6.13.2009

ringkasan buku pastoralia

Judul Buku : Seri Buku Pastoralia; MARIA
Diterbitkan atas nama Pimpinan Provinsi SVD Ende
Penerbit : Arnoldus Ende- Flores, 1988

Pengantar
Berbicara mengenai Maria, tidak akan terlepas dari Yesus. Pencarian akan Maria bukan pertama-tama agar menempatkan Maria di atas Yesus, melainkan agar Yesus semakin dimuliankan. Inlah yang dilakukan dan diuraikan oleh setiap penulis dalam buku ini. Buku yang berjudul SERI BUKU PASTORALIA; MARIA, ini hanyalah kumpulan dari setiap karangan yang kemudian menjadi satu buku. Secara implisit buku ini mempunyai tujuan untuk memberikan inspirasi dan menjadi pegangan serta bimbingan dalam usaha pendalaman iman dan rohani. Dapat dikatakan buku ini semacam air penyegar dahaga rohani yang dapat membawa setiap orang menuju ke “Sumber Kehidupan.” Saya mencoba meringkas secara padat dari setiap tema khususnya yang berkaitan dengan Teologi.

I. Alasan pemilihan buku
Buku bacaan yang saya pilih berjudul Seri Buku Pastoralia; MARIA. Mengapa saya memilih buku ini? Secara fisik buku ini memang kalah menarik dengan buku bacaan wajib lainnya. Akan tetapi, jikalau masuk dalam isinya, ternyata tampang luar tidak mengindikasikan bahwa isi buku ini tidak berbobot. Isi buku ini tidak kalah penting dengan buku bacaan wajib lainnya. Dalam buku ini berisi tulisan/artikel yang membahas tentang Maria. Hal-hal mendasar dalam hidup Kristiani mengenai Maria dibahas dalam buku ini. Inilah yang membuat saya semakin percaya diri untuk menjadi buku bacaan wajib.
Saya merasa “beruntung” dengan membaca buku ini. Beruntung karena pemahaman saya mengenai dogma Maria atau pandangan lain tentang Maria semakin diperkaya. Dalam hidup sehari-hari ada banyak persoalan seputar Maria baik yang datang dari luar maupun ketidakberdayaan saya untuk memahami misteri yang terjadi dalam hidup Maria. Nah, dengan membaca buku ini paling kurang saya memiliki dasar untuk berbicara tentang Maria. Saya semakin percaya diri untuk membagikannya kepada orang lain. Alasan mengapa saya memilih buku ini karena ulasan di dalamnya sederhana dan mudah dipahami. Pembahasannya sistematis. Selain itu, karena judul-judul yang tersendiri setiap bagian. Kemasan pembahasannya mempunyai dasar biblis yang mendalam sehingga saya tidak mempunyai alasan untuk meragukan pembahasan. Saya tidak meringkas pokok bahasa lain, karena menurut saya beberapa bagian yang saya ringkas dan baca sungguh-sungguh fundamental dalam hidup Kristiani.

II. Struktur dan Pembagian buku (alasanya)
Dalam buku ini dibagi dalam tiga bagian besar;
1. Teologi
2. Devosi
3. Kesenian
Pokok pembahasan mengenai devosi saya hanya mengambil salah satu sub tema yakni devosi-devosi Marial dalam gereja; Fenomena yang khas Katolik. Sedangkan tema kesenian saya tidak membahas dan mengambil. Fokus utama dalam uraian ini pada teologinya. Alasannya, uraian dalam tema ini sangat mendasar dan merupakan hal-hal pokok untuk mendalami Maria. Teologi mengenai Maria diuraikan dalam beberapa sub tema;
• Maria menurut Kitab Suci
• Gambaran umum mengenai Maria dari perjanjian Baru sampai dengan Konsili vatikan II
• Dogma-dogma tentang Maria
• Lument Gentium mengenai Maria
• Maria dalam perayaan ekaristi
• Devosi-devosi Marial dalam gereja: Fenomen yang khas Katolik
A. Maria menurut Kitab Suci
Surat Paulus; Maria dalam Rm 1:3-4. Menurut para ahli umumnya dianggap bukan dari Paulus melainkan diangkat Paulus dari rumusan tradisional, formula pra-Paulinus. Injil yang diberitakan Paulus tentang anak dilukiskan dalam dua cara seksistensi “ menurut daging dan Roh Kudus”. Tema tentang Yesus dan eksistensi-Nya dalam kaitan dengan cara eksistensi yang pertama “ menurut daging/menurut kelahiran” ada hubungan dengan Maria. Paulus menggunakan diperanakan (Yunani) Genomenon= lahir seperti dalam Gal 4:4, Fil 2:7 karena dia tahu tentang tradisi perkandungan Maria. “Menurut Roh Kudus” Yesus dinyatakan sebagai anak Allah yang berkuasa. Di sini tidak ada indikasi apa-apa tentang Maria. Yang penting bahwa “kuasa” Roh dan Daud” adalah kata penting dalam Lukas dan uraian tentang Maria dan cara perkandungannya (Luk 1:32-35). Singkatnya ajaran tentang Maria dalam teks sangat implisit.
Maria dalam surat Gal 4:4;
Konteksnya dalam kaitan dengan bagian doktrinal teks Gal 3:1—5:21 yang didahului presentasi tesis Gal 2:15-21 tentang kebenaran karena iman dan bukan hukum. Paulus mengaplikasikan bagi orang Kristen (Gal 4:3-7) yang terdiri atas 2 periode; pertama, situasi orang Yahudi di bawah hukum/takluk di bawah roh-roh dunia. Kedua; periode sejarah keselamatan (Gal 4:4-7). Jadi, dilukiskan orang kristen berkat peristiwa Yesus Kristus. Dalam hubungan dengan Maria ungkapan “yang lahir dari seorang perempuan” genomenon ek gunaikos secara emplisit menyinggung tentang perkandungan Maria secara perawan (conceptio virginalis). Alasannya kata genomenon dalam arti lahir dan bukan dilahirkan yang berarti tanpa bapa.
Tujuan Paulus adalah
i. Bukan menggarisbawahi keistimewaan Yesus Kristus tetapi bukti kerendahan diri Allah --- pada kodrat manusia.
ii. Menekankan kelemahan manusia.
iii. Ayat di atas bukan refrensi terhadap perkandungan perawan Maria melainkan “Maria sebagai Bunda” yang membawa Yesus ke dunia.
Kristologinya ; Kristus anak Allah dan lahir dari seorang perempuan.
Maria dalam Markus.
a. Keluarga Yesus yang baru (Mrk 3:31-35).
Ayat di atas, Yesus mempertentangkan antara famili/hubungan manusiawi dengan kemuridan yang berarti hubungan baru, keluarga yang terjadi karena pemaklumam kerajaan surga. Keluarga kodrati tidak penting dan diganti dengan keluarga eskatologis. Ini diwakili oleh mereka yang duduk mengelilingi Dia, yang berada dalam rumah yang berarti pula, jemaat/gereja.
b. Yesus ditolak (Mrk 6:1-6a)
Ungkapan “anak Maria” (ay 3) mengungkapkan keperawanan Maria dalam melahirkan Yesus. Gagasan tentang keperawanan mau menghilangkan sama sekali refrensi terhadap Yusuf. Kesimpulan ini hanyalah implisit. Secara positif mungkin mau menekankan kemanusiaan Yesus, melawan tendensi jemat Markus yang melihat Yesus sebagai yang luar biasa, pembuat mukjizat. Jadi, secara singkat dikatakan tidak secara ekplisit berbicara mengenai Maria dalam teks ini. Yang lebih utama adalah Yesus dan pewartaan-Nya. Dalam konteks ini Maria disinggung, Maria mungkin masuk dalam keluarga kodrati yang dilukiskan secara negatif oleh Markus. Jauh lebih penting adalah kemuridan, keanggotaan dalam keluarga baru yang dibentuk oleh mendengarkan warta dan hubungan dengan Yesus, keluarga eskatologis.
Maria dalam Matius.
Injil Matius dan Lukas berbicara banyak tentang Maria. Maria ditampilkan sejak masa kanak-kanak Yesus sampai pada karya umum Yesus. Yang mau ditekankan adalah arah perkembangan Kristologi bukan mulai dari masa kecil Yesus, melainkan dari akhir hidup Yesus dari bangkit menuju ke awal lagi, masa kecil-Nya. Matius menempatkan peristiwa hidup Yesus dengan latar belakang Yahudi. Yesus anak Daud, anak Abraham, Yesus menggenapi harapan yang disuarakan oleh para nabi. Peran Maria, dalam konteks memperkenalkan siapa Yesus.
Dalam silsilah tentang Yesus. Yesus menjadi bagian dari sejarah bangsa Yahudi. Silsilah ini lebih bersifat teologis daripada historis, bahwa ada kesinambungan sejarah Israel dengan kedatangan Yesus, malah Yesuslah puncak pemenuhan itu. Ada beberapa indikasi literer; pertama, ada formula stereotip dominan yang menguasai seluruh teks yakni bahwa “yang diperanakan” menjadi ”yang memperanakan” pada tahap berikutnya. Kedua, Maria muncul dalam silsilah Yahudi yang biasanya hanya memperhitungkan lelaki. Ini sesuatu yang tak biasa. Peran Maria sebagai sesuatu yang luar biasa sudah dipersiapkan dengan munculnya keempat wanita yakni Tamar, Rahab, Ruth dan isteri Uriah.
Perkadungan Maria (Mat 1:18-25). Jelas bahwa perkandungan Maria bukan atas campur tangan Yusuf lewat persetubuhan, melainkan dari roh kudus. Untuk dapat memahami hubungan Maria dan Yusup kita perlu melihat dan mengetahui adat istiadat Yahudi. Tahap pertama yang resmi yang biasa disamakan pertunangan, tetapi secara yuridis telah sah sebagai tahap perkawinan ialah ERUSIN. Sudah dilihat sebagai suami isteri tetapi masih tinggal terpisah dan tidak diperkenankan melakukan hubungan seksual. Tahap kedua, suami-isteri tinggal bersama secara definitif yang disebut NISUIN. Hubungan Maria dan Yusup berada pada tahap pertama. Peran Maria dalam kelahiran Yesus ialah bahwa ia mengandung dari Roh Kudus dan bahwa ia perawan dalam hubungan dengan perkandungan itu.
Maria dalam karya umum Yesus. Teks yang bersentuhan dengan Maria yakni Mat 12:46 dan Mat 13:53-58. Teks ini pararel dengan Mark 3:31-35, menegaskan arti keluarga, ibu, saudara/i menurut Yesus ialah mereka yang memenuhi kehendak Allah, keluarga eskatologis, yang berbeda dari keluarga karena hubungan kodrati. Intinya Matius mementingkan keluarga baru karena pemakluman Yesus yang dicirikan oleh memenuhi kehendak Allah.
Maria menurut Lukas. Seperti halnya Mat, Lukas juga memperlihatkan peran Maria mulai masa kanak-kanak Yesus sampai Maria dalam jemat. Rencana Lukas adalah melukiskan “sejarah keselamatan.” Dalam konteks sejarah keselamatan ini, Lukas menempatkan Maria. Perhatian Lukas mencakup juga sifat universalitas sejarah keselamatan, tempat kusus bagi wanita, orang miskin dianggap berbahagia, suasan doa, kesalehan kenisah dan kegembiraan karena taat kepada Allah.
Maria dalam injil Yohanes. Injil Yohanes memperlihatkan peran Maria dalam dua perikop penting yakni (Yoh 2:1-11; perkawinan di Kana dan Yoh 19:25-27; Bunda di kaki salib). Pada pesta di Kana, Yesus merevelasikan kemuliaan-Nya. Maria sebagai Bunda Yesus hadir pada awal revelasi diri Yesus. Yang penting bahwa di sini ada pengakuan bahwa Maria sebagai Bunda Yesus. Kata-kata Yesus (ay 4) “mau apakah engkau daripada-Ku ibu?” Seharusnya “Wanita/gune”. Ungkapan wanita ini dilihat sebagai evokasi simbolis peran Hawa dalam Kej 3. Maria adalah Hawa baru, ibu kehidupan, ibu orang-orang hidup. Penyaliban Yesus adalah saat lahirnya atau berdirinya gereja, komunitas murid-murid. Maria adalah contoh murid yang dikasihi Yesus dan sebagai saksi utama komunitas Yohanes yang telah berhasil memahami Yesus. Bagaimana peran Bunda Yesus? Bunda hadir pada revelasi final Yesus, ketika “saat” Yesus tiba dan terpenuhkan. Pada peristiwa di kaki salib Yesus, Maria diangkat sebagai bunda Gereja. Karena ialah yang menjadi saksi utama komunitas Yohanes. Hubungannya dengan Yohanes sebagai hubungan rohani dan inilah yang lebih penting. Keibuan Maria bukan karena unsur kodrati melainkan kerena hubungan iman yang membentuk gereja.
Maria dalam wahyu 12. Dalam Wahyu 12 dikemukan tentang perempuan yang melahirkan anak. Apakah ini melambangkan Maria? Para penafsir tidak sepakat akan hal ini. Perempuan dalam Why 12 melambangkan gereja, umat Allah. Pendapat lain, perempaun dalam why 12 melambangkan Maria yang melahirkan Mesias. Pandangan yang kedua mudah diterima sebab Maria pun melambangkan putri Sion, Israel eskatologis.
Kesimpulan dari semua uraian di atas. Pertama; peran Maria ditemukan dalam konteks Kristologi. Maria tidak berdiri sendirian. Ia tidak berarti tanpa Yesus. Keluhuran dan keagungan Maria menampakan justru dalam hubungannya dengan Yesus. Roh adalah kuasa pencipta seperti halnya dalam kisah penciptaan di mana roh berkarya. Keperawanan Maria memungkinkan lahirnya anak Allah, sejajar dengan sikap Yusuf yang memungkinkan Yesus anak Daud. Keperawanan lebih diartikan sebagai “Theologoumenon.” Maria adalah Bunda Allah. Ini tidak dapat dipisahkan dari keperawanan Maria. Maria adalah seorang murid Tuhan beriman. Dalam artian ia bukan sempurna dari awal melainkan selalu dalam perjalanan iman. Maria adalah wakil umat Allah lama dan baru. Dalam diri Maria terlihat kesalehan Israel yang menantikan penyelamat.

B. Gambaran umum mengenai Maria dari Perjanjian Baru sampai dengan Konsili Vatikan II
1. Perjanjian Baru
Refrensi mengenai Maria hanya ditemukan dalam tulisan Paulus (Gal 4:4). Inti yang mau dikatakan dalam teks ini adalah humanitas kesejatian Yesus. Artinya Yesus itu manusia, karena Ia lahir dari seorang perempuan (Maria). Jelas ini bersifat Kristologis. Dalam madahnya sendiri-Magnificat-Maria mengakui bahwa Allah yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku (Luk 1:49). Jadi, Lukas menempatkan Maria sebagai wanita pembicara yang mewakili kaum anawim.
Lukas dan Mateus memberikan banyak informasi mengenai peran Maria dalam hidup Yesus. Keduanya tidak mengeluarkan Maria dari keluarga eskatologis. Jadi, dalam gambaran sinoptik mengenai Maria selama pelayanan Yesus ada satu perkembangan penilaian dari yang negatif dalam Mark 3:1 “Dia tidak waras lagi” sampai pada yang positif dalam Lukas, sedangkan Mateus mengemukakan satu jalan tengah.
Injil Yohanes, melihat dalam peristiwa golgota Yesus disalib “Yesus memberikan murid yang dicintainnya Yohanes kepada Maria sebagai anaknya dan memberikan Maria kepada Yohanes sebagai ibunya (Yoh 19:25-27), sesungguhnya Yesus mengadakan satu komunitas baru yang terdiri dari murid-murid yang percaya ”keluarga eskatologis” sama dengan yang ada dalam sinoptik.
Pandangan mengenai virginitas/keperawanan Maria. Perjanjian Baru hanya memberikan bukti mengenai kepercayaan akan virginitas Maria ante partum (=sebelum melahirkan) maksudnya keperawanan akan dikandungnya Yesus secara perawan. Sebaliknya, tidak berbicara mengenai virginitas Maria in partu (=dalam tindak melahirkan) artinya Yesus lahir tanpa ganguan biologis Maria dan post partum (=sesudah melahirkan) artinya Maria tidak melakukan hubungan seksual yang biasa setelah melahirkan Yesus.
II. Abad II
Ada dua tulisan utama dalam abad ini yakni Apocrypha dan tulisan Patristik. Salah satu sumber utama untuk bahan Marial dalam Apocrypha adalah Protoevangelium Yakobus (judul aslinya : kelahiran Maria: Revelasi Yakobus). Yakobus adalah saudara Yesus. Dalam Apocrypha ini memuat banyak hal kecil mengenai hidup keluarga Maria, kelahirannya, pertunangannya dengan Yosuf dll.
Tulisan Patristik; banyak bapa gereja yang memberikan sumbangan pemikiran mengenai Maria. Salah satu contoh adalah Yustinus. Ia mengatakan kelahiran Yesus dari seorang perawan merupakan bukti kemanusiaan-Nya dan satu tanda dari zaman baru. Maria adalah eva baru, ibu kemanusiaan baru. Tema sentral dalam abad ini adalah mengandung sebagai perawan.
III. Abad III
Keperawanan Maria diterima oleh umum. Dalam abad ini pengaruh Nestorian cukup besar. Mereka katakan bahwa ada dua pribadi dan dua kodrat dalam diri Yesus. Ia menyangkal gelar Maria Bunda Allah. Maria hanya Bunda Kristus yang berperibadi manusiawi.
Sebelum konsili Efesus sudah ada satu pesta liturgis yakni pesta purufikasi. Konsisli ini menentang pandangan Nestaorius. Konsili ini mengatakan Maria adalah Bunda Allah karena hanya ada satu pribadi dalam diri Kristus. Sesudah konsili ini ada banyak pesta. Misalnya Maria diangkat ke surga dengan badan (assumptio). Ini memang tidak ada dasar biblis dan bukti pada tulisan patristik. Namun, ini merupakan kesimpulan yang disebut “argumen conveniantiae (=kesesuaian). Artinya sesuai dan cocok bahwa Yesus tentu sudah menebus bunda-Nya dan kerusakan daging. Pertengahan abad ke VIII pesta Marial semakin bertambah misalnya annuntiatio, puruificatio, assumptio, nativitis Mariae. Akhir abad Ke VIII pesta conceptio Mariae (pandangan Maria).
Iman akan kuasa pengantara Maria pada Allah mendapat dorongan kuat dari semakin bertambahnya kepercayaan akan assumptionya. Germanus (+733) =patristik Konstantinopel; Maria memiliki pengaruh maternal atas Allah bahwa ia (Maria) dapat menghilangkan kemarahan dan berdialog dengan Allah. Maria mediatrix kita pada Allah.
IV. Abad Pertengahan
Ada beberapa tokoh abad pertengahan yang cukup besar memberikan pemahaman mengenai Maria, antara lain;
Bernardus dari Clairvaux (+1153) mengatakan bahwa Maria mempunyai peranan besar dalam penebusan. Maria adalah saluran air yang mengalirkan air rahmat ilahi turun ke dunia. Allah menghendaki agar kita memiliki segala sesuatu lewat Maria. Ia juga menentang ajaran immaculata conceptio.
William Ware (Fransiskan) mengatakan bahwa lebih baik ia keliru karena memberikan Maria terlalu banyak daripada terlalu sedikit. Duns Scotus (+ 1308)=Fransiskan, mengatakan Kristus pertama-tama adalah seorang penebus. Dia datang bukan hanya untuk menebus dosa aktual tetapi juga dosa asal. Sebagai penebus kita yang paling sempurna, bisa diharapkan bahwa Dia paling kurang sudah melaksanakan kuasa-Nya mengatasi bahkan dosa asal. Begitulah halnya yang terjadi dalam diri Maria ibu-Nya. Maka ia mendiamkan mereka yang melindungi universalitas penebusan dan berkeberatan dengan immaculata conceptio.
Thomas Aquinas menentang immaculata conceptio alasannya bahwa hal itu akan mengurangi universalitas penebusan Kristus.
V. Reformasi sampai Pertengahan abad XIX
Konsili Trente dan berbagai tokoh kontra reformasi yang membela devosi Maria dan perannya dalam penebusan kita. Misalanya; Petrus Kanisius (+ 1597), Fransiskus Suarez (+ 1617), Robbertus Belarminus (+ 1621). Tokoh yang tak kalah pentingnya yakni St. Louise Grignon de Montfort. Dia adalah tokoh spiritualitas abad pertengahan. Dia memulai dengan apa yang disebut devosi sejati kepada perawan Maria memintakan penundukan diri secara absolut kepada Maria. Ia mengaatakan “kalau kita menghadirkan diri secara lansung kepada Kristus, Dia mungkin melihat cinta diri kita, tetapi menghadirkan diri tanpa lewat Maria berarti kita berhasil lewat sisi lemah-Nya.”
Dogma dikandung tanpa noda mengemukakan bahwa Maria Bunda Yesus bebas dari dosa asal sudah sejak dia dikandung ibunya tetapi dogma ini dicampur-baurkan dengan pengandungan Yesus sebagai perawan oleh konsili Basel yang ke 30 sebagai “ajaran yang saleh.” Paus Pius XII (+1958) sumbangannya yakni mengenai pengangkatan dengan Badan ke surga dalam konstitusi apostolik munificentimus Deus (= Allah yang sangat dermawan) 1 Nov 1950.
VI. Konsili Vatikan II
Seluruh bab 8 konstitusi dogmatik Konvak II mengenai Gereja (Lumen Gentium) berbicara mengenai “peran St. Perawan Maria, perawan dan bunda Allah dalam misteri Kristus dan gereja.”

C. Dogma-Dogma Tentang Maria
Maria Bunda Allah
Dasar biblis dogma ini terdapat dalam teks tua St. Paulus (Gal 4: 4). Dogma ini memiliki latar belakangnya sebagai berikut; ketika agama kristen masuk dalam alam budaya Helenisme dengan refleksi filosofis, misteri Kristus sebagai Allah dan manusia dijelaskan secara baru. Bahaya yang muncul adalah orang terlalu menekankan keallahan Yesus dan menghilangkan kemanusian-Nya bahwa kemanusian-Nya dilebur dalam Allah, atau Logos ilahi tinggal dalam diri manusia Yesus. Maka, konsili Efesus (431) menetapkan Maria sebagai Bunda Allah untuk menjamin kebenaran mengenai Kristus. Isi dari konsili ini: “barangsiapa tidak mengakui bahwa Emanuel sesungguhnya Allah dan oleh karena itu sang perawan kudus adalah Bunda Allah (theotokos dan Dei generix) karena ia melahirkan menurut daging, sabda yang berasal dari Allah dan telah menjadi daging, hendaknya ia dikucilkan (DS 252).

Maria Tetap Perawan
Pernyataan iman ini tentang keperawanan Maria dikembangkan dalam ajaran gereja, sehingga ia kini mempunyai tiga aspek:
• Virginitas ante partum; Maria mengandung karena Roh kudus,
• Virginitas in partu: secara ajaib Yesus dilahirkan tanpa merusak keutuhan keperawanan ibunya,
• Virginitas post partum; Maria tidak pernah melakukan hubungan seksual setelah melahirkan Yesus dan melahirkan anak lain.
Aspek pertama tidak menjadi soal, tetapi aspek kedua dan ketiga mendapat kritikan jikalau ditinjau dari ilmu alam. Para teolog pun sulit untuk membuktikan kebenaran historis pada aspek kedua dan ketiga. Meskipun ini menjadi persoalan yang besar, tetapi kita mencoba mencari kebenaran teologis untuk mendukung keperawanan Maria sebagai kenyataan biologis-historis. Adalah kebenaran dan keyakinan dasar bagi agama Kristen bahwa penyelamatan umat manusia tidak dihasilkan oleh usaha dan pahala manusia sendiri, melainkan dilakukan oleh Allah, atas inisiatif Allah, karena keputusan dan kehendak bebas Allah yang ingin agar manusia selamat. Perawan adalah lambang untuk passivitet ciptaan, untuk kesanggupan ciptaan menghasilkan hidup baru dari dirinya sendiri, ketergantungan dari inisiatif Allah.

Maria bebas dari segala noda dosa
a. Maria tidak berdosa, ia kudus secara sempurna seumur hidup
Ajaran ini sudah ditemukan pada awal abad ke 3 dalam tulisan hippolytus dari Roma dan sejak konsili Trente ditekankan secara eksplisit bahwa Maria bebas dari segala dosa ringan (DS 1573). Konsili yang sama menegaskan kekudusan istimewa Maria yang bebas dari dosa asal: “dengan segenap hati ia (Maria) menerima kehendak Allah yang menyelamatkan, tanpa dihalangi satu dosa pun. Ia menyerahkan diri sepenuhnya sebagai abdi Tuhan kepada pribadi dan karya puteranya. Di bawah dia dan bersama dia, dengan rahmat Allah yang Mahakuasa, ia melayani misteri penebusan. Maka wajarlah para bapa gereja berpendapat, bahwa Maria bukan digunakan Allah secara pasif melulu, tetapi bahwa ia dengan iman dan ketaatan yang bebas, bekerjasama untuk keselamtan manusia” (LG 56).
Ia kudus secara sempurna artinya ia berada dalam communio dengan Allah. Kekudusan pribadi Maria berada dalam interaksi antara rahmat/sapaan/panggilan Allah dan iman/jawaban manusia. Jadi, kekudusan merupakan suatu kenyataan dialogal dan Allah dalam rahmat-Nya menyapa dan memanggil setiap orang secara pribadi dalam konteks yang konkret hidup maka, kekudusan merupakan sesuatu yang konkret dan unik

b. Maria dikandung tanpa noda dosa asal
Dogma ini didefinisikan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX. Dogma ini dapat kita mengerti dalam konteks lebih luas yaitu kekudusan Maria seumur hidup.

Maria diangkat ke dalam Kemuliaan Allah
Dogma ini didefinisikan oleh Pius XII tahun 1950. Inti definisinya: “adalah kebenaran iman yang diwahyukan Allah bahwa Bunda Allah Maria yang tak bernoda, setelah menggenapi perjalanannya di dunia ini, diangkat dengan jiwa dan raga ke dalam kemuliaan surgawai” (DS 3903). Banyak diskusi yang mempertanyakan dogma ini. Akan tetapi, dogma ini merangkum seluruh hidup Maria. Maria sungguh-sungguh menjawabi sapaan dan menunaikan tuntutan Allah, sepanjang hidup ia pengikut yang setia bagi anaknya. Maria sungguh terbuka akan rahmat Allah, sehingga sebagai mempelai Roh Kudus ia dapat menjadi ibu putra Allah dan murid anaknya yang setia. Tentu di dalamnya karena adanya dialog cinta Allah yang abadi dan istimewa dan sempurna.
Iman akan pengangkatan Maria ke dalam kemuliaan abadi itu memperkuat iman dan harapan kita bahwa janji Allah bukanlah janji kosong, melainkan sungguh benar dan mencapai kepenuhannya sebagaimana yang terjadi dalam diri Maria.

Maria Bunda Gereja
Paus Paulus VI memproklamirkan Maria sebagai Bunda Gereja dengan rumusan: “maka demi kemuliaan perawan suci dan penghiburan kita, maka kami menyatakan St. Maria sebagai Bunda gereja artinya bunda segenap umat kristen, baik umat beriman maupun para pemimpin yang memanggilnya bunda tercinta” (pidato 6 Nov 1964).
Secara teologis gelar ini bukan tanpa problematik dan harus dijelaskan dengan hati-hati. Gelar ini, tidak terlepas dari penjelasan sebelumnya terutama Maria yang berada di bawah kaki salib Yesus. Gelar ini mempunyai dasar biblis. Maka dengan mudah kita bisa memahami posisi Maria sebagai Bunda gereja. Akan tetapi, Maria tidak berada di atas gereja sebagai bundanya melainkan harus dilihat di tengah-tengah gereja itu, karena keistimewaan dan kekudusan Maria merupakan buah yang matang dari rahmat Allah, karya roh kudus di dalam umat Israel. Dogma ini akan dipertajam lagi dalam Lumen Gentium tentang Maria.

D. Lumen Gentium tentang Maria
Judul bab VIII “santa Maria, perawan dan Bunda Allah dalam misteri Kristus dan misteri gereja.” Yang hendak mau dikatakan adalah Maria mempunyai kedudukan istimewa di dalam gereja dan bisa dipandang sebagai typos gereja hanya karena hubungannya yang istimewa dengan Kristus, sebagai bunda-Nya.
Tugas santa perawan Maria dalam tata penyelamatan. Gelar Maria “ Co-Redemptrix”- dia yang turut menyelamatkan, oleh konsisli tidak menggunakan karena mudah dimengerti salah. Dalam artikel 55 perjanjian Lama sudah berbicara menganai Maria. Perempuan yang meremukan kepala ular (bdk Kej 3;15) merujuk pada Maria; ia juga perawan yang melahirkan putra yang disebut Emanuel (bdk Yes 7;14). Dalam Perjanjian Baru, peran Maria ditonjolkan oleh penginjil Lukas yaitu ketaatannya yang penuh kepercayaan (art 56). Artikel 57-58 menggambarkan bagaimana “ya” fundamental itu diejawantahkan pada pelbagai tahap hidup dan karya Yesus. Ada dua aspek yang ditekankan bagaimana Maria dikuduskan dan diberikan bagian dalam keselamatan yang dikerjakan putranya dan yang kedua arti dan nilai dari peran serta Maria itu bagi semua orang beriman. Artikel 59; pengantar untuk bagian ketiga yang akan menggambarkan peran Maria dalam misteri gereja. Peran itu sudah diperantarai oleh keikutsertaan Maria dalam doa para murid Yesus, memohon roh kudus yang akan memaklumkan “ sakramen keselamtan manusia secara mulia.”
Perawan suci dan gereja. Maria sebagai typos geraja, ibu rohani. Artikel 61 dan 62 menandaskan dua hal penting. Pertama; peran serta hidtoris dari Maria dalam karya Yesus di Palestina, ketika Maria menemani Dia sebagai “teman setia” dalam suka dan duka karya itu. Kedua; keibuan yang aktual, sekarang ini bagi kita semua. Maria bukan hanya menjadi ibu dalam tata iman tetapi juga dalam tata rahmat. Artikel 63; berbicara menganai Maria sendiri dan memperlihatkannya sebagai contoh gereja. Artikel 64; berbicara mengenai gereja yang mengembankan tugas yang sama dan turut serta dalam misteri yang sama seperti bunda Maria. Gereja sendiri menjadi bunda dengan merenungkan kekudusan bunda yang ajaib. Artikel 65; berbicara mengenai orang-orang beriman dalam gereja, anggota gereja yang diharapkan meneladi Maria dalam kekudusan dan kesetiaan kepada Kristus. Dari artikel 67 mengajak kita agar tidak bersikap ekstrim; pertama jangan mengorbankan dan menganggap remeh penghormatan kepada Maria dan kedua peran dan kedudukan Maria jangan dilebih-lebihkan. Penghormatan kepada Maria harus berorientasi pada sumber iman kita yakni Kitab Suci dan tafsirannya. Artikel 68-69 memberikan pengharapan bahwa Maria tanda yang pasti serta hiburan bagi umat Allah yang berziarah.

E. Maria Dalam Perayaan Ekaristi
1. Peran Maria dalam inti misteri keselamatan. Ia menolong kita agar dapat mempersiapkan diri lebih layak dalam merayakan peristiwa penyelamatan dalam ekaristi
2. tek-teks dalam perayaan ekaristi memperlihatkan dengan amat jelas perawan Maria sebagai perawan kudus, bunda dan pengantara sesuai dengan harapan gereja. Maka, devosi-devosi Marial akan sungguh berarti dan mencapai tujuannya sejauh mengarahkan dan membantu kita untuk mengalami kehadiran dan peran Maria secara sakramental dalam perayaan ekaristi.

F. Devosi-Devosi Marial dalam Gereja: Fenomena yang Khas Katolik
a. Minimalisme (mariaphobia) dan maximalisme Marial (mariocentrcisme).
Minimalisme adalah suatu sikap di mana melebih-lebihkan peran ilahi dalam penyelamatan sehingga nilai dan pentingnya kerjasama manusiawi hilang. Oleh karen itu, tidak seorang pun manusia termasuk Maria bisa layak dihormati karena penghormatan seperti itu akan menghilang dan mengurangi kemuliaan yang harus diberikan hanya kepada Allah dan Yesus. Demikian pun sebaliknya dan itulah yang dinamakan dengan maximalisme.
Minimalisme sebenarnya menyangkal atau paling kurang menerapkan secara sempit prinsip kausalitas instrumental/kausalitas skunder yakni bahwa Allah bekerja melalui agent/alat yang terbatas untuk memperoleh tujuan yang tak terbatas.
b. Maria dan gereja
Berbicara mengenai Maria berarti berbicara mengenai gereja. Keduanya dipersatukan dalam satu panggilan yang fundamental yakni penggilan keibuan. Gereja sebagai ibu dan Maria sebagai ibu. Keduanya sama-sama melahirkan anggota dalam persatuan dengan Yesus sang kepala.
c. Fenomena khas katolik
Ini terungkap dalam tiga prinsip fundamental teologis dan praktek katolik
Pertama; dunia “diantarai oleh arti”(Bernard J.F. Lonergan) demikian semesta rahmat merupakan realitas yang mediated; diantarai pada tempat pertama oleh Kristus dan kedua oleh gereja dan tanda serta instrumen penyelamatan yang lain di sampig gereja. Kedua; orang katolik memahami bahwa Allah yang spiritual dan tidak kelihatan hadir dan tersedia bagi kita melalui yang kelihatan dan material jadi kudus berkat yang ilahi. Ketiga; orang katolik memandang gereja sebagai persekutuan orang-orang kudus dalam dimensi yang kelihatan dan juga tidak kelihatan. Dalam Maria (Otto Semmelroth) “gereja meneguhkan hakikatnya sendiri yang kudus, yang ko-redemptif dan yang ditebus. Jadi penghormatan Maria merupakan penyaksian gereja mengenai dirinya sendiri, mengenai hakikatnya dan tugasnya memberikan penyelamtan”.

III. Relevansi karya-karya di atas
Dunia berkembang begitu cepat dan pesat. Perkembangan yang begitu cepat dan pesat satu sisi membawa keuntungan bagi manusia, tetapi juga membawa dampak negatif. Manusia hampir-hampir ditinggalkan. Manusia seakan-akan terus merangkak dari belakang untuk berjuang dan bersaing dengan dunia. Perkembangan teknologi yang mutakhir tak mengherankan segalanya menuntut pembuktian. Kebenaran sesuatu pun menuntut pembuktian, harus diuji dan diteliti sehingga dapat menjadi kebenaran umum. Poin-poin yang saya uraikan di atas, mungkin juga dipertanyakan, diuji kebenarannya.
Pertanyaan; masih relevankah kita berbicara mengenai hal-hal di atas untuk zaman sekarang? Untuk umat Katolik hal itu tidak menjadi soal, tetapi bagi agama lain hal itu menjadi persoalan. Apalagi di indonesia yang mayoritas agama Islam. Perbedaan pemahaman seringkali menjadi akar munculnya pertanyaan dan bahkan perselisihan. Lantas apa yang mau dikatakan oleh teks di atas untuk kita dewasa ini? Masih berbicarakan teks di atas untuk zaman sekarang? Untuk menjawabi pertanyaan ini memang tidak mudah. Teks di atas tetap berbicara kepada kita sejauh kita sungguh-sungguh mendasari hidup pada suatu “kebenaran” yakni Yesus Kristus. Dia-lah kebenaran sejati. Titik tolak kita berbicara mengenai Maria, selalu dari-Nya dan bermuara/tertuju kepada-Nya. Inilah yang ditunjukan oleh penulis yang membahas tema dalam buku ini.
Untuk menjawabi pertanyaan masih relevankah uraian di atas untuk zaman sekarang? Menurut saya masih. Persoalan yang seringakali muncul adalah karena umat Katolik tidak mempunyai landasan yang kuat untuk berbicara menganai Maria, sehingga ketika ada serangan dari pihak lain mereka tidak cukup untuk menjelaskan secara mendalam. Nah, dengan adanya uraian yang cukup mendalam dan dengan pendasaran biblis yang kuat dan meyakinkan dari setiap tema dalam buku ini, kiranya membantu umat katolik menjawabi tantangan dunia dewasa ini. Tujuan tulisan dalam buku ini memang bukan bersifat apologetis, tetapi paling tidak ada unsur itu di balik ulasan yang ada terhadap kesalahpahaman dan kedangkalan pemahaman orang dari agama lain.
Di tengah masyarakat yang majemuk dan pluralitas agama, tidak menutup kemungkinan persoalan mengenai Maria menjadi persoalan yang sensitif. Nah, uraian-uraian dalam buku ini mambantu untuk sedapat mungkin membangun suatu dialog antara umat beragama. Tulisan ini merupakan sumbangan yang sangat berarti untuk memberikan pemahaman yang benar menganai Maria, kepada orang yang mempertanyakan segala sesuatu yang dilabelkan kepada Maria.

IV. Buah-buah yang bisa Dipetik
Setelah saya membaca buku ini, ada beberapa hal yang saya peroleh dari sana antara lain:
 Dengan memdalami poin-poin pokok dalam buku ini, pengatahuan saya mengenai Maria semakin diperkaya.
 Tema-tema yang diuraikan dan dibahas oleh penulis dalam buku ini, bukan hanya mengadalkan pada pengetahuannya sendiri, tetapi juga dari pencarian mereka dari berbagai sumber. Hal ini mendorong saya untuk selalu mencari dan mencari, karena dengan mencari saya akan memperoleh banyak hal. Yang dituntut adalah perjuangan dan kesetian.
 Selama ini, saya berpikir pengetahuan saya tentang Maria sudah cukup, ternyata masih banyak hal yang kurang yang harus saya benahi dan perdalam.
 Dengan mendalami hal-hal pokok di atas, saya dihantar pada suatu pemahaman yang tidak berat sebelah. Dalam artian berbicara mengenai Maria tidak hanya sebatas teori belaka, tetapi juga menuntut suatu penghayatan dalam hidup konkret.
 Pengenalan saya mengenai Maria, membantu saya untuk memahami misteri-misteri hidup Yesus yang luput dari perhatian. Dan akhirnya membawa pada persatuan yang mendalam secara pribadi dengan Yesus.
 Dengan membaca buku ini, menyadarkan saya agar tidak bersikap minimalisme dan maximalisme.
 Ini merupakan kekayaan yang dapat saya bagikan dikemudian hari kepada siapa saja.

V. Catatan Kritis
Uraian dalam buku ini memang sistematis. Namun, tidak ada tema umum yang dapat merangkum seluruh pembahasan di dalamnya. Inilah kekurang dalam buku ini. Selain itu, tidak ada pengantar, pendahuluan yang dapat menghantar pembaca pada keseluruhan isinya. Juga tidak ada penutup, yang memberikan kesimpulan secara keseluruhan mengenai pembahasan dalam buku ini. Pembahasan tema-tema dalam buku ini secara terlepas begitu saja. Saya mengakui bahwa buku ini merupakan hasil atau kumpulan karangan dari setiap pribadi. Ini mungkin bermaksud untuk reksa pastoral. Penulis tidak membubuhkan dengan catatan kaki, sehingga sebagai sebuah karangan ilmiah ini tidak dapat dijadikan sebagai sumber ilmiah. Meskipun dalam bagian aklhir setiap pembahasan ada catatan kaki, tetapi jelas tidak mengikuti kaidah sebuah karya ilmiah. Daftar kepustakaan tidak ada. Inilah kekurangan dalam buku ini.
Meskipun ada kekurangan, tetapi sesungguhnya isi buku ini sangat kaya. Uraian mengenai Maria sangat mendalam. Para penulis mendasarkan tulisannya pada kitab suci. Karya ini sungguh memberikan sumbangan yang berharga bagi setiap pembaca. Ulasan di dalamnya mudah di mengerti dengan bahasa yang mudah dipahami.
Akhir kata, saya hanya dapat berkata bahwa pengenalan akan Maria tidak lain hanya untuk semakin mempererat dan memperdalam persatuan dengan Yesus. Persatuan ini tentu berawal dari sebuah perjumpaan secara pribadi dengan Maria. Perjumpaan dengan Maria menghantar setiap orang kepada Kristus Yesus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar