6.13.2009

kosmologi whitehead

MEMAHAMI MANUSIA DAN ALAM DALAM TERANG FILSAFAT PROSES WHITEHEAD
I. Pendahuluan
Manusia menyadari diri sebagai substansi yang merupakan anggota dalam keutuhan alam dunia. Kesadaran manusia sebagai bagian dari alam dunia ini, mau mengatakan bahwa memang manusia bukan hanya substansi yang berdiri seakan terlepas dari alam lingkungan tempat ia berada. Apa yang disebut Whitehead sebagai “proses” menjadi jelas bahwa hakekat manusia ditentukan juga oleh bagaimana manusia menciptakan diri dalam proses menjadi dirinnya. Proses menjadi dirinya ini tidak terlepas juga dari alam lingkungan. Alam lingkungan turut mempengaruhi proses ‘menjadi’ nya manusia.
Alam dunia ini merupakan totalitas utuh. Sebagai suatu totalitas utuh maka seluruh komponen yang ada di dalamnya, manusia dan semua yang lain tidak berdiri sendiri-sendiri. Adanya dunia ini ditemukan sebagai hasil dan kesimpulan dalam suatu proses pemikiran manusia. Proses ini maju langkah demi langkah, tetapi itu tidak berarti keseluruhan alam dunia baru mendapat realitasnya setelah manusia bereksistensi. Dunia ini memang ditemukan dalam jalan refleksi tentang hakikat manusia, tetapi sebagai yang telah lahir dan yang sama asali dengan manusia, maka hakikat manusia meliputi dunia dan hakikat dunia merangkum manusia.
Tak dapat disangkal lagi bahwa pandangan mekanistis (alam sebagai sebuah mesin seperti yang dikemukakan oleh kaum materalisme ilmiah) termanifestasi dalam pengerusakan dan pengeksploitasi alam secara besar-besaran. Alam kehilangan keutuhan biosfernya. Kerusakan alam ini mempengaruhi hidup manusia. Oleh karena itu, konsep manusia dan alam mendapat tempat sentral dalam pemikiran Alfred North whitehead. Untuk mengembalikan alam ini, maka kita harus mengubah cara pandang terhadap alam. Alam bukanlah sebuah obyek atau sebuah mesin melainkan sahabat yang turut menentukan eksistensi manusia. Dalam tulisan ini, penulis ingin menjelaskan dua hal pokok itu yakni manusia dan alam dalam terang filsafat proses A.N. Whitehead.
II. Whitehead dan Pemikirannya
Alfred North whitehead dilahirkan pada tanggal 15 Febuari 1861 di Ramsgate, kent Inggris. Ia meninggal 30 Desember 1947. Dunia pada masa hidupnya selalu dipenuhi dengan gejolak. Pada masa itu, terjadi dua perang dunia yang sangat menggoncangkan umat manusia. Pada saat yang sama muncul pula berbagai penemuan penting dalam bidang ilmu pengetahuan serta muncul pula gagasan-gagasan revolusioner yang menciptakan paradigma baru dan mengubah sejarah. Salah satu di antaranya adalah kesadaran akan perubahan dan kesejarahan manusia.
Bagaimana dengan pemikiranya? Ia adalah pemikir orisinil. Sebagai pemikir orisinil, ia tidak menerima begitu saja pemikiran orang lain tanpa mengolah dan mengitegrasikannya dengan pemikirannya sendiri. Ia hidup sezaman dengan Henry Bergson, W. James dan John Dewey. Ia mengatakan bahwa realitas pada manusia dan alam bersifat dinamis dan berproses, sehinggga kategori perubahan tidak bisa diabaikan dalam menjelaskan kenyataan. Baginya realitas yang ada dalam manusia dan alam lebih sesuai untuk disimbolkan sebagai suatu organisme daripada mesin. Gagasan ini lahir sebagai bentuk reaksi atas pandangan kosmologi materialisme ilmiah. Pandangan meterialisme ilmiah dipengaruhi oleh pandangan Descartes yang melihat alam dunia hanya melulu sebagai materi. Selain itu, pandangan materialisme ilmiah menganggap alam dunia dengan segala isi yang ada di dalamnya terdiri dari material yang hukum-hukumnya bisa dimengerti dan dijelaskan secara tuntas oleh ilmu pengetahuan. Perbedaan pandangan inilah sehingga ia merasa penting menjelaskan manusia dan alam.
III. Manusia dan Alam Menurut A. N. Whitehead
3.1 Pandangannya Tentang Alam
Dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu mengendalikan alam dan membawa perubahan pada alam. Manusia melalui sarana ilmu pengetahuan, dapat memanfaatkan alam demi kepentingannya. Namun, terkadang dengan pengetahuan manusia memanipulasi alam sehingga muncul berbagai pristiwa yang mengenaskan bagi manusia itu sendiri. Dalam konteks pandangan mengenai alam, konsepsi filosofis memberikan tempat bagi manusia untuk beraksi. Artinya konsepsi ini menentukan jalan hidup yang dipilih oleh manusia. Konsep ini juga menentukan sikap dan cara pandang manusia mengenai alam semesta. Konsep ini memberikan ideal kepada manusia dan memberikan makna kepada kehidupan manusia. Akhirnya dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak memberikan konsepsi tentang mengenai alam semesta hanya filsafatlah yang mampu. Pandangan ini, lahir sebagai bentuk tanggapan terhadap gelombang perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman Whitehead (bandingkan dengan point pada bagian II di atas).

3.2.1 Alam Sebagai Suatu Proses Organis
Apa yang dimaksud dengan proses? Kata proses terkandung suatu makna adanya perubahan berdasarkan mengalirnya waktu. Selain itu, proses juga berarti ada saling keterkaitan antara unsur-unsur yang membentuknya (alam) dan keseluruhan wujud. Demikian Whitehead mendefinisikan kata proses. Mengapa ia mengambil simbol organisme? Kerena ia ingin mengganti simbol dasar ‘mesin’ yang dipakai oleh kaum materialisme. Kaum materialisme mengatakan alam merupakan mesin, hidup juga mesin, manusia merupakan bahan benda-benda belaka juga mesin. Whitehead membantah penyataan kaum materialisme di atas. Simbol organis baginya cocok untuk melukiskan seluruh realitas alam dunia ini. Seluruh realitas bersifat dinamis, selalu berubah dan mengandung unsur baru. Realitas yang dimaksud mencakup Tuhan, manusia dan dunia. Bagaimana persisnya relasi Allah dengan alam dunia, Whitehead mengatakan:
” Mengatakan bahwa dunia termuat dalam Allah, itu sama benarnya dengan mengatakan bahwa Allah imanen dalam dunia. Mengatakan bahwa Allah transenden terhadap dunia, itu sama benarnya dengan mengatakan bahwa dunia transenden terhadap Allah.”

Pemikirannya ini merupakan jalan tengah yang diambilnya terhadap pandangan Panteisme dan Ateisme yang mana kedua aliran ini tidak cukup membedakan Allah dari dunia dan bagaiman dapat dipikirkan relasi Allah dan alam dunia. Dengan mengedepankan simbol dasar ini, Whitehead mau mempertahankan adanya pluralitas dan kemajemukan realitas. Individualitas dan integritas pristiwa dipertahankan dalam kesatuan organis dengan pristiwa-pristiwa yang lain. Dengan demikian, alam tidak lagi dianggap sebagai suatu mekanisme yang terdiri dari atom-atom, melainkan sebagai suatu organisme: proses of nature.
3.3.3 Perjalanan Alam Dalam Waktu
Sebagaimana manusia mengalami proses menjadi, demikian juga alam. Dari waktu kewaktu alam ini terus berjalan dan berputar. Konsep waktu menurutnya sifatnya linear dan bukan siklis. Apa yang dimaksud dengan konsep waktu linear ini? Konsep waktu linear tidak berarti waktu hanyalah suatu deretan atau rangkaian saat, melainkan suatu aliran kesatuan pristiwa. Dalam konteks inilah perjalanan alam dalam waktu dilihat. Berkaitan dengan makna kata proses, Whitehead ingin mengatakan bahwa proses alam bukan ’terus-menerus menjadi’ tanpa henti melainkan suatu proses ’menjadi secara terus-menerus’. Artinya alam dunia terus berkembang, tetapi ada titik pemberhentian sementara. Titik pemberhentian yang dimaksud adalah ada identitas diri dalam proses perubahan. Identitas diri mempunyai sifat satuan aktual dan bukanlah suatu substrat permanen yang mendasari relasi dan perubahan-perubahan aksidental, melainkan suatu pola yang tetap dari kegiatan yang kembali dalam proses pembentukkan diri bersama yang lain.
Substansi alami yang ada pada alam tidak hanya bersifat statis, tetapi juga mengalami perkembangan. Perkembangan yang terjadi setiap saat selalu mengandung masa lampau dan masa depan, sehingga setiap momen perkembangannya memuat seluruh prosesnya. Perkembangan ini tidak terjadi dalam isolasi, tetapi terjadi dalam hubungan timbal balik di antara substansi yang lain.
3.2 Pandangannya Tentang Manusia.<<<<<<<<<<
Whitehead dalam memaparkan tentang manusia, pusat perhatiannya bukanlah pertama-tama tertuju pada sebuah usaha perumusan antropologi filosofis dalam arti menjelasakan siapakah manusia itu, melainkan usaha perumusan suatu metafisika yang ia sebut sebagai “kosmologi”. Usaha perumusan ini merupakan suatu sistem pemikiran yang menjadi dasar untuk menjelaskan berbagai aspek pengalaman manusia. Dengan demikian, Whitehead ingin menjelaskan siapa dan apa manusia serta bagaimana keberadaannya dalam alam semesta, dapat dijelaskan dari pengalaman dari manusia yang konkret dan dengan segala kekayaannya.
3.1.1 Manusia dalam kesatuannya dengan alam
Kehidupan manusia tidak terbatas hanya kepada hubungan sesama manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Kesejahteraan yang dinikmati oleh manusia merupakan buah dari kehidupan yang dinamis dan sejahtera antara sesama manusia juga dengan alam lingkungannya.
Manusia merupakan bagian dari alam. Manusia bukanlah subsatansi sendiri yang memisahkan diri dari alam tempat ia berada. Unsur-unsur yang ada di dalam alam juga terdapat dalam diri manusia. Manusia sebagai bagian dan bersatu dengan alam mengandung unsur-unsur alami dan tunduk pada hukum-hukum alam. Penyataannya ini menjadi jelas jikalau dibandingkan dengan unsur-unsur yang membentuk badan manusia dengan unsur yang ada dalam alam sekitarnya dan hukum yang berlaku bagi manusia juga berlaku bagi alam.
Hukum alam dalam arti tertentu juga berlaku dalam diri manusia. Apakah dengan demikian Whitehead menyangkal keluhuran manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna, setara dan serupa dengan gambar Allah? Secara implisit Whitehead mengatakan tidak. Ia mengakui keberadaan manusia sebagai ciptaan yang paling luhur, yang olehnya disebut sebagai puncak segala ciptaan. Keluhuran manusia terletak pada kerohanian dan transendensinya. Aspek kerohanian inilah yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai nilai, makna dan kebaruan. Inilah yang dimaksud dengan penyataan di atas bahwa hukum alam dalam arti tertentu berlaku dalam diri manusia. Akan tetapi, Whitehead mengakui bahwa ada unsur-unsur identik yang menghubungkan pengalaman manusia dengan kejadian-kejadian di luar diri manusia. Unsur-unsur itu bagi Whitehead menjadi jelas dari kenyataan bahwa prinsip-prinsip universal satuan waktu berlaku, baik bagi pengalaman manusia maupun bagi pristiwa-pristiwa alami di luar manusia. Bahwasannya manusia itu merupakan bagian dari dan bersatu dengan alam, bagi Whitehead manjadi nyata dari betapa eratnya hubungan manusia dengan dunia sekitarnya. Namun, ia juga menyadari bahwa garis batas yang dapat memisahkan manusia dengan alam lingkungan sulit untuk dijelaskan. Whitehead berkata: ”Kalau kita mengkaji masalahnya dengan ketepatan sekecil-kecilnya, akan menjadi nyata bahwa tidak ada batas yang secara jelas bisa ditentukan di mana badan manusia itu mulai dan alam luar itu berkahir.”
3.1.2 Manusia sebagai makluk yang dinamis
Manusia mempunyai daya kemampuan bertumbuh dan berkembang. Kemampuan betumbuh dan berkembang dalam diri manusia menunjukkan bahwa manusia bukan paket yang sekali jadi, melainkan selalu mengalami dinamika. Dinamika kehidupan manusai bukan sekedar bertumbuh begitu saja melainkan menyangkut seluruh kedirian manusia itu sendiri ( sifat mental dan sekaligus fisik) serta kreativitas diri. Oleh karena menjadi sentralnya peran kategori ”proses” dalam kosmologi maka Whitehead memanadang manusia sebagai makhluk yang dinamis.
Sebagai makhluk yanag dinamis, manusia baru sungguh-sungguh hidup atau meghidupi hidupnya kalau manusia itu secara terus-menerus ‘menjadi’ dalam artian manusia harus bertanggung jawab untuk mengisi hidupnya secra autentik dan bermakna. Baginya hakekat keberadaaan seseorang atau siapa dan apa dia manusia itu, terletak dalam bagaimana manusia secara kreatif, inovatif memanfaatkan pengalaman masa lalunya untuk suatu perwujudan baru kehidupannya yang memberikan intentisitas pengalaman hidup secara lebih mendalam. Dari uraian ini, Whitehead mau menunjukkan historitas (berkaitan dengan pengalaman masa lalu manusia) dan sisi kebebasan manusia dalam kaitannya dengan pengungkapan seluruh kedirian manusia.
IV. Relevansi pemikiran Whitehead dalam konteks zaman sekarang
Penulis mengangkat salah satu realitas kokret yang telah dan tengah terjadi dewasa ini. Pada penghujung tahun 1997 adalah hari-hari penuh duka bagi para pencinta lingkungan. Pasalnya, 6,5 juta hektar hutan di Kalimantan dan 1,75 juta hektar di Sumatera ludes habis terbakar. Dunia mencatat kebakaran ini sebagai kebakaran paling hebat yang pernah terjadi di sepanjang sejarah. Ribuan jenis flora dan fauna yang merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia, punah. Kepulan asap tebal menyiksa 20 juta rakyat Indonesia dan jutaan warga Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Filipina. Mereka terpaksa setiap hari menghirup udara kotor yang setara dengan mengisap 18 batang rokok per hari. Praktis, aktivitas keseharian mereka terhenti. Jutaan rakyat Indonesia juga terancam penyakit iritasi kulit dan mata, saluran napas, asma, radang paru-paru, bronchitis, dan sebagainya. Dilaporkan puluhan orang meninggal karena gangguan pernapasan. Penderitaan bangsa Indonesia bertambah dengan gugatan, kecaman dan cemooh dunia internasional. Sebagian politisi negara tetangga menyebut orang Indonesia (para pelaku pembakaran) sebagai “teroris lingkungan”. Indonesia dikecam pedas oleh para aktivis lingkungan dan dijuluki sebagai negara yang masih amatir dalam mengelola hutan dan lingkungan. Ada pula yang menyebut Indonesia sebagai eksportir asap terbesar di dunia.
Modernitas menempatkan alam sebagai obyek kajian intelektual manusia. Sebagai obyek, alam menjadi sesuatu yang asing bagi manusia. Tak mengherankan lahirlah berbagai sikap anarkis, sikap ingin mengusai dan memanfaatkan alam demi kepentingan pribadi. Manusia sebagai makluk yang rasionalitas hadir sebagai subyek otonom dan alam berada di bawah kekuasaan dan kendali manusia. Posisi relasi manusia dan alam yang subordinat deterministis ini melahirkan aneka ketimbangan, yang secara tajam ditunjukkan oleh hancur dan ambruknya peradaban manusia. Kehacuran peradapan ini terlihat jelas dalam fenomena yang terungkap di atas. Dalam nada yang pesimistis muncul ungkapan kematian alam merupakan kematian citra kemanusiaan manusia. Descartes merumuskan jati diri manusia modern sebagai ” Sang penguasa dan penguasa alam semesta”.
Dalam konteks permasalahan dunia dewasa ini, gagasan Whitehead mengenai manusia dan alam kiranya cukup relevan berkaitan dengan masalah yang akhir-akhir ini disadari sangat penting. Guna menunjang usaha pembangunan yang berwawasan lingkungan, sikap ‘hormat’ terhadap alam lingkungan, menjaga dan memelihara keutuhan alam, amat sangat diperlukan. Akan tetapi, sikap dan mentalitas manusia yang melihat alam melulu sebagai obyek yang harus ditundukkan, dikuasai, dimusnahkan, ternyata juga tidak sesuai dengan kenyataan manusia sebagai bagian dari alam. Dampak-dampak negatif tekonologi industri tidak bisa terkendalikan jikalau kita tidak sadari sejak dini. Untuk itu, gagasan whitehead mengenai manusia dan alam, masih cukup penting untuk membangkitkan kesadaran dalam diri manusia dewasa ini.
VI. Penutup
Di dalam manusia dan alam terjadi perubahan. Oleh Whitehead perubahan ini merupakan ‘proses’. Proses yang dimaksud olehnya adalah proses dianamis. Proses dinamis ini berlaku baik manusia maupun alam. Ia berpendapat bahwa manusia dan alam merupakan organisme yang selalu berproses. Sebagai organisme, manusia dan alam mempunyai hukumnya masing-masing. Whitehead melihat bahwa hukum yang ada pada manusia identik dengan hukum yang ada pada alam.
Manusia dan alam merupakan kenyataan real. Manusia tak mungkin ada tanpa alam. Dengan kata lain, jikalau manusia tidak bereksistensi, juga tidak ada dunia. Ia ada dalam dirinya sendiri sekaligus merupakan bagian dari alam. Heidegger menyebut manusia sebagai ‘Ek-sistenz’. Manusia hanya menemukan diri, jikalau ia keluar dari diri sendiri dan terbuka kepada alam sekitarnya. Secara hakiki ia bersifat ada dalam dan pada dunia. Untuk mengembalikan alam ini, maka kita harus mengubah cara pandang terhadap alam. Alam bukanlah sebuah obyek atau sebuah mesin melainkan sahabat yang turut menentukan eksistensi manusia.















DAFTAR PUSTAKA

Buku
Bakker, Anton, Kosmologi dan Ekologi: Filsafat Tentang Kosmos Sebagai Rumah
Tangga Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 1995.
Hamersma, Harry, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: PT Gramedia,1984.
Muthahhari, Murtadha, Manusia dan Alam Semesta, Jakarta: PT Lentera Basritama
Anggota IKAPI, 2002.
Poedjawawijatna, I.R, Manusia Dengan Alamnya, Jakarta: PT Bina Aksara, 1983.
Sudarminta, J, Filsafat Proses: Sebuah Pengantar Sistematika Filsafat Alfred North
Whitehead, Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Majalah
Etika ekologi, majalah STFK Ledalero Vol. I, No. I, Desember 2002.

Data internt
http://www.icasindonesia.org/index.php?option=com_content&task=view&id=186&Itemid=1%E2%8C%A9=iso-8859-1 akses Rabu,7-5-2008.
http://www.pmo.gov.my/website/webdbase.nsf/vIslamHadhari/E2F75AACFD7443C0482570770011CD77, akses hari Rabu, 7-5-2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar