6.13.2009

analisis filosofis

ANALISIS FILOSOFIS

Awal Kata...
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai peristiwa hidup yang kadang tidak mampu dicerna dengan akal budi. Bahasa manusia selalu berangkat dari pengalaman untuk melukiskan peristiwa yang dialaminya. Bahasa manusia selalu merupakan bahasa yang berdasarkan pengalaman. Untuk memahami Tuhan yang transenden, bahasa manusia sangatlah terbatas. Manusia tidak mungkin berbicara mengenai Tuhan karena manusia tidak mempunyai bahasa yang persis bagi Tuhan. Maka untuk mengerti Tuhan, kita mesti merujuk dan menggunakan contoh. Tema ini persis menyentuh persoalan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Para filsuf yang dibahas di bawah ini, masing-masing menunjukkan pemahaman yang berbeda konsep mengenai Tuhan dalam agama.
Dalam tulisan ini, penulis membahas tiga filsuf yakni A. J. Ayer, Antony Garrard Newton Flew dan Basil Goerge Mitchell. Bagian ini dicirikan dengan suatu perubahan dari metafisis ke ilmu pengetahuan dan dari idealisme ke realisme.

I. Riwayat Hidup
1.1 A. J. Ayer
Ayer hidup sekitar tahun 1910-1989. Ia lambang dari positivisme logis di Inggris Raya. Cara pendekatannya yakni positivis logik bagi metafisika dan diskursus yang berhubungan dengan agama. Karyanya yang pertama ialah Language, Truth dan Logica. Pada tahun 1932 ia menghadiri pertemuan di Lingkungan Wina setelah ia menyelesaikan gereja Kristus di Oxford. Pada tahun 1933, ia kembali ke Oxford untuk menjadi seorang penasehat/pengajar pada gereja Kristus. Tahun 1935, ia dinamakan sebagai peneliti. Bukunya yang pertama yakni Language, Truth dan Logica dipublikasi pada tahun 1936. Buku ini dibaca oleh hampir seluruh masa dan implikasi dari paham positivisme sangat besar bagi metafisika, etika dan ilmu agama.
1.2 Antony Garrard Newton Flew
Nama lengkapnya Antony Garrard Newton Flew. Ia lahir di London Inggris pada tanggal 11 Febuari 1923. Judul tulisannya Philosophy of religion. Antony Flew adalah putra dari seorang Pelayan gereja Metodis. Sepanjang perang dunia kedua ia belajar di sekolah Jepang bersama orang Afrika. Ia adalah seorang mahasiswa dari Universitas di London. Ia sangat cerdas. Setelah peperangan, Flew memperoleh ijazah Literae Humaniores pada perguruan tinggi St. John. Ia adalah seorang filosofis bahasa biasa yang terkemuka.
Flew adalah seorang Dosen filsafat pada gereja Kristus Oxford dari tahun 1949 sampai 1950. Ia menjabat sebagai dosen selama empat tahun pada universitas Aberdeen dan menjadi Prof, filsafast di Universitas Keele selama dua puluh tahun. Antara tahun 1973 dan 1983, ia menjabat sebagai Prof. Filsafat pada University of Reading. Pada waktu itu, ia mengembangkan No true Scotsman buah pikiran keliru yang benar dalam bukunya tahun 1975, tentang Thinking About Thinking.
1.3 Basil Goerge Mitchell
Nama lengkapnya Basil Goergo Mitchell. Ia lahir pada tanggal 9 April 1917. Ia adalah bekas Nolloth Profesor Emeritus filsafat agama Kristen di Universitas Oxford. Mitchell telah dididik pada sekolah Raja Edward VI, Southampton dan Perguruan tinggi ratu, Oxford. Setelah melayani dalam Angkatan laut kerajaan terutama di Mediterania, ia menjadi guru privat filsafat pada Perguruan tinggi Keble, Oxford tahun 1947. Ia memberikan ceramah pada tahun 1974 - 1976 di Glasgow, dengan tema Kesusilaan, Hal-hal duniawi Dan Religius. Di antar penerbitan penting lainnya dalam filsafat hukum dan filsafat agama yang meliputi iman, kumpulan puisi yang diterbitkan pada tahun 1975; hukum, kesusilaan dan agama merupakan kontribusi bagi debat atas hukum dan kesusilaan antara H. L. A. Hart dan Patrick Devlin.

II. MENELISIK PEMIKIRAN KETIGA FILSUF
2.1 A. J. Ayer
Ia membagi proposisi-proposisi yang sejati ke dalam dua kelas, pertama, soal gagasan/ide-ide (proposisi-proposisi a priori logika dan matematika) dan kedua, soal kenyataan/proposisi a posteriori. Proposisi ini menurut dia sangat penting karena proposisi ini proposisi analitik dan tentu. Sedangkan proposisi-proposisi mengenai kenyataan empiris, proposisi ini dapat dikatakan sebagai hipotesis yang mungkin, tetapi tidak tentu. Untuk melihat apakah suatu ungkapan kalimat sungguh-sungguh hipotesis empiris, Ayer mengedepankan suatu prinsip yakni prinsip verifikasi. Prinsip ini untuk memodifikasi terhadap kenyataan empiris. Menurut Ayer proposisi empiris tidak selamanya dapat dibuktikan, tetapi bahwa pengalaman pancaindera harus relevan dengan kenyataan sehingga dapat menentukan kebenaran/kesalahan. Jikalau suatu proposisi ternyata gagal dalam memenuhi prinsip verifikasi ini, Ayer mengatakan bahwa itu adalah metafisis dan ada metafisis itu adalah benar atau salah.
Ayer menguraikan lebih lanjut mengenai proposisi empiris. Bagi dia kriteria empiris adalah suatu bentuk terendah dari prinsip verifikasi. Suatu kalimat penting secara faktual jikalau pengamatan-pengamatan membawa kita untuk menerima proposisi sebagai kebenaran atau menolaknya sebagai kepalsuan. Jikalau asumsi kita mengenai kebenaran atau kesalahan konsisten dengan asumsi mengenai kodrat dari pengalaman selanjutnya dan itu bukanlah tautologi, maka kalimat di atas adalah proposisi palsu. Secara harafiah itu tidak penting. Ini tidak berarti bahwa kita dalam kenyataan membuktikan proposisi, tetapi bahwa itu harus dapat dibuktikan dalam prinsip.
Proposisi-proposisi mengenai kenyataan adalah hipotesis-hipotesis yang hanya dapat bisa mungkin. Hanya pengalaman yang mungkin mengubah proposisi. Ayer berpendapat, untuk bertahan pada sebuah pembuktian yang meyakinkan, itu tidak mungkin menyatakan pernyataan yang penuh arti dari fakta. Patokan verifikasi dipahami dalam cara ini yakni tidak menyangkal/mengingkari arti proposisi-proposisi umum atau tentang proposisi-proposisi masa lalu. Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa kedua proposisi di atas yakni proposisi-proposisi palsu.
Persoalan di atas muncul juga dalam persoalan metafisis yakni antara realis dan idealis. Suatu kalimat metafisis bukan merupakan suatu proposisi yang sesungguhnya karena kalimat metafisis itu bukan tautologi juga bukan hipotesis empiris. Maka, jikalau filsafat sungguh dimengerti sebagai suatu cabang dari ilmu pengetahuan, itu harus dibedakan dari metafisika. Kaum Positivis logis, cenderung kepada poin ini. Mereka melihat bahwa ahli metafisika sebagai seniman dan penyair. Tetapi Ayer menolak ini. Dia berpendapat kalimat dari panyair mempuyai arti harafiah dan di sini penyair menulis sesuatu yang tidak berarti, melakukan itu dengan sengaja sehingga membawa dampak tertentu tentang sesuatu. Sebaliknya, ahli metafisika bukan hanya bermaksud untuk menulis ungkapan yang tak berarti, tetapi juga karena tata bahasa kurang tepat/baik. Tidak ada tempat dari pengalaman yang tidak dapat membawa ke dalam pengetahuan empiris yang terbatas. Itu berarti setiap pengalaman selalu membawa pengatahuan empiris yang terbatas. Ayer mengklaim bahwa umumnya para filsuf bukan ahli metafisika, tetapi analisis ilmu bahasa yang sebagian besar terkait dengan cara kita berbicara tentang sesuatu.
Banyak ahli metafisika yang sependapat dengan Ayer bahwa “proposisi-proposisi dari filsafat tidak berdasarkan fakta-fakta, tetapi dalam karakter llmu bahasa yaitu, mereka tidak menjelaskan perilaku fisik, objek-objek; atau bahkan mental (akal budi), objek-objeknya; mereka menjelaskan definisi-definis atau konsekuensi forlmal dari defisini-definisi. Jadi, dapat dikatakan bahwa filsafat adalah bagian dari logika”. Filsafat bersaing dengan ilmu pengetahuan bahasa. Contoh seorang mengatakan bahwa suatu barang material tidak mungkin berada di dua tempat sekaligus. Secara kritis memang dapat memperlihatkan hal itu, namun itu bukanlah suatu proposisi empiris. Itu adalah ilmu bahasa. Itu adalah, “ itu hanya arsip fakta, sebagai hasil kaidah-kaidah lisan tertentu. Proposisi itu bertentangan dengan proposisi yang mereka kenakan pada barang material yang sama.
Kenyataan ada Tuhan;
Para filsuf pada umumnya menerima/mengakui pandapat Ayer bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan secara demonstartif (demonstratif sering diartikan sebagai pembuktian, pembenaran. Dalam logika bukti formal dalam suatu argument biasanya argumen deduktif yang menunjukan penalaran yang digunakan untuk sampai pada kesimpulan). Jikalau kesimpulan bahwa adanya Tuhan ada secara demonstartis, tentu itu harus didasarkan pada landasan pemikiran yang dapat dipercaya. Tidak ada proposisi empiris bisa lebih mungkin. Analisis, tentu tetapi analisis adalah tautologi-tautologi dan tidak mungkin dari tautologi yang menunjukkan keberadaan Tuhan. Ayer menyimpulkan bahwa tidak seorang pun yang menunjukkan keberadaan Tuhan. Jikalau keberadaan Tuhan adalah mungkin, maka klaim bahwa Tuhan ada akan menjadi suatu hipotesis empiris. Keberadaan Tuhan mungkin dapat diungkapkan dengan menyatakan kesatuan kodrat. Tetapi, para teolog dan para religius tidak puas akan hal ini. Berbicara mengenai ada Transeden hanya mungkin dimanifestasikan secara alami/kodrat, tetapi ada transenden tidak dapat direduksikan ke dalam manifestasi-manifestasi ini. Dalam hal ini, kata “Allah” adalah suatu istilah metafisis dan mengatakan “eksistensi Allah”, tidak dapat menunjukkan, benar atau salah. Pernyataan-pernyataan tentang Allah yang transenden di nilai tidak berarti apa-apa.
Bagaimana kaum Agnotis dan Ateis memahami keberadaan Tuhan? Seorang Agnotis berpendapat bahwa tidak ada alasan yang benar/masuk akal untuk percaya atau tidak percaya proposisi bahwa Tuhan Ada. Seorang Ateis berpendapat bahwa ada alasan-alasan yang masuk akal mengapa ada Tuhan itu sedikitnya tidak mungkin. Ayer menanggapi bahwa semua ungkapan mengenai kodrat Tuhan, yang mencakup pandangan Ateis dan Agnotis adalah pandangan yang bukan-bukan. Pernyataan-peryataan tentang kehidupan kekal dinilai dalam cara yang sama. Pernyataan-pernyataan metafisis mereka juga (Agnostis dan Ateis), tidak mempunyai isi faktual. Oleh karena itu, mereka tidak mengatakan apa-apa tentang dunia, mereka tidak bisa dituduh mengatakan sesuatu yang palsu atau suatu alasan-alasan yang tidak cukup dipercaya. Pada padangan ini, tidak ada alasan-alasan logis bagi antagonisme antara agama dan ilmu pengetahuan alami. Ayer seperti kebanyakan ahli teolog percaya, bahwa Tuhan adalah suatu misteri yang melebihi pemahaman manusia, atau bahwa Tuhan adalah suatu obyek dari iman, dan bukan obyek dari akal budi.
Kesadaran langsung akan Tuhan menurut Theis dan Mistik;
Menurut kaum Theis dan Mistik bahwa kesadaran/pengalaman langsung akan Tuhan sejajar dengan kesadaran/pengalaman lansung dari suatu pengalaman indrawi tertentu. Sehingga bagi mereka tidak ada alasan, bagi kita untuk percaya pada seorang dalam kasus pengalaman indrawi dan bukan dalam kasus Tuhan. Terhadap pendapat ini, Ayer merespon bahwa jikalau kaum Theis mengatakan hanya bahwa dia (perempuan) mengalami suatu jenis keanehan dari pengalaman indrawi terntentu, pernyataannya mungkin benar. Namun, kaum Theis juga menekankan bahwa ada suatu yang Transenden merupakan objek dari suatu pengalaman indrawi, sebagaimana seorang percaya ada sebuah objek yang berwarna kuning yang dimiliki oleh apa yang juga berwarna kuning.
2.2 Antony Garrard Newton Flew
Arti bahasa religius menjadi perhatian utama para filsuf . Menurut Flew logika bahasa religius sesungguhnya diruntuhkan oleh kegagalan kaum religus sendiri dalam menentukan apakah suatu pernyataan benar atau salah. Flew mencoba melihat hal ini dalam suatu perumpamaan tentang dua penjelajah yang datang membersihkan hutan rimba. Dari perumpamaan ini, kedua penjelajah menyimpulkan secara berbeda mengenai keberadaan para pekerja kebun. Ketika para pekerja kebun tak kelihatan, pernyataan yang muncul adalah apakah pantas kamu memanggil sesuatu yang tak kelihatan, sesuatu yang tak diraba dan yang sukar dipahami. Perumpaan ini dikaitkan dengan ungkapan teologi. Misalnya Tuhan menciptakan dunia atau Tuhan mencintai kita seperti seorang ayah mencintai anaknya.
Kaum Skeptik melihat ini sebagai pernyataan. Sesuatu disebut sebagai pernyataan jikalau ada sesuatu yang disangkal. Jikalau dengan demikian, itu bukan lagi pernyataan yang sesungguhnya. Kaum skeptik mempertanyakan kepada orang-orang yang percaya akan sesuatu yang tak kelihatan, sesuatu yang tidak dapat diraba dan sesuatu yang tidak dapat dipahami. Kaum sekptik menyimpulkan bahwa ungkapan orang-orang yang percaya bukanlah pernyataan yang bebas.
Bagaimana tanggapan Flew? Ia mengatakan bahwa kepercayaan religius serupa dengan situasi penjelajah yang percaya pada pekerja kebun akan sesuatu yang secara akal sehat mungkin tidak dapat diterima. Analogi seperti itu secara langsung diasalkan kepada Tuhan yang tak kelihatan, tak terjangkau dan tak dapat diindrai dengan instrument sensibilis. Bagi orang yang percaya kepada Tuhan, suatu pernyataan tidak mungkin menegasikan atas ungkapan seperti; Tuhan menciptakan dunia atau Tuhan mencintai kita seperti seorang ayah mencintai anaknya. Tuhan memang tak dapat kita lihat, tetapi pengalaman akan Tuhan dapat kita jumpai dalam pengalaman hidup sehari-hari. Dalam situasi di mana manusia mengalami pengalaman penderitaan, sakit dan sebagainya, bagi orang yang percaya mungkin berkata bahwa cinta kasih Tuhan, cinta yang tak dapat dimengerti.
3.2 Basil Mitchell
Mitchel sependapat dengan Flew bahwa ungkapan-ungkapan mengenai agama harus dimengerti sebagai pernyataan. Namun, dia berpendapat bahwa Flew salah memahami konteks mengenai agama. Semua ahli teologi tidak menyangkal adanya penderitaan. Kejahatan sesungguhnya bertentangan dengan iman Kristiani. Dalam iman Kristiani Allah dilukiskan sebagai yang Maha baik, sempurna, Maha Adil, maka adanya kejahatan sesungguhnya bertentangan dengan kodrat Tuhan sebagai yang Maha adil, Maha baik dan Maha Sempurna. Kejahatan jelas tidak berasal dari Tuhan. Kejahatan siftanya aksidental. Yang Ilahi hanya menyebabkan sesuatu yang sifatnya esensial yakni kebaikan. Jadi, kejahatan tidak dapat secara lansung diasalkan kepada Tuhan dan tidak bersumber dari Tuhan, karena kejahatan pada dirinya tidak bersifat mutlak.
Bagi dia konteks mengenai agama tidak seperti yang dimengerti oleh dua penjelajah. Alasanya karena kepercayaan kepada Tuhan sifatnya personal. Ungkapan Tuhan mencitai seseorang atau orang asing ada dipihak kita, sebagaimana yang digambarkan oleh Mitchel dalam perumpamaan, itu hanya dapat dipahami sebagai hipotetis belaka, tatkala pengalaman tidak mendukung pernyataan seperti itu. Ungkapan seperti dapat dikatakan sebagai formula kosong dimana kita tidak dapat membedakan antara pengalaman dengan ungkapan yang mewakili pengalaman seperti itu. Bagi umat Kristen ini menunjukkan suatu kegagalan keyakinan seperti halnya logika. Ketika seorang Kristiani mengatakan Tuhan mencintai saya, sesungguhnya ini mengungkapkan satu pasal dari keyakinan kita akan Tuhan. Ini adalah bahasa manusia yang mengungkapkan suatu relasi personal dengan Tuhan. Jadi, kepercayaan mengungkapkan sebuah relasi atau perjumpaan yang bersifat personal dengan Tuhan.
Mitchel menyimpulkan bahwa agama bukanlah suatu perkara intelektual. Agama mengajarkan manusia mengenai kebaikan Ilahi. Dalam kaitan dengan perkara kejahatan dan berbagai penderitaan yang di alami oleh manusia, sesungguhnya bagaimana kita tetap mempertahankan iman dan meyakinkan diri sendiri bahwa dunia ini memang baik, dan apa pun kejahatan tidak pernah berasal dari Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang . Lebih lajut ia mengatakan bahwa kepercayaan religius tidak dikondisikan oleh perbandingan kepercayaan yang sifatnya sementara dalam metafisika atau ilmu pengetahuan. Ia memang mengakui segala perbedaan pandangan ilmu pengetahuan mengenai agama. Namun, ia bersikeras bahwa klaim-klaim mengenai pengalaman lansung akan Tuhan tidak dapat dibuktikan secara logika. Orang yang secara langsung sadar akan Tuhan itu bergantung dari bagan konseptual yang dimiliki oleh pribadi tersebut.

III. KOMENTAR PENULIS TERHADAP PEMIKIRAN KETIGA FILSUF DI ATAS
Setelah melihat garis besar pemikiran ketiga filsuf di atas, penulis mengakui bahwa persoalan mengenai Tuhan dalam agama merupakan sebuah proses pencarian yang tak mengenal batas ruang dan waktu. Sudut pandang mereka mengenai Tuhan berbeda-beda. Namun, perbedaan menjadi sumbangan yang terbesar ketika semuanya itu dilihat dalam rangka untuk memahami Tuhan.
Akal budi tidak cukup untuk memahami Tuhan. Akal budi hanya membawa manusia untuk mengerti akan Tuhan, tetapi tidak dapat menentukan Tuhan seperti ini atau seperti itu. Akal budi dapat dikatakan sebagai instrumen untuk menjelaskan apa yang tak dapat dimengerti dan tak dapat dijelaskan dalam iman. Pemahaman ketiga filsuf di atas mengenai Tuhan merupakan sebuah keniscahayaan metafisika meninggalkan satu pertanyaan besar bagi orang beragama, yakni apakah sosok Tuhan seperti itu dapat dialami secara rohani, sebagaimana yang dilukiskan dalam ungkapan-ungkapan religius di atas? Atau kalau dirumuskan secara berbeda; apakah kita dapat berjumpa dengan-Nya dalam sebuah pengalaman religius?
Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan ringkasan dari pergulatan ketiga filsuf di atas. Mereka membangun kerangka berpikir mengenai Tuhan dari pengalaman individul dan bukan kelompok. Oleh karena itu; “apa yang lebih jauh diketahui tentang Tuhan harus dicari dalam wilayah partikular dan karenanya mendasarkan diri pada basis empiris. Dan agama adalah ungkapan salah satu bentuk pengalaman umat manusia yang fundamental. Agama adalah respon kodrati manusia dalam pencarianya akan Tuhan.”
Menurut saya, ketika para filsuf di atas menggunakan bahasa analogal untuk mengungkapkan pengalaman umat Kristen akan Tuhan, ada bahaya di mana Tuhan itu digambarkan seperti pengalaman yang kita alami. Pertanyaannya apakah persis seperti itu Tuhan? Apakah Tuhan dapat diindetifikasi dengan pengalaman? Inilah persoalan filsafat. Kebenaran-kebenaran doktrin bahwa Allah adalah Sang Pencipta dunia, Allah adalah batu karangku dan seterusnya memang di luar jangkauan langsung dari pengalaman semacam itu. Namun, pengalaman rasa sakit, derita dan sebagainya semacam mendesak manusia untuk mencari dan menemukan sendiri kepastian-kepastian hidupny dalam iman/kepercayaan akan pribadi yang mengatasi hidupnya.
Akhir kata, segala pergulatan para filsuf di atas menggerakan saya untuk selalu menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam seluruh dinamika hidup ini. Pengalaman penderitaan, sakit, susah, kematian, kesendirian adalah narasi kehidupan yang tidak menegasikan akan kebaikan dan kebesaran cinta-Nya. Jadi, Tuhan jelas bukan merupakan obyek dari akal budi. Tuhan merupakan obyek dari iman.








DAFTAR PUSTAKA


Buku
Bria, Emanuel. Jika ada Tuhan mengapa ada kejahatan, Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Sudarminta, J., Tjahjadi, S. P. Lili (ed.). Dunia, Manusia dan Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Internet
http://en.wikipedia.org/wiki/Basil_Mitchell_(academic), akses Jumat, 19-12-2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar