6.13.2009

filsafat cina smter 4

Ringkasan

Pemikiran Xunzi

Tentang Kodrat Manusia
 Manusia pada dasarnya jahat
Kejahatan di sini bukan diartikan secara moral. Kejahatan dipahami seperti ini: manusia lahir dengan tidak mempunyai kebaikan dalam dirinya. Manusia lahir dalam kekosongan. Meskipun demikian, ia mempunyai kecenderungan, kehausan untuk mengisi kekosongan itu. Kecederungan dan kehausan itu tidak teratur sebab semua orang memilikinya dan bertindak seturut kecenderungan dan kemauannya sendiri untuk mengisi kekosongannya sendiri. Oleh sebab itu, terjadi benturan atau tabrakan. Dalam kasus seperti inilah yang namanya kejahatan.
Oleh karena terjadi benturan itu, maka muncul kerinduan untuk hidup baik. Orang-orang bijak menciptakan ritus-ritus sebagai sarana untuk menghantar manusia pada keteraturan dan hidup baik. Sebab dalam diri manusia terdapat kecenderungan untuk hidup baik. Sarana yang dipakai untuk itu adalah pendidikan.
 Kebaikan tidak mungkin terjadi dengan usaha sendiri. Oleh karena itu manusia harus berkumpul dan bekerja sama dengan manusia lain. Sebab secara kodrati, manusia itu lemah dari pada hewan. Apabila manusia hidup sendiri, maka muncul kemiskinan bahkan kehancuran. Kemiskinan tidak hanya kemiskinan materi. Untuk keluar dari keterbatasan itu, manusia harus mengadakan konsensus. Dari konsensus ini muncul organisasi-organisasi sosial. Akhirnya, manusia mempunyai kemampuan untuk bersatu.

Tentang Pendidikan
 Kejahatan muncul bukan karena kehendak manusia, tetapi karena ketidaktahuan manusia. Oleh karena itu, pendidikan sangat penting. Pendidikan membentuk kodrat kedua bagi manusia yaitu Dao (jalan). Untuk membentuk kodrat diperlukan guru, selain kecerdasan yang ada dalam diri manusia.
 Pendidikan membuat orang menjadi baik, bukan sekadar supaya orang mengetahui sesuatu. Di sini pendidikan itu bertujuan transformatif.
 Pandidikan itu perlu latihan, sebab latihan merupakan bagian penting dalam pendidikan. Melalui latihan orang dapat menghayati keindahan ritual. Mengorganisir masyarakat melalui ritual merupakan satu-satunya jalan untuk meneruskan keinginan masyarakat. Mempelajari ritual merupakan cara terbaik untuk mencapai kepuasan pada level personal.
 Selain itu, penting hukuman untuk mengekang kodrat manusia yang jahat.
 Dengan pemikirannya ini, Xunzi dinobatkan sebagai orang pertama yang menyusun program pendidikan yang sistemaris dalam sejarah filsafat China.



Tentang Etika Ideal
1) Tiga Tingkat Kemajuan Pendidikan
• Orang terpelajar : orang yang mengambil langkah pertama yaitu ingin mempelajari Dao

• Orang terhormat : orang yang sudah mengetahui Dao, tetapi perlu membuat pemisahan

• Orang bijak : orang yang telah menginternalisasikan prinsip etika moral ritual, tanpa melanggar batas-batas, tetapi hasilnya baik.

2) Guru adalah teladan dan penggerak pembentukan etika, bukan sebagai penyampai sekumpulan etika. Untuk itu, ajaran etika itu harus sudah menjadi ‘jiwa” hidupnya.

Logika dan Bahasa
Xunzi tidak tertarik bicara soal bahasa. Akan tetapi, bahasa menurutnya penting. Oleh karena itu, ia mebuat konsep filosofis tentang bahasa. Hal ini mudah dipahami sebab ia hidup pada masa perkembangan mashab nama-nama.
Pengetahun merupakan korespondensi sesuatu yang ada dalam diri saya dengan yang ada di luar diri saya. Bagaimana saya mengetahui? Karena dalam diri saya terdapat kemampuan untuk untuk mengetahui. Ada dua kemampuan:
o Indra-indra Natura (mdengar, melihat)
o Pikiran. Apabila pikiran dihubungkan dengan indra dapat menumbuhkan kemapuan menginterpretasi yang dapat menemukan makna sesuatu hal. Kemudian manusia meberikan nama pada hasil persepsinya . pemberian nama bertujuan supaya tidak terjadi kekacauan.


DAOISME

1. Dào adalah suatu konsep umum dalam Daoisme (Taoisme), Konfusianisme, dan juga dalam filsafat China tradisional.
a.Kata itu sendiri berarti: Jalan, arah, cara.
b.Kadang kala secara bebas diartikan sebagai “ajaran” atau “dasar”
c.Biasanya dipakai secara filosofis untuk menunjukkan kodrat sejati atau kodrat fundamental dunia.
d.Konsep dào berbeda dengan ontologi Barat, karena dia adalah konsep dunia yang aktif dan holistik, bukan sebagai gambaran dunia yang statis dan atomis.

2. Ajaran Daoisme seluruhnya terangkum dalam buku Dàodéj īng (Tao-Te Ching) yang dianggap berasal dari Lǎozǐ

a. Penafsiran Dàodéjīng yang disusun oleh Lǎozǐ sangatlah sulit, karena:
-Tokoh historis Lǎozǐ sulit dibuktikan.

 Tokoh pertama adalah Laozi yang hidup sejaman dengan Konfusius (551-479 BC), bernama Li Er atau Li Dan. Dia adalah pejabat di perpustakaan kerajaan, dan menuliskan buku ini dlam dua bagian sebelum berangkat ke Barat.
 Tokoh ke dua adalah Lao Laizi, yang juga sejaman Konfusius, yang menuliskan buku ini dalam 15 bagian.
 Yang ketiga adalah seorang sejarahwan dan astrolog Lao Dan yang hidup pada pemerintahan Bangsawan Xian(384-362 BC) pada masa Kerajaan Qín
 Pandangan yang paling diterima adalah buku ini adalah kumpulan kata-kata bijak beberapa orang, dan yang ada pada kita sekarang adalah versi yang terangkum pada abad I SM.

-Buku ini kiranya pada awal tidak diberi judul Dàodéjīng oleh penulis asli.
-Masa penulisan buku ini tidak disepakati oleh para ahli.

b. Penafsiran teks sangat dipengaruhi oleh historisitas teks dan siapa penulisnya, karena ditemukan banyak inkonsistensi gaya dan isi.
c. Setiap kali terjadi inkonsistensi, para komentator mencoba menjelaskan pelbagai aspek yang berbeda.
d. Kesulitan penafsiran teks terdapat pada kurangnya penggunaan tanda baca pada teks-teks kuno.

3. Mengikuti pandangan umum, tanpa menganggap hanya satu penulis, kita menyebut penulis kolektif Dàodéjīng dengan satu nama: Lǎozǐ

Ada tiga pokok pandangan filosofis Daoisme:
a. Kodrat Dao dan kemungkinan mengenal serta menunjuk pada Dao.
b. Etika dan kebajikan, terutama kebajikan tidak bertindak non-action (wúwéi).
c. Idealisme politik dan cara terbaik mengatur pemerintahan.

DAO DAN BAHASA
Arti Dao

a. Pada mulanya Dao berarti jalan yang benar dari Tian dan manusia.
b. Kemudian muncul arti metafisik dalam konteks Daodejing.
c. Sekarang ini diartikan dengan “Jalan”, meskipun tidak merangkum seluruh maknanya.

H.G. Creel (What is Taoism? And Other Studies In Chinese Cultural History, Chicago, IL: The University of Chicagao Press):
Awalnya Dao berarti “jalan”, kemudian menjadi “cara” dalam arti umum dan “metode.” Kemudian juga dipakai dalam pengertian “menunjuk pada jalan,” dan kemudian “menjelaskan.” Selanjutnya memiliki makna “cara bertindak,” dan “prinsip-prinsip dasar” dalam pengertian moral, dan dipakai oeh pelbagai filsuf untuk menunjukkan ajarannya.


Dao yang dapat disebutkan bukanlah Dao.
Nama yang dapat disebutkan bukanlah nama.
Sang tanpa nama adalah awal dari Langit dan Bumi.
Sang bernama adalah ibu dari segala ciptaan

1. Dao menunjuk kepada REALITAS TERTINGGI
Realitas tertinggi adalah suatu realitas seperti apa adanya.

2. REALITAS TERTINGGI disebut sang “tanpa nama
a. Disebut “tanpa nama” karena tidak dapat dijelaskan dengan bahasa manusia.
b. Sang “tanpa nama” adalah permulaan (bukan pencipta) dari segala sesuatu.
c. Sebagai sang “tanpa nama” dan “tak dapat disebutkan” Dao hadir dalam semesta, dia merupakan permulaan Langit dan Bumi, yang menjadi bingkai eksistensi seluruh dunia
3. Pembukaan kitab Daodejing menunjukkan kepada kita bahwa dunia sebagaimana yang kita kenal adalah hasil dari hubungan antara realitas seperti apa adanya dengan konsep manusia yang terungkap dalam bahasa.
4. Kesulitan:
1. Bagaimana Dao memulai semesta?
2. Apakah Dao memulai semesta untuk sementara, sebagai sumber primordial kosmologi, atau memulai dunia secara logis yang menjadi dasar ontologis dunia.
3. Apakah Dao adalah totalitas dunia, atau suatu situasi ontologis yang mendahului dunia?
4. Jika Dao tidak bisa diterangkan dengan bahasa dunia, bagaimana mungkin kita menerangkannya?
5. Bagaimana mungkin juga kita mengenal Dao?
5. Pandangan beberapa komentator:
1. Dao hanyalah totalitas dunia, dan karena itu dia tidak mendahuluinya, maupun tergantung padanya sebagai suatu keseluruhan.
2. Dao ada dari dirinya sendiri. Di sini Dao menjadi “Non-Being,” yakni mendahului dan bertanggung jawab terhadap terbentuknya “Being.”


KARAKTERISTIK DAO
Semua hal di dunia datang dari being. Dan being datang dari non-being (Ddj 1).

1. Dao adalah Non-being

a. Being menunjuk pada eksistensi per se, sementara itu “barang di dunia” merujuk pada being2 individual dengan bentuk dan forma tertentu.
b. Di sini Laozi membuat pembedaan temporal dan pembedaan logis dari (1) non-being, (2) being, (3) barang2 di dunia (being2).
c. Dao sebagai sumber utama dari Being per se atau being2 secara umum diidentifikasikan dengan Non-being yang murni.

Karena itu biarlah selalu ada non-being agar kita dapat melihat kelembutannya (subtlety), dan biarlah selalu ada being agar kita dapat melihat hasilnya. Keduanya adalah sama, namun setelah mereka terwujud, mereka memiliki nama yang lain. Mereka dapat disebut mendalam dan terdalam.

2. Dao adalah kekosongan namun fungsinya tidak berkesudahan.
a. Laozi menganggap Dao sebagai substansi dari segala sesuatu. Fungsi Dao adalah menghasilkan segala sesuatu.
b. Seluruh ciptaan bisa terwujud dan menghilang, namun substansinya tidak pernah berkesudahan.
c. Karena substansi itu tidak terikat pada suatu hal yang partikular, sebab kodratnya sendiri adalah kosong.
d. Di sini tampak status ontologis dari Dao, sebagai dasar segala sesuatu.

Dao adalah kekosongan, namun bila dipakai tidak pernah akan kering. Dalam, dia bagaikan nenek moyang dari banyak ciptaan (Ddj 4)


3. Dao senantiasa tetap atau kekal
a. Di sini Dao disebut [Dao] yang kekal.
b. Mengenal yang kekal disebut pencerahan.
c. Menurut Laozi, Dao menjadi pedoman bagi segala sesuatu, karena ia tidak memiliki batasan apa pun.
d. Dao itu kekal, dan di dalamnya totalitas seluruh barang tidak pernah berakhir, meskipun barang-barang partikular habis.
Tak bersuara dan tak berbentuk, Dao tidak tergantung pada apa pun dan tidak berubah (Ddj 25)

4. Dao ada sebelum semesta, termasuk Langit dan Bumi.
a. Dunia memiliki permulaan, dan permulaan ini dapat dianggap sebagai induk segala sesuatu.
b. Di sini tampak bahwa Laozi berbicara tentang urutan temporal, bukannya hanya urutan ontologis atau logis, antara Dao dan dunia.
c. Sebagai induk, maka Dao memiliki unsur feminin (sementara dlm ajaran Konfusius Dao diihat sebagai kehadiran simbolis paternal). Namun keduanya menganggap Dao sebagai prinsip generatif dan pengatur semesta.
Sebagai sesuatu yang tak terbedakan dan lengkap, yang ada sebelum langit dan bumi … Dia dianggap sebagai induk (ibu) dari semesta (Ddj 25).
Karena itu Dao menghasilkan bermacam-macam hal, dan kebajikan (德 dé) memelihara-nya. Dao dan de membesarkan dan mengembangkannya. Mereka memberikan keamanan dan damai kepadanya. Mereka memeliharanya dan melindunginya. Dao menghasilkannya namun tidak menjadikannya sebagai miliknya (Ddj 51).

5. Dao melahirkan dunia.
a. Laozi juga mengatkan: “Dao meng-hasilkan Satu dan Satu menghasil-kan dua. Dua menghasilkan yang tiga. Dan tiga menghasilkan berlaksa barang” (Ddj 42).
b. Terdapat suatu gambaran cosmogenesis dalam pengertian tentang Dao.

Langit mandapatkan Satu dan menjadi jelas. Bumi mandapatkan Satu dan menjadi tenang. Being-being spiritual mandapatkan Satu dan menjadi ilahi. Lembah mandapatkan Satu dan menjadi tertutupi. Ribuan barang mendapatkan Satu dan hidup serta tumbuh. Raja-raja dan bangsawan2 mendapatkan Satu dan menjadi penguasa2 kekaisaran. Yang membuat mereka demikian adalah yang Satu” (Ddj 39).

6.Dao adalah satu dan tak terbagi
Yang dimaksudkan dengan “Satu” adalah Dao. Karena Dao itu Satu dan tidak terbagi, dia tidak dapat dibentuk oleh konsepsi manusia. Dao yang satu ini ada sebelum permulaan semesta, dan seluruh barang membutuhkannya untuk mendapatkan sifatnya.
Kita memandangnya dan tidak melihatnya; namanya Tak Terlihat. Kita mendengarkannya dan tidak mendengar; namanya Tak Terdengar. Kita merabanya dan tidak mendapatkannya; namanya Yang Lembut (tak berbentuk) … Inilah yang disebut bentuk yang tidak berbentuk, forma tanpa obyek” (Ddj 14)

7. Dao tidak dapat ditangkap panca indera.
a. Di sini Laozi menekankan ketidakmampuan indera kita sebagai sarana untuk berkenalan dengan Dao. Jika Dao tidak dapat ditangkap panca indera, maka dia tidak memiliki atribut fisik yang dapat diamati.
b. Karena kita tidak dapat mendengar Dao, maka tidak ada “mandat” atau perintah dari Dao. Dao tidak mencampuri urusan manusia, dan kehadirannya hanya dapat dirasakan, tetapi tidak dapat diamati.


8. Dao tidak dapat disebutkan
a. Alasan mengapa Dao sulit digambarkan karena dia tidak sesuai dengan skema atau konsep manusia.
b. Konsep manusia terbentuk berdasarkan persamaan maupun perbedaan dalam kategori dari yang ada.
c. Dengan menggabungkan (7) dan (8), kita melihat batasan pengetahuan manusia sewaktu membicarakan Dao.
d. Dao bukan hanya tidak tertangkap indera kita, dia juga tidak dapat dikenal oleh pengenalan kita yang terbatas

Sebagai barang Dao sebagai bayang-bayang, tidak terlihat. Meskipun tidak terlihat dan bayang-bayang, namun dia adalah suatu substansi. Dia buram dan gelap, namun di dalamnya ada esensi (Ddj 21)


9. Dao tidak bernama

a. Sulit menggunakan konvensi linguistik dan skema konseptual kita menggambarkan Dao.
b. Nama diberikan kepada pelbagai barang agar kita dapat membedakannya.
c. Tindakan memberi nama adalah tindakan memberikan batasan; karena itu tidak cocok dengan Dao.
d. Laozi menjelaskan dilemanya: “Aku tidak tahu namanya; aku hanya mengistilahkannya ‘Dao’. Kalau terpaksa memberikan nama diri, aku akan menyebutnya ‘Maha” (Ddj 25).
e. Jadi Laozi bermaksud menjelaskan sesuatu yang tidak memiliki nama, dan dia ogah menyebutnya Dao.
Dao selamanya tanpa nama … Hanya sewaktu dia terputus, baru bernama. Segera sewaktu memiliki nama, seseorang perlu menyadari bahwa sudah waktunya berhenti (Ddj 33)

10. Dao menggambarkan dirinya dengan Natural (ziran)
a. Istilah natural di sini bukan dunia natural yang kita pahami, karena kata ini dapat bertentangan dengan penafsiran cosmogenesis dunia dari Dao itu sendiri.
b. Karena itu Dao merupakan keseluruhan spontanitas atau naturalitas.
c. Leih lanjut lagi, dao dari Langit, dari Bumi, dan dari Manusia sebenarnya satu dan sama.
d. Dalam konteks ini Dao merupakan prinsip moral, dan bukannya prinsip metafisik.
Manusia meniru gambaran Bumi. Bumi meniru gambaran Langit. Langit meniru gambaran Dao, dan Dao meniru gambaran Natural (Ddj 25)

11. Dao (dari Langit) adalah prinsip feminin
a. Bagi Laozi, peran fundamental Dao adalah memberikan hidup dan menyediakan penopang hidup itu sendiri. Dengan demikian Dao dipandang sebagai kekuatan maternal yang bertanggung jawab untuk memelihara dan menopang kehidupan.
b. Gambaran bahwa Dao itu kosong namun merupakan sumber dari beranekaragam makhluk merupakan asosiasi metafor dengan rahim wanita.
Gerbang dari wanita misterius disebut akar dari langit dan bumi (Ddj 6)

Dari keseluruhan karakteristik Dao dapat disimpulkan:

1. Dao bersifat transendens, dalam arti bahwa Dao melampaui batasan pengalaman. Dalam pengertian “dao” yang demikian, terlihatlah bahwa ada Dao pada awal semesta. Daolah yang melahirkan Baing dan menghasilkan bermacam-macam hal. Dao dalam pengertian ini diidentifikasikan sebagai sumber dunia. Karena dia ada mendahului eksistensi manusia, dia berada melampaui pengalaman dunia. Karena itu dia transendens.
2. Dao juga bersifat imanen di dalam dunia, dan merupakan cara bagaimana dunia ada. Dia dapat dipandang sebagai pola natural dari segala sesuatu di dunia. Dalam pengertian iniDao tidak menghilang setelah seluruh semesta terbentuk; dia adalah totalitas dari seluruh makhluk dan merupakan peranan naturalnya. Dia tetap berperan sebagai prinsip generatif dari segala sesuatu, karena setiap barang muncul dan menghilang, sementara hal-hal baru senantiasa tercipta. Setiap ciptaan baru mengambil bagian dari model terdahulu, yang merupakan bentuk dari seluruh pola yang ditunjuk oleh Dao.
3. Sifat transenden dan imanen dari Dao tidak bertentangan. Laozi menggambarkan Dao sebagai totalitas dunia, namun dia juga berbicara tentang Dao sebagai yang mengadakan dunia. Yang transenden dan imanen dari Dao merupakan dua aspek, atau dua tahapan temporal (dalam lingkup waktu) Dao itu sendiri.
Laozi merupakan filsuf China pertama yang berspekulasi tentang apakah semesta memiliki permulaan, apakah “sesuatu” dapat muncul dari “ketiadaan”.
Teori ini menempatkan Non-being (wu) sebagai sumber dari Being (eksistensi), namun juga menunjukkan bahwa Laozi tidak memandang Non-being sebagai kehampaan.

KEBAJIKAN Dé,dan
TANPA TINDAKAN non-action Wú-Wéi atau

1. Bagi Laozi, etika dibangun di atas tindakan manusia yang sesuai dengan Dao.

a. Moralitas manusia muncul dalam sikap meniru Dao yang menghasilkan konsep manusia tentang yang baik.
b. Etika bersifat absolut, tidak tergantung pada pendapat atau kultur.
c. Dé (kebajikan) adalah perwujudan dào (bdk. Dàodéjing )
d. Jika manusia menjalan-kan Dào dalam hidup sehari-hari, mereka men-capai Dé (kebajikan). Bila makhluk lain memanifestasikan Dào dalam cara eksistensinya, mereka juga memberi contoh akan Dé.
e. Maka Dé adalah cara ada segala sesuatu bagi semua forma eksistensi.
2. Pandangan etika Laozi sering digambarkan dalam bentuk pembalikan: dari sesuatu yang dikategorikan positif (seperti ‘sesuatu’, ‘melakukan sesuatu’, ‘pengetahuan’, ‘penuh’), digambarkan dengan kategori negatif (seperti ‘tiada sesuatu’, ‘tanpa berbuat’, ‘ketidaktahuan’, ‘kosong’, dll).
1. Pembalikan ini dimaksudkan agar orang tidak terikat pada satu bentuk atau paham tertentu, melainkan membantu orang agar melupakan perbedaan antara yang positif dengan yang negatif.
2. Para Daois menganggap semua nilai sosial bersifat prejudis, dan karena itu salah. karena mereka menutupi realitas dan memaparkan kita serangkaian kontradiksi. Seharusnya manusia keluar dari kontradiksi ini mencapai yang transenden.

3. Prinsip moral negatif dari Dé adalah Wú-Wéi.
Ada tiga interpretasi makna Wú-Wéi:
a. Tidak melakukan apa-apa.
b. Suatu sikap “tidak memiliki intensi/keinginan” dalam tindakannya.
c. Suatu tindakan yang tidak memaksa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar