6.13.2009

cerpennnn

Tujuan: Negeri Senja
26 April, 2008 oleh sukab
Tujuan: Negeri Senja


Di stasiun Tugu, Yogyakarta, ada sebuah loket yang istimewa. Loket itu tidak menjual tiket ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Tempatnya terpisah dan nampaknya selalu sepi pembeli. Padahal di masa krisis seperti sekarang, kereta api menjadi pilihan utama, meskipun harga tiketnya sangat mahal. Apa boleh buat, karena tiket pesawat luar biasa mahal, dan boleh dibilang tidak masuk akal, harga tiket kereta api yang mahal itu bukan apa-apa. Para penumpang dari Jakarta langsung antri untuk mendapatkan tiket kembali. Itupun barangkali untuk seminggu mendatang. Boleh dipastikan, tiket untuk akhir minggu sudah ludes seminggu sebelumnya. Loket-loket itu selalu penuh dengan pengantri.
Makanya aneh sekali loket yang satu itu selalu sepi. Loket itu hanya menjual tiket ke satu tujuan, yakni Negeri Senja.
Setiap sore memang selalu ada kereta api jurusan Negeri Senja yang datang. Tetapi tidak pernah ada kereta api datang dari Negeri Senja.
”Mereka yang pergi ke Negeri Senja, tidak pernah kembali” kata penjaga loket.
Jadi mereka yang membeli tiket ke Negeri Senja pasti sudah siap untuk tidak kembali.
Aku heran, bagaimana semua ini mungkin?
Tapi orang-orang di stasiun Tugu sudah terbiasa dengan kenyataan itu. Aku baru tahu sekarang, karena selama ini aku mondar-mandir Jakarta-Jogja selalu menggunakan pesawat terbang.
Setiap sore selalu muncul kereta api ke jurusan Negeri Senja. Kereta api berwarna perak itu muncul begitu saja dari arah kali code dengan pancaran cahayannya yang gilang gemilang, seolah-olah seperti sebuah kereta kerajaan entah darimana. Kereta api ini bukan kereta api diesel, melainkan lokomotif biasa yang selalu mendengus-ndengus, tapi kereta api ini memang sangat menawan. Gerbong-gerbongnya bagaikan dibuat di negeri dongeng. Bukan hanya karena mengkilap keperakan, tapi juga karena dari jendela kita bisa melihat sebuah dunia yang tidak mungkin. Didalam gerbong-gerbong itu kita melihat alam terbentang yang komplet. Sebuah padang rumput dengan danau yang tenang di mana angsa berenang-renang menyibakkan permukaanya. Kuda-kuda yang muncul dari celah lembah dan berlari mendaki bukit. Hutan tropis yang basah dengan bau humus dan nyanyian burung sahut menyahut. Bahkan terlihat pula alam bawah laut yang biru, gelap dan dalam, dengan ikan-ikan yang tubuhnya mengeluarkan cahaya.
Tapi jarang sekali orang naik dari stasiun Tugu ke dalam gerbong-gerbong itu, meskipun pramugarinya yang siap di pintu begitu cantik dan begitu jelita tiada terkira, dengan tubuh dan rambut yang bagaikan selalu meruapkan bau malam. Kanak-kanak yang berlarian di padang rumput atau taman bermain kadang-kadang berlari sampai ke jendela, menempelkan hidung dan pipinya ke jendela, melihat orang-orang di stasiun Tugu, tapi mereka segera berlarian kembali.
Hanya lima menit kereta api itu berhenti, setelah itu segera berangkat lagi. Setiap sore selalu muncul kereta api itu, ada atau tidak ada penumpang ia akan berhenti. Para pramugari turun dan siap di pintu, kalau tidak ada penumpang, kereta api akan berangkat lagi setelah terdengar suara peluit dari petugas, meninggalkan asap batubaranya itu, yang berkepul kepul ke langit. Selalu terdengar lengkingannya dari kejauhan ketika kerata api itu menghilang.
Setiap kali aku ke Jogya dan pulang ke Jakarta dengan kereta api senja, ku perhatikan kereta api jurusan Negeri Senja itu. Siapa yang ingin pergi untuk tidak kembali? Ternyata kadang-kadang ada. Tidak pernah banyak, paling banter lima orang. Kadang-kadang cuma satu atau dua orang. Mereka itu, meskipun pergi utnuk tidak kembali, tidak pernah membawa banyak barang.
”Berapa harga tiket ke sana?”
”Oh, tidak perlu bayar.”
”Jadi?”
”Mereka yang datang ke loket ini cuma perlu tandatangan.”
”Tandatangan apa?”
”Artinya mereka setuju untuk tidak kembali.”
”Kalau mereka berubah pikiran, dan ingin kembali dari sana?”
”Tidak mungkin, dan tidak pernah terjadi.”
”Seperti apa Negeri Senja itu?”
”Tidak ada yang pernah tahu.”
”Lho, waktu membangun rel itu, sampai kemana?”
”Wah, rel itu sudah ada sejak stasiun ini belum berdiri. Tidak ada catatan apa-apa tentang hal itu, dan memang tidak pernah ada yang tahu.”
”Aneh sekali.”
”Ah, orang sini sudah biasa. Adik saja yang sibuk bertanya-tanya.”
”Aneh, orang tidak kembali kok biasa.”
”Apanya yang aneh? Ini kan cuma seperti kematian. Apa yang aneh dengan kematian?”
Apakah memang begitu? Apakah kita tidak perlu merasa heran dan tidak perlu bertanya-tanya hanya karena sesuatu memang tidak akan pernah kita ketahui? Kematian, kematian, hal itu memang penuh misteri. Namun bukankah kereta api ini bisa di kuntit lantas kita kembali lagi?
”Bagaimana kalau saya tandatangan, tapi tujuannya hanya untuk melihat-lihat Negeri Senja, setelah itu kembali lagi. ”
”Boleh saja, asal siap untuk tidak kembali.”
”Kalau saya lari.”
”Coba saja.”
Beranikah aku mencobanya? Aku hampir selalu pergi, selalu pergi dari satu tempat ke tempat lain, tapi selalu kembali. Aku selalu pergi dan tahu akan kembali. Itulah sebabnya aku bisa selalu pergi, karena memang selalu akan kembali. Tapi pergi untuk tidak kembali?
”Seperti apa sih di sana?”
”Lho, mana kita tahu.”
Aku penasaran sekali sekarang. Setiap kali kulihat kereta api itu datang, kuperhatikan para penumpangnya. Memang wajahnya sudah terlihat pasrah. Siap pergi ke suatu tujuan tanpa membayangkan akan pernah kembali. Kadang-kadang ada satu keluarga yang pergi bersama seperti mau piknik. Orang-orang yang mengantar banyak yang menangis.
”Jangan lupakan aku ya?” teriak mereka sambil melambai-lambaikan tangan.
Orang-orang yang berangkat selalu tersenyum bahagia.
”Aku tidak akan pernah melupakan kamu. Jangan lupakan aku juga ya!”
Begitulah meraka melambai-lambai sampai kereta api menghilang di balik cakrawala. Rel menuju ke Negeri Senja memang khusus. Mula-mula memang searah dengan rel ke jurusan Jakarta, tapi disuatu tempat akan memisah. Berbelok ke celah sebuah lembah, lantas lenyap di balik kabut. Orang-orang seperti sudah mengerti untuk tidak usah coba-coba menyelidik – kecuali jika siap untuk tidak kembali. Setiap orang yang pergi ke Negeri Senja memang tidak pernah kembali. Kecuali barangkali di dalam mimpi mereka yang di tinggalkan.
Setiap senja kuamati peron dimana orang-orang yang siap berangkat ke Negeri Senja menunggu kereta api. Mereka datang, dengan tenang menuju loket, tandatangan lantas duduk tenang-tenang di bangku itu. Matahari senja yang keemasan membuat lantai peron itu seperti susunan tegel yang terbuat dari lantakan emas. Orang-orang yang duduk dibangku, laki-laki tua, ibu dan anak, nenek-nenek, atau seorang pemuda remaja berambut punk, nampak begitu tenang dan begitu pasrah wajahnya – seperti mengalami kebahagian yang mengatasi keduniawian. Apa yang membuat seseorang pergi untuk tidak kembali?
Aku ingin bertanya kepada salah seorang diantara orang-orang itu, tapi peron itu khusus untuk pemegang tiket ke Negeri Senja. Aku hanya bisa memandang mereka, seperti juga orang-orang lain di stasiun Tugu, memandang orang-orang yang berubah menjadi siluet dalam pancaran matahari keemasan yang menyilaukan. Dalam siluet senja mereka seperti bergerak antara ada dan tiada. Membawa kopor kecil, ransel, dan menelpon kesana-kemari dengan HP. Apakah mereka berpamitan kepada orang-orang tercinta? Apakah dari Negeri Senja kita tidak bisa menelpon?
Apakah negeri senja itu indah? Tidak ada satu kabar burung pun dari sana. Tidak ada pengenalan apa-apa yang membuat kita paling sedikit bisa mengira-ngira meskipun barangkali salah sama sekali. Tidak ada apapun yang bisa di pegang meskipun sekedar untuk menduga-nduga saja. Hanya nama itu saja, Negeri Senja. Apalah yang bisa kutebak dari nama itu?
Kupandang seorang wanita yang akan berangkat kesana. Ia melangkah dengan anggun seperti bidadari. Dalam cahaya keemasan rambutnya yang panjang dan bergelombang memberikan suatu rasa kebahagiaan yang aneh tapi abadi. Padahal kebahagiaan itu biasanya fana, sementara, sehingga kadang-kadang terasa sia-sia.
Apakah negeri senja menjanjikan suatu kebahagiaan abadi? Sebegitu jauh, orang-orang yang datang ke stasiun ini lebih banyak yang memilih pergi ke Jakarta daripada ke Negeri Senja. Banyak diantaranya juga pergi ke jakarta untuk memburu kebahagiaan, memburu mimpi, memburu cita-cita yang terhampar di cakrawala – meskipun Jakarta sering terasa seperti neraka.
Di stasiun Tugu, aku termenung memandang senja. Kereta api yang gilang gemilang dengan tujuan Negeri Senja itu tiba. Kalau aku menaiki kereta api itu, aku tidak akan pernah kembali.

Jakarta, Senin 17 Agustus 1998
Ditulis dalam Cerita Pendek | 6 Komentar »
Matahari Tidak Pernah Terbenam di Negeri Senja
25 April, 2008 oleh sukab
Matahari Tidak Pernah

Terbenam di Negeri Senja

Hidupku penuh dengan kesedihan – karena itu aku selalu mengembara. Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju ke suatu tempat entah di mana, namun kesedihanku tidak pernah hilang. Kesedihan, ternyata, memang bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan, karena kesedihan berada di dalam diri kita. Aku selalu mengira kalau melakukan perjalanan jauh maka kesedihan itu akan bisa hilang karena tertinggal jauh di belakang, tapi itu tidak pernah terjadi. Ada segaris luka dalam hatiku yang telah mendorong aku pergi jauh dari kampung halamanku dan sampai sekarang belum pernah kembali.
Mungkin aku tidak akan pernah kembali meskipun kesedihanku suatu hari akan hilang. Aku sudah terlanjur tidak pernah merasa punya rumah, dan tidak pernah merasa harus pulang ke mana pun dan aku menyukainya. Barangkali kesedihanku tidak akan pernah hilang tapi sudahlah, aku tidak ingin memanjakan perasaan. Aku sudah selalu membiasakan diriku hidup bersama dengan kesedihan – apa salahnya dengan kesedihan? Apa salahnya dengan duka? Apa salahnya dengan luka? Setelah mengembara bertahun-tahun lamanya aku belajar hidup bersama dengan kesedihan, kesepian, dan keterasingan. Semua itu tidaklah mudah, tapi apalah yang bisa diperbuat oleh seseorang dalam perantauan? Aku ini seorang pengembara, cuma seorang musafir lata yang tiada bersanak dan tiada berkawan, pergi dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan – sia-sia mencoba menghilangkan kesedihan.
Kemudian, setelah bertahun-tahun melakukan perjalanan, akhirnya aku mempunyai juga tujuan, atau semacam tujuan, setidaknya suatu alasan yang membuat aku terus menerus melakukan perjalanan nyaris tanpa berhenti kecuali untuk mengumpulkan tenaga kembali. Aku selalu pergi, selalu berjalan, karena selalu ingin mengenal sesuatu yang lain, yang belum kukenal, dan betapa banyak keindahan yang terdapat di dunia yang luas terbentang. Aku telah berjalan dari negeri yang satu ke negeri yang lain. Dari kota ke kota, dari kampung ke kampung, keluar masuk hutan, mengarungi wilayah dan mendapat pengalaman. Aku selalu melakukan perjalanan sendirian, dan karena itu aku banyak merenung. Sambil melihat pemandangan yang tidak pernah kusaksikan, aku berpikir tentang kehidupan. Membayangkan bumi terbentang yang dulu tidak dihuni manusia, aku merenungkan makna kebudayaan. Melewati padang salju membeku, padang rumput menghijau, dan pantai-pantai membiru, aku memikirkan manusia dan alam.
Aku telah menyeberangi tujuh lautan, mendaki duapuluh gunung, menjelajahi tiga gurun, dan menyuruk ke perkampungan suku-suku terpencil, namun aku tidak pernah merasa bisa tinggal di suatu tempat agak lebih lama. Di tempat yang paling nyaman, makmur, dan indah pun aku selalu merasa gelisah. Selalu ada cakrawala baru yang ingin kurengkuh, dari ujung dunia yang satu ke ujung dunia yang lain. Barangkali rumahku adalah perjalanan itu sendiri. Aku senang tidur di bawah pohon di padang terbuka, berselimut jerami di dalam gerobak, terkantuk-kantuk di atas keledai, atau telentang menatap rembulan di dalam sampan yang dibawa arus pelahan. Betapa berumah aku dalam pengembaraan.
Begitulah, suatu ketika dalam perjalananku tibalah aku di Negeri Senja, yang seperti tiba-tiba saja muncul di hadapanku setelah menyeberangi sebuah gurun selama dua minggu. Dari jauh, Negeri Senja cuma bayangan hitam tembok-tembok beku perbentengan yang tua. Benteng semacam itu sudah tidak ada artinya lagi sekarang, apalagi benteng itu pun nyaris merupakan reruntuhan, menjadi warisan sejarah yang tidak terurus. Dari jauh, Negeri Senja hanya tampak sebagai bayangan hitam karena di latar belakangnya tampaklah lempengan bola matahari raksasa yang jingga dan membara itu memenuhi ruang, menyebabkan langit di atas itu semburat jingga dengan tepian mega-mega yang telah menjadi keemasan.
Aku masih jauh dari kota ketika sejumlah orang bersorban mencegat aku di balik bukit pasir.
Seseorang bicara dengan bahasa antarbangsa yang fasih.
“Tuan, apakah Tuan yang selama ini kami tunggu?”
“Pasti bukan, siapakah yang kalian tunggu?”
“Kami menunggu Penunggang Kuda dari Selatan.”
“Siapakah itu?”
“Dia adalah orang yang akan menyelamatkan kami.”
“Menyelamatkan? Dari apa?”
“Dari segalanya.”
Aku perhatikan mereka. Apakah mereka sudah kehilangan akal? Sudah jelas aku menunggang unta, bukan kuda.
“Kalian lihat, aku tidak menunggang kuda.”
“Barangkali saja Tuan mengganti kuda Tuan dengan unta sebelum menyeberangi gurun.”
“Yah, itu memang mungkin, tapi aku bukan Penunggang Kuda dari Selatan, aku datang dari
Timur Jauh.”
“Oh, maafkan kami Tuan, kami sudah bertahun-tahun menanti di sini, dan kami sudah gelisah.
Kami menanyai setiap orang yang datang dari selatan.”
Ketika aku berlalu, kulihat sejumlah orang itu memandang ke selatan kembali. Di mata mereka terpancar harapan, tapi harapan yang sudah memudar. Apakah kiranya yang mereka alami sehingga begitu berharap seperti itu? Menunggu seseorang yang bisa menyelamatkan mereka entah dari apa, sampai bertahun-tahun lamanya, bukanlah peristiwa biasa. Siapa pula Penunggang Kuda dari Selatan yang sangat diharap-harapkan itu? Siapakah orangnya yang begitu perkasa sehingga begitu diharapkan akan pasti bisa menyelamatkan sejumlah orang dari sesuatu yang aku belum tahu apa?
Segalanya serba keemasan ketika aku memasuki kota itu, serba merah keemas-emasan karena siraman cahaya matahari separuh yang bertengger di cakrawala itu. Kulihat cahaya senja seperti jalinan lembut benang-benang emas yang terpancang, dari matahari langsung ke jendela, ke dinding, ke pohon, dan ke daun-daun. Seperti garis-garis, seperti balok-balok, seperti tiang-tiang yang direbahkan. Rasanya baru sekali ini aku melihat cahaya berleret-leret begitu nyata, seolah-olah benda padat yang bisa dipegang. Tapi tentu saja cahaya bukan benda padat dan orang-orang berkerudung, bersorban, dan bersarung melewatinya sehingga cahaya itu seperti riak kolam yang tersibak-sibak. Cahaya itu menjadi terang dan gelap karena orang-orang yang lewat dan karena itu Negeri Senja seperti sebuah kota yang tenggelam dalam lautan cahaya sepenuhnya. Aku hanya seperti sebuah bayang-bayang yang berjalan. Kulihat bayang-bayangku sendiri menunggangi unta di tembok-tembok kota.
Aku berjalan menyusuri kota menunggang seekor unta tua yang telah membawaku menyeberangi gurun bersama rombongan kafilah para pedagang garam. Menoleh ke kiri, menoleh ke kanan, memang hampir segalanya berwarna keemasan. Aku tidak melihat warna biru, aku tidak melihat warna hijau, apalagi warna merah jambu – segalanya adalah warna-warna senja. Warna, cahaya, dan suasana yang hanya ada apabila matahari akan terbenam. Dinding-dinding keemasan, tapi banyak juga ruang yang gelap dan temaram. Lorong-lorong suram dan tenggelam dalam bayangan hitam.
“Mau ke manakah Tuan, mencari penginapan? Marilah saya antar. Saya tahu penginapan yang murah dan menyediakan makan untuk unta Tuan. Marilah saya antar, supaya hari ini ada sepotong roti yang bisa saya makan.”
Aku sudah begitu lelah. Menyeberangi gurun pasir selama dua minggu bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Aku menyerah saja kepada anak kecil yang bicara dengan bahasa antarbangsa terpatah-patah itu. Ia menghela tali untaku menuju ke sebuah penginapan sementara aku menoleh ke kiri dan ke kanan dengan lesu. Angin berpasir yang sudah dua minggu terus menerus menimpaku belum juga hilang sampai di dalam kota ini. Wajahku penuh dengan debu dan begitu juga wajah banyak orang di kota ini. Semua orang seperti memakai bedak tapi jelas itu bukan bedak. Mereka menutupi wajah mereka dengan kain yang juga melindungi rambut mereka dari angin yang berpasir. Jadi di mana-mana aku cuma melihat mata. Itulah mata yang memandang dengan tajam, dengan suram, atau dengan bertanya-tanya. Apalah yang bisa kita katakan dari sebuah pandangan mata?
Kuhirup aroma setanggi yang mengalir dari sebuah jendela. Ketika aku menengok ke jendela itu, muncul wajah seorang wanita yang bercadar. Dari balik cadarnya yang tipis kulihat ia tersenyum. Bibirnya begitu merah tertimpa cahaya, dan ia membawa anglo kecil berisi dupa.
Jadi kini aroma setanggi bercampur aroma dupa, dan aroma itu makin lama makin tajam karena agaknya aroma itu mengalir dari setiap jendela dan pintu. Angin yang berpasir akan selalu membuyarkannya tetapi aroma itu akan selalu mengalir kembali. Aku tenggelam dalam sebuah suasana yang menekan. Orang-orang di jalanan tak banyak berbicara dan di jalanan itu pun kepala mereka lebih sering tertunduk. Kepala-kepala tertunduk itu kadang-kadang terangkat melihatku dan aku hanya akan melihat mata dari kepala-kepala itu. Aku merasa gagal membaca sesuatu dari mata mereka. Apakah kiranya yang mereka baca dari mataku.
Aku pun menundukkan kepalaku supaya tidak tampak terlalu asing karena selalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Apakah cahaya senja yang temaram meski keemas-emasan itu yang membuat suasana tampak menekan? Aku telah mengalami seribu senja di seribu kota dan memang senja selalu memberikan kepada kita perasaan yang rawan, namun agaknya ada sesuatu yang lain di kota ini entah apa, sesuatu yang berat dan menekan.
Sebenarnyalah aku tidak pernah mengenal Negeri Senja sebelumnya. Aku hanya pernah mendengar namanya di sebuah kedai, ketika seorang musafir yang pandai bercerita dalam bahasa yang kukenal dikerumuni para pengunjung. Ia menceritakan suatu hal yang sangat sulit dipercaya, yakni bahwa matahari tidak pernah terbenam di Negeri Senja.
“Bagaimana itu mungkin?”
“Itulah yang juga menjadi pertanyaanku, bagaimana itu mungkin, sedangkan di sini matahari timbul dan tenggelam seperti biasa. Bukankah matahari itu-itu juga yang tampak di setiap negeri di muka bumi? Kalau matahari di Negeri Senja itu memang tersangkut di cakrawala, mestinya di negeri lain keadaannya juga tidak pernah berubah. Tapi ini tidak, hanya di Negeri
Senja matahari tidak pernah terbenam.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Itulah pertanyaanku juga, kenapa bisa begitu?”
Negeri Senja memang tidak terdapat di dalam peta, ia ada tapi tiada – hanya para pengembara yang kebetulan kesasar saja yang mengenalnya, dan mereka pun tidak pernah menganjurkan untuk datang ke sana.
“Tidak ada apa-apa di sana,” katanya, “selain kemiskinan, kejahatan, dan penindasan.”
“Tentang matahari yang tidak pernah terbenam itu?”
“Kenapa?”
“Tidak ada yang tertarik menyelidikinya?”
“Wah, orang-orang Negeri Senja menganggapnya biasa.”
“Biasa?”
“Ya, biasa. Mereka sudah biasa hidup seperti itu.”
“Hidup dengan matahari tidak pernah terbenam?”
“Hidup dengan matahari tidak pernah terbenam.”
“Apakah negeri seperti itu memang benar-benar ada?”
“Para ahli ilmu alam juga tidak percaya. Mereka tidak mau membuang waktu mencari Negeri Senja. Tapi aku pernah ke sana. Percayalah bahwa ceritaku ini bukan karangan.”
Aku juga tidak ingin percaya ketika mendengarnya. Para musafir yang kadang-kadang kujumpai memang ada juga yang suka membual. Namun pada suatu hari ketika sedang duduk beristirahat di bawah sebatang pohon, datanglah kafilah para pedagang garam itu. Mereka mengisi kantung-kantung air yang terbuat dari kulit. Dari jumlahnya tampak akan mengadakan perjalanan jauh.
“Mau ke mana sahib?”
“Mau ke Negeri Senja.”
Kini aku berada di Negeri Senja. Karena lelah dan lesu, aku lupa persoalan matahari tersebut. Nanti, ketika aku terbangun, dan membuka jendela penginapan yang kumal itu., barulah aku akan menyadari, matahari ternyata memang tidak pernah terbenam di Negeri Senja.
“Kita sudah sampai,” kata anak kecil berambut keriting itu. Aku baru sampai di depan penginapan. Maafkan aku, rupanya ceritaku tadi terlalu cepat, meski pemandangan tidak akan pernah berubah. Matahari membara seperti lempengan besi di tungku pembakaran. Matahari itu terbenam separuh, cahayanya membakar langit begitu rupa sehingga langit itu betul-betul membara. Aku menghela nafas. Aku sudah berada di Negeri Senja. Aku membayangkan wajah-wajah yang tidak akan pernah percaya jika aku menceritakannya. Aku tidak tahu apakah kau akan percaya padaku Alina – kurasa aku tidak akan pernah tahu, karena kau tidak pernah berbicara apa-apa kepadaku, hanya mendengarkan dengan mata penuh ingin tahu. Tapi kapankah aku akan pernah bertemu lagi denganmu Alina, jika aku tak pernah tahu apakah akan pernah kembali? Seperti juga aku tak pernah tahu, atau takut untuk tahu, apakah dikau menunggu atau tidak menunggu.
Ditulis dalam Cerita Pendek | 3 Komentar »
Sarman
27 Maret, 2008 oleh sukab
S A R M A N

Ceritakanlah padaku tentang kejenuhan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka Juru cerita itu pun bercerita tentang Sarman:
Pada suatu hari yang cerah, pada suatu hari gajian, Sarman membuat kejutan. Setelah menerima amplop berisi uang gaji dan beberapa tunjangan tambahan, dan setelah menorehkan paraf, sarman termenung-menung. Tak lama.
Ia segera berteriak dengan suara keras.
”Jadi, untuk ini aku bekerja setiap hari, ya? Untuk setumpuk kertas sialan ini, ya?!”
Ia berdiri dengan wajah tegang. Tangan kirinya mengenggam amplop, tangan kanannya menuding-nuding amplop itu, dan matanya menatap amplop itu dengan penuh rasa benci.
”Kamu memang bangsat! Kamu memang sialan! Kamu brengsek! Kamu persetan! Memble! Aku tidak sudi kamu perbudak! Aku menolak Kamu!”
Kantor yang sehari-harinya sibuk, sejuk, saling tak peduli, dengan musik yang lembut itu, pun mendadak jadi gempar.
”Lho ada apa Man? Kok pagi-pagi sudah nyap-nyap?”
”Eh, Sarman kenapa dia?”
”Jangan-jangan ia belum makan.”
”Kesurupan barangkali.”
”Man! Sarman! Sabar man! Nanti kamu dimarahi!”
Tapi Sarman tidak hanya berhenti disini. Ia melompat ke atas meja. Ia robek amplop cokelat itu. Ia keluarkan uang dari dalamnya. Ia robek bundel uangnya. Dan sebagian uangnya ia lemparkan ke udara.
”Nih! Makan itu duit! Mulai hari ini aku tidak perlu di gaji! Dengar tidak kalian!? Tidak perlu digaji! Aku akan bekerja suka rela, tetap rajin seperti biasa! Dengar tidak kalian monyet-monyet?!”
Berpuluh-puluh uang lembar Rp 10.000,- berguling-guling di udara dihembus angin AC. Kantor itu seperti dikocok-kocok. Para pegawai tanpa malu-malu berebutan uang gaji Sarman. Pria maupun wanita saling berdesak, bersikutan, dorong mendorong, berlompatan meraih rejeki yang melayang-layang diudara. Mereka cepat sekali memasukkan uang itu sekenanya dalam kantong bajunya. Lantas pura-pura tidak tahu.
Sarman menendang semua benda yang berserakan di mejanya, map-map yang bertumpuk, mesin tik, segelas the, bahkan foto keluarganya ia tending melayang. Layer monitor computer pun pecah digasaknya
“Sarman! Kamu gila!”
Sarman melompat dari meja ke meja denganr ingan seperti pendekar dalam cerita silat. Ia tendang semua barang-barang di atas meja karyawan-karyawan lain, sambil terus memaki-maki. Tak jelasa benar apa yang dimaki.
Dalam waktu singkat, kator yang terletak di tingkat 17 itu pun berantakan. Sekretaris-sekretaris wanita menjerit: ”Aaaa!” Dan para karyawan pria memperlihatkan jiwa pengecut mereka, tidak berani berbuat apa-apa. Meski dalam hati mengharap Sarman melempar-lempar lagi sisa uang yang dipegangnya. Dan Sarman bukannya tak tahu.
”Kalian mau uang? Ha? Kamu mau uang? Sukab! Kamu mau uang? Nih! Kamu mau uang? Nih! Kalian semua mau uang? Nih! Nih! Nih! Makan!”
Sambil masih melompat dari meja ke meja, Sarman, melempar-lemparkan uang ditangannya. Para karyawan berubah jadi serangga yang mengikuti kemanapun Sarman pergi. Suasana kantor sungguh menjadi hingar bingar. Wajah karyawan-karyawan itu seperti kucing kelaparan. Mereka berebutan dengan rakus. Yang sudah melompat, jatuh terdorong. Yang menubruk uang dilantai, diseret kakinya. Tidak sedikit uang robek dalam pergulatan. Tarik menarik, cakar-mencakar, tendang-menendang, tanpa pandang bulu.
”He, kalian masih mau uang lagi?” tanya Sarman sambil berdiri di atas meja kepala bagian. Mereka serentak menjawab.
”Mauuu!”
Sarman tersenyum. Keringat menetes didahinya. Ia longarkan dasi yang mencekiknya.
”Baik! Tapi kalian harus berteriak Hidup Uang! Hidup Uang! Setuju?”
”Setujuuuuu!”
Maka, seperti pemain softball melempar bola, Sarman pun segera melemparkan lagi segepok uang ditangannya. Uang itu berhamburan diudara, menari-nari bagaikan salju khayalan di hari Natal pada panggung sandiwara. Mata para karyawan dan karyawati berbinar-binar dengan riang, mulut mereka menganga, wajah mereka menujukkan semangat tekad bulat yang sangat mengharukan.
”Serbuuuu!” teriak mereka bersamaan. Pertarungan pun dimulai kembali. Kini mereka berebutan bagai pemain disuah pesta. Mereka tertawa terkikik-kikik. Saking asyiknya, mereka lupa bahwa banyak kancing baju mereka yang lepas, sepatu copot, rok tersingkap, dan rambut terburai-burai. Sarman berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Ia melompat dari meja ke meja sambil bersalto. Ruangan riuh dengan yel, meskipun tidak terlalu serempak, karena mereka berteriak sambil berebutan uang di udara dan dikolong-kolong meja: Hidup Uang! Hidup Uang!
Mendadak muncul Kepala Bagian. Ia diam saja di pintu, menatap bawahan-bawahannya berpesta pora. Wajahnya disetel supaya berwibawa. Lantas ia melangkah seperti tak terjadi apa-apa, menuju ke mejanya.
Mula-mula para pegawai itu tidak tahu, mereka masih berebut sambil tertawa-tawa. Namun yang tahu segera terdiam, dan kembali ke mejanya, pura-pura bekerja. Padahal mejanya sudah berantakan dikacaukan sarman.
Lambat laun semuanya tahu kehadiran kepala bagian. Mereka mundur dengan tersipu-sipu. Tangan mereka kedua-duanya menggenggam uang. Sisa uang bertebaran di lantai, di kursi, di meja, di bak sampah, bercampur tumpahan kopi dan gelas yang pecah. Kertas-kertas terserak-serak, morat-marit, kacau-balau, kata peribahasa seperti kapal pecah.
Sarman masih berdiri di salah satu meja. Rambutnya kacau, wajahnya buas seperti binatang tersudut, pakaianya yang biasa rapi, dan sepatunya yang berkilat-kilat, kini kumal. Kepala bagian hampir tak mengenali Sarman, karyawan paling rajin dan kedudukannya menanjak dengan cepat.
”Coba, tolong jelaskan apa artinya semua ini,” ujarnya kemudian, dengan sabar, tapi tetap tegas.
Semua terdiam. Tapi mata mereka semua tertuju kearah Sarman, yang masih terengah-engah, menjulang diatas meja. Dalam sunyi, musik yang lembut terdengar lagi, namun tak membuat suasana menjadi dingin.
Pandangan kepala bagian akhirnya pun tertuju pada Sarman.
”Sarman apakah kamu bisa turun dari atas meja itu?” Tanyanya.
”Bisa pak, tapi saya tidak mau.”
”Kenapa?”
”Jawabnya panjang sekali Pak, tidak perlu saya jelaskan.”
”Kenapa tidak? Kita bisa membicarakanya diruangan lain dan …”
”Tidak Pak! Jangan coba-coba merayu!” tukas Sarman, ”Hari ini saya menolak gaji, menolak bekerja, menolak menuruti Bapak. Pokoknya menolak apa saja yang seharusnya terjadi! Saya tidak suka keadaan ini! Saya benci!”
Kepala Bagian mendekat, dengan wajah kebapakkan ia mencoba menenangkan pegawai kesayangannya itu.
”Apakah kamu mau cuti Sarman? Kamu boleh ambil cuti besar, cutilah satu bulan. Kamu sudah bekerja sepuluh tahun.”
Tapi Sarman malah menjejak meja, menendang sisa tumpukan kertas di meja itu, lantas melompat lagi ke meja lain. Seorang wanita yang duduk disitu terpaku dengan ketakutan, tidak berani bergerak.
”Jangan mendekat! Saya sudah coba jelaskan mulai hari ini saya menolak apa saja! Mengerti tidak? Saya menolak apapun kemauan kalian!”
Kepala bagian itu sebetunya ingin marah, dan mengusir Sarman, tapi Sarman terlalu penting untuk perusahaan. Lagi pula alangkah tak layak memecat seorang pegawai yang sangat berjasa seperti Sarman. Sementara itu berdatanganlah para karyawan dari bagian lain. Kejadian itu begitu cepat tersebar. Beberapa petugas keamanan memasuki ruangan. Mereka akan bertindak, tapi Kepala Bagian menahan.
”Tunggu! Biar saya yang mengatasinya! Saya kenal dia, saya kenal dia, Sarman anak buah saya selama bertahun-tahun.”
Maka petugas-petugas keamanan pun hanya sibuk dengan HT mereka. Telepon berdering disalah satu meja, memecahkan keheningan, tapi Sarman keburu melompat kesana dan menendangnya. Ia masih menggenggam sebundel uang. Gajinya memang termasuk tinggi di kantor itu. Maklumlah ia sudah bekerja disana selama sepuluh tahun.
”Untuk apa kamu lakukan semua ini Sarman? Untuk apa?” tanya Kepala Bagian.
”Itu sama sekali tidak penting!”
”Lantas kamu mau apa, aku sudah menawarkan cuti besar, langsung mulai hari ini, tunjangannya bisa kamu ambil hari ini juga. Kamu juga boleh pakai hotel milik perusahaan kita di Bali, pakai Vila kantor kita di Puncak, pergilah dengan tenang biar kami selesaikan pekerjaanmu. Terus terang, selama ini kami memang terlalu…”
”Apa? Cuti? Cuti kata Bapak tadi?” Ujar Sarman sambil meletakkan tangan ditelinga, ”Cuti besar setelah sepuluh tahun bekerja. Cuti? Ha-ha-ha-ha! Cuti? Hua-ha-ha-ha! Cuti besar lantas masuk lagi, dan bekerja sepuluh tahun lagi? Huaha-ha-ha! Hua-ha-ha-ha! Ambillah cutimu Pak!”
Dan Sarman dengan lompatan karate menerjang jendela. Jendela tebal di tingkat 17 itu tidak langsung pecah. Sarman meninjunya beberapa kali sampai tangannya berdarah, lantas ia mengambil kursi, mengahantamkannya ke jendela, barulah jendela itu pecah. Angin yang dahsyat menyerbu masuk kantor. Kertas-kertas berterbangan. Sarman melompat ke jendela. Siap melompat kebawah. Orang-orang gempar dan menejrit-jerit.
”Sarman! Jangan bunuh diri Sarman!”
”Jangan akhiri hidupmu dengan sia-sia Sarman! Iangat anak istrimu! Ingat orang tuamu dikampung! Ingat Sahabat-sahabat kamu!”
”Sarman! Pakai oatakmu! Gunakan Akal sehatmu! Hidup ini cukup berharga! Hidup ini tidak sia-sia!”
Sarman yang sudah menhadap kejalan raya berbalik, sambil menendang sisa kaca di kusen jendela, ia berteriak dengan marah.
”Bangsat kalian semua! Bangsat! Sudah sepuluh tahun aku bangun tiap pagi dan berangkat dengan tergesa-gesa ke kantor ini! Sudah sepuluh tahun aku berangkat pagi hari dan pulang sore hari melalui jurusan yang sama. Sudah sepuluh tahun aku memasukkan kartu absen di mesin keparat itu tiap pagi dan sore! Sudah sepuluh tahun aku melakukan pekerjaan yang itu-itu saja delapan jam sehari! Sudah sepuluh tahun! Dan akan berpuluh-puluh tahun lagi! Memang aku dibayar untuk itu dan bayaran itu tidaklah terlalu kecil! Ini bukan salah kalian! Ini juga bukan salah perusahaan! Ini semua hanya omong kosong! Mengerti tidak kalian monyet-monyet? Ini semua Cuma omong kosong!”
”Sarman sudah gila,” bisik seseorang.
”Kenap sih dia bisa begitu?” desis yang lain.
”Semua ini Cuma lewat dan berlalu seperti debu!”
Sarman masih terus nerocos,
”Apa kalian masih ingat angka-angka yang kalian tuliskan kemarin? Apa kalian masih ingat kalimat-kalimat yang kalian tulis kemarin? Apakah kalian masih ingat nama-nama pada daftar relasi kita kemarin? Apa kalian masih ingat nomer-nomer mobil kantor kita yang baru? Apa kalian masih ingat nama-nama pegawai baru kita? Apa kalian masih ingat nama kawan-kawan kita yang sudah keluar dari perusahaan ini? Apa kalian masih ingat nama gombal-gombal yang selalu kita beri komisi? Begitu banyak, begitu dekat, tapi alangkah tidak berarti. Kita semua memang gombal! Aku jug acuma gombal! Jadi, sudahlah, jangan repot-repot! Besok kalian akan lupakan kejadian ini! Lenyap hilang seperti debu! Seperti gombal di pojok gudang! Seperti oli di lantai bengkel! Seperti sekrup…. ”
Sementara Sarman masih terus berpidato, para petugas keamanan tidak kehilangan akal. Mereka memanggil petugas pemadam kebakaran, tapi kedatangannya menimbulkan geger.
”Mana yang kebakaran Pak?”
”Bukan kebakaran!”
”Ada apa?”
”Ada orang mau bunuh diri!”
”Di mana?”
”Tuh!”
Syahdan diketinggian tingkat 17, tampaklah jendela yang terbuka itu menganga. Sarman tampak kecil, tapi jelas, menghadap kedalam sedang berteriak-teriak. Orang-orang yang sedang berada dibawah berhenti, menatap kesana. Mobil-mobil juga berhenti. Jalanan macet. Dengan mendadak, Sarman jadi tontonan. Beberapa orang menggunakan teropong. Bahkan ada yang memotret dengan lensa Tele. Petugas pemadam kebakaran membentangkan jala. Tangga mobil pemadam kebakaran, yang Cuma 40,9 meter, diulurkan. Semprotan air disiapkan, untuk menaha laju kejatuhan tubuh Sarman, kalau jadi melompat. Jalanan macet total. Helikopter polisi merang-raung diudara. Para penonton duduk di atap mobil. Beberapa orang bertaruh dengan jumlah lumayan, Sarman jadi bunuh diri atau tidak. Namun kru televisi terlambat datang.
Jalan lain untuk mencegah Sarman juga diambil. Di Helikopter polisi itu terdapatlah keluarga Sarman, istri Sarman dan anaknya yang bungsu.
”Sarman, lihat itu anak istrimu!” teriak para karyawan dalam gedung.
”Ya, itu anak istrimu! Ingatlah mereka Sarman! Jangan berbuat nekad!”
”Sarman! Sarman! Aku istrimu Sarman! Aku mencintai kamu! Anak-anak juga mencintai kamu! Jangan melompat Sarman!” teriak istrinya sambil menangis, Suaranya menggema lewat penegeras suara di celah raungan helikopter.
”Bapak! Bapak!” seru anaknya.
Sarman berbalik. Dilihatnya wanita itu melambai dengan air mata tumpah ruah. Hatinya tercekat. Ia ingin melambai kembali. Seperti dilakukannya setiap pagi ketika berangkat kantor. Namun ini mengingatkannya pada segepok uang yang masih digenggamnya. Sarman kumat lagi. Tapi dari dalam kantor, dua petugas kemanan merayap perlahan ke jendela.
”Ingat anak-anak kita Sarman! Mereka mebutuhkan kamu! Ingat ibumu, ia mau datang minggu ini dari kampung! Sarman, o Sarman, jangan tinggalkan aku Sarman!” teriak istrinya lagi.
”Apa? Pulang untuk ketemu kamu?! Ketemu dengan segenap tetek-bengekmu?! Pulang utnuk menemui segenap omong kosongmu?! Kamu tidak pernah mau tahu perasaanku! Kamu Cuma tahu kewajiban-kewajibanku! Kamu Cuma tahu ini!”
Sarman mengacungkan uang ditangannya,
”Kamu Cuma tahu ini kan?!”
”Bukan begitu Sarman, aku tidak bermaksud begitu, kamu salah sangka Sarman, aku …”
”Ini uang kamu! Makan!”
Dan Sarman melempar ratusan ribu rupiah ke udara. Uang ditangannya sudah habis. Lembaran-lembaran uang itu berteberan ditiup angin, berguling-guling dan berkilauan dalam siraman cahaya matahari.
”Sarman, o Sarman…” Istrinya menangis tersedu-sedu. Anaknya hanya bisa berteriak,
”Bapak! Bapak!”
Angin masih bertiup kencang diketinggian itu. Sarman melihat uang gajinya berguling-guling melayang kebawah. Kertas-kertas itu belum sampai tanah. Masih melayang-layang menyebar. Orang-orang dikantor yang ada ditingkat bawah dari kantor Sarman terkejut melihat uang berterbangan di udara. Dibawah anak-anak maupun orang dewasa bersiap-siap menangkap uang itu. Suasana sangat meriah. Sarman termenung. Sekilas terlintas untuk megakhiri sandiwara ini.
Saat itulah kedua petugas keamanan yang merayap, tiba di jendela. Salah seorang meyergap, berusaha merangkul Sarman, namun gerakkan yang abru pertama kali ia lakukan dalam hidupnya itu kurang sempurna. Sarman malah jadinay terpeleset, ketika membuat gerakan refleks menghindar. Petugas itu hanay mencengkeram sepatu sarman.
Orang-orang dibawah berteriak histeris. Oarang-orang dalam gedung berebutan melongok dari jendela.tubuh sarman meluncur. Dalam jarak yang cukup jauh Sarman sempat berpikir, sandiwaranya kini menjadi kenyataan. Dengan gerak mirip tarian, tubuh Sarman menembus sebaran uang kertas yang belum juga sampai kebumi. Di bawah, pemadam kebakaran telah membentangkan jala penyelamat lebar-lebar. Empat selang memancarkan air dengan keras ke atas.
”Apakah Sarman akhirnya bisa diselamatkan?” desak Alina yang sudah tidak sabar.
”Oh, itu sama sekali tidak penting Alina,” jawab si juru cerita, ”Itu sama sekali tidak penting.”
Ditulis dalam Cerita Pendek | 9 Komentar »

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar