6.13.2009

bhs maria tak pernah ckp

PROLOG

Maria; Bahasa Tidak Pernah Cukup

Maria; bahasa tidak pernah cukup. Inilah judul yang dapat merepresentasikan dari seluruh tulisan dalam kliping ini. Mengapa dikatakan demikian? Karena meskipun dengan panjang lebar setiap orang mengekplorasi mengenai Maria ternyata bahasa untuk mengungkapkan Maria tidak pernah cukup. Hal ini dapat dilihat dari berbagai tulisan dalam kliping ini, yang dengan caranya masing-masing setiap orang berusaha memahami Maria. Namun, rasa-rasanya setiap orang belum cukup untuk menjelaskan misteri yang terjadi atas hidup Maria. Maria; bahasa tidak pernah cukup adalah sebuah ungkapan yang menggarisbawahi keagungan Allah yang telah terlebih dahulu memilih Maria menjadi alat dan sarana di tangan-Nya. Tentu saja, kemuliaan Maria bukan semata-mata usaha dan perbuatan-perbuatan Maria, tetapi oleh karena rahmat Allah yang telah bekerja di dalam Maria, sehingga ia patut dihormati oleh setiap orang.
Maria; bahasa tidak pernah cukup adalah ungkapan keterpesonaan penulis mengenai pribadi Maria dalam seluruh totalitas hidupnya. Frasa ini lahir dari kekaguman saya melihat begitu banyak tulisan mengenai Maria mulai dari kesaksian pribadi hingga dogma mengenai Maria. Kekagumanan saya karena Maria mempunyai peranan yang cukup besar dalam sejarah keselamatan manusia. Ada apa dengan Maria sehingga mendorong banyak orang bertanya dan bertanya? Dari tulisan yang saya kumpulankan ini, saya dapat menyimpulkan bahwa orang bertanya karena adanya rasa ingin tahu yang mendalam akan peribadi Maria. Dari rasa ingin tahu, orang dibawa pada suatu pergumulan. Dari pergumulan membawa orang pada sebuah kerinduan yang amat dalam, dari kerinduan menghantar orang pada pengenalan secara peribadi, dari pengalaman peribadi maka lahirlah sejumlah idom keyakinan akan pribadi Maria. Dan inilah yang dituangkan dan diungkapkan orang dari berbagai sudut tulisan dalam kliping ini.
Akhir kata, dari berbagai tulisan dalam kliping ini, ternyata belum dapat mewakili seluruh kekayaan rahmat yang ada dalam diri Maria. Kata terbatas membahasakan Maria. Kata bisu. Tinta pena manusia terasa tak cukup untuk menghiasi dan merangkaikan Maria. Akan tetapi, tinta keyakinan dan iman umat ternyata jauh lebih dalam dari sebuah uraian mengenai Maria. Maria; bahasa tidak pernah cukup. Saya mengklsifikasi tulisan dalam kliping ini berdasarkan tahun, lalu diklasifikasi lagi menurut jenis tulisannya dari berita, kesaksian dan artikel. Semoga kliping ini dapat memberikan sumbangan yang berari bagi setiap orang yang ingin mengetahui Bunda Maria secara pribadi.
EPILOG

“Bagi kebanyakan orang Katolik, berdevosi kepada Bunda Maria sudah merupakan bagian dari kehidupan beriman mereka.” Inilah ungkapan pada halaman pertama dari kliping ini. Ungkapan ini menunjukkan betapa Maria mendapat tempat yang istimewa dalam gereja Katolik. Keistimewaannya tentu bukan karena Marianya, tetapi karena Allah yang terlebih dahulu bekerja atas dirinya. Ungkapan ini juga menggambarkan realitas yang sesungguhnya di mana umat Katolik mempunyai devosi yang amat besar terhadap Maria. Tetapi sayang banyak umat katolik yang tidak mengerti sungguh peranan Maria. Ada orang yang mempunyai devosi kepada Bunda Maria yang mungkin terlalu sentimentil dan hampir takhyul. Mereka hampir mendewakan Maria. Namun, ada juga orang yang menekankan rasionalitas dan tidak melihat pentingnya peranan Maria dalam tatanan keselamatan manusia.
Setelah saya membaca tulisan dalam kliping ini, saya menemukan harta surgawi yang sangat besar dalam diri Maria. Pemahaman saya mengenai Maria semakin diperkaya. Tidak terbatas pada pemahaman, tetapi membuat saya untuk selalu dekat dengan Maria dan mencoba untuk melihat kehadiran Maria dalam pengalaman sederhana atau kecil dalam hidup sehari-hari. Lebih dari itu, mengajarkan kepada saya agar terus menerus “menulis” tentang Maria dalam hidup sehari-hari. Menulis dalam artian meneladani segala keutamaannya. Menulis tentang dia dalam pengalaman suka-duka, pahit-manis, jatuh-bangun dan sebagainya. Rasa-rasanya bahasa manusia mengenai Maria, tidak pernah cukup. Keterbatasan kata untuk merangkaikan Maria, mau mengatakan bahwa Maria jauh lebih kaya dari segala padanan kata, idiom. Maria telah memberikan diri secara total pada Allah. Ia telah menunjukkan bagaimana membangun relasi dengan Allah. Di hadapan Allah ia bukan apa-apa. Ia hanya sebutir debu. Namun, Allah telah membuatnya sedemikian indah, sehingga mata manusia tak pernah berkedip untuk memandangnya dan lidah manusia tak pernah keluh untuk memujinya.
Maria yang berkata dalam diam.....
Meskipun zaman selalu berubah, tetapi iman akan Maria tak pernah luntur. Maria sendiri telah mengalami tantangan, pencobaan, ditolak dan sebagainya. Namun, ia tidak lari dari realitas seperti itu. Di sinilah saya dapat berkata, sekarang Maria berkata dalam diam. Ia mengajarkan banyak hal kepada anak-anaknya untuk bertahan dalam tantangan apa pun dan hidup hanya kepada Allah. Bagi saya pengalaman perjumpaan dengan Maria, membuat diri ini semakin pantas di hadapan Allah. Kelemahan dan kekurangan membuat saya tak sanggup menjangkaui kemahakuasaan dan keagungan Allah. Bersama Maria, semuanya itu menjadi sebuah persembahan yang indah di hadapan Allah. Dalam konteks dunia dewasa ini secara kusus kita melihat perbedaan pandangan umat Prostestan dan Katolik mengenai Maria. Pertanyaannya? Apakah Maria masih bisa berkata pada zaman sekarang? Seperti tatkala tuan pesta pada perkawinan di Kana kehabisan anggur, Maria berkata kepada Yesus: mereka kehabisan anggur! Kehadiran dan peran Maria dewasa ini dapat dikatakan sebagai pemersatu. Pemeluk Kristen dari berbagai denominasi memikirkan secara serius dan menaruh sikap hormat pada Maria. Dalam suatu kesempatan tepatnya hari Jumat Agung, tatkala seorang pendeta mempersiapkan kotbah, ia berpikir: “Mengapa saya hanya berbicara melulu mengenai Yesus. Bukankah Maria ibu Yesus disebutkan dalam Kitab Suci hadir ketika Yesus wafat di kayu salib? Berkhotbah tentang Maria di hari itu pasti akan terdengar indah dan menyentuh hati.” Umat Protestan menganggap bahwa antusiasme yang lebih dari itu akan menjadi Mariolatry. Gereja Katolik memang tidak menempatkan Maria setara dengan Yesus. Kunjugan malaekat Gabriel menegaskan kepada kita perkara penting. Di satu sisi, peristiwa ini menunjukkan betapa Allah sungguh mengasihi, murah hati hingga melimpahkan rahmat-Nya pada Maria sebagai manusia biasa. Di lain pihak, ini sangat relevan dalam pembicaraan ini, peristiwa ini menunjukkan kepada kita manusia yang selalu bertanya dan skeptis pada ‘panggilan Allah’, tetapi akhirnya ia taat dan pasrah pada Allah. Dari sini dapat ditarik benang merah untuk diaplikasikan dalam bidang teologi dan liturgi dalam dunia Protestan. Peran Maria yang sangat signifikan ini, bisa memberikan ruang dialog yang dapat membawa kepada persatuan. Akhir kata, saya hanya dapat berkata seperti doa Chairil Anwar;
Tuhanku, dalam termangu aku masih menyebut nama-Mu,
Biar susah sungguh mengingat Kau penuh kasih,
Cahya-Mu panas suci,
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi,
Tuhan-ku, aku hilang bentuk remuk,
Tuhan-ku, pada-Mu aku tak bisa berpaling.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar