6.13.2009

maria--bakti sejati

BIARLAH SEMUA BAHASA MEMBISU
Prakata
Judul di atas sepintas lalu mungkin terkesan terlalu puitis, bahkan dalam hati keluar sebuah ungkapan protes yang menghantar kita suatu tepian pemikian untuk bertanya dan bertanya. Biarlah semua bahasa membisu adalah ungkapan dari St. Montfort dalam bakti sejati no.12. Saya mengambil kutipan/tulisan ini, karena menurut saya ini sangat tetap dan relevan dengan pengalaman yang tengah saya alami dan sebuah apresiasi seluruh kedirianku yang termanifestasi dalam rasa kagum yang mendalam saat-saat mendalami buku bakti sejati yang ditulis oleh St. Montfort. Rasa kekaguman ini mau menggarisbawahi rasa hormat saya kepada Rm. Arnold, SMM yang telah memberikan kesempatan yang sangat istimewa bagi saya untuk menggali lebih dalam akan isi Bakti sejati yang sungguh merupakan kekayaan spiritualitas Montfortan. Sebuah kebanggaan bagi saya, tatkala selama ini saya hanya bergelut dan berkutat dengan berbagai mata kuliah baik filsafat maupun teologi. Liburan ini mengantar saya untuk sejenak kembali dasar spiritualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh bapa pendiri st. Montfort dalam bakti sejati ini. Liburan kali ini, sangat berharga buat saya, oleh karena disela-sela menjalani perawatan tangan, saya masih sempat memberikan diri untuk masuk dalam pengalaman perjumpaan St. Montfort dengan Maria yang tertuang dalam Bakti sejati. Senada dengan judul di atas, saya pun mengalami stagna dalam kata dan rasa. Biarlah semua bahasa membisu adalah kristalisasi dari kata dan rasa yang saya alami. Oleh sebab itu, saya memberanikan diri mengambil tulisan St. Montfort sebagai judul tulisan ini.
Tulisan ini, tidak bermaksud untuk melihat kekurangan dan kelebihan dari isi bakti sejati, tetapi lebih pada bagaimana “pemahaman saya atas isinya”. Dari sinilah saya dihantar pada sebuah kesadaran yang mendalam bahwa Maria bukan hanya berperan, hadir dan terlibat dalam hidup Yesus sejak pristiwa inkarnasi sampai kematian-Nya, tetapi juga dalam diri saya sekarang dan di sini. Selain itu, menambah wawasan dan pemahaman saya akan pribadi Maria, yang sangat mewarnai spiritualitas Montfortan.

St. Montfort yang berkata dalam “diam”...
Siapakah engkau Maria sehingga Allah begitu terpikat hati-Nya? Pertanyaan sederhana ini sebetulnya merujuk pada posisi dan tempat Maria dalam tata keselamatan manusia. Di mata manusia barangakali dan hampir pasti posisi dan tempatnya tidaklah lebih dari manusia umumnya. Namun, di mata Allah Maria mendapat tempat yang istimewa. Keistimewaannya dapat dilukiskan dengan kata-kata ini” tentang Maria tidak pernah cukup”. Membayangkannya tidaklah cukup. Rasa-rasanya tak cukup kata untuk merepresentasikan keistimewaannya di hadapan ke-Agungan Alah.
Maria merupakan tempat pertemuan rahmat surgawi dan duniawi. Rahmat surgawi hadir secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus yang bersemayan bersama Bapa, ada bersama Sang Ada, dan keluar dari Sang Ada pula. Sedangkan rahmat duniawi, di mana ke-Allahan Allah mengambil bentuk dalam rupa wujud manusia yakni Yesus Kristus. Keberadaan dua hakekat ini (Yesus sungguh-sungguh Alllah dan sungguh manusia), keluaar dari ‘Kebenaran Abadi’. Kebenaran Abadi ini termeterai dalam diri Maria. Dalam bakti sejati, St. Montfort mengungkapkan hal itu dengan sangat indah dan mendalam: ‘Maria adalah dunia agung yang penuh dengan Allah,...(bdk BS 6),dan ‘... kota Allah yang suci’ (bdk BS 7). Bagi saya kebenaran Abadi ini merupakan sebuah misteri besar dan agung yang melampaui batas pikiranku sebagai manusia dan bahkan tak cukup disingkap dengan akal budi melulu. Misteri Kebenaran Abadi yakni Sabda Allah yang menjelma manusia, mempengaruhi juga hidup Maria. Siapakah manusia ini?, demikianlah ungkapan orangtuanya dan para Malaikat sebagaimana yang dilukiskan oleh st. Montfort dalam bakti sejati no.3. Maria hanyalah manusia biasa sama seperti kita dan tak berarti apa-apa di hadapan keagungan Allah. Ia hanya sebutir debu di hadapan kebesaran Allah. Namun, Allah telah memanfaatkan kelemahan dan ketakberdayaan Maria untuk mewujudnyatakan rencana-Nya. Maria tidak memberikan pengaruh kepada Allah, tetapi Allah sendiri menghendaki keterlibatan Maria. Hidupmu Maria yang tersembunyi ternyata telah ada dalam bingkai kehendak Allah. Ketersembunyian hidup Maria bukan karena Maria menghendaki tetapi Allah yang menghendakinya. Meskipun hidup Maria tersembunyi, tetapi sesungguhnya pada Marialah terdapat gerakan manusia yang naik kepada Allah, gerakan untuk mencapai batas ruang dan waktu, untuk mencapai Transendensi tak terbatas, Kebenaran dari Sang Abadi.
Maria bukan apa-apa dan siapa-siapa di hadapan Allah, mau mengatakan sebuah perkara bahwa hanya karena Allah-lah ia menjadi ‘ada’. Ada dalam Allah dan ada di hadapan manusia. Ada-nya di dalam Allah, di mana ia merenungkan kedatangan Allah yang sedang mentransformasikan dunia manusia yang papa. Sedangkan ada-nya di hadapan manusia, di mana ia harus berhadapan dengan sederetan peristiwa yang tak mudah tuntas dimengerti. Nah, kata kunci yang selalu diungkapkan oleh St. Montfort dalam bakti sejati ini untuk menegaskan kalimat di atas adalah kerendahan Hati. Kerendahan hatinya ini terungkap dengan jelas dalam jawaban ‘YA’ atas tawaran dari Allah untuk menjadi bunda Allah dan bunda umat manusia. Allah memilihnya bukan karena keistimewaan hidupnya, melainkan karena ia menjadikan preferensi Allah menjadi preferensinya sendiri, dalam artian dirinyalah yang memberikan harapan kepada kaum marginal, miskin dan papa. Di sini tampak jelas semangat profetis, yang mana ia berani menatap sejarah, tanda-tanda kerajaan, harapan yang dapat memberikan penghiburan dan menerangi dunia dan hati manusia yang terrnoda.
Kemanusiaan Maria tentu tidak sebanding dengan ke-mahakuasa-an dan kemuliaan Allah. Dalam arti tertentu ia tidak berarti sama sekali di hadapan Allah. Boleh dibilang Maria “desa kecil” yang hanya hidup dan pola berpikirnya puas dengan dunianya sendiri dan dunia di luar dirinya. Namun, suatu karya agung Allah yang dahsyat telah mengubahnya menjadi “kota yang suci”(bdk BS 7). Maria ada dalam Allah dan mengambil peran penting dalam tata keselamatan manusia. Rencana keselamatan umat manusia terlaksana berkat keikutsertaannya dalam kehendak dan rencana Allah. Betapa Allah sungguh menghargai kelemahan manusiawinya Maria. Dalam kelemahannya Allah masih menggunakan dirinya sebagai tempat kediaman bagi Allah Tritunggal, menyediakan rahimnya untuk didiami sang juru selamat. Natur manusia dan Illahi menyatu dalam diri Maria yang secara nyata lewat kehadiran Yesus.
St. Montfort menggambarkan pribadi Maria dengan begitu indah. Banyak gelar yang dilekatkan pada Maria. Misalnya: Maria adalah hamba yang setia, penuh kasih dari Yesus. Maria adala pelayan sempurna raja para raja yang memberikan diri sepenuhnya kepada kita. Maria adalah sarana untuk mewujudkan cinta kepada sesama. Maria membantu kita berjalan dalam iman dan lain-lain sebagainya. Gelar-gelar ini, tentu berkaitan dengan perannya yang amat besar dalam rencana keselamatan umat manusia. Perannya itu tidak berhenti di sini, tetapi terus menerus menggema sepanjang sejarah, dan bahkan tak ada ruang dan waktu yang dapat menghalanginya. St. Montort mengharapakan agar setiap orang menggunakan sarana yang sama untuk bertumbuh bersama dia (Maria) dalam kekudusan. Hal bukan tanpa alasan, sebab bagi St. Montfort; “...dalam tata rahmat, baik kepala maupun anggota-anggota berasal dari ibu yang sama”. Sungguh indah jalan ini yang dapat mempersatukan kemanusiaan manusia dengan ke-mahakuasaan Allah. Seperti kata Santo Monfort, Maria adalah ‘mata air’ yang dapat menyalurkan rahmat Allah kepada siapapun yang datang kepadanya dan sekaligus mata air yang dapat membawa manusia pada Allah. Saluran yang digunakan Allah untuk menghadirkan sang juru selamat, juga dipakai untuk melahirkan anak-anak pilihan Bapa. St. Bernadus berkata: ”rahmat mengalir kembali kepada pemberinya melalui terusan yang sama yang melaluinya rahmat telah mengalir kepada kita”(bdk BS 142).

Sebuah relasi....

Dalam Bakti Sejati, St. Monfort menggambarkan relasi Maria dan Allah dengan begitu indah. Kata untuk menggarisbawahi relasi itu adalah bergantung. Dikatakan bahwa Allah bergantung pada Maria. Tentu saja kata bergantung tidak mengindikasikan sebuah tindakan pasif Allah, tetapi ketergantungan yang aktif di mana Allah tidak berdiam diri saja ketika Dia mengutus malaikat Gabriel kepada Maria. Allah tidak berhenti pada hal itu. Saya mengartikan ketergantungan aktif ini sebagai sebuah kebebasan. Ketergantungan karena Allah Roh Kudus mandul dalam dirinya untuk menciptakan pribadi yang lain. Dalam diri Marialah Roh Kudus menjadi subur. St. Montfort berkata: “Allah yang telah menjadi manusia ini menemukan di sana kebebasan-Nya dalam keadaan terkurung di dalam rahim Maria,...dikandung oleh gadis itu” (bdk BS 18). Apakah dengan demikian Maria sangat perlu untuk menghadirkan sang juru selamat? Allah tentu saja bisa menciptakan dan melahirkan pribadi lain tanpa Maria karena Allah itu Mahakuasa dan maha sempurna. Oleh karena Ia tidak subur dalam diriNya sendiri, maka kehadiran Maria menjadikan diriNya subur. Ia subur dalam Maria. Di sinilah terlihat hubungan timbal balik antara Allah dengan Maria. Sesungguhnya Allah mampu melahirkan, tetapi Ia tidak dapat mewujudkannya.
Dengan melihat bagaimana Allah telah mempersiapkan Maria sejak dalam kandungan ibunya sampai ia melahirkan Yesus, St. Monfort dengan gigih dan penuh antusias menyebarkan bakti kepada Maria. Bakti sejati kepada Maria amat perlu dan penting bagi umat yang percaya kepada Yesus. Maria adalah sarana yang paling aman, mudah dan sempurna untuk datang kepada Yesus. Maria merupakan salah satu dari para wali yang diberi izin dan kuasa oleh Allah untuk menjadi perantara. Semua orang menghormati dan mengakuinya bahkan menjadi teladan dalam menghayati hidup iman. Maria yang walaupun di mata dunia hanyalah seorang wanita muda, sederhana seperti wanita lainnya, tetapi Allah menempatkan dirinya dalam lingkaran keistimewaan Ilahi yang melingkupinya semenjak penampilannya yang pertama. Dengan kelahiran Yesus, ditempatkan suatu misteri yang tak pernah didekati oleh wanita lain baik sebelum maupun sesudahnya. Maria sungguh merupakan ciptaan yang begitu sempurna sehingga setan tidak mungkin mendekatinya. Kita hanya mengenal kebesarannya untuk menjadi inspirasi hidup kita dalam memuliakannya dan mengambilnya sebagai model untuk diteladani.
Maria memang dipilih Allah secara khusus untuk menjadi bunda Yesus Kristus, bunda Allah dan bunda seluruh umat manusia. Dasar kebenaran iman bahwa Maria itu bunda Allah adalah bunda putera Allah. Maria menjadi bunda Allah tentu berkaitan dengan iman dan ketaatannya pada Allah. Imannya pada Allah melenyapkan segala keraguan dalam dirinya. Imannya itu juga memampukan dia untuk menyatakan “ya” atas undangan Allah dalam rangka keselamatan umat manusia. Sedangkan ketaatannya terungkap dalam penyerahan diri yang total pada kehendak Allah. Ia tidak bertindak menurut dirinya sendiri, tetapi seluruh dirinya dibaktikan kepada Allah semata. Penyerahan dirinya yang total terletak dalam “keperawanannya”. Dalam keperawanan Maria, tampak bahwa ”Kristus dan kelahiranNya” merupakan misteri iman. Konsili Vatikan II dengan sangat indah melukiskan iman dan ketaatan Maria: “ Dalam iman dan ketaatan, ia melahirkan Bapa sendiri ke dunia dan itu tanpa mengenal pria dalam naungan roh Kudus sebagai Hawa baru, karena percaya akan utusan Allah dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan”. Keperawanan Maria berhubungan dengan keibuan-Nya, sejauh ia melahirkan anak Allah sebab ”ia percaya apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45).

St. Montfort dalam bakti sejati mengetengahkan bahwa Maria melahirkan Yesus sebagai kepala, demikian pula ia melahirkan anggota dari kepala yakni orang-orang pilihan. Yesus yang lebih dahulu dilahirkan oleh Maria menjadi kepala bagi kita yang adalah tubuh karena kelahiran kita dalam Roh. Kita yang menjadi tubuh mistik Kristus yaitu gereja pada akhirnya dihantar oleh Maria untuk bersatu dengan Yesus sang kepala. Oh.. betapa besarnya peran ibu ini. Ketersembunyian selama hidupnya toh akhirnya justru menyingkapkan suatu misteri yang tiada taranya.
Maria yang berhati murni telah dipilih Allah untuk menerima sabdaNya dan rahimnya disucikan Allah untuk menempatkan RohNya di sana dan dinyatakan untuk menjadi ratu dari semua hambanya. Tentu saja aktor utamanya adalah Roh Kudus. Maria telah menjadi sarana bagi Roh Kudus untuk mewujudkan kesuburanNya. Roh kudus menjadi subur dalam Maria dengan menjelma menjadi manusia dalam rupa Yesus kristus. Dengan cara ini Allah memulai karya-Nya yang agung melalui Maria. Berkat kerja samanya dengan Roh kudus Allah telah menghadirkan dan memperlihatkan kepada dunia suatu misteri agung Yesus Kristus yang menjelma menjadi manusia. Maria melahirkan Yesus Kristus dalam tata rahmat sehingga tidak salah kalau ia disebut sebagai kazanah di mana rahmat Allah tinggal.
Allah tidak hanya menggunakan Maria sebagai sarana untuk memulai karya-Nya, tetapi juga untuk mengakhiri karya agungNya. Allah ingin mencurahkan rahmatNya kepada manusia, tetapi karena dosa, manusia tidak dapat menerimanya langsung dari tangan Allah maka Maria yang beroleh kasih karunia di hadapan Allah, menjadikan dirinya tempat penyimpanan sekaligus penyalur rahmat. Yesus Kristus membiarkan dirinya diatur oleh Maria, demikianpun rahmatNya dipercayakan kepada Maria sebagai bendahari rahmat Allah.

Kebenaran dasar bakti sejati...

Satu hal yang mesti selalu diingat bahwa Yesus tetaplah menjadi tujuan akhir dari segala bakti kita. Dalam kristus berdiam seluruh kepenuhan Allah, maka hanya pada-Nya kita bergantung. Bakti kepada Maria tidak lain agar kita semakin serupa dengan Yesus dan agar setiap kali Yesus lahir dalam diri kita. Bakti kepada Maria merupakan sarana untuk menemukan Yesus dan bersatu dengan-Nya. Bakti kepada Maria menghantar kita untuk mengasihi Yesus dengan mesra serta melayami Yesus Kristus dengan setia. St. Montfort kembali mengingatkan kita akan makna janji baptis. Pembaptisan adalah sebuah pertemuan Kristiani yang mana kita mati terhadap dosa dan bangkit bersama Kristus.
Lewat pembaptisan kita diangkat menjadi milik Yesus, maka sebagai milik-Nya kita harus melayaniNya. Bakti kepada Maria adalah cara kita untuk melayani Yesus, sebab Yesus dan Maria satu, tetapi tidak sama. Maria adalah jalan untuk menemukan Yesus sebab Yesus telah lebih dahulu menemukan kita melalui jalan yang sama. Untuk menemukan Yesus kita harus menemukan jalannya dan menjadi miliknya. Oleh sebab itu, pembaptisan mengangkat kita untuk menjadi milik Yesus dan Maria.
Menjadi milik Kristus berarti meninggalkan kehidupan lama dan menjadi serupa dengan-Nya lewat penyangkalam diri. Hanya devosi kepada Maria yang dapat membantu kita untuk mati terhadap diri kita dan dengan mengenakan keutamaan-keutamaan Maria kita dapat menghidupi semangat Kristus dalam diri kita.
Maria tidak hanya membantu kita untuk mati terhadap diri sendiri, tetapi juga mempermudah perjumpaan kita dengan Kristus. Ketika kita menyadari segala kelemahan kita, Maria membantu kita melalui doa-doanya agar kita layak di hadapan Allah.
Setiap kita dianugerahkan rahmat oleh Allah. Namun, kita tidak bisa menyimpan rahmat-rahmat itu sebab kita adalah bejana-bejana yang retak dan rapuh. Maria kembali berperan menyimpan setiap rahmat yang kita terima dari Allah. Ia menganggap rahmat itu sebagai miliknya yang mesti dijaga dan tak seorang pun dapat mengambilnya.

Sifat...

Bakti sejati kepada Maria tumbuh dari kedalaman budi dan hati tentang rasa hormat yang kita tunjukan kepadanya. Suatu sikap hati yang lembut dari seorang anak terhadap bundanya. Bakti sejati kepada Maria mengantar orang untuk menjadi suci dan menjauhi dosa, membantu orang untuk berani melawan pengaruh dunia dan menanamkan dalam hatinya sikap pelayanan tanpa pamrih.

Bakti sejati kepada Maria menghantar kita pada persatuan dengan Kristus dan menyangkal diri dari segala pengaruh duniawi. Itulah tujuan dasar janji-janji pembaptisan yang kita ucapkan yaitu menerima Kristus dan menolak setan dalam bentuk pengaruh duniawi.

Bakti sejati yang berkonteks....
Rasa-rasanya ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan saya, tak dapat terwakili dengan kata-kata. Ungkapan kegembiraan dan kebahagian bagiku merupakan representasi dari kekayaan Bakti Sejati yang saya pelajari dan gali selama masa liburan ini. Meskipun dalam kondisi di mana saya harus menjalani dan merawat tangan yang baru dioperasi, tetapi saya dengan sepenuh hati menerima sebuah harta karun yang memberikan sebuah nilai rohani bagi hidup dan panggilan saya. Salah satu dimensi nialai rohani dari bakti sejati kepada santa perawan Maria yang diajarkan oleh St. Montfort yakni bahwa setiap orang yang membaktikan diri dan datang kepada Maria, maka Yesus Kristus selalu berinkarnasi dalam dirinya. Meskipun ungkapan di atas tidak persis sama yang disampaikan oleh St. Montfort, tetapi paling tidak ada kemiripan yang menurut saya sangat relevan dan sungguh meneguhkan hati dalam konteks yang sedang saya alami.
Saya sungguh menyadari bahwa tatkala kupersembahkan dan kupsrahkan seluruh pengalaman ini yang tengah saya alami ke dalam tanagan Maria, saya dibawa pada sebuah persatuan yang mesra dengan Tuhan Yesus. Persatuan yang pada akhirnya menyadarkan saya akan makna derita yang saya alami dengan penderitaan Yesus. Lewat, dalam, dengan dan oleh Maria persatuan ini memberikan sebuah arti baru yakni “lahir”. Dalam kondisi seperti ini, Yesus tetap dan selau setiap saat lahir dalam diriku. Kelahiran-Nya tentu tidak berkaitan dengan kelahiran-Nya secara jasmaniah, tetapi sebuah kelahiran rohani. Lahir adalah tanda kehidupan, maka setiap kali saya memaknai kehidupan ini, sesungguhnya saya telah merayakan kehidupan itu sendiri yakni Yesus Kristus.
Saya mengakui bahwa segala yang saya ungkapkan di atas tidak menegasikan judul tulisan ini. Meskipun dengan panjang lebar saya uraikan, tetapi semuanya itu justru lahir dari kebisuan saya atas isi bakti sejati ini. Saya menyadari bahwa tatkala berhadapan dengan buku bakti sejati ini, saya seakan-akan menjadi bisu, dan bahasa untuk memahami dan mengungkapkan isinya menjadi bisu. Akhirnya, bersama St. Montfort saya berani berkata: “Dia telah memenangkan diriku bagi diri-Nya dengan memberikan seluruh diri-Nya kepadaku”(bdk Bs 138).






Fabianus Selatang (Fano)

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar