6.13.2009

mater gratia

MATER GRATIAE
(Fabianus Selatang)
1. Pengantar
Maria sebagai Bunda Rahmat bukanlah sebuah dogma. Meskipun demikian, gelar ini mempunyai pendasaran biblisnya. Maria mengandung Yesus Putera Allah, berkat kerjasamanya dengan Roh Kudus. “Rahmat” yang dimaksud adalah Yesus sendiri. Dalam diri-Nyalah menjadi nyata kepenuhan kelimpahan rahmat Bapa Surgawi. Dengan demikian, pantaslah Maria disebut sebagai Bunda Rahmat. Dalam Kol 2:3,9 dikatakan: “Dalam Dia-lah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan,” dan “dalam Dia-lah berdiam secara jasmani seluruh kepenuhan ke-Allah-an.” Harta hikmat dan pengetahuan dan kepenuhan ke-Allah-an ada sejak kekal dalam Yesus anak Allah menjelma menjadi manusia, lahir dari Maria, maka dengan sendirinya rahmat-Nya ada, mengalir melalui Maria.
Maria menjadi rekan kerja Allah dalam menghadirkan kerajaan-Nya di dunia, yang nyata dalam diri Yesus Kristus. Maria telah ditentukan dan dipilih Allah untuk terlibat dalam tata keselamatan dunia. Melalui dia rahmat Allah datang dan mengalir, dan melalui dia pulalah rahmat itu dibagikan kepada ‘siapa dia mau, sebanyak dia mau, seperti dia mau, dan apabila dia mau’ maka, “Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia” (Luk 11:58).
St. Montfort menyapa Maria sebagai “Mater Gratiae” Bunda Rahmat. Sapaan ini sekaligus gelar yang dialamatkan Maria. Gelar Mater Gratiae “Bunda Rahmat” ini, pantas diberikan kepada Maria karena Maria telah memberikan seluruh dirinya bagi Sang Rahmat dan telah melahirkan Dia kedunia. Mengapa Maria dikatakan Bunda Rahmat karena Kristus sendiri adalah Rahmat.
Penulis mengambil gelar Maria sebagai Mater Gratiae dari rahasia Maria No. 8. Sebetulnya tema kecil ini tidak terlepas dari keseluruhan pembahasan subtema “UNTUK MEMPEROLEH RAHMAT ALLAH KITA PERLU BERTEMU DENGAN MARIA” pada bagia pertama buku rahasia Maria. St. Monfort, menegaskan bahwa gelar/nama ini dilekatkan dalam diri Maria karena dialah yang melahirkan dan menghidupkan Pencipta segala rahmat. Pencipta segala rahmat itu sendiri adalah Yesus. Ketika Ia menghampakan diri, menjadi manusia dan lahir dari rahim Maria, maka pada saat yang sama ia menyimpan rahmat-Nya dalam diri Maria dan mempercayakan kepadanya untuk diteruskan kepada siapa saja yang datang kepadanya.
II. Maria Bunda Rahmat
Kata “Rahmat” di sini diawali dengan huruf besar sebagaimana tulisan asli dalam Rahasia Maria. Ini hanya mau membedakan dengan rahmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia umumnya. Kata “Rahmat” di sini langsung dialamatkan kepada Yesus sendiri. Jadi, Maria hanya mungkin dikatakan sebagai Bunda penuh rahmat dan penyalur rahmat, karena Maria Bunda Rahmat.
Inkarnasi adalah peristiwa Rahmat. Allah dalam keagungan dan kemuliaan-Nya mau hadir dalam rupa manusia Yesus melalui Maria. Inilah karunia dan rahmat yang terbesar Allah bagi manusia. Keagungan dan kemahakuasaan Allah hanya mungkin ditampung dalam kebisuan rahim Maria. Rahim Maria jauh lebih luas dan pantas daripada dunia ini untuk menampung rahmat Allah. Ini hanya mungkin atas jawaban Ya-nya. Jawaban Ya-nya telah membuatnya berubah rupa di hadapan Allah, oleh rahmat dan kemuliaan yang mengubah semua orang kudus di dalam Dia, sehingga Maria tidak meminta sesuatu pun, tidak menghendaki dan melakukan sesuatu pun yang bertentangan dengan kehendak Allah yang kekal dan tak berubah.
Maria yang berhati murni telah dipilih Allah untuk menerima sabdaNya dan rahimnya disucikan Allah untuk menempatkan RohNya di sana dan dinyatakan untuk menjadi ratu dari semua hambanya. Tentu saja aktor utamanya adalah Roh Kudus. Maria telah menjadi sarana bagi Roh Kudus untuk mewujudkan kesuburanNya. Roh kudus menjadi subur dalam Maria dengan menjelma menjadi manusia dalam rupa Yesus kristus. Dengan cara ini Allah memulai karya-Nya yang agung melalui Maria. Berkat kerja samanya dengan Roh kudus, Allah telah menghadirkan dan memperlihatkan kepada dunia suatu misteri agung Yesus Kristus yang menjelma menjadi manusia. Maria melahirkan Yesus Kristus dalam tata rahmat sehingga tidak salah kalau ia disebut sebagai kazanah di mana rahmat Allah tinggal.
III. Konsistensi gelar Maria Bunda Rahmat St. Montfort dengan Pandangan Gereja
Gelar Maria Bunda Rahmat dalam rahasia Maria tentu saja karena peranan Bunda Maria sendiri dalam Gereja. Ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi puteri Bapa yang terkasih dan kenisah roh Kudus. Inilah anugerah rahmat yang sangat istimewa bagi Bunda Maria. Mengapa disebut istimewa?
Pertama, Maria dipilih Tuhan secara istimewa untuk menjadi Bunda Tuhan Yesus Kristus juru selamat manusia. Pemilihan yang istimewa ini sangat dirasakan akibatnya yang membahagiakan oleh Gereja sepanjang masa. Kedua, seperti yang dijelaskan oleh Lumen Gentium No.62, keibuan Maria dalam tata rahmat berlangsung terus tanpa putus, mulai dari persetujuan yang diberikannya dengan setia pada saat menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dan yang dipertahankannya di bawah di kaki salib, hingga penyempurnaan kekal para terpilih. Hal itu menunjukkan bahwa peran Maria dalam tata penyelamatan tetap aktual sepanjang sejarah Gereja tanpa terhenti oleh hilangnya Maria secara fisik dari panggung sejarah dunia. Karena itu Maria sungguh melebihi segala makluk di surga maupun di bumi, dan keunggulan ini sekaligus menjadi alasan bagi umat beriman untuk memuji, mencinta khusus, mengagumi dan menghormati Maria sambil meneladani dan memohon bantuan pengantaraan doanya pada Allah. Dengan demikian, gelar Maria sebagai Bunda Rahmat dalam tulisan St. Montfort mempunyai dasar yang kuat dan sesuai dengan pandangan gereja.
IV. Keibuan Maria dalam Tata Rahmat
Berbicara mengenai Yesus berarti berbicara mengenai Maria. Yesus dan Maria tidak dapat dipisahkan. Hubungan Maria dan Yesus lebih daripada hubungan keibuan, meskipun keibuan itu pastilah bersifat mendasar. Kita tidak mungkin berbicara banyak mengenai Yesus jikalau kita belum sungguh mengenal Maria. St. Montfort berkata ‘barangsiapa mengingini buah kehidupan Yesus Kristus, harus memiliki pohon kehidupan yaitu Maria.’
Maria mempunyai peran yang amat besar dalam tata rahmat. Ia melahirkan Yesus sebagai kepala, ia juga melahirkan anggota-anggota dari kepala yang sama. Sebagaimana dalam peristiwa inkarnasi Yesus datang melalu Maria, demikian pun sekarang Yesus terus dijadikan setiap hari menjelma menjadi manusia dalam diri anggota-anggota-Nya melalui Maria. St. Montfort berkata: “Dalam tata rahmat, baik kepala maupun anggota-anggota berasal dari ibu yang sama.” Allah Bapa telah mempercayai Maria untuk menyalurkan rahmat-Nya kepada manusia, sebab dialah yang pantas dihadapan Allah untuk merima rahmat dari Allah. Dengan demikian, Maria pantas disebut sebagai bendaharawati rahmat Allah, sebab ia terlebih dahulu menerima Rahmat yakni Yesus sendiri.
Allah telah mempercayakan kepada Maria segala rahmat dan melalui dia rahmat itu dibagikan kepada semua orang yang datang kepadanya. Maria sungguh sebagai penyalur rahmat Allah. Allah memandang sebagai suatu kehormatan bagi-Nya, apabila Ia mempercayakan melalui tangan Maria menerima syukur dan kasih kita, yang kita berikan kepada-Nya sebagai balas jasa atas kebaikan-Nya. Jadi, “rahmat mengalir kepada pemberinya melalui terusan yang sama yang melaluinya rahmat telah mengalir kepada kita” dan “ segala anugerah keutamaan dan rahmat dari Roh Kudus dibagi malalui tangan wanita ini, kepada siapa dia mau, apabila dia mau, seperti dia mau dan sebanyak dia mau” kata St. Bernardus.
Maria bukanlah sumber rahmat. Sumber rahmat adalah Allah. Rahmat yang diterimanya berasal dari sumber utama yakni Allah Bapa. Maria hanya sebagai Receptrix, penerima rahmat dan bukan Redemptrix, sumber rahmat. Rahmat yang diterimanya bukan hanya untuk kepentingannya sendiri, tetapi untuk terus dibagikan kepada umat manusia. Rahmat yang dipercayakan Allah kepadanya tidak bermaksud untuk membuat dirinya jauh lebih dipuji daripada Allah, tetapi justru agar manusia semakin memuliakan dan memuji keagungan dan kemahakuasaan Allah sang empunya rahmat. Sebagaimana Allah bekerja untuk keselamatan kita lewat instrumentalitas kemanusiaan Yesus, demikian juga rahmat ilahi disimbolkan dan disampaikan melalui realitas lain yang kelihatan, material, dan badaniah, termasuk sesama ciptaan yang sudah sendiri menunjukkan contoh menarik dari kuasa transformasi rahmat ini.
V. Relevansi
Dalam dunia dewasa ini yang disertai perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi yang signifikan, posisi dan peran Maria dalam tata rahmat barangkali menjadi bahan perguncingan. Manusia modern yang terlalu menekankan akal budi barangkali sulit untuk menerima dan mengakui Maria sebagai Bunda Rahmat. Karena dengan mengakui Maria sebagai Bunda Rahmat dan penyalur rahmat, itu berarti tidak mengakui kebebasan manusia sebagai anak Allah yang juga pantas untuk menerima rahmat secara lansung dari Allah sendiri seperti Maria. Selain itu, kita barangkali juga mempersempit arti kebebasan mutlak Allah. Kita memasukan Allah dalam ranah cara berpikir, di mana kebebasan Allah seakan-akan sifatnya isolatif dan ekslusif.
Dalam menanggapi pernyataan di atas, kita dapat berkata bahwa Maria karena Iman dan penyerahan dirinya yang total di hadapan Allah, maka ia pantas disebut sebagai Bunda Rahmat. Maria jauh melebihi manusia lain. Ia telah ditentukan oleh Allah sejak semula. Ia telah dipersiapkan Allah untuk menerima karunia yang amat besar yakni Yesus anak Allah dan menjadi mitra setia dalam kebesaran dan kemenangan-kemenangan Allah. Jadi, peran Maria dalam dunia dewasa ini semacam otokritik terhadap orang yang selalu mengandalkan akal budi dan kurang beriman kepada Allah untuk memahami misteri-Nya. Dengan memahami peran Maria sebagai citra Allah dan tanda harapan pasti bagi manusia, kita mempunyai gambaran tentang keselamatan kekal yang bakal dinikmati.
Bagi saya, Maria sebagai model dan ikon, dalam menghayati spiritualitas kerendahan hati di hadapan Allah. Orang yang rendah hati adalah orang yang terbuka akan rahmat Allah. Orang yang rendah hati adalah orang yang takut akan Tuhan dan orang yang takut akan Tuhan akan memperoleh rahmat Allah. “Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia” (bdk. Luk 1:50). Saya juga menyadari kelemahan dan kekurangpantasan saya dalam menerima karunia dan rahmat Allah maka, saya datang pada Maria agar diri ini semakin pantas di hadapan Allah. Akhir kata, bersama St. Montfort, saya hanya bisa berkata:
Bunda dan ratu yang baik, aku mengaku bahwa melalui perantaraanmu hingga kini aku menerima rahmat dari Allah lebih banyak daripada yang patut kuterima. Pengalaman-pengalaman yang pahit telah mengajari aku bahwa terlalu lemah dan miskin untuk menyimpannya dengan aman di dalam diriku sendiri. Berkenanlah menerima segala yang kumiliki, simpanlah itu bagiku dalam kesetiaan dan kuasamu. Kalau engkau menjaga aku, aku tak akan kehilangan suatu apapun; kalau engkau mendukung aku, aku tidak akan jatuh; kalau engkau melindungi aku, aku akan aman terhadap musuh-musuhku (bdk. BS no.173). Amin.



Daftar Pustaka

Buku Pastoralia Maria Seri XIV/2, Ende: Arnoldus, 1988.

Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Obor, 2003.

De Montfort, Louis-Marie Grignion. Bakti Sejati Kepada Maria, Bandung: Serikat Maria Montfortan, 2000.

Kristiyanto, A. Eddy. Maria Dalam Gereja, Yogyakarta : Kanisius, 1987.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar