perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat dalam bentuk perkembangan yang linear menuju ke arah yang positif. Perubahan sosial menurut pandangan mereka berjalan lambat namun menuju suatu bentuk “kesempurnaan” masyarakat.

Pemikiran Spencer sangat dipengaruhi oleh ahli biologi pencetus ide evolusi sebagai proses seleksi alam, Charles Darwin, dengan menunjukkan bahwa perubahan sosial juga adalah proses seleksi. Masyarakat berkembang dengan paradigma Darwinian: ada proses seleksi di dalam masyarakat kita atas individu-individunya. Spencer menganalogikan masyarakat sebagai layaknya perkembangan mahkluk hidup. Manusia dan masyarakat termasuk didalamnya kebudayaan mengalami perkembangan secara bertahap. Mula-mula berasal dari bentuk yang sederhana kemudian berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks menuju tahap akhir yang sempurna.

Seperti halnya Spencer, pemikiran Comte sangat dipengaruhi oleh pemikiran ilmu alam. Pemikiran Comte yang dikenal dengan aliran positivisme, memandang bahwa masyarakat harus menjalani berbagai tahap evolusi yang pada masing-masing tahap tersebut dihubungkan dengan pola pemikiran tertentu. Selanjutnya Comte menjelaskan bahwa setiap kemunculan tahap baru akan diawali dengan pertentangan antara pemikiran tradisional dan pemikiran yang berdifat progresif. Sebagaimana Spencer yang menggunakan analogi perkembangan mahkluk hidup, Comte menyatakan bahwa dengan adanya pembagian kerja, masyarakat akan menjadi semakin kompleks, terdeferiansi dan terspesialisasi.

Berbeda dengan Spencer dan Comte yang menggunakan konsepsi optimisme, Oswald Spengler cenderung ke arah pesimisme. Menurut Spengler, kehidupan manusia pada dasarnya merupakan suatu rangkaian yang tidak pernah berakhir dengan pasang surut. seperti halnya kehidupan organisme yang mempunyai suatu siklus mulai dari kelahiran, masa anak-anak, dewasa, masa tua dan kematian. Perkembangan pada masyarakat merupakan siklus yang terus akan berulang dan tidak berarti kumulatif.

Teori-teori terus berkembang dengan pesatnya. Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Seperti para pendahulunya, Parsons juga menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan.

Bahasan tentang struktural fungsional Parsons ini akan diawali dengan empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsu adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empat fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu :
1. Adaptasi, sebuah sistem hatus mampu menanggulangu situasi eksternal yang gawat. Sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2. Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
3. Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya.
4. Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
Francesca Cancian memberikan sumbangan pemikiran bahwa sistem sosial merupakan sebuah model dengan persamaan tertentu. Analogi yang dikembangkan didasarkan pula oleh ilmu alam, sesuatu yang sama dengan para pendahulunya. Model ini mempunyai beberapa variabel yang membentuk sebuah fungsi. Penggunaan model sederhana ini tidak akan mampu memprediksi perubahan atau keseimbangan yang akan terjadi, kecuali kita dapat mengetahui sebagaian variabel pada masa depan. Dalam sebuah sistem yang deterministik, seperti yang disampaikan oleh Nagel, keadaan dari sebuah sistem pada suatu waktu tertentu merupakan fungsi dari keadaan tersebut beberapa waktu lampau.

Teori struktural fungsional mengansumsikan bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Bagian-bagian tersebut berfungsi dalam segala kegiatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup dari sistem. Fokus utama dari berbagai pemikir teori fungsionalisme adalah untuk mendefinisikan kegiatan yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup sistem sosial. Terdapat beberapa bagian dari sistem sosial yang perlu dijadikan fokus perhatian, antara lain ; faktor individu, proses sosialisasi, sistem ekonomi, pembagian kerja dan nilai atau norma yang berlaku.

Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial.





Penulis Tajuk tulisan Asumsi-asumsi Thesis Sumber perubahan Pola perubahan
Talcott Parsons A functional Theory of Change Sebuah sistem terdiri dari beberapa bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Sistem harus mempunyai empat fungsi (adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan pemeliharaan pola) agar dapat tetap bertahan hidup. Dari luar dan dalam sistem sosial. Siklus.
Francesca Cancian Functional Analysis of Change Sistem sosial merupakan sebuah model dengan persamaan tertentu.
Keadaan dari sebuah sistem pada suatu waktu tertentu merupakan fungsi dari keadaan tersebut beberapa waktu lampau. Sebuah sistem fungsional terdiri dari dua tipe variabel yaitu G’s dan state coordinates.
Perubahan di dalam sistem merupakan perubahan yang tidak merubah struktur dari sitem tersebut.
Perubahan pada sistem adalah segala perubahan yang merubah struktur dari sistem tersebut. Dari luar dan dalam sistem sosial. Siklus.
Everett E. Hagen On the Theory of Social Change Perubahan sosial dapat digambarkan dari perubahan struktur ekonomi. Perubahan sosial dipengaruhi oleh faktor kepribadian masing-masing individu.
Perubahan struktur sosial yang tradisional sangat diperlukan untuk mencapai pertmbuhan ekonomi. Dari dalam. Linear.
Daftar Rujukan
Etzioni, A. & Halevy, Eva Etzioni- (eds). 1973. Social Changes: Sources, Patterns and Consequences. Basic Books, New York.
Everett E. Hagen. 1962. On The Theory of Social Change; How Economic Growth Begins. Illinois. The Dorsey Press.
Goodman. Douglas J. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta. Prenada Media.
Koento, Wibisono. 1983. Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Aygus Comte. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
http://learning-of.slametwidodo.com/?p=52







Home
Prakata
Profil Perusahaan
Jasa Layanan
Gallery Foto
Info Tempat Ziarah
Online Hotel Reservation
Promosi
Informasi Suhu rata-rata
Hubungi Kami

PT. STELLA KWARTA WISATA
Kompleks B.H.P Blok F-30
Jakarta 13550 - Indonesia
Tel. : (021) 877 94 878
Fax. : (021) 877 94 877
Email : Klik Disini
Perwakilan Surabaya
Jl. Raya Jemursari 234 A Kav. 15 – Surabaya 60299
Tel. : (031) 849 0783
Fax. : (031) 8417234
Email : Klik Disini


Jerusalem, Israel

Get the 10 day forecast





12°C
Partly Cloudy


Feels Like:12°C
Humidity: 82%
Wind: SE at 10 km/h






Airport Delays
Sporting Events
Pollen Reports

Book a vacation rental



Keuntungan Tour | Tips Trik wisata | Syarat dan Kondisi Tour

Sabtu, 15 Maret 2008 12:25:47 PM

QUMRAN DAN ESSENI
1. Kaum Esseni
Tidak jauh dari Yerikho dan Ein Gedi dapat disaksikan reruntuhan semacam kompleks yang sejak abad I sebelum Masehi sampai dengan abad I Masehi didiami oleh sebuah sekte Yahudi yang cenderung hidup penuh tapa. Nama sekte ini ialah Esseni. Kompleks di Qumran adalah markas besar mereka. Namun perlu diketahui bahwa para Esseni tinggal juga di berbagai kampung dan kota Palestina zaman dulu, bahkan mungkin di perantauan. Jumlah mereka mencapai sekitar 4 ribu anggota. Pada umumnya mereka hidup selibater (=tidak kawin), menolak poligami maupun perceraian. Calon sekte ini harus menempuh berbagai macam ujian dan bila lulus, diizinkan mengikuti pembasuhan ritual yang sangat dipentingkan oleh sekte ini. Sehabis 2 tahun semacam novisiat yang diakhiri dengan mengucapkan sumpah, calon menjadi anggota penuh. Ciri khas para anggota sekte ini adalah kebersamaan harta. Hujat melawan Allah atau Musa dihukum dengan hukuman mati. Pada umumnya para Esseni bekerja sebagai petani, hidup saleh, sederhana dan jujur. Karena mereka wajib menjaga rahasia mengenai ajaran, organisasi dan kitab mereka, maka para ahli tidak memiliki cukup banyak bahan untuk mengenal sekte ini secara mendalam. Para Esseni wajib mempelajari kitab-kitab suci sambil merenungkan rencana Allah. Dalam banyak hal mereka lebih ketat dari kaum Farisi. Mereka tidak pernah pergi ke Bait Suci di Jerusalem ataupun mengunjungi rumah-rumah ibadah, walaupun mereka tetap menyumbangkan sebagian hasil bumi kepada Bait Suci. Diduga bahwa mereka tidak pernah mempersembahkan korban binatang. Kegiatan utama dari sekte ini adalah menyalin Kitab Suci (Perjanjian Lama) agar dapat diperbanyak sehingga semakin banyak orang yang dapat membaca Kitab Suci.

2.
Gua-gua Qumran
Qumran menjadi terkenal, karena di wilayah markas besar para Esseni, pada tahun 1947, secara sangat kebetulan ditemukan sejumlah naskah kuno yang sangat berharga bagi sejarah. Gulungan-gulungan pertama ditemukan oleh seorang gembala yang sedang mencari kambingnya yang hilang. Ia sampai ke salah satu gua, mengambil batu dan melemparnya ke dalam gua, karena mengira kambingnya ada di situ. Lalu terdengarlah bunyi pecahnya sebuah tempayan. Keesokan harinya gembala itu masuk ke dalam gua, lalu melihat bahwa di dalam tempayan itu ada gulungan naskah. Dalam gua pertama itu ditemukan 8 tempayan. Sejak itu para ahli menyelidiki daerah itu dengan saksama, dan hasilnya sungguh menakjubkan : ditemukan hampir semua gulungan Kitab Perjanjian Lama (kecuali buku Ester), ataupun sisa-sisanya, serta naskah-naskah sipil lainnya. Buku yang paling lengkap ditemukan adalah Kitab Yesaya. Sampai sekarang ditemukan sekitar 600 macam naskah yang berbeda-beda di dalam 11 gua. Naskah itu diabadikan di atas kulit binatang. Ternyata semua gulungan dan naskah itu disimpan di dalam beberapa gua oleh kaum Esseni. Mereka melakukannya menjelang tentara Roma di bawah pimpinan Jenderal Titus menyerang Jerusalem pada tahun 68 untuk menumpas pemberontakan Yahudi, karena khawatir harta mereka yang merupakan salinan dari Kitab Suci juga dihancurkan, maka mereka berinisiatif untuk menyembunyikannya dengan maksud mengambilnya lagi setelah keadaan sudah aman. Namun kenyataannya mereka tidak pernah kembali lagi ke tempat ini, karena kemungkinan besar mereka telah dibantai oleh tentara Romawi.

3.
Ain Feshka
3 km jauhnya dari Qumran terletak mata air. Wilayah sekitarnya dipakai dulu oleh kaum Esseni sebagai tanah pertanian. Pada tahun 1958 ditemukan di sini gudang-gudang yang dipakai oleh komunitas Esseni. Di masa kini, Ain Feshka menjadi tempat istirahat yang ideal bagi banyak turis.

Potongan Naskah yang ditemukan di Qumran, ditulis dalam bahasa
Aramaic. Umumnya naskah-naskah sipil ditulis dalam bahasa ini,
kecuali untuk Kitab Suci sendiri harus ditulis dalam bahasa Ibrani.

Shopper's Currency Converter™ by XE.com
Your browser does not support embedded frames. Click here to pop open a floating Shopper's Currency Converter™ window.













SMS Centre : 0818 - STELLA (0818 - 783552)



http://www.stellatours.com/mey/qumran.html
QUMRAN



Qumran adalah nama suatu tempat jang terletak digurun Juda dipantai Laut Asin (Mati) disebelah barat. Tempat itu serta daerah disekitarnja (Wadi Murabba'at, 'Ain Fesjkhah, Wadi Qumran) semendjak tahun 1947 mendjadi terkenal disemesta dunia. Sebab mulai dengan tahun 1947 sampai dengan tahun 1955 diketemukan disana, tersembunji didalam gua-gua pegunungan banjak naskah-naskah dari djaman Kristus dan sebelumnja. Di Qumran sendiri digali puing-puing suatu kompleks bangunan jang agak luas, peninggalan sekelompok orang Jahudi, suatu djemaat jang mempunjai tjorak dan tjiri-tjiri jang chas. Bangunan itu, jang kerap kali dikatakan sematjam biara, dinamakan Khirbet Qumran. Khirbet artinja puing. Baiklah berturut-turut dibahas barang sedikit tentang djemaat Qumran, penemuan-penemuan, naskah jang diketemukan dan hubungan djemaat Qumran dengan Perdjandjian Baru.


A. Djemaat Qumran.

Berkat naskah-naskah jang diketemukan orang agak banjak tahu tentang djemaat jang membangun "biaranja" di Qumran. Djemaat itu boleh dimasukkan kedalam kalangan kaum Esseni, jang djuga dibitjarakan oleh pengarang Jahudi Flavius Josephus dan Philo dari Iskandria, dan oleh pengarang kafir Plinius. Rupanja Qumran adalah pusat utama dari kaum Esseni dan disana orang paling teliti dalam menepati segala aturan kaum Esseni itu. Diluar Qumran djuga ada kelompok-kelompok sematjam itu, tetapi kurang keras dan teliti Djemaat Qumran mendjundjung tinggi seseorang jang dinamakan Guru Kedjudjuran atau Guru jang djudjur jang dipandang sebagai pendiri sekte itu. Djemaat Qumran mengasingkan diri kegurun djauh dari agama Jahudi jang didjaman itu resmi. Mereka terutama bertentangan dengan kalangan para imam di Jerusalem, jang dianggap tidak sah. Banjak anggota djemaat Qumran termasuk kedalam kalangan para imam turunan Sadok dan imam-imam itu memainkan peranan penting dalam djemaat itu. Djemaat itu menetap di Qumran sekitar tahun 75 (atau lebih dahulu) sebelum Masehi. Lalu tinggal disitu hingga tahun. 36 sebelum Masehi. Kemudian pindah, entah kemana. Mungkin ke Jerusalem. Setelah radja Herodes Agung (tahun. 4 sebelum Masehi) meninggal djemaat itu kembali ke Qumran. Waktu dalam tahun. 68 Masehi. tentara Roma mendekati dan mengepung Jerusalem djemaat itu ikut berperang, lalu dimusnahkan sama sekali oleh tentara Roma. Kiranja waktu darurat itu anggota-anggota djemaat itu menjembunjikan kitab-kitab sutjinja didalam gua-gua disekitar Qumran, tempat diketemukan kembali dalam tahun. 1947 dan seterusnja.

Djemaat di Qumran menjebut dirinja Djemaat Perdjandjian Baru (dan Kekal) , seperti jang dinubuatkan nabi Jermia. Demikian tjorak eskatologis djemaat itu ditandaskan. Harapan eskatologis-apokaliptis itu kentara sekali dalam naskah-naskah jang ditinggalkan djemaat itu. Mereka jakin bahwa achir djaman sudah agak dekat sehingga perlu orang menjiapkan diri untuk hari pengadilan Tuhan. Sebelum itu akan tampil dua al-masih, jang satu keturunan Harun, djadi imam, jang lain keturunan Dawud, djadi radja. Tetapi jang utama dan terpenting ialah al-masih turunan Harun. Anggota-anggota djemaat itu hidup bersama-sama dan sangat sederhana, semua barang mendjadi milik bersama. Sebagian (besar) diantara mereka tidak kawin dengan motip eskatologis dan kemudian asketis. Seorang tjalon jang mau masuk djemaat itu harus dahulu melewati masa pertjobaan (lebih kurang 3 tahun) jang keras sekali. Kemudian ia diizinkan mendjadi anggota penuh dengan mengangkat sumpah bahwa akan menepati Taurat Musa sesuai dengan adat-kebiasaan djemaat itu dan djuga berpegang teguh kepada ketertiban djemaat itu. Ketertiban itu tjukup keras djuga. Djemaat Qumran sangat teliti melaksanakan Taurat Musa, bahkan lebih keras daripada kaum Parisi. Mereka sangat teliti dan saksama dalam hal nadjis dan tahir, haram dan halal dan melakukan banjak pembasuhan sebelum beribadah. Merekapun mempunjai ibadahnja sendiri. Mereka tidak ikut serta dalam ibadah dalam Bait Allah di Jerusalem, tetapi rupanja mereka sendiri djuga tidak mempersembahkan kurban. Anggota-anggota djemaat itu radjin dalam mempelajari Alkitab dan kitab-kitab saleh lain. Banjak kitab disalin oleh mereka. Dibidang ekonomis djemaat itu lebih kurang self-supporting.


B. Penemuan.

Dalam bulan Februari atau Maret 1947 seorang pemuda dari suku Ta'amireh jang bernama Muhammad adh.- Dhib serba kebetulan masuk salah satu gua disekitar Qumran mentjari seekor kambing jang hilang. Didalam gua itu diketemukannja sedjumlah bujung jang berisikan gulungan kitak dari kulit. Tudjuh buah dibawanja dan ia mentjoba mendjualnja di Betlehem, tapi tidak berhasil. Achirnja lima buah naskah didjual kepada uskup agung dan kepala biara dari umat Keristen Syriah-ortodoks di Jerusalem dan dua buah kepada E. Sunik dari universitas Hibrani di Jerusalem. Dalam tahun 1949 sampai dengan 1955 para ahli menjelidiki seluruh daerah disekitar Qumran dan menggali Khirbet Qumran. Sementara itu para penghuni daerah itupun mentjari pula dan kerap kali mendahului para ahli dengan menemukan naskah-naskah baru lagi. Berangsur-angsur didjual kepada para ahli jang tersedia membelinja. Djumlah gua jang ternjata memuat naskah-naskah (dalam bujung jang biasanja petjah sudah) ialah sebelas. Banjak gua-gua lain menghasilkan barang petjahan jang sangat bernilai untuk menetapkan tanggal jang menjatakan umurnja naskah-naskah jang diketemukan.


C. Naskah-naskah Qumran.

Kebanjakan naskah jang diketemukan rusak sekali dan kerap kali hanja tinggal kepingan-kepingan jang lebih kurang besar. Tetapi djuga ada sedjumlah naskah jang hampir utuh lengkap. Ada naskah (kepingan) dari kitab-kitab Alkitab, naskah dari Kitab apokrip dan pseudepigrap dan sedjumlah naskah jang mengenai chususnja tatatjara djemaat Qumran serta adjarannja jang chas. Baiklah disebutkan jang terpenting.


1. Naskah-naskah dari Alkitab.

Ada kepingan dari naskah jang memuat hampir seluruh Kitab Sutji sebagaimana diterima oleh Geredja katolik. Djadi termasuk djuga kitab deuterokanonik atau apokrip. Hanja dari kitab Judit dan Kebidjaksanaan sampai sekarang tidak ada bekasnja. Ini menjatakan bahwa djemaat di Qumran djuga membatja kitab Deuterokanonik, meskipun tidak djelas apakah kitab-kitab itu dianggap senilai dan seharga dengan kitab-kitab protokanonik. Dari kitab Tobit jang dahulunja hanja diketahui dalam terdjemahan (Junani, Latin) ada kepingan-kepingan jang tertulis dalam bahasa Hibrani dan Aram.

Naskah-naskah dari Kitab-kitab Sutji jang lebih kurang lengkap utuh dan terpenting ialah:
Satu gulungan Kitab Jesaja jang lengkap (hanja sedikit rusak) dan satu lagi jang rusak sekali, sehingga hanja tertinggal lebih kurang 1/3 dari Kitab Jesaja. Lalu ada kepingan-kepingan jang lebih kurang besar dari kitab Sjamuel, Taurat Musa, terutama Ulangtutur, kitab Mazmur dll. Ada kepingan-kepingan jang tjukup besar dari Kitab (Putera) Sirah dalam bahasa Hibrani.


2. Naskah-naskah dari kitab Apokrip (pseudepigrap).

Ada sedjumlah besar naskah-naskah dan kepingan dari kitab-kitab Apokrip jang dahulu sudah dikenal. Jang terpenting ialah Kitab Henoch, kitab Jubilaeorum, Wasihat Levi, Anggaran Dasar Djemaat di Damsjik (Dokumen kalangan Sadok), jaitu suatu djemaat jang mirip djemaat Qumran jang pernah menetap di Damsjik.


3. Naskah-naskah jang mengenai djemaat Qumran.

a) Ada sedjumlah naskah dan kepingan jang memuat tafsiran kitab-kitab dari Alkitab Perdjandjian Lama. Dalam tafsiran-tafsiran itu Perdjandjian Lama diterapkan kepada djemaat di Qumran sendiri dan kepada Guru Kedjudjuran. Ada suatu naskah lengkap jang mendjadjikan tafsiran sematjam itu berdasarkan kitab Habakuk. Ada banjak kepingan jang memuat tafsir kitab Mazmur, kitab Jesaja, Micha, Nahum dan Sefanja. Ada djuga bunga rampai dari nas-nas Perdjandjian Lama.

b) Anggaran Dasar djemaat Qumran terpelihara baik setjara lengkap maupun berupa kepingan-kepingan dari naskah jang rusak. Oleh para ahli anggaran dasar itu dinamai: Manual of Discipline. Djudul aselinja tidak diketahui (bagian atas naskah rusak) tetapi kiranja berbunji: Serekh Hajjahad = "Anggaran dasar Djemaat". Berkat naskah itu tatatjara djemaat itu dikenal dengan tjukup baik.

c) Naskah (dan kepingan-kepingan) lain menjadjikan suatu gambar tentang perang sutji pada achir djaman. Karena itu naskah itu dinamai Gulungan Perang (milhamah=perang). Didalamnja digambarkan setjara teliti dan luas perang antara anak-anak tjahaja (=anggota-anggota djemaat) dan anak-anak kegelapan. Djadi kitab itu mempunjai tjorak eskatologis dan apokaliptis.

d) Ada sedjumlah besar naskah (lebih kurang lengkap) jang memuat Lagu-lagu Pudjian jang dipergunakan djemaat itu dalam ibadahnja. Naskah itu oleh para ahli dinamai Hodajot (=lagu-lagu pudji).


4. Tjara mengutip naskah-naskah Qumran.

Untuk mudahnja para ahli memberikan kepada naskah-naskah Qumran suatu tanda, supaja mudah dapat dikutip. Sistem jang umum dipakai ialah: Disebutkan dahulu gua tempat naskah itu diketemukan, jaitu dengan angka romawi (atau Arab). Misalnja: IQ = diketemukan dalam gua I di Qumran. Kemudian ditambah isi dari naskah (kepingan) itu. Misalnja IQ Isa = Naskah pertama nabi Jesaja (Isa) jang diketemukan dalam gua I Qumran. IVQM = naskah "perang" (M) jang diketemukan dalam Gua IV di Qumran. IQpHab.= Peser (p) = tafsir kitab Habakuk (Hab) jang diketemukan dalam gua I Qumran. IQH = naskah jang memuat Lagu Pudjian = Hadajot = H, jang diketemukan dalam Gua I di Qumran. IQSb = naskah kedua (b) jang memuat Anggaran Dasar djemaat (Serekh Hajjahad = S) jang diketemukan dalam gua I di Qumran.


D. Hubungan djemaat Qumran dengan Perdjandjian Baru.

Sudah barang tentu penemuan di Qumran amat penting sekali untuk pengertian Perdjandjian Baru. Sebab djemaat itu paling djaja djustru pada djaman Kristus dan umat Keristen semula. Berkat penemuan itu kita sekarang tahu sebagian dari agama Jahudi didjaman Kristus, jang dahulu hampir tidak atau hanja sedikit dikenal. Djadi latarbelakang kehidupan Kristus sendiri serta umat Keristen semula mendjadi djauh lebih luas.

Tetapi kurang djelas apakah ada hubungan langsung antara Kristus sendiri dan djemaat di Qumran dan antara umat Keristen dan djemaat itu. Mula-mula para ahli suka menghubungkan kedua gerakan itu. Penengah dan pengantaraan utama ialah Jahja Baptis. Ia tampil digurun, djustru dekat pada tempat tinggal djemaat itu. Kabarnja djuga mempunjai tjorak eskatologis jang mirip dengan adjaran djemaat Qumran. Adapun Jesus beberapa lamanja tinggal didekat Johanes. Maka diambil kesimpulan bahwa Johanes pernah masuk djemaat itu dan Jesus mengambil adjaran Johanes jang terpengaruh oleh alam pikiran Qumran. Tetapi kemudian para ahli mendjadi lebih hati-hati. Meskipun ada kesamaan antara Perdjandjian Baru dan naskah-naskah Qumran, namun perbedaan lebih besar lagi. Jang menjolok mata ialah: djemaat Qumran mengasingkan diri dari pergaulan, sedangkan Jesus tidak. Djemaat itu mendjundjung tinggi Taurat Musa serta segala peraturan-peraturannja, sedangkan Jesus tidak begitu peduli akan aturan-aturan itu. Djemaat Qumran mengadjar bahwa anggota-anggotanja harus membentji orang lain dan hanja mentjintai sesama anggota. Tetapi Jesus djustru menekankan bahwa tjintakasih sedjati merangkum semua manusia. Kendati perbedaan jang menjolok itu, kesamaanpun tak terpungkiri pula antara Perdjandjian Baru dan djemaat di Qumran. Maka itu ada ahli jang berpendapat bahwa antara Jesus dan djemaat itu tidak ada hubungan langsung. Tetapi kemudian sedjumlah anggota-anggota djemaat itu masuk Keristen dan adjarannja mulai mempengaruhi adjaran Keristen djuga tanpa menghapus atau mengurangi perbedaan djelas. Perbedaan jang tetap menjolok ialah: Djemaat Qumran selalu mengutamakan Taurat Musa, sedangkan umat Keristen mengutamakan diri Jesus sebagai pusat kepertjajaannja. Mula-mula para ahli djuga banjak berspekulasi sekitar "Guru Kedjudjuran" jang mau disamakan dengan Jesus. Tetapi kemudian mendjadi njata bahwa tidak ada hubungan sedikitpun. [ðððð]


Sumber: Buku Hidjau, tahun 1967
http://www.sarapanpagi.org/qumran-vt443.html

Makna Horizontal Natal

UMAT Kristiani sejagat merayakan hari Natal, kelahiran Yesus Kristus. Perayaan Natal sebagai penghayatan unsur hidup keberagamaan tidak hanya merupakan ungkapan iman dan cinta bakti kepada Allah secara vertikal, tetapi juga perwujudan iman dan cinta kasih kepada sesama secara horizontal. Cinta kepada Allah mesti berimbang dengan cinta kasih kepada sesama, terutama yang miskin dan menderita.
Makin jauh rentang waktu perayaan Natal dari peristiwa yang dirayakan, makin jauh pula pesan yang ditangkap dan sebenarnya menjadi inti Natal, yakni solidaritas Allah dalam kemiskinan manusia dan makna horizontalnya dalam kehidupan bersama. Akibatnya, perayaan Natal dirasuki mentalitas "kelas bersenang-senang" yang aristokratis nan hedonis-komersialis-konsumeristis jauh dari hakikat Natal, kesederhanaan dan keprihatinan. Dalam konteks bangsa Indonesia yang sedang diempas krisis multidimensional, kesejatian makna Natal dalam solidaritas Allah dan makna horizontalnya perlu ditegaskan kembali.
Historisitas Natal
Albert Nolan, OP dalam Jesus Before Christianity, The Gospel of Liberation (1991:20), menegaskan, bila kita membaca keempat Injil dengan teliti dan menggunakan sebaik-baiknya semua informasi yang diperoleh mengenai keadaan zaman, kita dapat menggali banyak informasi historis mengenai Yesus. Bagaimana pun, Injil ditulis berdasarkan sumber-sumber yang berasal dari Yesus dan zaman-Nya.
Secara historis, kelahiran Yesus tidak ditandai gerlap cahaya lampu warnawarni, tarian, dan nyanyian duniawi, apalagi pesta dan sorak-sorai. Yesus lahir dalam ketidakpantasan, kesederhanaan, dan kemiskinan. Gambaran biblis peristiwa kelahiran Yesus sebagaimana direnungkan St Lukas (2:1-7) secara horizontal (manusiawi) amat mengedepankan keadaan yang serba darurat, melarat, dan kesrakat.
Keadaan darurat, sebab kelahiran Yesus terjadi dalam perjalanan paksa secara politis atas perintah Kaisar Gaius Yulius Caesar Octavianus-sering disebut Kaisar Agustus-yang menjadi Kaisar Romawi tahun 30 SM hingga 14 M. Kaisar Agustus mengeluarkan perintah sensus penduduk yang secara politis erat dengan pajak yang amat menindas. Atas perintah paksa itu, Yusuf dan istrinya, Maria, harus pergi dari Nazaret di Galilea ke Betlehem di Yudea, padahal Maria sedang hamil tua. Dalam perjalanan itulah Yesus lahir.
Yesus lahir dalam keadaan melarat, kesrakat, sebab dalam perjalanan paksa itu, Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat penginapan yang pantas dan layak. Maria melahirkan Yesus. Bayi itu dibungkus dengan kain lampin (gombal amoh) dan dibaringkan dalam palungan, tempat makanan binatang! Kisah biblis inilah yang kini memberi inspirasi mengenai goa Natal dengan segala unsurnya.
Kisah kelahiran Yesus dalam keadaan darurat, melarat, dan kesrakat itu mencerminkan kehidupan masyarakat yang dikuasai kemiskinan, ketertindasan, dan penderitaan akibat penjajahan Romawi. Dalam konteks sensus penduduk sebagai perintah paksa demi penarikan pajak, perjalanan "semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri" (Lukas 2:3) kurang lebih sama dengan keadaan darurat pengungsian dan penggusuran. Begitulah, Yesus memberi dasar makna horizontal Natal agar para pengikut-Nya mengembangkan cinta kepada orang-orang yang tengah menderita; kalau sekarang, mereka adalah yang kesepian di pengungsian, masyarakat tertindas yang cemas dan waswas, warga tergusur yang tak punya tempat tinggal, dan rakyat miskin akibat penjajahan, maupun golongan yang terpinggirkan.
Wujud "solidaritas" Allah
Bahwa Natal asli terjadi dalam keadaan amat darurat, melarat, dan kesrakat, tentulah bukan tanpa maksud. Secara teologis, itulah rencana dan kehendak Allah yang hendak bersikap solider dengan umat manusia yang tertindas, miskin, dan dibelenggu kekuasaan duniawi. Kehendak ini menjadi kian tegas justru dalam sikap dan pilihan hidup Yesus di kemudian hari sebagai utusan Allah kepada umat manusia pada zaman-Nya.
Yesus menolak menjadi bagian dari sistem yang menindas. Yesus memilih menjadi bagian dari rakyat yang tertindas. Dalam diri Yesus, rakyat yang tertindas mengalami, bahkan memiliki Allah yang mengambil perjuangan dari kaum miskin sebagai perjuangan-Nya sendiri sehingga perjuangan itu menjadi perjuangan Ilahi demi kaum miskin; perjuangan yang diadakan Allah untuk melawan kaum sombong, para penguasa dan golongan orang kaya yang tak mau tahu kaum papa.
Sebenarnya, dalam kelahiran-Nya, Yesus telah menampilkan perhatian Allah kepada manusia yang miskin, sengsara, dan tertindas oleh kekuasaan duniawi. Maka, dalam kelahiran-Nya, tampak solidaritas Allah terhadap kemiskinan manusia, baik dalam tataran ekonomis, sosial, psikis, bahkan spiritual. Menurut Aloysius Pieris SJ dalam An Asian Theology of Liberation (1996:88) Yesus sengaja mengambil jalan kemiskinan, bukan sebagai protes negatif atau sekadar kesetiakawanan pasif dengan kaum miskin, tetapi sebagai strategi aktif untuk menghadirkan solidaritas Allah kepada manusia dan dengannya menegaskan makna horizontal tugas profetik-Nya.
Perutusan profetik-Nya adalah perutusan dari, oleh, dan untuk kaum miskin. Karena itu, Yesus tidak tertarik ideologi sempit gerakan politik Zelotisme. Dia juga tidak berminat pada puritanisme kaum Esseni yang sektarian atau spiritualitas egosentrik-puas diri kaum Farisi, apalagi semangat hedonistik aristokratis kaum Saduki. Demi tugas perutusan profetik-Nya, Yesus menghidupi tradisi asketisme profetik yang ditampilkan Yohanes Pembaptis dan mengembangkan solidaritas-liberatif, membela kaum miskin dan tertindas.
http://www.sabdaspace.org/arti_dari_natal
Kelompok-kelompok yang Kontra dengan Yesus di Zaman-Nya
Category Article : Hot Issues»Light
print
Light - Oktober 2007

"Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Pertanyaan Yesus kepada para murid.
Takdir mungkin yang membuat Yesus selalu jadi sorotan dan perdebatan. Pro kontra seputar siapa, bagaimana, dan mengapa Ia ada di bumi ini sudah ada bahkan sejak Ia melakukan pelayanan bersama dua belas murid-Nya. Ada beberapa kelompok yang kontra dengan ajaran-Nya, antara lain:

Kaum Farisi

Dari semua kelompok, kelompok ini yang paling radikal. Sekaligus paling bengal. Hampir semua yang Yesus lakukan ditentang habis-habisan. Bisa kita pahami. Kelompok Farisi adalah kelompok orang-orang yang memegang teguh Taurat Musa dan adat istiadat Yahudi (Mat. 15:2). Bagi mereka, melanggar Taurat, hukumnya berat. Taurat adalah harga mati. Mutlak harus ditaati. Siapa melanggar, harus dihukum sesuai aturan yang berlaku. Kalau perlu sampai mati dilempar batu. Sementara Yesus, Dia fleksibel. Ia menggenapi sesuatu yang tidak pernah didengungkan Taurat, yaitu belas kasi-han (Mat. 5:17).

Dengan berani Yesus mengajarkan di depan orang banyak, tanpa tedeng aling-aling, Ia berkata, "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga" (Mat. 5:20). Di sinilah, friksi terjadi. Sebelum kehadiran Yesus, Farisi adalah kelompok orang yang dihormati. Dijuluki sebagai Rabi. Terdepan dalam urusan agamawi. Namun, semua berubah sejak kehadiran Yesus. Yesus membuka aib mereka di depan umum, mengupas betapa di balik topeng kerohanian yang sempurna itu, sebenarnya kaum Farisi adalah kaum yang bobrok mental dan nuraninya. Bak kuburan dilabur putih. Indah di luar, tapi busuk di dalam.

Kaum Farisi menuduh Yesus tidak menghormati adat istiadat nenek moyang dan berbuat seenak udel terhadap larangan hari Sabat. Sementara Yesus menggugat balik gaya hidup mereka yang mematikan hati nurani dan belas kasihan hanya demi kepatuhan membabi buta terhadap aturan dan Taurat. Friksi ini makin tajam ketika Yesus dengan berani mengatakan bahwa Ia adalah Anak Allah (Yoh. 10:36), bahwa Ia dan Bapa satu adanya (Yoh. 10:30), bahwa dengan kuasa Allahlah Ia melakukan mukjizat demi mukjizat (Luk. 11:20). Terang Kaum Farisi ini berang tak kepalang. Seorang manusia (anak tukang kayu pula) mengaku Anak Allah? Mengaku berasal dari Bapa? Ini jelas penghujatan! Pembohong besar! Orang gondrong besar mulut itu harus dihukum mati. Setelah dipermalukan di depan banyak orang, Kaum Farisi ingin menyelamatkan muka dengan menjadikan diri mereka pembela Taurat. Penyaliban adalah jalan satu-satunya untuk membersihkan nama baik mereka.

Kaum Zelot

Mereka adalah kaum nasionalis fanatik yang ingin melepaskan diri dari penjajahan Romawi. Mereka percaya bahwa Allah adalah satu-satunya pemimpin mereka. Oleh karena itu, mereka berusaha menggugah bangsa Yahudi untuk memberontak-bukan hanya terhadap kuasa penjajah-tetapi juga terhadap penindasan dari pihak bangsawan Yahudi. Berdasarkan pada Hukum Pertama, mereka menampik wewenang sang Kaisar dan menentang keras pembayaran pajak kepada kaisar. Mereka kerap mencoba melakukan kudeta untuk menjatuhkan pemerintahan yang ada. Kaum Zelot sangat membenci orang-orang non Yahudi, termasuk orang Samaria. Mereka menolak keras pengaruh-pengaruh bangsa asing ke dalam adat istiadat kaum Yahudi.

Kaum Herodian

Kelompok Herodian memang tidak banyak dibahas di dalam Alkitab. Pun demikian, kelompok ini adalah ang-gota-anggota suatu partai Yahudi yang menghendaki supaya keturunan Herodes Agung memerintah atas mereka, dan bukan gubernur Romawi (Mat. 22:16). Menurut catatan sejarah dari St. Em-merick, Pilatus dan Herodes sebenarnya sedang berseteru. Pilatus merencanakan pembangunan sebuah terowongan air di sebelah tenggara bukit di mana Bait Allah berdiri. Saluran air ini dimaksudkan untuk mengangkut pembuangan kotoran dari Bait Allah. Herodes, dengan perantaraan seorang kepercayaannya, menyuplai bahan yang diperlukan, ter-masuk mengutus 28 ahli bangunan, yang semuanya adalah orang-orang Herodian. Tujuan Herodes adalah mempersengit perlawanan bangsa Yahudi terhadap Gubernur Romawi sehingga ia bisa naik takhta menggantikan posisi tersebut. Namun, penangkapan Yesus membuat hubungan Herodes dan Pilatus kembali mesra. Herodes merasa tersanjung ketika Pilatus menyerahkan Yesus ke dalam wilayah hukumnya. Dengan menangkap Yesus, berarti kaum Herodian sudah semakin dekat pada jalan untuk membuat keturunan Herodes menjadi raja. Jadi sebenarnya, tidak ada perseteruan langsung dengan Yesus. Tapi karena Yesus didesas-desuskan sebagai Raja Yahudi yang sudah dinubuatkan itu, tentu mereka kebakaran jenggot. Jadi, tak ada pilihan lain. Yesus harus disingkirkan.

Kaum SaduKi

Kelompok ini bisa dikatakan teman baik Farisi. Kerap mereka bersekongkol untuk menjebak Yesus. Saduki adalah golongan pemimpin agama Yahudi, yang sebagian besar terdiri dari para imam. Mereka mendasarkan pengajarannya pada kelima kitab Musa dan menolak segala adat istiadat yang ditambahkan kemudian. Karena itu, mereka tidak percaya pada adanya kebangkitan dan keberadaan malaikat-malaikat (Mrk. 12:18-27). Pun demikian, mereka umumnya memegang monopoli atas segala perdagangan di halaman bait Allah. Mereka inilah yang dituduh Yesus sebagai sarang penyamun di rumah Allah. Karena tidak mengakui akan kebangkitan, Saduki menganggap Yesus mengajarkan kesesatan. Namun, dalam suatu debat terbuka, Yesus justru berkata merekalah yang sesat. "Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia," begitu Saduki menjebak Yesus. Yesus langsung membalas, "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!" ( Mat. 22:29). Kontan muka mereka merah padam. Hal ini makin membuat mereka geram dan dendam.

Kaum Esseni

Esseni artinya 'saleh' atau 'suci'. Mereka ini tidak secara resmi disebut dalam Injil-injil Perjanjian Baru, tetapi keberadaan mereka diakui oleh tradisi sebagai biarawan-biarawan Yahudi yang hidup membujang. Mereka juga menjalankan hidup sederhana dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama. Kelompok ini sering dihubungkan dengan penemuan-penemuan naskah Qumran, walaupun tidak ada bukti kuat ke arah itu. Kaum Esseni hidup bersama-sama dan sangat sederhana, semua barang menjadi milik bersama. Sebagian (besar) di antara mereka tidak kawin dengan motif eskatologis dan kemudian asketis. Kaum Esseni sangat teliti melaksana-kan Taurat Musa, bahkan lebih keras daripada kaum Farisi. Mereka sangat teliti dan saksama dalam hal najis dan tahir, haram dan halal dan melakukan banyak pembasuhan sebelum beribadah. Mereka hidup mengasingkan diri di gurun dan sangat ekslusif.

Banyak anggota mereka termasuk dalam kalangan para imam keturunan Zadok atau yang dikenal dengan imam-imam Zadok. Tetapi kurang jelas apakah ada hubungan langsung antara Yesus dan mereka. Namun, menurut dugaan para ahli, Yohanes Pembaptis pernah masuk kaum Esseni ini karena ia tinggal di padang gurun, pusat tempat tinggal kaum Esseni. Dan karena Yohanes adalah sepupu Yesus, bisa jadi di sinilah kaum Esseni mulai bersentuhan dengan Yesus. Namun, jelas ada perbedaan mencolok antara Yesus dengan mereka. Kaum Esseni mengasingkan diri dari pergaulan, sedangkan Yesus tidak. Kaum Esseni mengajar anggota-anggotanya harus membenci orang lain dan hanya mencintai sesama anggota. Yesus justru mengajarkan cinta kasih. Dan terlebih kaum Esseni menuhankan Taurat, Yesus justru kerap 'melanggar' aturan tersebut.

Menurutmu Siapakah Aku ini?

Yang menarik adalah respons Yesus seputar pro kontra diri-Nya. Ia tak am-bil pusing. Namun kepada para murid, Ia justru bertanya, "Menurutmu, siapakah Aku ini?" Dengan kata lain, Yesus tak ambil pusing dan tidak tertarik menanggapi pandangan orang seputar diri-Nya, orang mau ngomong ini-itu, sah-sah saja. Yang menarik minat-Nya adalah siapa Dia bagi kita orang-orang percaya. Jadi, kalau Yesus saja tak ambil pusing dengan kontra seputar diri-Nya, mengapa pula justru kita yang harus sewot dan kebakaran jenggot?

(Eva Yunita)
http://www.bahana-magazine.com/?p=productsMore&iProduct=235&sName=Kelompok-kelompok-yang-Kontra-dengan-Yesus-di-Zaman-Nya
SERI EPISTEMOLOGI



Filosof dan Epistemologi

Epistemologi dalam Filsafat Barat Modern
Filsafat modern dimulai pada zaman Rene Descartes (1596-1650 M) dan Francis Bacon (1561-1626 M). Akan tetapi, peran dominan Descartes lebih tampak karena berupaya mengembangkan aspek-aspek epistemologi dalam era baru filsafat Barat.
Ruang pemikiran dimana Descartes hidup sangat berperan dalam mempengaruhi pemikiran-pemikirannya. Di bawah ini akan disebutkan beberapa aspek yang mempengaruhi pikiran-pikirannya:
1. Lahirnya penemuan-penemuan baru ilmiah yang dimotori oleh Copernicus, Johannes Kepler, dan Galileo;
2. Penciptaan teleskop yang berefek pada penolakan beberapa asumsi-asumsi yang tidak benar pada masa lalu;
3. Penemuan benua Amerika dan perubahan teori terhadap bentuk bumi;
4. Direbutnya ibukota Yunani dan dikenalnya budaya ilmiah kaum muslimin oleh Eropa;
5. Dibentuknya mazhab baru Protestan oleh Martin Luther (1483 – 1546 M) dan berkurangnya kekuasaan gereja;
6. Lahirnya teolog baru seperti Francis Bacon dan bangkitnya aliran baru melawan pemikir-pemikir lama yang diiringi oleh penolakan filsafat Aristoteles;
7. Munculnya beberapa pandangan yang menolak secara mutlak pemikiran filsafat yang kemudian berujung pada Skeptisisme yang dipelopori oleh Francisco Sanches (1551-1623 M).[1]
Walhasil, faktor-faktor yang disebutkan di atas dan beberapa faktor lain yang tidak disebutkan, saling berpengaruh satu sama lain yang kemudian mengerucut pada kemunculan dimensi-dimensi keraguan terhadap agama, etika, dan keyakinan yang ekstrim atas ilmu-ilmu empirik. Semua kenyataan ini, menjadikan epistemologi sebagai pokok pembahasan tersendiri dalam era baru filsafat Barat.

1. Rene Descartes (1596-1650 M)[2]
Persoalan-persoalan yang dilontarkan oleh Descartes untuk membangun filsafat baru antara lain:

1. Apakah kita bisa menggapai suatu pengetahuan yang benar?
2. Metode apa yang digunakan mencapai pengetahuan pertama?
3. Bagaimana meraih pengetahuan-pengetahuan selanjutnya?
4. Apa tolok ukur kebenaran pengetahuan?[3]
Descartes menjadikan hal yang tergamblang, penggabungan, analisa, dan keraguan segala sesuatu dalam mencapai pengetahuan pertama sebagai metode sempurna dalam menggapai pengetahuan-pengetahuan selanjutnya.
Dalam tingkatan keraguan, pertama-tama meragukan segala yang diperoleh oleh panca indra, menganggap bahwa kita dalam kondisi tidur atau mengkhayal, dan tertipu oleh setan. Intinya, kita mesti meragukan apa yang diyakini dan harus sampai pada puncak keraguan. Setelah mencapai puncak keraguan, langkah selanjutnya adalah menemukan pengetahuan pertama, dan terus mencari ilmu secara bertahap dengan pengetahuan pertama tersebut.[4][5]
Tahapan kedua, perjalanan dari ragu ke yakin. Pada tahapan ini, Descartes berkata, "Saya ragu pada setiap sesuatu, namu saya tidak bisa meragukan keraguan saya itu, saya yakin pada keraguan saya sendiri dan dikarenakan keberadaan keraguan ini, saya sampai pada suatu keyakinan terhadap eksistensi peragu.[6]
Menurut Descartes, tolok ukur hakikat itu ialah kegamblangan dan keterpisahan, yakni setiap perkara seperti keraguan, sedemikian gamblang dan terpisah satu dengan lainnya sehingga tidak bisa diragukan lagi, inilah pengetahuan hakiki.[7]
Keyakinan terhadap persepsi fitrah juga merupakan gagasan penting dalam filsafat Descartes. Konsep-konsep fitrah seperti, Tuhan, waktu, jiwa, dan benda, yakni perkara-perkara yang secara potensial terdapat dalam jiwa yang kemudian mengaktual secara evolutif. Iasangat menekankan aspek-aspek epistemologi dan meyakini kesesuaian gambaran pikiran dan realitas eksternal.[8]

2. Benedict de Spinoza (1632-1677 M)
Spinoza sepakat terhadap tolok ukur "kegamblangan" dan "keterpisahan" yang diajukan oleh Descartes itu dan memandang bahwa pikiran dan realitas eksternal adalah satu. Tentang persoalan hakikat, iamengajukan adanya keharmonisan dan keberaturan, yakni suatu hukum hanya akan benar jika seirama dan harmonis dengan sistem keteraturan yang meliputi seluruh realitas eksternal.
Ia kemudian membagi pengetahuan-pengetahuan itu ke dalam pengetahuan indriawi dan intuitif (syuhud). Pengetahuan intuitif dipandang sebagai pengetahuan tertinggi, dan pengetahuan mesti dimulai dari Tuhan.[9]

3. Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716 M)
Leibniz beranggapan bahwa dalam setiap hukum yang benar, predikatnya terdapat dalam subyek. Ia merupakan orang pertama yang membedakan antara pengetahuan yang pasti dengan pengetahuan eksternal. Dan memandang bahwa pengetahuan yang pasti berpijak pada kaidah non-kontradiksi, yakni penolakan atas kaidah ini akan berujung pada kontadiksi itu sendiri. Sebagaimana Descartes, iapercaya pada konsep-konsep fitrah.[10]

4. Para Filosof Empiris Inggris
Kaum empiris menolak konsep-konsep fitrah yang diyakini oleh kaum rasionalis seperti Descartes. Kaum ini lebih menekankan konsep-konsep yang bersumber dari indra lahir dan empirisitas.
Filosof empirik memiliki kecenderungan yang berbeda, karena keragaman persepsi-persepsi dan indra-indra. Berkaitan dengan dimensi persepsi, sebagian mereka menekankan empirisitas pada konsepsi dan keyakinan, dan sebagian lain hanya pada konsepsi. Sementara yang berhubungan dengan indra, sebagian hanya meyakini indra lahir, dan yang lainnya berpegang pada kedua indra, yaitu indra lahir dan indra batin. Hasil-hasil pemikiran dari kelompok ini niscaya akan berbeda satu sama lain.

5. John Locke (1632-1704 M)
John Locke beranggapan bahwa sebelum memulai kajian dan pembahasan lainnya, sangat penting membahas tentang kodrat dan kemampuan akal untuk sampai pada pengetahuan, penetapan batas-batas akal, dan sumber-sumber makrifat dan keyakinan,. Iamenekankan analisa dan pengujian atas sejarah, dan empirisitas dalam pandangannya meliputi hal-hal yang lahiriah dan batiniah.[11]
John Locke tidak mengingkari potensi manusia yang berkaitan dengan semua pengetahuan, namun menolak keberadaan konsep-konsep aktual yang terdapat dalam jiwa dan pikiran.[12]
Menurutnya, indra lahir dan batin merupakan sumber semua pengetahuan dan menolak sumber pengetahuan lainnya, seperti intuisi rasional. Iaberkeyakinan bahwa seluruh bahan persepsi dan pemikiran diperoleh dari hal-hal indriawi dan observasi empiris dengan perantaraan panca indra lahir di alam luar serta di alam batin dengan menggunakan indra batin. Konsep-konsep ialah perantara antara pikiran dan realitas eksternal, dan sebagian dari konsep-konsep berhubungan dengan perasaan manusia.[13]
John Locke membagi konsep-konsep itu menjadi tunggal dan jamak, universal dan partikular, satu indra dan banyak indra, substansi, hubungan, dan keadaan. Iajuga menerima keberadaan substansi untuk menerima aksiden-aksiden.[14]
Ia menerima konsep-konsep universal dan abstrak, konsep ini bebas dari pengaruh waktu, tempat, dan partikular. Walaupun pemikiran-pemikirannya ini memiliki banyak penafsiran.[15] Baginya, pengenalan itu terbagi atas intuisi, argumentasi akal, dan indriawi. Pengenalan intuisi lebih tinggi dari akal dan akal lebih tinggi dari indra lahir. Pengetahuan terhdap diri sendiri ialah bersifat intuisi, ilmu terhadap Tuhan dicapai lewat argumentasi akal, dan ilmu tentang alam eksternal dicapai lewat panca indra lahir.[16]
Dalam pembahasan kausalitas, ia lantas membedakan antara konsep "sebab" dan konsep "akibat" dengan prinsip "kausalitas" (setiap akibat bergantung pada sebab). Konsep tentang sebab dan akibat itu dihasilkan lewat pengamatan internal dan perhatian atas kinerja iradah, dan "pembenaran (penghukuman)" itu diperoleh dari pengaruh timbal balik antara maujud-maujud, yakni pikiran meraih konsep "sebab" dan "akibat" dari pengamatan internal hubungan antara jiwa dan iradah, maka hubungan konsep-konsep itu satu sama lain akan tercipta setelah mereka diletakkan secara sejajar dalam pikiran kita, dan karena gamblangnya masalah itu, akal kemudian menghukumi dan membenarkan hubungan tersebut.[17]
John locke nampaknya seorang empiris yang moderat, karena iatidak menolak akal dan ilmu-ilmu hudhûrî. Dengan alasan ini, banyak aspek positif dalam pemikirannya, walaupun solusi yang ditawarkan dan penjelasannya masih belum sempurna.

6. George Berkeley (1685-1753 M)
Berkeley beranggapan bahwa penerimaan konsep-konsep universal itu membuat suatu kerumitan dalam filsafat. Menurutnya, keberadaan konsep-konsep yang lepas dari segala bentuk sifat dan karakteristik adalah mustahil. Sebagai contoh, konsep yang abstrak mengenai gerak yang lepas dari benda bergerak dimana gerak itu tidak cepat, tidak lambat, tidak berotasi, dan tidak lurus adalah hal yang mustahil, begitu pula mengkonsep segitiga yang tak bersudut.
Menurut Berkeley, kita harus membedakan antara khayal, gambaran partikular, dan konsep-konsep universal, yakni adalah sangat jelas bahwa mustahil mengambil gambaran segitiga selain dari segitiga sama sisi, sama kaki, atau siku-siku. Konsep dan makna universal segitiga bukanlah gambaran segitiga tersebut. Dan menurutnya, yang ada itu hanyalah objek-objek eksternal, konsep-konsep partikular, dan kata-kata umum yang tidak menunjuk pada sifat-sifat khusus sesuatu.[18]
Apabila kita bisa untuk tidak memandang karakteristik-karakteristik itu, maka pasti kita bisa mencerap konsep itu. Jadi tak mustahil kita bisa mencerap suatu konsep yang terlepas dari segala karakteristik dan partikularitas.
Gagasan lain Berkeley adalah keraguan terhadap eksistensi maujud-maujud materi, dan beranggapan bahwa apa yang kita miliki dari benda-benda hanyalah gambaran benda-benda tersebut. Apabila dikatakan, "benda tertentu berwujud", maka yang dimaksud ialah, "saya memiliki gambaran atas benda itu atau saya mempersepsi benda itu". Dalam hal ini, iamengungkapkan dalil-dalil, diantaranya bahwa iatidak membedakan antara kualitas pertama (baca: benda eksternal) dan kedua (baca: gambaran benda dalam pikiran), kedua kualitas ini semuanya berpijak pada perasaan manusia, yakni setiap persepsi tidak lain adalah sama dan sesuai dengan persepsi lain. Menurutnya, hal ini, ialah gamblang.[19]
Dalam pandangan Berkeley , penyebab kehadiran konsep-konsep yang nyata itu ialah suatu maujud yang non-materi, yakni iamenerima adanya prinsip kausalitas dan memandang bahwa konsep-konsep itu tidak lain adalah suatu akibat (ma'lul) dan penyebabnya ('illat) adalah suatu maujud non-materi. Dengan dasar inilah, tidak membutuhkan lagi keberadaan maujud-maujud materi sebagai penyebab kehadiran konsep-konsep tersebut.[20]
Akan tetapi, dengan menafikan konsep-konsep universal, tak ada alasan lagi menerima prinsip kausalitas. Pada hakikatnya, Berkeley hanya sebatas meragukan alam materi dan bukan menolaknya. Partikular, perubahan, dan kehadiran baru konsep-konsep indriawi dan imajinasi, dikarenakan kaidah kesesuaian sebab dan akibat, maka iajuga menuntut sebab-sebab yang sesuai dan setara dengannya, yakni kemestian keberadaan sebab-sebab yang juga senantiasa berubah dan baru tercipta seperti materi itu.
Walhasil, George Berkeley menafikan dan meragukan adanya konsep-konsep universal dan maujud-maujud materi, namun iamenerima eksistensi jiwa manusia dan Tuhan. Menurutnya, Tuhan adalah penyebab kehadiran konsep-konsep indriawi, sementara jiwa manusia dipandang sebagai penyebab konsep-konsep khayali.

7. David Hume (1711-1776 M)
David Hume beranggapan pentingnya pembahasan mengenai proses pemahaman manusia. Ia membagi persepsi itu menjadi "konsepsi" (pemahaman, pengertian at-tashawwur) dan "impresi" (kesan, al-inthibâ'). Impresi ialah efek, kesan, atau pengaruh yang sangat dalam terhadap pikiran yang hadir secara visual (melalui mata). Sementara, konsepsi adalah persepsi yang sangat lemah yang hadir di alam pikiran ketika berpikir tentang suatu perkara.[21]
Ia juga sebagaimana John Locke yang memandang sumber segala pengetahuan manusia itu adalah empiris dan impresif. Dan ia menegaskan bahwa apabila setiap konsep itu berpijak dan bersesuaian dengan impresi, maka konsep itu dikatakan bermakna, dan jika tidak demikian, maka ia tidaklah menjadi bermakna.
Ia memandang bahwa pijakan pemikiran itu ialah hubungan antara maujud-maujud dan perkara-perkara hakiki, sementara matematika itu adalah hubungan antara konsepsi-konsepsi, maka dari itu, digolongkan sebagai hal-hal yang pasti dan niscaya. Dan menolak hal ini akan berujung pada kontradiksi. Namun, berbeda dengan hukum yang berkaitan dengan perkara-perkara hakiki yang tidak memiliki dua kemestian dan kepastian tersebut.[22]
Menurutnya, argumentasi tentang perkara-perkara eksternal dan hakiki dengan metode hubungan kausalitas, oleh karena itu, ia berupaya mengkaji dan menganalisa hubungan kausalitas itu. Akan tetapi, kausalitas itu ia pandang sebagai suatu "kebiasaan" dan "tradisi" pikiran, puncak analisanya ini adalah menafikan hubungan kausalitas itu dan tak ada jalan mengenal alam eksternal. Dengan demikian, segala sesuatu yang di luar pikiran dan jiwa manusia adalah hal yang mesti diragukan keberadaannya.[23] Sesungguhnya, kemestian berpegang secara ekstrim kepada panca indra lahir (Sensisme) pada wilayah konsepsi dan pembenaran (at-tashdiq) adalah akan berpuncak pada keraguan dan skeptisisme.
Persoalan prinsipil Hume mengenai konsep-konsep sebab dan akibat ialah bahwa panca indra lahir tak bisa mencerapnya.[24]
Apabila Hume memperhatikan poin penting dalam pandangan John Locke, maka mustahil ia menekankan analisanya yang keliru tentang kausalitas itu, karena sebagaimana yang dungkapkan oleh Locke dengan mudah akan dipahami hakikat 'sebab' dan 'akibat' itu dalam diri kita sendiri, yakni konsep 'sebab' dan 'akibat' tersebut terabstraksi dari kondisi internal manusia (konsep ini berasal dari hubungan kausalitas antara jiwa dan iradah dimana jiwa sebagai 'sebab' iradah dan iradah 'akibat' dari jiwa).
David Hume sebagaimana Berkeley , menolak konsep-konsep universal itu dengan mengungkapkan beberapa argumen. Salah satu argumennya adalah dimensi partikularitas setiap sesuatu dan keberadaan impresi di alam pikiran.[25] Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Hume tidak menganalisa persoalan kausalitas itu dengan cermat dan teliti, dan bahkan ia cenderung mencampurnya dengan persoalan-persoalan khayali (tak nyata). Iatak memahami dua dimensi yang terdapat dalam konsep-konsep universal yaitu dimensi (yakni keberadaan aktual dan partikularitas sesuatu) dan dimensi lain (yakni penghikayatan dan percerminan) dimana berdasarkan dimensi kedua ini, konsep universal itu bisa mencakup dan meliputi banyak individu luar (seperti konsep universal manusia yang meliputi individu-individu luar yang tak terbatas).
Hume juga menolak atau meragukan keberadaan substansi-substansi bendawi, hal ini karena kita tidak merasakan dan memahami sesuatu yang lain (yang berada di luar dari diri kita) kecuali konsepsi dan persepsi itu sendiri (karena berada dalam pikiran kita), disamping itu, tidak ada argumentasi rasional akan eksistensi substansi-substansi, serta ketiadaan perbedaan antara kualitas pertama (baca: benda luar) dan kualitas kedua (baca: gambaran benda luar dalam pikiran).[26]
Konklusi pemikiran Hume seperti di atas tidak lain karena ia menolak prinsip kausalitas, dengan demikian, tak ada jalan baginya untuk membuktikan alam eksternal dan maujud hakiki lainnya.
Tentang substansi jiwa, ia beranggapan bahwa manusia itu tidak memandang selain persepsinya sendiri. Selain persepsi dan emosi manusia, tidak ada suatu maujud lain yang tunggal dan kekal yang dinamai "aku" yang bisa dicerap dan diketahuinya.[27]
Namun, dengan memperhatikan penyandaran segala persepsi terhadap "aku" dan perbandingan serta hubungan antara proposisi-proposisi dan hukum tentangnya, begitu pula keadaan dan kondisi jiwa yang bersifat aksidental itu, bisa dikatakan bahwa penerimaan eksistensi "jiwa" sebagai penyatu semua perkara ini dan subyek bagi seluruh kondisi jiwa merupakan hal yang niscaya dan jelas.

Epistemologi dalam Filsafat Islam
Nampaknya, epistemologi bukan hal yang dikhawatirkan oleh para filosof muslim. Epistemologi bukan sebagai kajian utama dan inti dalam filsafat Islam. Persoalan-persoalan mendasar yang hadir dalam epistemologi secara implisit telah diulas dan dikaji di sela-sela pembahasan filsafat Islam. Karena itu, disepanjang evolusi pemikiran filsafat Islam tidak akan dijumpai satu karya yang secara terpisah membahas persoalan epistemologi. Akan tetapi, karena persoalan epistemologi sedemikian membengkaknya, para filosof Islam kontemporer menganggap urgen untuk mengkajinya secara mandiri dan terperinci serta memisahkan dari pembahasan filsafat.

1. Abu Yusuf Ya'qub ibn Ishak Al-Kindi (Wafat 252 H)
Al-Kindi ialah filosof pertama dalam dunia Islam. Ia melihat bahwa penalaran akal dan pengamatan indriawi merupakan sumber pengetahun. Akal bertujuan untuk mempersepsi hal-hal universal dan realitas non-fisik, sementara panca indra yang berhubungan dengan perkara-perkara partikular dan benda-benda fisik. Ia beranggapan bahwa akal dan panca indra itu sebagai persepsi-persepsi yang nyata dan tidak bisa diragukan lagi. Sesungguhnya, menurut Al-Kindi, akal memiliki kemampuan untuk mengungkap, menyingkap, dan menggapai hakikat eksternal.[28]

2. Abu Nashr Al-Farabi (257-329 H)
Al-Farabi berkesimpulan bahwa sumber pengetahuan adalah penalaran akal dan pengamatan indriawi. Namun, panca indra merupakan tahapan awal bagi lahirnya penalaran-penalaran rasional.[29] Ia membagi ilmu itu menjadi yang gamblang dan teoritis. Dan orang tidak mengetahui bagaimana proses hadirnya ilmu-ilmu gamblang, maka tidak akan berakibat terhadap keyakinannya pada ilmu gamblang itu. Ia juga menerima konsep-konsep universal dan mendefinisikannya sebagai suatu konsep yang bisa meliputi dan mencakup individu-individu eksternal yang banyak.[30]

3. Abu Ali Al-Husain ibn Sina (370-428 H)
Ia termasuk salah seorang filosof yang banyak menguraikan persoalan yang terkait dengan persepsi dan pengenalan. Salah satu kajian pentingnya adalah pendefinisian ilmu dan pembagian ilmu ke dalam ilmu hushûlî dan hudhûrî. Menurut Ibnu Sina, definisi ilmu ialah penggambaran sesuatu oleh pengindra. Penggambaran ini meliputi pemahaman hakikat sesuatu dan penggambaran bentuk sesuatu.[31]
Dalam pandangannya, persepsi itu adalah akal dan indra. Dan membagi indra itu menjadi indra lahir dan indra batin, serta menempatkan indra itu sebagai sumber awal pengetahuan.[32] Persepsi atas konsep-konsep universal itu merupakan karakteristik-karakteristik manusia[33]. Pengetahuan manusia itu berpijak pada hal-hal yang gamblang dan menganggap bahwa hal-hal yang gamblang (badihi, tak butuh pada argumentasi) itu bersifat yakini dan bersesuaian dengan kenyataan luar[34]. pengetahuan tentang eksistensi jiwa itu adalah bersifat hudhûrî (lawan dari hushûlî) dan menunggal dengan jiwa itu sendiri. Pengetahuan tentang wujud jiwa ini lebih awal dari setiap persepsi, bahkan lebih awal dari ilmu atas keraguan dan semua kondisi jiwa.[35]

4. Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H)
Setelah ia melewati masa skeptisitasnya, ia mengkaji secara mendalam persoalan-persoalan epistemologi. Menurutnya, makrifat hakiki adalah suatu pengetahuan yang menyingkap hakikat objek pengetahuan (ma'lum) sedemikian sehingga tidak menyisakan satu bentuk keraguan dan tidak menghadirkan kemungkinan kekeliruan atasnya, keyakinan terhadap hakikat objek luar itu sangatlah kuat sehingga apabila seseorang berkata padanya bahwa batu itu adalah emas atau tongkat itu adalah ular naga, maka keyakinannya tidak akan pernah bergeser sedikitpun dan ia tak terpengaruh olehnya.
Al-Ghazali pernah menelusuri lorong-lorong keraguan dan sampai pada puncak keraguan. Namun, pada akhirnya ia terhidayah dan menggapai keyakinan berkat pertolongan cahaya Ilahi. Ia terperosok ke lembah skeptisitas lewat alur logika dan keluar darinya dengan jalan pengalaman mistik dan intuisi irfani.
Dengan menghitung kesalahan dan kekeliruan panca indra, ia lantas meragukan hal-hal yang indriawi dan beranggapan bahwa sebagaimana akal bisa mengungkap semua kesalahan panca indra, sangat mungkin akan hadir seorang pemikir lain yang mampu menyingkap kekeliruan akal dan membatalkan pengetahuan yang dipandang gamblang oleh akal (seperti angka sepuluh lebih besar dari tiga). Dan ia berkata bahwa dari mana kita yakin bahwa kita dalam kondisi tidak tidur dan berkhayal. Oleh karena itu, kita bisa meragukan segala sesuatu.[36]
Menurutnya, pengalaman mistik dan intuisi irfani (al-kasy wa asy-syuhud al-'irfani). Akan tetapi, ia juga meyakini bahwa jalan logika dan penalaran akal, dengan berpegang teguh pada syarat-syaratnya, sebagai metode memahami hakikat eksternal[37]. Ia menekankan bahwa hasil-hasil yang dicapai oleh pengetahuan itu sangat berpijak kepada penguatan argumentasi-argumentasinya.[38]
Tentang konsep-konsep universal, ia memiliki dua pernyataan dimana yang satu sama dengan definisi yang dianut oleh kaum Peripatetik tentang universal (yakni universal itu bisa mencakup individu yang banyak) dan gagasan keduanya ialah bahwa universal itu sama dengan dengan khayal dan imajinasi partikular.[39]

5. Fakhr al-Din ar-Razi (543-606 H)
Ia sama dengan para filosof sebelumnya yang menganggap indra lahir dan akal sebagai alat untuk memahami realitas luar, dan setelah menerima kenyataan adanya kekeliruan pada indra lahir, ia kemudian meletakkan akal itu sebagai tolok ukur dalam penentuan kesalahan yang dilakukan oleh indra lahir.[40]
Menurutnya, ilmu itu ialah hubungan antara 'âlim (yang mengetahui) dengan ma'lum bidz-dzat[41] (pengetahuan esensial).[42] Ia juga menjelaskan tentang keraguan-keraguan yang berhubungan dengan pengetahuan-pengetahuan badihi dan gamblang, namun, menurutnya, keberadaan semua keraguan tersebut tidak mampu menafikan kebenaran pengetahuan yang gamblang tersebut.[43]

6. Shihab al-Din Yahya al-Suhrawardi (549-587 H)
Syaikh Isyraq beranggapan bahwa metode demonstratif dengan akal (burhân, demonstrative proof)[44] dan metode intuitif ('irfâni, gnosis)[45] merupakan dua metode yang pasti dalam mencerap objek eksternal, kebenaran, dan pengetahuan hakiki.[46]
Akal dan indra itu dipandang olehnya sebagai alat persepsi dan ia membagi ilmu menjadi hushûlî dan hudhûrî. Ilmu terhadap diri sendiri ia kategorikan sebagai pengetahuan hudhûrî.[47]
Mengenai kaum skeptis, ia menyatakan: "Apakah pemikiran[48] mereka itu sendiri mereka pandang sebagai kebenaran ataukah kekeliruan? Atau mereka juga meragukan kebenaran pemikirannya. Apabila mereka katakan bahwa pemikiran mereka itu adalah benar, maka mereka mengakui adanya kebenaran sejati dan pengetahuan hakiki. Akan tetapi, apabila mereka anggap pemikiran mereka itu adalah batil, maka ini berarti bahwa mereka menafikan pemikiran mereka sendiri. Dan untuk soal yang ketiga bahwa apakah mereka juga ragu pada keraguan mereka atau yakin padanya? Jika mereka memiliki keyakinan atasnya, maka mereka percaya terhadap wujud ilmu dan keyakinan dan kalau mereka ragu atasnya, maka seluruh perkataan mereka sama sekali tidak berguna[49] dan sebaiknya kita menampakkan kebohongan perkataan mereka tersebut dihadapan mereka sendiri."[50] Mengenai hal-hal yang gamblang dan badihi itu, ia menganggapnya sebagai hal-hal yang diyakini dan sesuai dengan realitas eksternal serta awal dari pengetahuan hakiki manusia.[51]
Menurutnya, ilmu kita terhadap objek-objek fisik diperoleh secara langsung dengan melihatnya, namun untuk maujud-maujud non-materi dicapai dengan intuisi (hudhûrî). Dalam keadaan maujud-maujud itu tidak lagi berada dalam liputan langsung indra kita, maka yang hadir di alam pikiran adalah gambaran maujud-maujud tersebut (hushûlî) yang sesuai dengan objek-objek eksternalnya. Ia menyusun dalil bagi kesesuaian gambaran itu dengan objek-objek eksternal.[52] Argumentasinya ialah: Jika kita memiliki ilmu terhadap sesuatu, maka sesuatu telah hadir di alam pikiran kita atau sama sekali sesuatu tidak hadir. Kondisi kedua ini adalah batal, karena seharusnya keadaan sebelum berilmu adalah sama dengan keadaan pasca berilmu, sementara kita merasakan adanya satu peruabahan dalam diri kita. Dan apabila sesuatu telah hadir di alam pikiran kita (kita berilmu), namun, tidak sesuai dengan objek-objek eksternal, maka sesungguhnya kita tidak memiliki ilmu terhadap sesuatu itu. Dengan demikian, makrifat dan pengetahuan kita terhadap segala sesuatu mesti sesuai dengan objek-objek eksternalnya.[53]

7. Khwajah Nashir al-Din al-Thusi (597-672 H)
Sebagaimana Ibnu Sina, ia menerima hal-hal gamblang itu sebagai pengetahuan pertama dan menggolongkan indra dan akal sebagai alat dan sumber pengetahuan manusia.[54] Ada tingkatan dalam hal-hal yang gamblang (al-badihiyyât) itu, dan menurutnya, tingkatan aksioma (al-awwaliyyât)[55] dan benda-benda fisik (al-mahsûsât) merupakan awal dan dasar pengetahuan manusia.[56]

8. Sadr al-Din Muhammad al-Syirazi (979-1050 H)
Ia dikenal dengan nama Mulla Sadra. Menurutnya, mustahil mendefinisikan ilmu itu, karena tidak ada yang lebih jelas daripada ilmu yang dengannya ia terdefinisikan.[57] Ia membagi ilmu menjadi hushûlî dan hudhûrî serta mengategorikan pengetahuan terhadap diri sendiri ke dalam ilmu hudhûrî.[58]Dalam pandangannya, keyakinan itu memiliki tingkatan, tingkatan pertama ialah 'ilm al-yaqîn (argumen rasional), 'ain al-yaqîn (intuisi 'irfani), dan haqq al-yaqîn (kesatuan wujud).[59] Mengenai konsep-konsep universal itu ia terkadang menafsirkannya sesuai dengan gagasan kaum Peripatetik, namun, ia lebih cenderung untuk mengartikannya sebagai "penyaksian (al-musyâhadah) intuitif maujud-maujud non-materi".[60]
Hal-hal yang gamblang itu ialah suatu keyakinan yang sesuai dengan objek-objek eksternal.[61] Dan pada hakikatnya, akal bisa mengetahui hakikat-hakikat eksternal dan jiwa manusia berpotensi menerima manisfestasi dan tajalli seluruh hakikat luar.[62]
Mulla Sadra membagi konsep-konsep universal itu menjadi kuiditas (mahiyah), filosofis, logikal. Konsep-konsep filosofis dan logikal itu disebut sebagai "kategori kedua yang dicerap oleh akal" (secondary intelligibles). Perbedaan keduanya adalah bahwa konsep-konsep kedua filosofis (philosophical secondary intelligibles) terabstraksi dari objek-objek eksternal dan sementara konsep-konsep kedua logikal (logical secondary intelligibles) terabstraksi dari objek-objek dalam pikiran.[63] Apakah konsep-konsep kedua filosofis ini bersifat hakiki atau majasi? Ia menyatakan bahwa konsep-konsep ini merupakan ungkapan dari tingkatan-tingkatan wujud eksternal, dimana setiap maujud yang lemah, pancaran dan pengungkapannya pun akan lemah dan berada pada batas "kemungkinan" untuk dicerap oleh akal. Dan begitu pula sebaliknya, suatu maujud yang kuat dan sempurna maka pengungkapan dan pancaran wujudnya pun akan semakin kuat dan berada pada batas "kemestian" untuk bisa diindra oleh akal. Perlu diketahui bahwa batas "kemungkinan" dan "kemestian" untuk dicerap ini merupakan ungkapan derajat-derajat eksistensi.[64]
Pembahasan lain yang dijabarkan Mulla Sadra ialah mengenai wujud pikiran.[65] Materi ini ia jelaskan secara terperinci.[66] Dalam kajian tentang wujud pikiran ini, ditegaskan tentang kesatuan kuiditas objek pikiran dan objek eksternal dimana hal ini sangat ampuh menyelesaikan persoalan rumit mengenai kesesuaian ilmu manusia dengan objek-objek eksternal. Mulla Sadra dalam hal ini, berupaya menganalisa secara teliti dan cermat persoalan tersebut dan memberikan solusi secara akurat, komprehensif, dan sempurna sedemikian sehingga tak menyisakan lagi hal yang perlu dibahas. Ia mengajukan metode baru dalam menyelesaikan persoalan tersebut dan sekaligus menyempurnakan argumentasi dan burhan yang dikonstruksi oleh Syaikh Isyraq. Ia berkata, "Ketika kita meraih suatu ilmu, maka sesuatu telah hadir dalam jiwa kita dimana hal itu tidak ada sebelumnya. Dan terdapat pengaruh yang berbeda antara kehadiran sesuatu tertentu dan kehadiran sesuatu yang lain dalam jiwa. Oleh sebab itu, pengaruh kehadiran sesuatu tertentu tidak lain karena kesesuaiannya dengan objek eksternalnya.[67]

9. Al-Hajj Mulla Hadi al-Sabzawari (1212-1277 H)
Gagasannya mengenai pembagian ilmu, tentang aksioma yang merupakan pijakan utama bagi ilmu-ilmu lain serta kajian mengenai wujud pikiran tidak berbeda dengan perspektif Mulla Sadra. Namun, dalam pembahasan tentang philosophical and logical secondary intelligibles, ia menjelaskannya secara khusus:
1. Konsep-konsep kuiditas adalah suatu sifat khusus bagi objek-objek eksternal dan juga diatributkan kepada subyeknya di alam eksternal. Masing-masing konsep itu mempunyai objek abstrasi tersendiri[68]
2. Konsep-konsep filosofis adalah suatu sifat khusus bagi objek-objek di alam eksternal, akan tetapi, dipredikasikan pada subyeknya di alam pikiran. Di alam luar tidak akan ditemukan dua realitas yang berbeda, jadi perbedaan itu hanya ada di alam pikiran. Kedua konsep yang berbeda terabstraksi pada satu objek eksternal.[69]
3. Konsep-konsep logikal adalah kebalikan dari konsep-konsep kuiditas yakni suatu sifat khusus bagi perkara-perkara di alam pikiran (subjektivitas) dan dipredikasikan kepada subyeknya juga di alam pikiran. Konsep ini tidak berhubungan dengan maujud-maujud alam eksternal (objektivitas) dan tidak menyatu dengannya serta tidak terabstraksi dari objek-objek luar. Konsep-konsep ini adalah sifat-sifat dan karakteristik-karakteristik bagi perkara-perkara pikiran semata.[70]

Ia juga beranggapan bahwa pengetahuan hakiki itu adalah suatu kebenaran yang sesuai dengan objek-objek eksternalnya dan kebenaran setiap proposisi itu berbanding lurus dengan proposisi itu sendiri, yakni hakikat setiap sesuatu berdasarkan asumsi yang terdapat dalam proposisi itu, terkadang asumsinya ialah ketiadaan, terkadang keberadaan, terkadang memiliki objek abstraksi di luar, atau memiliki bentuk-bentuk eksistensi yang lain.[71] Gagasannya ini merupakan poin penting dalam pembahasan epistemologi.

10. Muhammad Husain Thabathabai (1281-1360 H)
Ia adalah filosof Islam pertama yang meletakkan epistemologi sebagai disiplin ilmu baru. Segala keraguan dan kritikan yang di alamatkan kepada epistemologi, ia kaji secara cermat dan berupaya mencarikan jawabannya yang akurat serta membahas poin-poin penting epistemologi. Ia sepakat dengan filosof-filosof sebelumnya yang menempatkan penalaran akal dan pengamatan indriawi sebagai alat dan sumber pengetahuan, begitu pula, ia menerima pembagian ilmu menjadi hushûlî dan hudhûrî.
Yang sangat menarik dalam kajian-kajian epistemologinya adalah bahwa ia bersandar pada ilmu hushûlî dan mengembalikan semua ilmu hushûlî itu kepada ilmu hudhûrî. Ia menganggap bahwa hakikat ilmu adalah penyingkapan (kâsyifiyyah). Esensi ilmu adalah penyingkapan, penyibakan, dan penampakan objek eksternal.[72] Dikarenakan ilmu hudhûrî itu tidak memiliki penghubung antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui, maka diyakini tidak memiliki kesalahan dan kekeliruan. Dengan kata lain, ilmu hudhûrî secara langsung menangkap objek-objek eksternal.[73]
Menurutnya, indra lahir dan batin itu merupakan alat dan sumber pengetahuan manusia dan segala ilmu hushûlî itu dicapai lewat indra batiniah atau konsep-konsep pikiran, yakni konsep-konsep itu ia anggap bersumber dari indra batinyang mencerap apa-apa yang dihasilkan oleh indra lahir seperti mendengar, melihat, dan mencium. Ia memandang bahwa perbuatan melihat itu misalnya merupakan pengkondisian untuk hadirnya reaksi fakultas penglihatan (al-quwwah al-bâshirah)[74] dan kita mendapatkan gambaran-gambaran objek eksternal itu dari reaksi fakultas jiwa, bukan dari penglihatan langsung mata terhadap objek luar itu. Penglihatan mata itu akan menghasilkan reaksi khusus fakultas jiwa dan segala gambaran dan konsep pikiran yang dicerap dari fakultas tersebut pada dasarnya adalah pengetahuan esensial (ma'lum bidz- dzat, essential known).[75] Dari hal ini, menurutnya, objek-objek eksternal pada hakikatnya adalah pengetahuan aksidental (ma'lum bil 'aradh, accidental known) bagi manusia.
Poin penting lain dari gagasan-gagasannya yang tidak dipaparkan oleh para filosof sebelumnya adalah masalah sumber abstraksi konsep-konsep filosofis seperti konsep sebab, akibat, substansi, aksiden, wujud, tiada, dan lain-lain. Ia menganggap bahwa konsep-konsep tersebut bersumber dari ilmu hudhûrî. Pada prinsipnya, perspektif seperti ini sekaligus merupakan jawaban atas keraguan David Hume dan Immanuel Kant yang menolak konsep-konsep seperti sebab, akibat, dan sejenisnya dan menganggap segala konsep seperti itu adalah buatan pikiran semata, hal ini karena, menurutnya, konsep-konsep seperi itu tidak bisa dicerap langsung oleh indra lahir. Namun, menurut Thabathabai, tidaklah demikian bahwa apabila suatu konsep yang tidak bisa dicerap oleh indra lahir lantas dikategorikan sebagai konsep-konsep non-hakiki, tidak riil, buatan pikiran, dan khayalan semata.[76]
Ia pun sama dengan beberapa para filosof Islam sebelumnya yang memandang hal-hal gamblang dan aksioma itu sebagai awal ilmu yang melandasi pengetahuan-pengetahuan selanjutnya. Dalam hal yang berhubungan dengan keraguan, kritikan, dan pemikiran kaum Skeptis, jawaban ia atasnya senada dengan Syaikh Isyraq.[77]

11. Syahid Murtadha Muthahhari ( 1298-1358 H)
Ia adalah murid utama Allamah Thabathabai dan menulis tafsir atas karya gurunya sendiri, Ushul-e Falsafeh wa Realism. Ia dianugerahi kesyahidan oleh Sang Maha Pencipta, Tuhan, di awal-awal kemenangan revolusi Islam Iran yang dimotori oleh Ayatullah Ruhullah Khomeni, pemimpin spiritual mazhab Syiah saat itu.
Mengenai ilmu, ia beranggapan bahwa ilmu itu merupakan hasil dari pendefinisian sesuatu[78] dan membagi ilmu itu menjadi indriawi, imajinasi, dan rasional.[79] Indra juga berperan sebagai sumber ilmu, namun tak mencukupi dan dibutuhkan suatu fakultas lain yang berfungsi sebagai analisator, pengurai, dan penyusun memori yang disebut dengan fakultas akal dan rasional.[80]
Menurutnya, aksioma-aksioma itu merupakan basis awal segala pengetahuan dan juga yakin bahwa pembenaran (tashdiq) mesti berpijak pada rasionalitas. Apabila dalam "pembenaran" itu bersandar kepada indra lahir, maka niscaya akan berujung kepada Skeptisisme, karena dalam kondisi itu, aksioma-aksioma tidaklah bermakna dan semua pengetahuan teoritis tidak akan memiliki pijakan.[81] Dalam pandangannnya, konsep-konsep seperti sebab dan akibat itu berasal dari hubungan antara jiwa dan iradah. Idenya ini sebenarnya merupakan jawaban keraguan dan kritikan David Hume dan Immanuel Kant serta ia juga tidak menerima bahwa konsep-konsep itu dikatakan buatan pikiran manusia semata.[82]
Muthahhari berkeyakinan bahwa validitas argumentasi akal merupakan hal yang gamblang dan tidak butuh pada pembuktian rasional lagi. Ia sependapat dengan gurunya dalam subyek wujud pikiran dimana menekankan "kesesuaian pengetahuan rasional" dengan objek-objek eksternalnya, karena kalau tak demikian halnya akan terperangkap dalam lembah Skeptisisme, tertutup ruang pengkajian filsafat, dan mustahil meraih satu pun pengetahuan.[83]



________________________________________
[1] . Descartes,Taammulât, hal. 4-5.
[2] . Descartes adalah seorang matematikawan yang berupaya membangun filsafat sebagaimana konstruksi matematika, oleh karena itu, ia memulainya dengan suatu keraguan mutlak dan melanjutkannya dengan metode matematika. Dengan ini, terbentuklah suatu filsafat baru. Ia memulai dengan langkah seorang Skeptis dan keluar dari keraguan sebagaimana yang dilakukan oleh Augustine.
[3] . Metode ideal yang ditawarkan oleh Descartes untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, antara lain:
1. Setiap persoalan sebisa mungkin dianalisa dan dibagi dalam bagian-bagian yang terkecil;
2. Hanya menerima suatu hakikat yang gamblang dan badihi;
3. Mengatur semua pemikiran kita sendiri dan menggabungkan hal-hal yang paling sederhana;
4. Dalam proses pengaturan pemikiran ini, jangan sampai ada yang terlewatkan.
Muhammad Ali Furughi, Seir-e Hikmat dar Eropa, hal. 167-172.
[4] . Rene Descartes,Taammulât, hal. 35-48.
[5] . Bentuk keraguan Descartes bisa dijabarkan sebagai berikut:
1. Panca indra manusia sangat rentan tertipu;
2. Untuk hal-hal yang sangat jauh dan paling kecil, sangat mungkin panca indra tertipu, tetapi tidak ada keraguan untuk hal-hal yang dekat seperti tangan, badan, dan kaki;
3. Bisa jadi semua yang dialami ini terjadi dalam kondisi tidur;
4. Kita bisa meragukan semuanya, namun kita tidak bisa meragukan matematika;
5. Adalah sangat logis apabila kita meragukan segala sesuatu.
[6] . Ibid, hal. 46-47.
[7] . Ibid, hal. 51-53.
[8] . Ibid, hal, 124-125.
[9] . Muhammad Ali Furughi, Seir-e Hikmat dar Eropa, hal. 36-38.
[10] . Ibid, hal. 102-106.
[11] . Buzurg Mehr, Falosefe-ye Tajribi Ingleston, hal. 18.
[12] . Ibid, hal. 32.
[13] . Ibid, hal. 26.
[14] . Ibid, hal. 28.
[15] . Ibid, hal. 65.
[16] . Ibid, hal. 90-94.
[17] . Ibid, hal. 55 dan 56.
[18] . George Berkeley, Risalah dar 'Ilm-e Insani, hal. 12.
[19] . Ibid, hal. 22-24.
[20] . Ibid, hal. 31-38.
[21] . David Hume, Tahqiq dabore-ye fahm-e basyar, hal. 123.
[22] . Ibid, hal. 134-137.
[23] . Ibid, hal. 151-152.
[24] . Ibid, hal. 169-174.
[25] . Frederick Copleston, Filusufon-e Inggliston, hal. 290-291.
[26] . Ibid, hal. 310-313.
[27] . Ibid, hal. 316-321.
[28] . Hisam Muhiddin, Falsafatul Kindi, , hal. 30-46. Dan Muhammad Syarif, Tarikh Falsafe dar Islam, , jilid 1, 6, 8.
[29] . Al-Farabi, al-Jam'u baina Ra'yi al-Hakimain, hal. 98-99.
[30] . Al-Farabi, at-tanabbuh 'ala Sabili as-Sa'adah, hal. 80-82
[31] . Ibnu Sina, al-Isyarat wa at-Tanbihat, jilid kedua, hal. 308.
[32] . Ibid, jilid pertama, hal. 214-215. Dan jilid kedua, hal. 321. Burhan syifa, hal. 220-223.
[33] . Ibnu Sina, asy-syifa, Tabi'iyyat, Nafs, hal. 184-185.
[34] . Ibnu Sina, asy-syifa, Mantiq, Burhan, hal 63. Dan Ta'liqat, hal. 79. An-Najah, hal. 64. Mubahetsat, hal. 20. Al-Isyarat wa at-Tanbihat, hal. 212-215.
[35] . Ibnu Sina, Ta'liqat, hal. 148-161.
[36] . Al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalâl, hal. 12-15.
[37] . Ibid, Mihakk an-Nazhar, hal. 90-98.
[38] . Ibid, Mizânul 'Amal, hal13.
[39] . Ibid, Mi'yâr al-Ilm, hal. 66-67.
[40] . Fakhruddin Razi, al-Muhashshal, hal. 84.
[41] . Adalah gambaran pikiran dan perasaan internal tentang sesuatu. Misalnya gambaran pohon yang hadir dalam pikiran kita. Jadi, "yang diketahui secara esensial" itu adalah gambaran pohon yang ada di alam pikiran dan bukan pohon hakiki yang ada di alam eksternal.
[42] . Ibid, al-Mubâhats al-Misyriqiyyah, jilid pertama, hal. 41, 100, 103, 320, 331.
[43] . Ibid, jilid kedua, hal. 350-352.
[44] . Metode rasional menangkap objek secara tidak langsung , yakni penangkapan objek melalui penarikan kesimpulan dari premis-premis yang telah diketahui sebelumnya.
[45] . Berbeda dengan metode rasional, metode intuitif menangkap objek secara langsung atau immediate, namun objek-objek intuisi bersifat lebih abstrak, seperti rasa cinta, benci, kecewa, dan bahagia. Metode observasi (yang berkaitan dengan pengamatan indriawi), pada satu sisi, sama dengan metode intuitif, yakni sama-sama menangkap objeknya secara langsung, namun, objek-objek observasi itu berhubungan dengan objek-objek fisik.
[46] . Syaikh Isyraq, Majmue-ye Mushannafât, jilid pertama, hal. 70-74.
[47] . Ibid, hal. 1, 68, 72, dan 484-487. Dan jilid kedua, hal. 2, 3.
[48] . Pemikiran kaum Skeptis adalah meragukan segala sesuatu atau tidak meyakini setiap hal.
[49] . Yakni mustahil orang menganut sesuatu yang diragukannya, apalagi berdasarkan keraguan atas sesuatu itu, ia menolak dan bahkan menjungkir balikkan pemikiran-pemikiran yang lain.
[50] . Ibid, jlid pertama, hal. 211-212.
[51] . Ibid, jilid kedua, hal. 18
[52] . Ibid, jilid pertama, hal. 133-134. Jilid kedua, hal. 15. Jilid ketiga, hal. 2-3.
[53] . Ibid, jilid kedua, hal. 15 dan jilid ketiga, hal. 2-3.
[54] . Syaikh Thusi, Tajrid al-Mantiq, hal. 10-53. Asâs al-Iqtibâs, hal. 17-345. Talkhish al-Muhashshal, hal. 14 dan 15.
[55] . Seperti, universal lebih besar daripada partikularnya sendiri, kemustahilan penyatuan hal-hal yang saling berlawanan.
[56] . Ibid, Tajrid al-Mantiq, hal. 53.
[57] . Mulla Sadra, Asfar, jilid ketiga, hal. 278.
[58] . Ibid, Mafâtih al-Ghaib, hal. 108-110.
[59] . Ibid, Tafsir Mulla Sadra, jilid keenam, hal. 282. Mafâtih al-Ghaib, hal. 140.
[60] . Ibid, asy-Syawahid ar-Rububiyyah, hal. 142. Dan Matiq Nuwin, hal. 25.
[61] . Ibid, Asfar, jilid pertama, hal. 207-208. Mafatih al-Ghaib, hal. 140.
[62] . Ibid, al-Mabda wa al-Ma'âd, hal 484. Kasr al-Ashnâm al-Jahiliyyah, hal. 10.
[63] . Ibid, Asfar, jilid pertama, hal. 332, 333.
[64] . Ibid, hal. 335, 338, dan 339.
[65] . Dalam filsafat Islam, salah satu pembagian lain wujud adalah wujud dibagi menjadi wujud di alam pkiran dan wujud di luar pikiran. Perwujudan kuiditas maujud-maujud eksternal di alam pikiran sebagaimana perwujudan hal itu di alam eksternal. Ini merupakan istilah umum mengenai wujud di alam pikiran (untuk penggunaan selanjutnya dalam makalah ini, akan kami singkat menjadi "wujud pikiran").
[66] . Lihat, Asfar, jilid pertama, hal. 76, 263, 327, dan jilid ketiga, hal. 280-309. Al- Masâil al-Quddusiyah, hal. 33-72. Mafâtih al-Ghaib, hal. 101, 102. Risalah at-Tashawwur wa at-Tashdiq, hal. 308. Syarh al-Hidayah, hal. 222.
[67] . Ibid, Risalah at-Tashawwur wa at-Tashdiq, hal. 308.
[68] . Suatu konsep yang memiliki objek luar, yakni di alam eksternal ia memiliki wujud khusus yang walaupun senantiasa bergantung kepada wujud lain, seperti "panas" atau "dingin" dimana masing-masing memiliki wujud tersendiri. Misalnya dikatakan, "panas benda", " panas" ini memiliki wujud khusus yang berbeda dengan benda itu sendiri dimana di alam luar " panas" ini dipredikasikan, diatributkan, dan diaksidenkan dengan benda sehingga membuat benda itu menjadi panas. Seluruh konsep-konsep kuiditas seperti itu, yakni menyatu dengan wujud yang lain dan diaksidenkan kepada subyeknya di alam eksternal.
[69] . Rujuk penjelasan rincinya pada makalah ini di catatan kaki no.14.
[70] . Adalah konsep-konsep yang hanya menjelaskan perkara-perkara pikiran dan tidak bisa dipredikasikan kepada objek-objek eksternal. Seperti konsep universal, partikular, dalil, proposisi, pendefinisi, dan konsep logikal lainnya. Misalnya, universalitas itu bukan sifat bagi satu maujud eksternal dari sisi keeksternalannya. Dengan kata lain, konsep ini hanya memiliki individu di alam pikiran dan tidak memiliki individu luar. Kuiditas manusia ketika hadir dalam pikiran, maka akan menjadi individu bagi konsep logikal universal dan tersifatkan dengan universalitas. Penyifatan ini tidak terjadi ketika berada di alam eksternal. Dengan demikian, konsep-konsep logikal merupakan sifat-sifat bagi konsep-konsep pikiran, bukan perkara eksternal. Ketika konsep ini adalah sifat bagi pikiran, maka predikasinya dengan subyeknya pun niscaya terjadi dalam pikiran.
[71] . Mulla Hadi Sabzawari, Syarh al-Manzumah, al-Ilahiyyat al-Khas, hal. 53
[72] . Muhammad Husain Thabathabai, Ushule Falsafeh wa Realism, hal. 41. Perlu diketahui bahwa kitab ini merupakan karya khusus almarhum yang membahas epistemologi.
[73] . Ibid, hal. 36, dan 37-60. Nihayah al-Hikmah, hal. 237, dan 259-260.
[74] . Salah satu dari fakultas dan indra batin.
[75] . Ibid, Burhan, 136,138, dan 140. Ushul-e Falsafeh wa realism, hal. 60.
[76] . Ibid, Ushul-e Falsafeh wa realism, hal. 67-171.
[77] .Ibid, Burhan, 136, 137, dan 138. Nihayah al-Hikmah, hal. 2-252. Tafsir al-Mizan, jilid kelima, hal. 254-271. Ushul-e Falsafeh wa Realism, hal. 11, 15, 46, 47, 68, 69, 79, 82, 101, 156, dan 164.
[78] . Yang dimaksud adalah ilmu hushûlî.
[79] . Murtadha Muthahhari, Osynôy-e bo 'Ulum-e Islam wa Mantiq, hal. 29. Masale-ye Syenôkh, hal. 98-109. Pôwaraqi Asfar, jilid pertama, hal. 45-55.
[80] . Ibid, Masale-ye Syenôkh, hal. 38-42.
[81] . Ibid, Powaraqi Ushul-e Falsafeh, jilid kedua, hal. 16. 17.
[82] . Ibid, hal. 62.
[83] . Ibid, jilid pertama, 255, 265, 259, 264, 266, 269, 270, 272- 274, 323, 325, 326, 328, 350.

http://www.wisdoms4all.com/Indonesia/doc/Pustaka/Seri%20Epistemologi/06.htm
Cakrawala
Cakrawala, 10/11/2005
Epistemologi; Pengantar Memasuki Ranah Filsafat
A. Kamil
الهی عارفان مگو يند عرفنی نفسک و این جاهل میگو ید عرفنی نفسی
"Tuhanku, para arif berkata kenalkan diriMu kepadaku, dan jahil ini berkata kenalkan diriku kepadaku."
Pandangan dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap kebenaran (asy-Syai fil khârij). Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar.Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titik-kulminasi peradaban dan sebaliknya, pandangan dunia yang lancung dan salah kaprah akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban.Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud anda ekuivalen dengan pengenalan Anda dan vice-versa.
Akan tetapi, bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla..bla... bla..?
Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia, sebagai makhluk dinamis dan progressive, manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan, tentang ada dan keberadaan, tentang perkara-perkara eksistensial. Penulusuran, penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. Till death do us apart, manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya.
Ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu naratif lainnya ternyata tidak mampu memberikan jawaban utuh dan komprehensif atas masalah ini. [1] Karena uslub atau metodologi ilmu-ilmu di atas adalah bercorak empirikal. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir untuk mencoba memberikan jawaban atas masalah ini. Karena baik dari sisi metodologi atau pun subjek keilmuan, filsafat menggunakan metodologi rasional dan subjek ilmu filsafat adalah eksisten qua eksisten.[2] Betapa pun, sebelum memasuki gerbang filsafat terlebih dahulu instrument yang digunakan dalam berfilsafat harus disepakati. Dengan kata lain, akal yang digunakan sebagai instrument berfilsafat harus diuji dulu validitasnya, apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. Betapa tidak, dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. Dengan demikian, pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. Yakni, sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. Dan ini adalah raison d'être pembahasan epistemologi.Atau sederhananya, pembahasan epistemologi adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. Tentu saja, harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin.[3] Pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat, harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat.

Apa Itu Epistemologi
Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, teori. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (objek).Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” macam yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak.

Masalah-masalah Filosofis Yunani dan Masa Medieval
Pada abad ke-13, seorang filosof dan teolog Itali yang bernama Santo Thomas Aquinas berupaya mensintesakan keyakinan Nasrani dengan ilmu pengetahuan dalam cakupan yang lebih luas, dengan memanfaatkan sumber-sumber beragam seperti karya-karya filosof Aristoteles, cendekiawan Muslim dan Yahudi. Pemikiran Santo Thomas Aquinas pada masa-masa kiwari sangat mempengaruhi irama dinamika teologi Nasrani dan kosmos filsafat Barat.
Pada abad ke-5 SM, Sophist Yunani menanyakan kemungkinan reliabilitas dan objektivitas ilmu. Oleh karena itu, seorang Sophist prominen, Gorgias, berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar wujud, karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui, dan jika ilmu bersifat nisbi, tidak dapat dikomunikasikan. Seorang Sophist ternama lainnya, Protagoras, berpandangan bahwa tidak ada satu pendapat pun yang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain, karena setiap pendapat adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang dilaluinya. Plato, mengikuti ustadznya Socrates, mencoba untuk menjawab isykalan-isyakalan para Sophist dengan mempostulasikan keberadaan semesta yang bersifat tetap dan bentuk-bentuknya yang invisible, atau ide-ide, yang melaluinya ilmu pasti dan eksak dapat diraih. Mereka percaya bahwa benda-benda yang dilihat dan diraba adalah kopian-kopian yang tidak sempurna dari bentuk-bentuk yang sempurna yang dikaji dalam ilmu matematika dan filsafat.Dengan demikian, hanya penalaran abstrak dari disiplin ilmu ini yang dapat menuai ilmu pengetahuan original, sementara mengandalkan indra-persepsi menghasilkan pendapat-pendapat yang inkonsisten dan mubham. Mereka menyimpulkan bahwa kontemplasi filosofis tentang bentuk-bentuk dunia gaib merupakan tujuan tertinggi kehidupan manusia.
Aristoteles mengikuti Plato ihwal ilmu abstrak adalah ilmu yang lebih superior atas ilmu-ilmu yang lainnya, namun tidak setuju dengan metode dalam mencapainya. Aristotels berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari pengalaman.Ilmu diraih baik secara langsung, dengan mengabstraksikan ciri-ciri khusus dari setiap spesies, atau tidak langsung, dengan mendeduksi kenyataan-kenyataan baru dari apa yang telah diketahui, berdasarkan aturan-aturan logika. Observasi yang teliti dan ketat dalam mengaplikasikan aturan-aturan logika, yang pertama kalinya disusun secara sistematis oleh Aristoteles, akan membantu menjaga dari perangkap-perangkap yang dipasang oleh para Sophist. Maktab Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari indra-persepsi, tetapi menentang keduanya baik Aristoteles atau pun Plato yang berpandangan bahwa filsafat harus dinilai sebagai sebuah bimbingan praktis untuk menjalani hidup, mereka berpendapat sebaliknya bahwa filsafat adalah akhir dari kehidupan.
Setelah beberapa kurun berlalu kurangnya ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik, filosof Skolastik Santo Thomas Aquinas dan beberapa filosof abad pertengahan berusaha membantu untuk mengembalikan konfidensi terhadap rasio dan pengalaman, mencampur metode-metode rasional dengan iman dalam sebuah system keyakinan integral. Aquinas mengikuti Aristoteles dalam masalah tentang persepsi sebagai starting-point dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai kepada ilmu yang dapat diandalkan (reliable) tentang tabiat, tetapi memandang iman dalam otoritas skriptual sebagai sumber keyakinan agama.
Masa Plato dan Aristoteles
Plato dapat dikatakan sebagai filsuf pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat, meskipun ia belum menggunakan secara resmi istilah epistemology ini. Filsuf Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles.Ia adalah murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia.
Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles lebih jelas dan ringkas kalau dilakukan dengan cara membandingkan keduanya, sebagaimana tertuang pada table di bawah ini.
Table komparasi epistemology Plato dan Aristoteles.
Topik Pemikiran Plato Aristoteles
Pandangan tentang dunia Ada 2 dunia: dunia ide & dunia sekarang (semu) Hanya 1 dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani
Kenyataan yang sejati Ide-ide yang berasal dari dunia ide Segala sesuatu yang di alam yang dapat ditangkap indra
Pandangan tentang manusia Terdiri dari badan dan jiwa. Jiwa abadi; badan fana (tidak abadi).
Jiwa terpenjara badan. Badan dan jiwa sebagai satu kesatuan tak terpisahkan.
Asal pengetahuan Dunia ide. Namun tertanam dalam jiwa yang ada dalam diri manusia. Kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata
Cara mendapatkan pengetahuan Mengeluarkan dari dalam diri (Anamnesis) dengan metoda bidan Observasi dan abstraksi, diolah dengan logika















Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filsuf modern. Idealisme Plato mempengaruhi filsuf-filsuf Rasionalis seperti Spinoza, Leibniz, dan Whitehead. Sedangkan pandangan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan mempengaruhi filsu-filsuf Empiris seperti Locke, Hume, dan Berkeley.

Rasio Vs Indra Persepsi
Antara abad 17 hingga akhir abad ke-19, masalah utama yang muncul dalam pembahasan epistemologi adalah resistensi antara kubu rasionalis vis-à-vis kubu empiris (indriawi-persepsi). Filsuf Francis, René Descartes (1596-1650), filsuf Belanda, Baruch Spinoza (1632-1677), dan filsuf Jerman, Wilhelm Leibniz (1646-1716) adalah para pemimpin kubu rasionalis. Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah logika deduktif (baca: qiyas) yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti (badihi) atau axioma-axioma. Sementara orang-orang seperti, Francis Bacon ( 1561-1626) and John Locke (1632-1704) keduanya adalah filsuf Inggris berkeyakinan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah bersandar kepada pengalaman, persepsi dan indriawi.
Filsuf Francis René Descartes secara rigoris menggunakan metode deduksi dalam jelajah filsafatnya. Barangkali Descartes ini dikenal baik atas karya pionirnya untuk bersikap skeptis dalam berfilsafat. Dialah yang pertama kali memperkenalkan metode sangsi dalam investigasi terhadap ilmu pengetahuan.
Descartes yang kerap disebut sebagai Bapak Filsafat Modern (sekaligus filsafatnya kemudian dikenal sebagai Cartesians) ini dalam mengusung metode rasionalnya, dia menggunakan metode sangsi dalam menyikapi pelbagai fenomena atau untuk mencerap ilmu pengetahuan. Postulat, Cogito Ergo Sum adalah milik Descartes. Rumusan postulat ini yang menemaninya untuk menyingkap ilmu pengetahuan. Menurut Descartes segala sesuatu yang berada di dunia luar harus disangsikan dan diragukan.
Pandangan Descartes tentang manusia sering disebut sebagai dualistis. Ia melihat manusia sebagai dua substansi: jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Tubuh tidak lain adalah suatu mesin yang dijalankan jiwa. Hal ini dipengaruhi oleh epistemologinya yang memandang rasio sebagai hal yang paling utama pada manusia.
Empirisme pertama kali diperkenalkan oleh filsuf dan negarawan Inggris Francis Bacon pada awal-awal abad ke-17, akan tetapi John Locke yang kemudian mendesignnya secara sistemik yang dituangkan dalam bukunya "Essay Concerning Human Understanding (1690). John Locke memandang bahwa nalar seseorang pada waktu lahirnya adalah ibarat sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis kosong tanpa isi, tanpa pengetahuan apapun. Lingkungan dan pengalamanlah yang menjadikannya berisi. Pengalaman indrawi menjadi sumber pengetahuan bagi manusia dan cara mendapatkannya tentu saja lewat observasi serta pemanfaatan seluruh indra manusia. John Locke adalah orang yang tidak percaya terhadap konsepsi intuisi dan batin. Filsuf empirisme lainnya adalah Hume. Ia memandang manusia sebagai sekumpulan persepsi (“a bundle or collection of perceptions”). Manusia hanya mampu menangkap kesan-kesan saja lalu menyimpulkan kesan-kesan itu seolah-olah berhubungan. Pada kenyataannya, menurut Hume, manusia tidak mampu menangkap suatu substansi. Apa yang dianggap substansi oleh manusia hanyalah kepercayaan saja. Begitu pula dalam menangkap hubungan sebab-akibat. Manusia cenderung menganggap dua kejadian sebagai sebab dan akibat hanya karena menyangka kejadian-kejadian itu ada kaitannya, padahal kenyataannya tidak demikian. Selain itu, Hume menolak ide bahwa manusia memiliki kedirian (self). Apa yang dianggap sebagai diri oleh manusia merupakan kumpulan persepsi saja.[bersambung]


________________________________________
[1] . Silahkan rujuk آmuzesy-e Falsafeh, Ustadz Ayatullah Agâ Misbâh Yazdi, jilid 1, hal. 91, Syarkat-e Câp-e wa Nasyr-e Bainal Milal Sazemân-e Tablighati Islâmi, Qum.
[2] . Idem.,
[3] . Ma'rifat Syinâsi dar Qur'ân, Ustadz Ayatullah Agâ Jawâdi آmuli, hal. 22, Markaz-e Nasyr Isra', Qum
http://www.telagahikmah.org/main/cakrawala/004-1.htm
Dec2007
Robert Marbun
My Web Identity
• Home
• About
• Handouts

KETERBATASAN EMPIRISME DALAM METODE ILMIAH
7Dec2007 Filed under Bebas, Econometrics


Filed under Bebas, Econometrics
Oleh: Sangle Yohannes Randa (P04600002/PTK)
BAB I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia tercatat bahwa untuk mendapatkan kebenaran, baik kebenaran yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya, manusia senantiasa mempergunakan seluruh keberadaanya secara utuh dan menyeluruh. Dengan cara seperti itu telah memungkinkan dihasilkannya berbagai macam metode sebagai suatu sarana atau instrumen bagi manusia dalam mendapatkan kebenaran. Dari sekian metode yang ada untuk memperoleh kebenaran, metode ilmiah merupakan salah satu metode yang besar sekali pengaruhnya dalam kehidupan manusia. Metode ilmiah ini pada prinsipnya adalah hasil pengembangan dari penerapan dua paham berpikir filosofis, yakni paham rasionalisme dan empirisme (Suriasumantri, 1996; Beerling et al., 1997).
Namun demikian apabila dengan cermat kita memperhatikan perjalanan sejarah perkembangan kedua aliran itu, rasionalisme dan empirisme, keduanya tidak terlepas dari berbagai kritik. Hal ini menunjukkan bahwa baik rasionalisme maupun empirisme mengandung titik-titik lemah yang dapat kita anggap sebagai keterbatasan dari kedua aliran filsafat tersebut.
b. Penetapan Masalah, Tujuan dan Hipotesis
Alasan pengkajian terhadap empirisme adalah karena kedudukannya yang sangat penting dalam metode ilmiah. Dalam studi-studi ilmiah yang dilakukan dengan teknik eksperimentasi, penggunaan metode empiris sangatlah menonjol dan memberi pengaruh yang kuat. Hasil penarikan kesimpulan sebagai salah satu bentuk kebenaran yang diperoleh dengan kajian ilmiah, sangat besar ditentukan oleh pemikiran empiris. Tidak jarang penarikan kesimpulan yang diambil dari suatu penelitian ilmiah mempunyai nilai kebenaran yang rendah, oleh karena hanya kesalahan dalam penggunaan metode empirisnya. Sebab itu kritik atau telaahan terhadap kelemahan dalam metode empiris dimaksudkan untuk membangun kewaspadaan bagi para ilmuwan dalam menggunakan metode ilmiah.
Atas dasar itulah makalah ini mencoba mengungkapkan dan menganalisis fakta-fakta apa saja dalam empirisme yang menjadi titik lemah atau keterbatasan metode tersebut dan mengapa hal-hal itu dapat terjadi. Selain itu, makalah ini memberikan beberapa solusi alternatif guna mencoba menjawab persoalan tersebut, sehingga paling tidak keterbatasan empirisme dapat diminimalisasi.
Dari permasalahan segaimana telah diajukan, hipotesis yang dirumuskan adalah bahwa keterbatasan empirisme dalam metode ilmiah dapat dikendalikan sehingga tidak menyebabkan terjadinya penarikan kesimpulan ilmiah yang salah secara signifikan. Hipotesis lain yang bisa juga dikemukakan adalah bahwa keterbatasan empirisme sesungguhnya merupakan suatu peluang untuk menimbulkan keraguan terhadap kesimpulan ilmiah sehingga memungkinkan dikembangkannya lagi suatu pengkajian ulang terhadap kebenaran ilmiah tersebut.
BAB II. PENGERTIAN DAN TINJAUAN HISTORIS
Sebagai suatu paham atau aliran dalam filsafat, empirisme menekankan pengalaman sebagai sumber utama untuk mendapatkan pengetahuan. Istilah empirisme berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Dalam penafsiran lain dikatakan bahwa kata empeiria itu terbentuk dari en - di dalam; dan peira - suatu percobaan. Jadi artinya suatu cara menemukan pengetahuan berdasarkan pengamatan dan percobaan.
Pemikiran empirisme lahir sebagai suatu sanggahan terhadap aliran filsafat rasionalisme yang mengutamakan akal sebagai sumber pengetahuan. Untuk lebih memahami filsafat empirisme kita perlu terlebih dahulu melihat dua ciri pendekatan empirisme, yaitu: pendekatan makna dan pendekatan pengetahuan. Pendekatan makna menekankan pada pengalaman; sedangkan, pendekatan pengetahuan menekankan pada kebenaran yang diperoleh melalui pengamatan (observasi), atau yang diberi istilah dengan kebenaran a posteriori.
Para tokoh filsafat mengembangkan pemikiran empiris karena mereka tidak puas dengan cara mendapatkan pengetahuan sebagaimana dipercayai oleh aliran rasionalisme. Orang-orang rasionalisme dalam mencari kebenaran sangat menjunjung tinggi penalaran atau yang disebut dengan cara berpikir deduksi, yaitu pembuktian dengan menggunakan logika. Sebaliknya, bagi John Locke, berpikir deduksi relatif lebih rendah kedudukannya apabila dibandingkan dengan pengalaman indera dalam pengembangan pengetahuan. Locke sangat menentang pendapat mazhab rasionalisme yang menyatakan bahwa pengetahuan seseorang sudah dibawa sejak lahir. Menurut Locke, pikiran manusia ketika lahir hanyalah berupa suatu lembaran bersih (tabula rasa), yang padanya pengetahuan dapat ditulis melalui pengalaman-pengalaman inderawi (McCleary, 1998). Lebih lanjut ia berpendapat bahwa semua fenomena dari pikiran kita yang disebut ide berasal dari pengamatan atau refleksi. Inilah tesis dasar dari empirisme. Dengan tesis inilah, Locke mempergunakannya sebagai titik tolak dalam ia menjelaskan perkembangan pikiran manusia (Brower dan Heryadi, 1986).
Selain John Locke, Bacon juga berkesimpulan bahwa logika hanyalah membawa kerugian daripada keuntungan. Sebab bagi Bacon, penalaran hanya berupa putusan-putusan yang terdiri dari kata-kata yang menyatakan pengertian tertentu. Sehingga bilamana pengertian itu kurang jelas maka hanyalah dihasilkan suatu abstraksi yang tidak mungkin bagi kita untuk membangun pengetahuan di atasnya (Verhaak dan Imam, 1997).
Bacon beranggapan bahwa untuk mendapatkan kebenaran maka akal budi bertitik pangkal pada pengamatan inderawi yang khusus lalu berkembang kepada kesimpulan umum. Pemikiran Bacon yang demikian ini, kemudian melahirkan metode berpikir induksi.
BAB III. KEDUDUKAN EMPIRISME DALAM METODE ILMIAH
Sistematika dalam metode ilmiah sesungguhnya merupakan manifestasi dari alur berpikir yang dipergunakan untuk menganalisis suatu permasalahan. Alur berpikir dalam metode ilmiah memberi pedoman kepada para ilmuwan dalam memecahkan persoalan menurut integritas berpikir deduksi dan induksi.
Pola berpikir yang dikembangkan dalam metode ilmiah memperlihatkan dengan jelas peran penting empirisme yang menakankan pembuatan kesimpulan secara induksi. Empirisme berfungsi untuk menguji hasil penalaran terhadap permasalahan yang dibangun atas dasar deduksi. Penalaran yang dilakukan dengan mengkaji teori-teori dalam memahami permasalahan fakta hanya bisa sampai pada perumusan hipotesis. Penalaran hanya memberi jawaban sementara, bukan kesimpulan akhir.
Oleh sebab itu agar sampai kepada kesimpulan akhir, empirisme diperlukan untuk menguji berbagai kemungkinan jawaban dalam hipotesis. Untuk menguji jawaban-jawaban yang ada, ilmuwan harus masuk ke alam nyata. Fakta-fakta atau bukti-bukti yang relevan dengan obyek permasalahan harus dikumpulkan, disusun dan dianalisis. Di sinilah tugas empirisme.
Namun demikian peranan empirisme bukan saja hanya berkaitan dengan tugas pencarian bukti-bukti atau yang lebih dikenal dengan pengumpulan data. Tetapi, sejak awal pengkajian masalah sebenarnya kerja empirisme sudah terlibat. Pengalaman-pengalaman ilmuwan yang berkaitan dengan obyek permasalahan sudah diperlukan dalam memberi analisis terhadap fakta permasalahan. Mekanisme ini merupakan sisi lain dari empirisme dalam metode ilmiah. Jadi empirisme tidak saja hanya diperlukan dalam pengumpulan data, tetapi sudah dimulai sejak awal perumusan masalah (Suriasumantri, 1996).
BAB IV. FAKTOR PEMBATAS EMPIRISME
Keterbatasan empirisme dalam perannya menyumbangkan pengetahuan melalui metode ilmiah dianalisis dari kritik-kritik yang diberikan terhadapnya. Kritik terhadap empirisme yang diungkapkan oleh Honer dan Hunt (1968) dalam Suriasumantri (1994) terdiri atas tiga bagian. Pertama, pengalaman yang merupakan dasar utama empirisme seringkali tidak berhubungan langsung dengan kenyataan obyektif. Pengalaman ternyata bukan semata-mata sebagai tangkapan pancaindera saja. Sebab seringkali pengalaman itu muncul yang disertai dengan penilaian. Dengan kajian yang mendalam dan kritis diperoleh bahwa konsep pengalaman merupakan pengertian yang tidak tegas untuk dijadikan sebagai dasar dalam membangun suatu teori pengetahuan yang sistematis. Disamping itu pula, tidak jarang ditemukan bahwa hubungan berbagai fakta tidak seperti apa yang diduga sebelumnya.
Kedua, dalam mendapatkan fakta dan pengalaman pada alam nyata, manusia sangat bergantung pada persepsi pancaindera. Pegangan empirisme yang demikian menimbulkan bentuk kelemahan lain. Pancaindera manusia memiliki keterbatasan. Sehingga dengan keterbatasan pancaindera, persepsi suatu obyek yang ditangkap dapat saja keliru dan menyesatkan.
Ketiga, di dalam empirisme pada prinsipnya pengetahuan yang diperoleh bersifat tidak pasti. Prinsip ini sekalipun merupakan kelemahan, tapi sengaja dikembangkan dalam empirisme untuk memberikan sifat kritis ketika membangun sebuah pengetahuan ilmiah. Semua fakta yang diperlukan untuk menjawab keragu-raguan harus diuji terlebih dahulu.
Dewey menyebutkan bahwa hal yang paling buruk dari metode empiris adalah pengaruhnya terhadap sikap mental manusia. Beberapa bentuk mental negatif yang dapat ditimbulkan oleh metode empiris antara lain: sikap kemalasan dan konservatif yang salah. Sikap mental seperti ini menurutnya, lebih berbahaya daripada sekedar memberi kesimpulan yang salah. Sebagai contoh dikatakan bahwa apabila ada suatu penarikan kesimpulan yang dibuat berdasarkan pengalaman masa lalu menyimpang dari kebiasaan, maka kesimpulan tersebut akan sangat diremehkan. Sebaliknya, apabila ada penegasan yang berhasil, maka akan sangat dibesar-besarkan.
Terhadap empirisme Immanuel Kant juga memberi kritiknya bahwa meskipun empirisme menolak pengetahuan yang berasal dari rasio, tetapi pengalaman dan persepsi yang merupakan dasar kebenaran dalam empirisme tidak dapat memberi suatu pengetahuan yang kebenarannya adalah universal dan bernilai penting.
Kritik lain yang juga diungkapkan oleh Brower dan Heryadi (1986) bahwa tidak mungkin unsur-unsur khusus menghasilkan suatu kebenaran yang bersifat universal. Meskipun diakui bahwa munculnya pengetahuan dan legitimasinya berasal dari pengamatan, tetapi pada kenyataan tidak semua sumber pengetahuan hanya terdapat dalam pengamatan.
V. PENUTUP
Telaah terhadap kritik yang ditujukan kepada empirisme tidak dimaksudkan untuk menimbulkan keraguan tentang peranan empirisme dalam pembentukan pengetahuan melalui metode ilmiah. Kritik kepada empirisme haruslah dipandang sebagai acuan dalam mencari solusi alternatif mengatasi kelemahan-kelemahan dalam empirisme. Penggunaan pancaindera yang memiliki keterbatasan harus dibantu dengan teknologi yang sempurna untuk menyempurnakan pengamatan. Metode-metode eksperimen yang dijalankan harus ditetapkan secara benar sehingga bias karena keterbatasan pengamatan manusia dapat diminimalisasikan.
Pengalaman-pengalaman yang dibangun sebagai dasar kebenaran harus didukung dengan teori-teori yang relevan. Bergantung pada pengalaman pribadi saja bisa menimbulkan subyektivitas yang tinggi. Oleh sebab itu kajian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada sebelumnya harus dilakukan sehingga kebenaran yang ingin didapatkan memiliki sifat obyektivitas yang tinggi. Pengetahuan tidak semata-mata mulai dari pengalaman saja, tetapi ia harus menjelaskan dirinya dengan pengalaman-pengalaman itu.
Dari sudut pandang yang lain, kritik terhadap empirisme perlu juga dipahami sebagai kritik terhadap ilmu pengetahuan. Dengan adanya keterbatasan dalam empirisme sebagai salah satu prosedur dari metode ilmiah, memberi gambaran kepada kita bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya kebenaran yang ada. Tetapi sebagai ilmuwan, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa di luar ilmu pengetahuan masih terdapat kebenaran lain. Dengan demikian, kebenaran ilmu pengetahuan tidak bisa berjalan sendiri, tetapi didalam membangun keharmonisan dan keseimbangan hidup, kebenaran ilmu pengetahuan perlu berdampingan dengan kebenaran-kebenaran dari pengetahuan lain, seperti seni, etika dan agama. Pengetahuan-pengetahuan lain di luar ilmu pengetahuan ilmiah perlu dipahami pula dengan baik oleh para ilmuwan agar dapat menciptakan atau menghasilkan nuansa yang lebih dinamis pada pengetahuan ilmiah.
KEPUSTAKAAN
1. Anonimous, 2000. Western Philosopic Thought.
2. http://members.aol.com/rhrrr/philmodn.htm, dikunjungi 13 Oktober 2000.
3. Bakker, A. 1986. Metode-metode Filsafat. Ghalia Indonesia, Jakarta.
4. Beerling, Kwee, Mooij, dan Van Peursen, 1997. Pengantar Filsafat Ilmu. Cet.ke-4. Alih Bahasa: S. Soemargono. Tiara Wacana, Yogyakarta.
5. Brower, M.A.W. dan Heryadi, P. 1986. Sejarah Filsafat Barat dan Sezaman. Penerbit Alumni, Bandung.
6. Calfornia State University, 2000. Kant’s criticism against the continental rationalism and the British empiricism. http://www.csudh.edu/phenom_studies/western/lect_9.html dikunjungi 13 Oktober 2000.
7. David, H. 1999. The New Empiricism: Systematic Musicology in Postmodern Age. http://www.musiccog.ohio-state.edu/Music220/Bloch.lectures/3.Methodology.html dikunjungi 21 Oktober 2000.
8. Honer, S.M. dan T.C. Hunt, 1968. Metode dalam mencari pengetahuan: rasionalisme, empirisme dan metode keilmuan. Dalam Suriasumantri, J. 1994. Ilmu Dalam Perspektif, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
9. McCleary, 1998. Philosophy of Science. http://mrrc.bio.uci.edu/se10/philosophy.html dikunjungi 22 September 2000.
10. Morton, Adam. 1997. A Guide Through the Theory of Knowledge. 2nd Ed. Blackwell Publishers, Ltd., Oxford, UK.
11. Nasoetion, A.H. 1999. Pengantar ke Filsafat Sains. Cet. Ke-3. Pustaka Litera AntarNusa, Bogor.
12. Qadir, 1988. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
13. Semiawan, C.R., I.M. Putrawan dan I. Setiawan. 1999. Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Cet.ke-4. Remaja Rosdakarya Offset, Bandung.
14. Suriasumantri, J.S. 1996. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Cet. Ke-10. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
15. Ward, L.G. dan R. Throop, 2000. Empirical and Scientific Thinking of John Dewey. http://paradigm.soci.brocku.ca/~lward/Dewey/dewey12k.html/ dikunjungi 21 Oktober 2000.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a reply

1. Hidup rohani
Pasang surut perjalanan hidup rohani bukan hal baru bagi saya. Pengalaman pasang surut membawa saya pada sebuah kesadaran bahwa hidup yang sedang saya jalani bukanlah suatu perjalanan yang mulus dan aman. Bukan pula harga mati yang hanya bergerak lurus ke depan. Perjalanan hidup rohani saya bagaikan ombak yang selalu naik turun. Ada waktu di mana hidup rohani mengalami pengalaman puncak, tetapi juga mengalami kekeringan. Pengalaman puncak di mana saya mengalami persatuan yang mesra dengan Tuhan, hidup terasa punya arti dan dan penuh gairah. Dampaknya dalam seluruh tugas harian yang mana segalanya dijalankan dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Ketika saya mengalami pengalaman puncak, rasanya saya tak ingin agar saya mengalami apa yang dinamakan desolasi. Akan tetapi, lambat laun dengan pengalaman puncak saya juga disadarkan akan pengalaman kekeringan dalam hidup rohani yang tak mungkin dielakkan.
Jikalau saya ingin kembali merujuk ke belakang perjalanan hidup rohani selama masa Novisiat dengan sekarang, saya dapat mengatakan bahwa hidup rohani sekarang sungguh-sungguh menantang. Banyak hal yang dituntut yang jikalau tidak disingkapi dengan serius dan penuh tanggung akan dapat menelantarkan atau membuat hidup rohani menjadi kering. Contohnya tuntutan akademis dari kampus yang begitu tinggi. Selain itu, kondisi jalan yang sangat menantang, yang menguras banyak tenaga dan waktu.
Saya mengalami kekeringan hidup rohani saat-saat awal menjalani masa perkuliahan. Terus terang saja bahwa hidup doa terasa hambar dan tak karu-karuan. Berhadap dengan banyak tugas doa dinomorduakan. Doa menjadi sebuah tantangan bagi saya untuk boleh sejenak meluangkan waktu duduk dan hadir di hadapan Allah. Di tengah kesibukan tugas dan proses penyesuaian diri dalam banyak hal, sebersit pertanyaan terlontar dari dalam hati; mampukah saya menghadapi semuanya ini? Apakah saya mampu mempertahankan hidup doa yang telah ditanam selama ini? Dapatkah saya mengatur atau membagi waktu belajar dan doa dengan seimbang? Pertanyaan ini terus bergulat dalam hari-hari perjalanan hidup saya. Saya mencoba untuk menenumukan jawabannya dan menyingkapi dengan cara-cara baru, misalnya memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Namun, yang saya temukan adalah ketidakpastian. Dalam keadaan seperti inilah, saya sadar bahwa tidak mungkin semuanya ini diselesaikan oleh saya sendiri. Kemampuan ratio saya tak mungkin menjawab misteri dibalik kenyataan yang sedang saya alami. Saya pun bangun dan mencoba menata kembali hidup ini. Jalan yang saya tempuh adalah dengan membuat roster belajar. Saya membawa dan mempersembahkan segala persoalan ini dalam doa dan ternyata dalam doa saya menemukan dan mendapat kekuatan, terang, jalan dan arah bagi perjalanan saya ke depan. Di dalam doa, hati saya kembali disegarkan.
Saya menyadari bahwa perjumpaan yang nyata dengan Yesus terjadi dalam perayaan ekaristi di mana Ia hadir dalam rupa roti dan anggur lambang tubuh dan darah-Nya. Di sanalah saya dapat mengalami bagaimana cinta-Nya yang begitu besar terhadap saya. Dan pada saat yang sama Ia pun mengajak saya untuk mengambil bagian dalam seluruh hidup-Nya, “memikul salib-Nya dan mengikuti Aku.” Menjadi murid-Nya memang tidak gampang, membutuhkan ketabahan, kesetiaan, pengorbanan diri. Dalam pergulatan hidup yang saya hadapi, saya mau menyatukannya dengan seluruh Cinta-Nya. Selain santapan ekaristi, juga firman-Nya yang dapat saya renungkan dalam meditasi dan juga sabda yang dibacakan saat perayaan ekaristi memberikan arah yang jelas bagi hidup saya, bahwa hidup yang sedang saya hidupi ini bukan tanpa arah dan tujuan. Meskipun setiap hari terus bergulat dengan materi kuliah dan mencoba mengekplorasi segala kemampuan untuk memperoleh nilai yang baik, namun bukan itulah tujuan yang utama. Tujuan utama tidak lain tidak bukan adalah untuk mencapai suatu persekutuan yang mendalam dengan Dia yang memanggil saya. Seluruh usaha dan perjuangan ini hanya sebagai sarana yang memungkin saya mencapai nilai yang lebih tinggi dari apa yang saya alami sekarang ini.
Bagaimana dengan ofisi? Di dalam doa inilah saya boleh mengungkapkan isi hati, perasaan dan harapan dengan penuh kebebasan. Doa-doa yang ada, nyata mewakili apa yang sedang saya alami. Serentak pada saat yang sama, saya juga mewakili seluruh umat manusia memohon keselamatan orang-orang yang tidak mempunyai harapan hidup, ketidakberdayaan dan yang inkorelasi dengan Tuhan, bagi mereka yang diekskomunikasi dalam masyarakat serta menjadi perwakilan bagi mereka yang sedang bahagia, dan gembira. Singkat kata, bahwa seluruh bentuk doa dan kegiatan rohani lainnya mau mengarahkan dan menghantar saya pada suatu perjumpaan yang dalam dengan Dia.

Ketika saya mengalami pengalaman desolasi/kekeringan muncul perasaan kurang menyenangkan dalam bati dan sungguh menyakitkan. Namun dalam pengalaman seperti ini Tuhan tak berpaling muka dari saya. Tuhan selalu menyapa saya dengan cara yang sederhan dan ada di luar kemampuan akal budi saya. Misalnya dengan sharing kamisan saya sungguh merasakan kehadiran-Nya yang nyata dalam diri konfrater yang dengan setia mendengarkan sharing saya atau yang dengan hati terbuka mau menasehati saya. Perjumpaan seperti ini kelihatannya sangat sederhana dan kadang terkesan biasa-biasa saja dan kadang hanya mengikuti aturan, tetapi bagi saya inilah saat yang paling tepat untuk belajar mendengarkan telebih mendengarkan sapaan Tuhan dalam menghadapi situasi kekeringan atau pengalaman padan gurun hidup rohani.
Kekayaan hidup rohani St. Montfort menjadi sumbangan yang berharga bagi saya. Apa yang berharga? Tidak lain adalah pengalaman jatuh bangun antara karya dan doanya. St. Montfort lewat pengalamannya secara tidak langsung mengajak saya untuk mengatur waktu antara belajar dan doa. Di tengah kesibukannya ia masih sempat meluangkan waktu untuk berdoa. Lebih dari pada itu, dalam pengalaman jatuh bangun hidupnya, ingin agar saya sedapat mungkin untuk bertahan dalam segala kesulitan apapun. Inilah yang sungguh menyetuh hati saya dari pergulatan hidupnya.
Dalam kehidupan sehari-hari saya di komunitas ini, saya menyadari bahwa para formator telah memberikan keluasan/kebebasan kepada setiap pribadi. Di sini sungguh dituntut kedewasan dalam mengatur diri. Pada poin ini saya menyadari bahwa sebenarnya pemimpin/yang memimpin tidak lain adalah diri sendiri. Diri sendirilah yang mengatur segalanya dan formator hanyalah sebagai pendamping. Dalam konteks ini, saya lebih menyoroti soal waktu luang ketika tidak ada aturan untuk berdoa rosario bersama. Sebuah kebanggaan bagi saya ialah muncul kesadaran untuk tetap menjalankan doa rosario secara pribadi. Mengambil waktu sejenak di tengah kesenangan pribadi. Awalnya amat berat dilakukan. Namun, saya mencoba dan terus mencoba dan akirnya saya mampu membendung hasrat hati untuk mengikuti kehendak pribadi. Inilah buah dari wawancara dengan para pembimbing/formator.


II. PEMAHAMAN DAN PENGHAYATAN ATAS SPRITUALITAS MONTFORTAN
Jujur saja saya mengatakan bahwa spritualitas Montfortan sangat kaya. Hal ini dengan jelas sebagaimana St. Montfort ungkapkan dalam seluruh karyanya. Di sanalah ia selalu menggambarkan kerinduan untuk bersatu dengan Tuhan, dan kerinduan untuk selalu datang kepada-Nya. Ia melukiskan hal ini dengan sangat indah “doa menggelora”. Namun, saya menyadari akan keterbatasan untuk secara intensif mengggali dan terus menggali kekayaan itu, untuk dijadikan kekayaan pribadi dalam menjawab penggalinan ini. Akan tetapi, poin-poin di bawah ini turut mewarnai perjalanan dan penghayatan spiritualitas selama ini.
a. Evangelisasi;
Pada poin ini saya mencoba bertanya siapakah St. Montfort bagi saya? Pertanyaan ini bukan bermaksud untuk diulas dengan panjang lebar. Akan tetapi, pertanyaan ini mencoba untuk melihat bagaimana pergulatan hidupnya selama ia mewartakan Yesus sang kebijaksaan. Hidup St. Montfort hampir seluruhnya tercurah dalam karya misi demi menyerbarkan kerajaan Allah, membawa orang kepada persatuan dengan Yesus, dan membawa Yesus lewat tangan Bunda Maria agar setiap orang dapat menggunakan sarana yang sama untuk sampai pada Yesus.
Bagaimana saya menghayati poin di atas selama ini? Saya mencoba mulai melihat dalam ruang lingkup yang lebih luas yakni dalam relasi dengan orang-orang di luar komunitas. Untuk menjadai saksi dan pewarta di tengah umat yang mayoritas Islam bukanlah perkara yang mudah. Namun sedikitnya ada hal-hal yang bagi saya sangat membantu untuk secara perlahan membangun sebuah relaski yang baik dengan mereka. Hal-hal itu antara dengan mengunjungi mereka pada hari-hari keagamaan. Menyapa mereka ketika bertemu. Dengan ini, secara tidak langsung saya mau menunjukan diri sebagai pengikut Kristus. Sebagimana Yesus hadir kedunia bukan kepada orang-orang tertentu, demikian pun saya tanpa memandang agama,suku dan golongan membangun relasi dengan mereka. Meskipun pewartaan di sini jauh berbeda ketika berhadapan dengan orang-orang seagama, namun dengan hadir secara fisik saat silahturahmi bagi saya itu salah satu bentuk pewartaan saya.
Bagaimana dengan hidup berkomunitas? Sharing pengalaman adalah salah satu kesempatan untuk membangi pengalaman dengan sesama konfrater, dan lebih dari sekedar menseringkan pengalaman bahwa kesempatan seperti ini sangat tepat untuk membawa Yesus pada sesama lewat pengalaman perjumpaan dengan-Nya dalam kerja dan doa serta kuliah. Ketika makan bersama adalah kesempatan yang baik juga untuk membagi pengalaman, informasi, mewartakan pesan injil yang didengar pada saat perayan ekaristi lewat sikap dan tutur kata yang sopan terhadap konfrater, semangat melayani dalam satu meja, mencipatkan suasana yang aman, menyenangkan bagi sesama konfrater dan mau mengambil bagian dalam hidup sesama. Dengan kata lain, kesaksian hidup sehari-hari adalah bentuk pewartaanku terhadap sesama konfrater.
b. Marial;
Sebagai Montfortan saya sadar bahwa peran Bunda Maria amat besar dalam misteri Kristus dan misteri gereja. Ia dipilih oleh Allah jauh sebelum ia dikandung oleh ibunya. Allah telah mempersiapkan dirinya bagi kedatangan sang juru selamat. Oleh karenanya seluruh hidupnya secara total dipersembahakan kepada Allah semata. Hal ini nampak dalam kesedaiannya untuk menyediakan rahimnya untuk didiaami oleh Yesus. Kerendahan hatinya, ketaatan, kesetiaan, kemurahan hatinya, semangat doa yang terus menerus, keterbukaan dan lain-lain sebagainya merupakan kekayaan yang luar biasa dari Bunda Maria. Kekayaan-kekayaan inilah yang juga menjadi cermin bagi saya dalam menapaki panggilan ini. Dalam hidup komunitas ini sikap kerendahan hati tidak pernah terpisah dari diri saya. Saya mengartikulasikan sikap ini lewat tutur kata, sopan santun terhadap siapa pun. Contoh konkret banyak kakak tingkat dalam komunitas ini yang jauh lebih muda dari saya. Namun dalam pergaulan saya tidak memasang gensi, tidak gila hormat karena lebih tua dari mereka, tidak memasang wibawa, tidak menciptakan gap dalam pergaulan. Sebaliknya dengan penuh kerendahan hati saya bersedia untuk masuk dalam kedirian mereka, bersedia untuk dikritik, melayani dan memberikan diri sepenuhnya dalam kerja sama.
Keterbukaan; penting bagi saya untuk menciptakan keharmonisan dalam hidup bersama, hidup berdampingan dalam suka-duka, hidup penuh persaudaraan, kekeluargaan dan kedamaian. Hal yang paling konkret adalah keterbukaan untuk memaafkan dan dimaafkan ketika ada masalah sehinggga tidak menciptakan permusuhan. Namun saya menyadiri bahwa terkadang pula oleh sikap dan tutur kata, cara bertindak, berbicara saya dapat menyakiti hati konfrater. Hal ini tak dapat dielakan dalam kehidupan bersama. Dan bagi saya inilah keindahan dalan hidup bersama dan bagi saya ini bukan sebagai tanatangan melainkan membuat hidup ini lebih hidup, dan bermakna.
Ketaatan dan kesetiaan; menarik bahwa dalam hidup di komunitas ini ada sejumlah aturan yang sungguh memberikan arah dan petunjuk yang jelas bagi perjalanan para konfrater. Aturan-aturan yang ada bagi saya bukan untuk mengekang kebebasan saya dalam mengekplorasi diri. Aturan yang ada sungguh membantu dalam mengarahkan diri saya. Saya menyadari bahwa setia dan taat pada aturan dan para formator berarti saya setia pada Allah yang berkarya lewat para formator dan sebagai bentuk keterlibatan dan peran aktif Allah dalam hidup saya. Dalam diri pemimpin dan segenap aturan yang ada, Allah hadir untuk menyapa, mengundang dan menuntun saya dalam menapaki panggilan ini.
Doa yang terus menerus; betapa besar peran doa dalam hidup saya. Saya menyadari bahwa segala kesuksesan dan pengalaman lainnya oleh karena campur tangan Allah dalam hidup saya. Saya menyadari akan keterbatasan, dan kekurangan yang ada dalam diri ini. Berkat kekuatan doa membuat saya kuat dalam mengahadapi segala tantangan, persoalan dan kesulitan. Namun dalam hal ini saya tidak pasif. Segenap kemampuan saya satukan dengan doa. Dengan demikian, doa dan kamampuan ini bagaikan dua sayap burung yang memungkinkan saya boleh terbang ke mana saja Roh Kudus kehendaki dan membawa saya.
c. Komunitas;
Hidup berkomunitas amat kaya. Kaya karena masing-masing pribadi mempunyai kekayaan tersendiri dalam bentuk bakat dan talenta. Bakat dan talenta masing-masing pribadi memberikan warna tersendiri dan memperkaya dalam hidup bersama. Saya salut dengan kekayaan spritualitas St. Montfort dalam hal ini. Persaudaraan amat ditekankannya. Persaudaraan yang mencerminkan persekutuan Allah Tritunggal. Bentuk persekutuan ala Allah Tritunggal semacam inilah yang baru saya temukan dan rasakan. Inilah gambaran hidup komunitas yang saya alami dan menjiwai perjalanan hidup saya selama ini.
Saya menyadari bahwa banyak kekurangan dalam diri ini. Kekurangan ini disempurnakan dan dilengkapi oleh sesama konfrater. Kritikan, saran dan nasehat hanya diperoleh dalam hidup berkomunitas. Inilah yang merupakan kebanggaan terbesar bagi saya, yang mungkin tidak diperoleh dan dialami oleh teman-teman saya yang hidup di luar kemunitas. Selain itu, kehadiran para konfrater dalam hidup saya merupakan bentuk dukungan atas panggilan yang sedang saya jalani. Inilah sisi positif dalam hidup komunitas.
Hal yang tak dapat dipungkiri bahwa silang pendapat juga turut mewarnai hidup bersama di komunitas ini. Mengapa hal ini terjadi? Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki karakter, watak dan tabiat tersendiri. Terkadang saya menuntut agar orang lain berbuat sesuai dengan apa yang saya inginkan. Akan tetapi, setelah melewati pengalaman seperti ini, saya disadarkan untuk pertama-tama menuntut diri berbuat baik kepada sesama. Yesus bersabda: jangan kamu perbuat kepada orang lain, apa yang kamu tidak ingin agar orang lain perbuat kepada kamu.
d. Kesiap-sediaan;
Bagi saya pembaktian diri yang diucapkan setiap hari terkandung suatu makna yang amat dalam. Makna yang bersyarat. Makna yang dasar. Suatu pengucapan yang menuntut sikap kesiap-sediaan. Kesiap-sedian untuk memberikan diri secara total pada Allah, dibentuk dalam tangan Bunda Maria dan membiarkan diri dibimbing oleh roh kudus.
Dalam hidup di komunitas ini, sikap kesiap-sediaan diwujudkan dalam kerelaan untuk dengan sepenuh hati menerima tugas yang dibagikan oleh konfrater. Di sinilah saya mencoba untuk tidak terikat pada apa yang menurut saya baik. Juga saat yang tepat untuk membina sikap untuk selalu terbuka akan segala kemungkinan yang tidak menyenangkan sekalipun.
Ketika saya meninggalkan tempat kelahiran, orang tua, kenalan dan segala keinginan saya, pada saat yang sama saya disadarkan akan pentingnya sikap kesediaan. Di sinilah pertama kali saya menghayati sikap lepas bebas, untuk secara total membaktikan diri pada Tuhan dalam Serikat Maria Montfortan. St. Montfort dalam doa menggelora merindukan imam-imam yang liberos............
III. KEPRIBADIAN
Hidup bersama memang menuntut suatu sikap kejujuran terhadap banyak hal, misalanya penggunaan keuangan, meminta izin sesaui dengan tujuan, mengatakan tidak senang bila ada hal-hal yang tidak senang. Sikap-sikap seperti ini sungguh saya alami selama masa pembinaan. Saya merasa tidak nyama jikalau ada perbuatan saya yang tidak berkenan pada sesama. Saya selalu merasa tidak nyaman, pikiran tidak tenang dalam doa dan kerja jiaklau apa yang menrut saya baik dan ternyata bagi orang lain tindakan saya itu menyakitkan bagi mereka. Di sinilah mencul problem dalam, diri saya karena saya selalu berpikir apa kata mereka, bagaimana perasaan meraka, sikap mereka dan bagaimana pandanagan mereka terhadap diri. Maka bagi saya adalah penting untuk tidak memperpanjang masalah dan dengan jujur dan terbuka mengembalikan situasi. Peka untuk membaca situasi bati teman.
Dalam hal penggunaan keuangan, bagi saya jumlah saku uang sudah cukup banyaka. Ada suatu kebangggaan bagi saya dimana segala keprluan sehari-hari terpenuhi dan ditmbah dengan uang saku yang ada. Sesautu yang tak dapat saya sangkalbahwa ada banyak keinginan dalam hati ini untuk mendapat seuatu yang indah dan serba baru. Akan tetapi, dengan uang yang ada saya dilatih untuk mengekang segal keinginan itu, merem segala hasrat untuk meperoleh barang baru. Selain itu, membatu saya agar sedapat mungkin dapat memanage segala keperluan dari keterbatasan. Di sini pula saya diajar untuk menghayati hidup dalam kesederhanaan. Mencinta hidup apa adanya, mencintai apa yang telah ada untuk sepenuhnya bergantung pada penyelenggaraanAllah. Dengan mencintai apa yang ada, saya mencoba untuk mengambil bagian dalam kemiskinan Yesus.
Sejak masa Novisiat hingga memaasuki masa perkuliah saya merasa yakin bahwa saya termasuk tipe IV. Ciri-ciri dari tipe IV hampir seluruhnya menggambarkan jati diri saya. Banyka hal yang menurut saya di dalamnya yang membantu menemukan siapakah saya. Dengan penuh keyakinan saya telah merefleksikan keseluruhan dinam,ikan dari tipe ini. Namun, setelah saya merefleksis lebih dalam ternyata bukan ini tipe saya. Hal yang memperkuat refleksi saya ini ketika saya wawancara dengan formator dan mengatakan bahwa saya tipe VI. Keyakinan saya semakin kuat. Kalau sebelumnya saya selalu melihat diri sebagi ornag yqang introfet, mudah cemas, mudah tersinggung, dan lain-lain justru bertentangan dengan kenyataan yang saya lami dalam hidup sehari-hari. Contoh ketika saya menarik diri dalam pergaulan, membatasi diri, dan tidak mengambial secara penuh dal kebahagian dan hidup teman, yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan yang bukan-bukan. Mempertanyaan akan kedirian saya. Berbaerengan dengan itu, lahir juga persoalan dalam diri saya. Batin tidak aman. Pikiran-pikiran yang buruk bersemburan dalam hati. Hidup terasa kering dan kaku serta tidak bergairah dalam kerja. Ini semua berawal dari pengalaman yang saya angkat di atas. Saya cenderung memikirkan apa yang sebenarnya tak perlu dipikirkan.
Dalam tipe VI saya yakin bahwa di sanalah saya dapt mengenal diri secara utuh. Gambaran diri baik positif maupun negatif semuanya terkandung di sini. Usaha saya kedepan adalah ingin mengsah secara dalam dan mantap poin-poin dalam tipe ini yang juga ada dalam diri saya. Saya menyadari bahwa masih belum cukup bagi saya untuk menemmukan jati diri. Akan tetapi, suatu perkembangan yang membanggakan bagi saya akir-akir ini adalah kesesuaiaan antara kenyataan yang dialami dalam hidup sehari-hari dengan apa yang ada dalam diri saya. Hal ini justru dibantu ketika saya mereflkesikan tipe VI.
Selain itu, adanya keterbukaan untuk menerima kritikan dari teman-teman dan para formator. Bagi saya teman-teman dan para formator adalah orang tua yang terdekat yang setiap saat saya boleh mengalami bimbingan dan penyertaan. Di samping itu juga adalah kewajiban saya untuk meminta bantuan dan campur tanagan mereka dalam tugas/ dalam hal apapun. Maka bentuk kritikan atau nasehat bagi saat itu merupakan hal yang wajar, di mana dalam keluarga saya sendiri juga pernah mengalami seperti itu. Kritikan bukan hal baru bagi saya. Saya selalu mengedapkan prinsip seperti ini, bahwa kritikan mereka bukan karena mereka benci, jengkel, marah, dan tidak senang dengan saya, melainkan karena mereka mencintai saya. Melihat saya sebagai anak oleh para formator, adik oleh kakak tingkat, kakak oleh adik tingkat, sebagai saudara kandung sendiri dan terlebih karena teman seperjalanan yang mempunyai tujuan sama dan pada jalan yang sama untuk memcapai persataun dengan Kristus lewat tangan Bunda Maria. Inilah yang sungguh meneguhkan saya dalam menapaki panggilan ini.

IV PENGEMBANGAN DIRI
Saya sadar bahwa saya tidak mempunyai talenta yanag betul-betul dapat memberiakan sesuatu yang berarti dalam komunitas ini. Dengan kat lain, saya tidak mempunyai keahlian kusus/bakat yang sungguh saya miliki. Namun, itu bukan berarti kehadiran saya tidak ada gunanya. Saya yakin ini semua diatur oleh Tuhan dan Tehan yang maha adil telah mencurahkan rahmat-Nya sesuai dengan kemampuan masing masing pribadi. Bagi saya kekayaan adalah kekuranganku. Dalam kekurangan ini saya ingin mempersembahkan diri secara total ke dalam tangan Tuhan. Biarlah Dia sendiri yang bekerja dalam diri ini.
Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari? Saya selalu banggga dengan teman yang mempunyai banyak bakat. Hati ini ingin agar paling kurang saya bisa mengerjakan yang mjauh lebih buruk dari buruknya pekerjaan mereka. Ada kemauan untuk mengembangkan, tetapi seringkali terbentur dengan keterbatasan ini. Lalu apakah saya hanya pasif? Keterlibatan dalam kerjasama adalah sumbangan berarti menurut saya yang mungkin bagi orang lain itu tidak berarti sama sekali. Dalam tugas yang saya embankan di sanalah saya mempersembahkan diri, dan mengekpreski diri dengan total. Sebuah persembahan dari kekurangan. Saya tidak merasa minder dengan teman-teman yang mempunyai banyka talenta. Malahan banyak hal yang dapat saya pelajari dari kepribadaian mereka yang mendorong saya untuk mengembangkan dari apa yang ada.


V. PENGHAYATAN TERHDAP KAUL-KAUL.
a. Kaul Kemurnian.
 Penghayatan kemurnian
 Belajar dari Yesus
 Menurut St. Montfort
b. Kaul Kemiskinan.
 Kemiskinan Injli
Dia yang oleh karena kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (1Kor. 8:9). Seluruh hidup Yesus selalu menggambarkan dinamika hidup religius. Hidup Yesus telah menunujukan kemiskinan Bapa-Nya.. Ia hadir dalam diri seorang perawan yang sederaha, di dalam kemiskinan material, keterbatasan fasilitas, dala kenseunyian, kesendirian, keterpencilan. Ini semua mau mengungkapkan nilai-nilai kemiskinan. Ia meninggalkan rasa aman untuk memperkaya yang miskin tanppa minta balasan. Keopda para rasul Ia mengajarkan kesederhanaan (Luk. 9:57-58), jangan kwatir akan hidup kita( Mat.6: 25-34). Penyerahan diri-Nya sampai wafat di kayu salib adalah puncak kemiskinan yang Ia nyatakan kepada orang lemah, miskin dan tak berdaya.
Bagaimana dengan saya? Bagi saya kemiskinan bukan berarti tidak memiliki barang melainkan suatu sikap yang tumbuh dari suatu relasi antara saya dan Tuhan. Relasi yang mempersatukan kemiskinan harta rohani saya dengan kelimpahan harta surgawi-Nya. Hal ini saya sadari di mana Tuhan telah mengambil inisiatif untuk mengasihiku lewat pemberian diri-Nya yang nyata dalam diri Yesus Kristus putera-Nya. Tuntutan di sini bagi saya adalah sikap penyerahan dan pemberian diri sepenunhya untuk dibimbing dan dikasihi-Nya. Ini sungguh saya hayati dalam pembaktian diri yang diucapkan setiap hari. Lewat pembaktian diri ini saya ingin mepersembahkan kemiskinan saya untuk mencapai kepenuhan di dalam Dia, karena hanya dalam Dia-lah sumber dari segala kepenuhan. Dalam penyerahan diri lewat tangan Bunda Maria saya mengenal arti kemiskinan sebagai makluk di hadapan Tuhan sekaligus mengenal kekayaan yang dimiliki Kristus dalam relasi intim dengan Bapa.
Kemiskinan bagi saya adalah pembebasan. Pembebasan diri dari ketergantunagan yang berlebihan akan makanan, pakian, tempat tinggal, teman dan sahabat. Sehingga kaul kemiskinan yang saya hayati selama ini adalah suatu bentuk kesaksian dan tanda akan nilai yang dalam dan lebih tinggi yakni Yesus Kristus. St. Montfort menggambarkan akan cinta Yesus dengan suatu ungkapan yang menarik: Aku mengasihi mereka yang sengsara dan menderita. Mereka yang menjadi terakir, bagi-Ku adalah yang pertama. Mereka yang miskin adalah saudara-saudara-Ku (Kid. 108:3).
Lewat injil saya belajar untuk memandang Allah sebagai yang tertinggi, kebaikan yang mutlak, yang maha kuasa yang dapat memenuhi kebutuhan saya setiap hari dan pada masa yang akan datang. St. Montfort juga mengajarkan bahwa barang-barang lain yang berharga menjadi relatif, simbolis dan sebagai pelengkap/sarana untuk sampai pada Allah. Maka dengan penuh keyakinan bahwa penyerahan diri pada Allah akan memperoleh buah-buah roh seperti pengampunan, rahmat, pengetahuan, kebijaksaan, kebajikan. Inilah harta sejati masih terus kucapai.
 Kemiskinan menurut St. Monfort.
Hisup St. Montfort menurut saya sanagat radikal. Dengan penuh kebebasan total ia mengahayati arti kemiskinan. Kemiskinan bukan hanya soal materi, melainkan kemiskinan untuk menghampakan diri poada Allah semata”Deo Soli”. Luar biasa penghayatan kemiskinannya. Dalam hidupnya ia tidak hanya mengajarkan orang untuk hidup dari penyelanggaraanAllah, tetapi juga ia sungguh menjadi miskin dan bahkan menjadi miskin di antara yang miskin. Hidup dan dirinya telah menunjukan kemiskinan. Dalam diri orang-orang yang ia layani, ia menemukan Yesus yang miskin.
Bagaimana dengan penghayatan saya selama ini? Saya akui dan sadari bahwa tidak seberapa banyak keterlibatan saya pada orang miskin. Saya kadang bertanya dalam hati, apakah masih cocok penghayatan kemiskinan di tengah segala sesuatu telah tersedia oleh serikat? Segala fasilitas menjamin, makan-minum, tempat tinggal nyaman. Pertanyaan ini lahir manakala mata saya terbuka dengan melihat realitas, di mana banykan orang yang sungguh-sungguh miskin, mendapat sesaup nasi saja setengah mati, tempat tinggal yang sangat menyedihkan. Jujur saja ketika saya berada di Flores saya belum sungguh melihat orang miskin seperti yang ada di jawa. Berhadapan dengan kenyataan ini, adalah suatu tantanagan besar bagi saya dalam menghayati kemiskinan. Saya membawa pengalaman ini ke dalam diri saya. Lalu apa bentuk partisipasi saya? Mendoakan bagi orang miskin, mungkin itulah yang dapt saya persembahkan bagi mereka. Dalam kaitan dengan segala fasilatas yang ada, saya disadarkan bahwa itu semua tidak menjadikan diri ini sombong, dan meninabobohkan diri. Dengan merawat, memelihara, menjaga segala apa yang ada tnapa harus menuntut untuk mendatangkan yang baru adalah bentuk solidaritas saya dengan orang miskin.
Bagi saya kemiskinan adalah sebuiah sikap batin artinya saya ingin mepersembahkan sepenuhnya diri ini dalam penyelenggaran Allah. Menguburkan kecenderungan untuk terikat pada barang dan memberiakan diri Cuma-Cuma pada Tuhan karena Ia telah memberiakan kepada saya dengan Cuma-Cuma. Mengutip kata-kata St.Monfort: ”Bila kebijaksanaan masuk ke dalam hati seseorang, Ia membawa serta segala harta milik dan memberikan kekayaan yang tak terhingga. Bersamanya datang pula kepadaku segala harta milik dan kekayaan yang tak berhingga ada di tangan-Nya(CKA 90)”. Bentuk konkret lain penghayatan kemiskinan yang saya alami yakni dengan menshyaring kekayaan masin-masing orang. Dengan ”mensyaringkan kekayaan” masing-masing justru di sini saya diperkaya dan memperkaya oleh yang lain. Misalanya ketika teman mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan dengan hati terbuka mengulurkan tangan untuk membantu. Dalam kemiskinan saya dipanggil untuk memberi, membagi, berkomunikasi dan beersolidaritas dengan sesama konfrater.

Mungkinkah seseorang menjdai miskin bila ditemani kebijaksanaan yangbegitu kaya dan murah hati (CKA 59).

Dalam kemiskinan yang saya hayati, saya menemukan kemegaha dan keagunagan(Kid.108:4)
c. Kaul Ketaatan.
 Ketaatan kepada pemimpin sebagai wakil Allah

“tidaklah sukar mentaati, apabila apa yang diperintahkan itu dicintai”. Sepenggal kalimat ini telah menjadi dasar penghayatan ketaatan saya selama ini. Saya salut dengan para formator yang dengan setia mendampingi, mangarah, dan membimbing saya. Dari sikap mereka tercermin sikap ketaatan, ketaatan pada pimpinan

 Bentuk ketaatan
 Jiwa ketaatan yang memberikan sumbangan bagi panggilan ini.
VI. Dimensi lain
VII. poin-poin yang mengalami perkembangn dan yang harus dikembangkan untuk perjalanan ke depan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar