12.06.2010

Islamologi

AGAMA ADALAH CINTA, CINTA ADALAH AGAMA
(Sebuah alternatife dalam membangun dialog antar Katolik dan Islam)
By Fabianus Selatang

1. Pengantar
Opium untuk membangun dialog antar agama bukanlah wacana baru dalam perjalanan sejarah manusia dan agama. Dialog antar umat beragama sudah sejak lama didengung-dengungkan oleh manusia. Dialog ini adalah sebuah alternatife dalam membangun suatu pemahaman yang komprehensif mengenai agama lain dan bukan bermaksud untuk mencari kelemahan agama lain. Namun, upaya ini seakan dibantah oleh fakta di mana kekerasan dan penindasan atau intimidasi antara sesama masih saja menggeroti manusia.
Berbicara mengenai agama tidak terlepas dari manusia sebab hanya manusialah yang memeluk agama. Ketika kita berbicara mengenai manusia, maka mau tidak mau kita juga berusaha untuk menggeledah pemahaman manusia mengenai agama. Manusia yang bagaimana? Manusia yang mempunyai kesadaran akan dirinya dalam berelasi dengan sesamanya dan akan Allah yang disembahnya.
Konsep Agama adalah Cinta, Cinta adalah Agama merupakan sebuah usaha untuk membangun kesadaran dalam diri setiap penganut agama. Ungkapan di atas hendak menghantar manusia pada pemahaman dan pengertian yang mendalam tentang agama, bahwa agama bukanlah kumpulan orang-orang, bukan pula kumpulan ajaran-ajaran. Sebab jikalau agama dipahami sebatas itu, maka tak mengherankan tindakan kekerasan selalu mengatasnamai agama dan ajaran-ajaran agamanya menjadi tolok ukur kebenaran. Kekerasan dan tindakan sejenisnya kerapkali bersembunyi dibalik konsep-konsep agama yang dibangunnya. Jadi, segala sesuatu yang tidak masuk dalam bingkai konsep-konsep yang dibangunya, maka itu dinilai bertentangan dengan agama. Judul yang diusung oleh penulis dalam paper ini adalah “Agama adalah Cinta, Cinta adalah Agama” hendak membongkar peradaban pemikiran manusia yang dangkal tentang agamanya. Di bawah ini akan diuraikan secara mendalam mengenai hal ini.


II. Indetifikasi masalah
Agar uraian kita tidak melebar jauh dari judul ini, maka kita patut mengajukan beberapa pertanyaan antara lain; apakah yang dimaksud dengan agama adalah cinta, cinta adalah agama dalam pandangan Katolik dan Islam? Apakah esensi dasar dari cinta dan agama? Apakah yang sebenarnya aku cintai ketika aku mencintai Tuhanku?

III. Agama adalah Cinta
Pertanyaan diawal uraian ini, apakah yang dimaksud dengan Agama? Untuk menjawab dan memahami pertanyaan ini, saya meminjam konsep David Caputo tentang agama. Agama yang ia maksudkan adalah cinta kasih Tuhan, sesuatu yang sederhana, terbuka. Dengan kata lain, agama adalah wilayah di mana cinta mendapat wujudnya secara konkret, nyata dalam kehidupan sehari-hari. Namun, agama juga adalah medan penuh paradoks yang harus disadari oleh setiap pemeluknya demi menghindari kesalahpahaman. Oleh Karena itu, agama bukanlah satu-satunya kebenaran. Agama hanyalah salah satu penawar alternatife kebenaran dan bukan penjamin kebenaran yang sifatnya mutlak. Penulis mencoba menguraikannya satu persatu.

3.1. Agama adalah Medan Perwujudan Cinta
Agama apapun pasti medan perwujudan cinta. Tidak ada satu pun agama yang menampilkan hal-hal yang buruk. Agama tentu saja membawa nilai-nilai luhur, kebaikan bagi orang lain. Karena agama adalah medan perwujudan cinta, maka tidak ada tempat dan ruang dimana kejahatan dan tindakan yang bertentangan dengan itu yang dipraktikan dalam agama. Bagaimana dengan kenyataan yang terjadi, di mana agama secara tidak langsung memproduksi penganutnya untuk melakukan kejahatan dan kekerasan terhadap agama lain, lantaran atas nama agama? Dalam hal ini penulis berusaha mencari kesamaan pemahaman konsep agama dalam Katolik dan Islam.
Penulis mengakui bahwa baik agama Islam maupun Katolik, mengakui bahwa agama sebagai wadah cinta kasih Tuhan kepada manusia dan wadah di mana manusia mewujudkan Cintanya kepada Tuhan. Agama sebagai wadah Cinta kasih Tuhan. Artinya adanya agama karena kemurahan Tuhan, tetapi tidak disempitkan bahwa agama diciptakan oleh Tuhan. Agama ada karena Tuhan ingin dekat dengan manusia dan mau menyapa manusia. Allah ingin merasakan seperti yang dirasakan dan dialami oleh manusia. Lebih dari itu, melalui agama Tuhan hendak menyatakan kebesaran, kebaikan, kemurahan-Nya dan sebagainya.
Agama sebagai wadah dalam mewujudkan cinta Tuhan, dalam artinya agama sebagai tanggapan manusia terhadap panggilan Tuhan. Melalui agama manusia ingin menanggapi cinta Tuhan. Jadi, agama berarti cinta kasih Tuhan, baik dalam arti cinta kasih Tuhan kepada manusia maupun cinta kasih manusia terhadap Tuhan. Dalam pandangan Islam Cinta merupakan konsep yang paling penting dan agung. Kecintaan atau cinta merupakan azas keimanan seseorang. Nabi SAW dalam suatu hadist yang sangat terkenal bertanya kepada para sahabat tentang apakah iman yang sejati. Sahabat tidak mampu menjawab pertanyaan itu, lalu Rasulullah SAW bersabda: "Iman yang sempurna adalah mencintai semata-mata karena Allah, membenci semata-mata karena Allah, menjadi kekasih Allah sebagai kekasihNya, dan membenci sesuatu yang dibenci-Nya." Ungkapan ini, hendak melukiskan kedua hal di atas yakni jawaban manusia atas sapaan Allah yang nyata dalam Agama dan agar manusia bertumbuh dalam kasih dan cinta kepada Tuhan yang telah hadir secara nyata mewahyukan diri-Nya kepada manusia dalam agama.
Seorang teolog Katolik yakni Edward Schillebeekcx mengatakan bahwa agama itu pada dasarnya ialah sebuah pertemuan antara Allah dan manusia. Dalam pandangan Katolik, pertemuan antara Allah dan manusia mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus. Perwahyuan diri Allah yang tampak dalam pribadi Yesus Kristus merupakan gambaran bahwa Allah ingin menyatu dengan manusia dan mau hidup bersama dengan manusia. Inilah ungkapan cinta yang paling dalam dari Allah kepada manusia. Ia memberikan putra tunggal-Nya, menderita, sengsara dan mati di Salib demi menebus dosa umat manusia. Nah, di sinilah titik temu konsep mengenai agama antara Katolik dan Islam. Jikalau konsep ini telah mengendap dalam diri para penganutnya, maka tidak sampai melakukan hal-hal di luar apa yang dinamakan agama adalah cinta.

3.2. Agama adalah Medan Penuh Paradoks
Semua orang mengakui bahwa nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam setiap agama adalah nilai-nilai kebenaran yang menghantar setiap para penganutnya untuk menjadikan nilai kebenaran itu sebagai batu pijakan hidup. Namun, sadar atau tidak nilai-nilai kebenaran itu terimplisit suatu yang hal yang sifatnya paradoks. Dengan kata lain, ketika manusia masuk dan memeluk satu agama, maka manusia masuk dalam wilayah ketidakmungkinan yang mungkin. Misalnya, ketika manusia berbicara tentang iman, sesungguhnya manusia sekaligus berada dalam suatu wilayah yang bertolak belakang. Wilayah yang bertolak belakang yang dimaksud ialah satu sisi manusia mengatahui, tetapi disisi lain manusia tidak mengetahui perihal objek yang diimaninya, perihal sikap dan perilakunya sebagai orang yang beriman. Oleh karena itu, cinta menempati tempat dan ruang terdalam dari diri manusia, karena cinta manusia didorong dan dipacu untuk menanamkan sikap-sikap dan kabajikan manusiawi seperti kesabaran, kerendahan hati dan sebagainya. Dengan menyadari hal ini, setiap para penganut agama disadarkan untuk tidak mengklaim nilai kebenaran agamannya sebagai kebenaran yang sifatnya mutlak dan absolut dan memandang di luar agamannya tidak ada kebenaran.

3.3. Agama adalah Medan Alternatife Kebenaran
Agama adalah medan alternatife kebenaran. Artinya agama bukanlah satu-satunya tolok ukur kebenaran sebagaimana yang yang dijelaskan di atas. Agama hanyalah salah satu komponen dari sekian komponen kebenaran. Agama tidak mutlak dalam dirinya sendiri. Agama hanya medan alternatife kebenaran dan bukan medan di mana kebenaran mendapat nilai kemutlakan. Agama mesti membuka ruang bagi kemungkinan lain.
Dalam setiap agama memang ada kebenaran, tetapi kebenaran dalam setiap agama tidak dimengerti secara sempit. Kebenaran dalam agama dipahami dalam pengertian kebenaran tanpa pengetahuan. Artinya, kebenaran tanpa pengetahuan mutlak dan tanpa klaim. Jikalau pengetahuan itu disertai dengan klaim, maka secara tidak langsung di sana pengetahuan itu membentuk dan memproduksi manusia untuk masuk dalam wilayah kesombongan. Jikalau setiap orang menganggap dirinya memiliki pengetahuan, maka sesungguhnya ia belum mencapai pengetahuan sebagaimana yang dicapainya. Pengetahuan yang dipahami disini berada pada wilayah di mana manusia mengakui apa yang sesungguhnya ia tidak tahu. Dalam kaitan dengan iman, iman adalah instrument yang memungkinkan manusia dapat melihat dan mengakui sesuatu yang melampaui pengertian dan pencarian akal budi. Iman hanyalah salah satu alternatife dari sekian alternatife. Oleh karena itu, pengetahuan pun bergantung pada iman dan iman adalah alternatife cara memandang, mengelola dan mengetahui sesuatu tatkala akal budi manusia tidak mampu menjelasakan sesuatu yang metafisis.
Dengan demikian, tidak satu pun agama yang mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang mempunyai kebenaran. Agama adalah salah satu medan alternatife kebenaran. Itu berarti di luar agama masih dapat ditemukan kebenaran yang bisa dipercaya misalnya kekuatan moral. Durkeim mengatakan bahwa :
“Agama tidak lagi menjadi suatu halusinasi yang tidak dapat dijelaskan. Sebaliknya dia mendapatkan suatu kepastian dalam realitas. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa orang yang beriman tidak salah apabila ia percaya kepada adanya suatu kekuatan moral dan bahwa ia tergantung darinya dan apabila ia menganggap kekuatan moral sebagai sumber dari apa yang terbaik dalam dirinya.”

IV. Cinta adalah Agama
Di atas telah diuraikan gagasan Agama adalah cinta, yang mana dikatakan bahwa agama adalah medan perwujudan cinta. Pada bagian ini kita akan menelisik gagasan cinta adalah Agama. Pertanyaannya, apakah konsep Cinta adalah agama hanya kebalikan dari konsep Agama adalah cinta di atas? Jawabannya tidak. Lalu bagaimana mendefinisikan gagasan cinta adalah Agama? Langkah pertama yang kita ambil adalah mendefinisikan cinta.

4.1. Apa itu Cinta?
Cinta mempunyai arti pemberian diri yang utuh, total dan sebuah komitmen tanpa syarat. Apakah tolok ukur dari Cinta? Tolok ukur cinta adalah cinta tanpa tolok ukur. Dengan kata lain, cinta mengatasi segala hal. Melampaui apa-apa yang bisa diindrawi. Berbicara mengenai cinta ternyata cinta bukan sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri, melainkan cinta itu sendiri menjadi tujuannya. Cinta yang dimaksud ialah Allah sendiri. Oleh karena cinta bukan sebuah tujuan dalam dirinya sendiri, maka cinta mempunyai keterarahan keluar yakni kepada sesama, orang lain atau pada hal-hal yang konkret sekaligus mempunyai nilai transendental yakni kepada Allah Sang Cinta itu sendiri.
Karena cinta dari dirinya sendiri memiliki nilai transendental yakni terarah kepada Allah, maka cinta mengandaikan adanya perjuangan. Artinya, cinta yang terarah kepada Allah harus sejalan dengan usaha manusia dalam kehidupan konkret, harus diwujudnyatakan dalam kehidupan yang nyata. Pemahaman ini tidak berarti manusia boleh melakukan apa saja atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai agama, ajaran-ajaran agama, kemudian menamakan tindakan itu sebagai bentuk cinta pada Allah yang telah mewahyukan diriNya dalam agama. Pemahaman seperti ini, menjerumuskan manusia pada paham yang dangkal akan keberadaannya dan pemahamannya mengenai agama.
Usaha manusia untuk menjawabi sapaan Allah terungkap dalam agama. Kita dapat meminjam pertanyaan yang disampaikan oleh Agustinus “apa yang sebenaranya aku cintai ketika aku mencintai Tuhanku?” Pertanyaan yang senada kita dapat lontarkan mengenai agama. Apakah yang sebenarnya aku cintai ketika aku mencintai agamaku? Pertanyaan ini penting untuk dikemukan “sebab sudah cukup lama orang berdebat mengenai agama yang benar dan banyak pemeluk agama yang mendaku agamanya sendiri yang paling benar lalu menafikan agama yang lain.” Ketika manusia mencintai Tuhan atau mencintai agamanya, maka konsekuensinya ialah manusia harus menanggalkan ke-aku-annya atau keluar dari dirinya agar tidak terpenjara dalam cinta diri, kemudian mengenakan apa-apa yang dimiliki oleh Tuhan atau agama. Kiranya itulah yang menjadi jiwa yang menggerakkan kesadaran(ku) sebagai pribadi yang ada untuk Tuhan dan agama.

4.2. Analogi Cinta Manusia Sebagai Refleksi akan Kebenaran Sejati
Cinta Tuhan kadang sulit dimengerti oleh manusia. Meskipun di atas telah dikatakan bahwa melalui agama, Allah hadir menyatakan diriNya kepada manusia, tetapi kesadaran manusia akan Allah yang demikian itu tidak dengan sendirinya dimengerti secara utuh dan penuh. Misalnya pemahaman Islam mengenai Allah dalam Al-Qur’an 49: 15 yang berbunyi “sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” Bagaimana kita pahami Allah dalam konteks ini? Masihkah kita berkata bahwa Allah itu sempurna, baik dan sebagainya sementara tindakan manusia yang menjalankan dan menganut ajaran agama sama sekali tidak menghadirkan sebuah opium mengenai Allah yang baik, sempurna, Mahatahu? Meskipun hal ini menimbulkan banyak pertanyaan, tetapi paling tidak kita telah dihantar untuk masuk dalam wilayah pemahaman Islam mengenai Allah yang secara nyata tertuang dalam ajaran-ajaran agamanya.
Kita dapat mengerti cinta Allah kepada manusia melalui analogi cinta manusia. Relasi cinta yang dibangun manusia diantara sesamanya merupakan gambaran sederhana yang dapat membantu kita dalam memahami cinta Tuhan. Itulah sebabnya kami mengatakan bahwa analogi cinta manusia sebagai refleksi akan kebenaran sejati. Kebenaran sejati yang dimaksudkan di sini ialah Allah sendiri. Allah adalah kebenaran mutlak yang merangkum semua kebenaran yang lain. Oleh karena itu, analogi cinta manusia dalam memahami cinta Tuhan merupakan suatu upaya atau refleksi akan Kebenaran sejati artinya refleksi manusia yang terarah kepada Allah. Jadi, dari seluruh uraian di atas, kita menemukan dengan pasti bahwa esensi cinta dan agama adalah Allah.

V. Penutup

5.1. Relevansi
Pristiwa nas kemanusiaan yang terjadi belakangan ini di mana banyak korban nyawa manusia antara lain serangan yang dilakukan oleh sekelompok manusia yang sering disebut terorisme. Kata teror sudah dengan sendirinya mempunyai arti negatife. Dalam kaca mata manusia pada umumnya, terorisme lahir dari kebencian dan rasa dendam terhadap sesuatu hal atau orang, dan masyarakat tertentu. Tindakan mereka yang rela mengorbankan dirinya adalah sebuah bentuk pemaknaan terhadap nilai-nilai atau ajaran agamanya. Atau suatu cara manusia dalam membela kebenaran nilai agama atas nama Allah. Pertanyaannya, apakah terorisme merupakan cetusan cinta terdalam terhadap Tuhan? Ataukah terorisme merupakan suatu indikasi akan kegagalan cinta?
Dalam kaitan dengan uraian mengenai agama adalah cinta, cinta adalah agama, mungki tidak salah kalau kita mengatakan bahwa teroris adalah gambaran atau simbol cinta yang gagal. Mengapa dikatakan symbol cinta yang gagal? Cinta mengandaikan adanya kesadaran diri. Cinta tumbuh dari kesadaran diri yang kemudian kesadaran itu mendorong dan menghantar manusia untuk sampai pada kesadaran yang tinggi yakni Allah. Jikalau tindakan para teroris merupakan ungkapan cinta terhadap Tuhan yang lahir dari kesadaran diri yang mendalam, kita mungkin menyangsikan kesadaran diri dan ungkapan cinta mereka yang demikian. Meskipiun dalam pandangan mereka apa yang mereka lakukan itu adalah baik oleh karena Nilai yang dipertaruhkan, kita juga dapat mengatakan bahwa kesadaran cinta yang demikian adalah ketidaksadaran akan kesadaraan diri. Sebab jikalau mereka sadar, mereka pasti tidak sampai bertindak demikian yang mengakibatkan banyak korban nyawa manusia.
Kita kembali pada persoalan yakni mengapa terorisme dikatakan symbol cinta yang gagal? Sebagaimana kami katakan sebelumnya bahwa cinta tidak mempunyai tujuan dalam dirinya sendiri. Cinta itu sendiri adalah tujuannya. Lalu, bagaimana dengan agama? Agama pada prinsipnya baik. Agama selalu mengajarkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan sebagainya. Meskipun terorisme selalu dikaitkan dengan agama, tetapi kita tidak serta merta mengatakan bahwa agamalah yang memungkinkan mereka bertindak kekerasan. Wajah kekerasan yang ditampilkan oleh terorisme adalah wajah atas nama pribadi atau kelompok tertentu dan bukan wajah agama. Namun, betapa sulitnya kita membedakan antara tindakan atas nama pribadi dan atas nama agama. Seringkali keduanya disatukan sehingga yang dipersalahkan adalah agamanya dan bukan orangnya. Sejalan dengan pemikiran di atas, Caputo mengatakan bahwa masalah terbesar dalam agama adalah orang-orang yang beragama itu sendiri (tanpa mereka, catatan prestasi agama pastilah tak bernoda). Orang-orang yang beragama ini atau orang-orang religius ini yakni ”umat Allah”, adalah orang-orang dari yang tidak mungkin, hidup dalam hasrat cinta kasih yang membuat mereka resah dan gusar, “seperti rusa yang merindukan aliran air” kata pemazmur (Mzm 42:1) dan memang mereka adalah orang yang tidak mungkin. Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa terorisme murupakan simbol cinta yang gagal. Sebab cinta yang gagal akan memukul rata semua orang sebagai musuh. Cinta yang gagal adalah cinta yang menyeragamkan. Cinta yang gagal membunuh akal sehat. Cinta yang gagal akan memiliki daya untuk menghancurkan, dan inilah sumber energi bagi terorisme.

5.2. Kesimpulan
Agama diperuntukan bagi para kekasih Allah (yakni manusia) yang mencintai yang tidak-mungkin. Para kekasih Allah yang membuat kita di luar mereka tampak seperti bongkahan sepi, tanpa cinta. Namun, pada waktu yang bersamaan, mereka yang bergairah dan penuh cinta pada yang tidak mungkin ini (misalanya teroris) adalah orang-orang yang menukar secara membingungkan diri mereka dengan Allah yang kemudian mengancam kekebasan sipil atau sosial dan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka yang mungkin dalam pikiran mereka juga tidak sependapat denga Allah.
Namun, sesungguhnya Allah tidak perlu dibela. Allah bisa membela diriNya sendiri. Allah bisa melakukan jauh dari apa yang dilakukan oleh manusia atau Allah bisa melakukan jauh dari apa yang tidak mungkin bagi manusia. Oleh karena itu, gagasan agama adalah cinta, cinta adalah agama membuka pemahaman baru mengenai agama sehingga terciptalah ruang dialog yang dialogal.
Prinsip keraguan. Penting membangun suatu prinsip keraguan, sebab dengan itu kita dapat melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang luput dari perhatian kita. Dalam kaitan dengan cinta kepada Allah dan manusia, yang kita butuhkan di dalam mencintai adalah sedikit keraguan. Keraguan membuat kita terus menerus haus dan merasa diri belum utuh dan penuh. Keraguan menjauhkan kita dari sikap ekstrem. Hidup keagamaan yang tidak disertai sedikit keraguan membuat kita tak bedanya dengan robot-robot ideologis yang bermental fundamentalis. Tanpa keraguan cinta akan mudah lelah, gagal dan bisa jadi kemudian cinta kita berubah menjadi kebencian. Inilah mekanisme jiwa para teroris. Pola inilah yang pelan-pelan harus kita sadari dan hindari.
Cinta yang sejati selalu memberi ruang untuk kebencian, supaya cinta tidak jatuh dan berubah menjadi kebencian murni. Inilah salah satu paradoks dan ironi kehidupan yang masih jauh dari pemahaman kita sebagai bangsa yang mengaku bermoral dan beragama, tetapi tidak pernah berani menyentuh keraguan sebagai obat untuk tetap waras. Akibatnya kita merasa bermoral sekaligus membenci dalam waktu yang sama kepada penganut agama lain dan lebih fatal jikalau dalam diri para penganut sudah tumbuh benih pengklaim kebenaran agama.
Pengklaim-pengklaim terhadap kebenaran dalam agama tak jarang mencipta ruang konflik dan bahkan melahirkan sikap kekerasan. Adanya anggapan dan pengakuan yang mutlak terhadap kebenaran agamanya sendiri, mengkerdilkan konsep kebenaran itu sendiri dan akhirnya orang lain seakan dipaksa untuk masuk dalam kerangka berpikir yang dibangunnya. Sikap dan cara pemaknaan terhadap agama atau nilai-nilai yang terkandung di dalam agama yang demikian karena didasarkan pada suatu klaim yang sifatnya mutlak, statis dan kaku. Seperti yang dikatakan oleh Purwanto bahwa ”setiap pemeluk agama, bahkan setiap penganut prinsip tertentu mengimani bahwa ia berada dalam kebenaran dan orang selainnya berada dalam kebatilan, atau seperti disinyalir dalam Al-Quran (Al-Baqorah; 256) ia beriman kepada agama dan prinsipnya serta kafir kepada selain.”




DAFTAR PUSTAKA
BUKU SUMBER
Caputo, John D., agama Cinta- agama Masa depan, Bandung: Mizan, 2001.

Handoko, Petrus Maria, Diktat Kuliah Sakramentologi I, STFT Widya Sasana Malang.

Keene, Michael, Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: Kanisius, 2010.

Leahy, Louis, Manusia di hadapan Allah - Edisi kedua, Gunung Mulia: Kanisius, 1984.

Purwanto, Mencari Agama Yang Benar Melalui Kodifikasi Kitab Suci, Tangerang: ili Y
Press, 2004.

Sudiarja, A., Agama (di Zaman) Yang Berubah, Yogyakarta: Kanisius, 2010..


INTERNET
AliHassan, Konsep Cinta dalam Islam, http://yayasan-aalulbayt.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1:konsep-cinta-dalam-islam&catid=62:artikel, Diakses hari Sabtu, 23-1-2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar