5.06.2010

LITURGI

DIES DOMINI
(TENTANG MENGUDUSKAN HARI TUHAN)

Pendahuluan
Hari Tuhan seperti hari minggu sudah disebut sejak zaman para Rasul. Perhitungan waktu mingguan hari minggu untuk mengenangkan kebangkitan Kristus (paskah Mingguan). Kebangkitan Yesus adalah peristiwa mendasar yang melandasi iman Kristiani. Dalam Kristus-lah jantung misteri waktu. Segala waktu dan zaman ada pada-Nya. Maka, tepatlah kata-kata homili pada abad IV bahwa “Hari Tuhan” itu “tuan hari-hari” Bangkit.
Relevansi mendasar hari minggu secara tegas dinyatakan ulang oleh Konsili Vatikan II; “berdasarkan Tradisi para rasul yang berasal mula pada hari kebangkitan Kristus sendiri, Gereja merayakan misteri Paskah sekali seminggu pada hari yang tepat sekali disebut “Hari Tuhan” atau “Hari minggu”. Relevansi itu terlihat ketika menyetujui Penaggalan Liturgi Romawi Umum dan Norma-Norma universal yang mengatur panataan tahun Liturgi.
Untuk menghindari kesalahpahaman dan pengertian hari minggu sebagai hari akhir pekan, hari libur dan akhir pekan dilihat semata-mata waktu untuk istirahat dan berlibur, maka Hari minggu perlu dipahami dengan baik dengan pendasaran-pendasaran, baik pada tradisi Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Inilah yang akan diuraikan dalam bab-bab selanjutnya. Paus Yohanes Paulus II mengatakan; jangan takut meluangkan waktu Anda untuk Kristus. Bukalah pintu lebar-lebar bagi Kristus, sebab kewajiban untuk menguduskan hari Minggu, khususnya ikut serta dalam ekaristi, sebab inilah jantung hidup Kristiani.

BAB I
HARI TUHAN: MERAYAKAN KATYA SANG PENCIPTA

a. “Melalui Dia segala sesuatu dijadikan” (Yoh 1:3)
Hari minggu merupakan perayaan “penciptaan baru.” Artinya Yesus adalah kepenuhan alam ciptaan ini. Yesus telah diciptakan sebelum dunia dijadikan. Dunia ini, dengan segala harapan umat manusia, kini tercipta kembali melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Pernyataan yang jelas dapat dilihat dalam surat Kol 1:16 “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi....segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Dalam konteks ini, ternyata rencana Allah juga mencakup misio kosmis Kristus atau disebut perspektif Kristosentris. Kristus merangkum seluruh kurun waktu dan pendangan Allah. Konsep penciptaan dunia, pada saat itulah lahirlah “Shabbat.” Shabbat dalam Perjanjian Lama mencapai kepenuhan yang definitive dalam Perjanjian Baru, sebab di sinilah Kristus masuk berkat kebangkitan-Nya (no. 8).
b. “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi ( Kej 1:1).
Manusia dipanggil untuk menjadi rekan kerja Allah. Manusia bukan hanya sebagai penghuni dan penikmat alam ini, tetapi hendaklah manusia memancarkan cahaya agung Allah atas setiap unsur alam semesta (No.9-10).
c. “Shabbat” ; Istirahat Sang Pencipta yang menggembirakan.
Allah pada hari ketujuh “istirahat.” Kata istirahat bukan mau mengatakan bahwa Allah tidak aktif lagi setelah semuanya diciptakan atau tidak lagi menciptakan dunia, tetapi kata ini mau menunjukkan kepenuhan yang telah diselesaikan. Allah melihat segalanya baik sekali (bdk. Kej 1:13) dan Allah gembira melihat alam ciptaan-Nya ini. Kegembiraan bukanlah pada hal-hal yang baru, tetapi pada apa yang telah tercapai, secara istimewa manusia sebagai mahkota penciptaan. Hubungan istimewa Allah dan manusia secara konkret tampak dalam diri bangsa Israel. Allah menawarkan keselamatan kepada seluruh umat manusia yang diwakili oleh bangsa Israel sebagai bangsa terpilih. Keselamatan itu terpenuhi dalam diri Yesus.
Oleh karena itu, bila dihubungkan dengan perintah “shabbat” ternyata shabbat bukan hanya “istirahat Allah” seusai hari-hari penciptaan, tetapi juga keselamatan yang diberikan kepada orang Israel khususnya dalam pembebasan dari perbudakan Mesir (bdk. Ul 5:12-15). Allah yang beristirahat dan bergembira atas penciptaan-Nya adalah Allah itu sendiri yang mewahyukan kemuliaan-Nya dalam pembebasan anak-anak-Nya. Jadi, shabbat sebagai hari istirahat Allah itu, dapat dianalogikan seperti hubungan antara suami dan istri. Allah mempelai pria yang menghadapi mempelai wanita (No.11-12).
Bagian ini merupakan kesimpulan dari seluruh pembahasan yang sebelumnya. Hari minggu adalah hari istirahat, sebab itu “diberkati” oleh Allah dan “dikuduskan” oleh-Nya. Hari minggu adalah hari Tuhan. Frasa “menguduskan” sabat hanya dapat dipahami dalam kerangka bahwa seluruh alam ciptaan harus dikembalikan kepada Allah. Waktu dan ruang adalah milik Allah. Allah bukan hanya untuk sehari, tetapi Allah segala hari umat manusia. Jadi, kata “menguduskan” dipahami dalam dinamika dialog mengenai Perjanjian antara Allah dan manusia. Dialog itu adalah dialog cinta kasih seperti cinta kasih suami-isteri dalam pernikahan.
d. Allah memberikan hari ketujuh dan menguduskannya (Kej 2:3)
Hidup manusia dari setiap waktu harus menjadi pujian dan syukur kepada sang pencipta. Oleh karena itu, hari Tuhan adalah hari di mana manusia membangun hubungan yang istimewa dengan Allah dan menamkan rasa syukur pada Allah. Selain itu, hari minggu adalah hari istirahat. Dalam kerangka ini, maka Shabat sebagai penyadaran bahwa manusia adalah rekan kerja Sang Pencipta (No.13-15).
e. “Menguduskan” dengan “mengenangkan”
Dasar Biblis hari sabat sebagai hari yang menguduskan adalah (Kej 20:8) “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.” Allah yang memberkati dan menguduskanya. Ini dideklamasikan dalam dekalog yang berisi perintah, maka manusia pun dipanggil untuk beristirahat. Hubungan istirahat pada hari sabat dan tema “menguduskan” terletak pada karya Allah yang membebaskan bangsa israel dari perbudakan Mesir. Kata “munguduskan dan mengenangkan” dirangkum dalam satu visi teologis yakni “hari Tuhan” (No. 16-17 ).
f. Dari hari Sabat beralih ke hari Minggu
Sabat dalam Perjanjian Lama dikaitkan dengan karya penyelamatan Allah atas umat Israel. Kini shabbat mempunyai makna baru di mana dalam Kristus, shabbat diwujudkan sepenunhya. Shabbat sejati adalah pribadi Penebus kita, Tuhan Yesus Kristus, kata St. Gregorius Agung. Misteri paskah Kristus adalah perwahyuan penuh misteri asal mula dunia, puncak sejarah keselamatan dan diantisipasi pemenuhannya pada akhir zaman. Dalam misteri paskahlah kita memahami secara baru hari sabat di mana anak-anak Allah mencapai kebebasannya sebagai anak-anak Allah yang sejati. Jadi, dalam hal inilah makna perintah pada Perjanjian Lama mengenai hari Tuhan ditemukan ulang dan disempurnakan serta diwahyukan dalam kemuliaan yang bersinar dalam wajah Kristus. Sabat menjadi hari pertama sesudah sabat, dari hari ketujuh menjadi hari pertama (Dies Domini)—Dies Christi (hari Kristus) ( No.18).

BAB II
HARI TUHAN: HARI TUHAN YANG BANGKIT DAN KURNIA ROH KUDUS

a. Paskah mingguan
Paus Innosencius pada awal abad V mengatakan bahwa: kita merayakan hari minggu, karena kebangkitan yang mulia Tuhan kita Yesus Kristus, dan kita rayakannya tidak hanya pada hari raya Paskah, tetapi juga setiap hari minggu. St. Basilius berbicara tentang ”hari minggu Kudus, dihormati oleh Kebangkitan Tuhan, buah-buah pertama di antara semua hari-hari lainya.” St. Agustinus menyebutkan bahwa hari minggu sebagai “sakramen paskah.” Dalam tradisi gereja Timur setiap hari minggu adalah “anastaseos hemera”—hari kebangkitan. Hari Tuhan tidak hanya berakar pada karya penciptaan, misteri istirahat Allah, tetapi juga harus dipandang dari sudut kebangkitan Kristus. Hari Tuhan adalah paskah mingguan. Kebangkitan Kristus menjadi nyata dalam pengalaman perjumpaan para murid dengan Yesus, pada saat Yesus menampakan diri-Nya kepada murid-murid-Nya dan dalam pewartaan para rasul. Kebangkitan itu pada hari pertama sesudah hari sabat” (Mrk 16:2,9; Luk 24:1; Yoh 20:1) No.19.
Hari pertama minggu. Hari minggu yakni hari pertama sesudah sabat ternyata membentuk irama hidup para murid, rasul, “untuk memecahkan roti” seperti di Troas. Kita Wahyu menyebut hari pertama itu adalah “hari Tuhan.” Jadi, bila umat kristen berbicara tentang “hari Tuhan” itu merujuk pada “pewartaan paskah: Yesus Kristus Tuhan.” Hidup umat kristen awali berkaitan dengan irama pelaksanaan hari minggu dan segala yang berkaitan dengan ibadat bersama tidak merupakan bagian yang dihidupi oleh orang-orang di mana injil diawartakan, penanggalan hari raya menurut kalender Yunani dan Romawi tidak bertepatan dengan hari minggu Kristus orang Kristen, maka pelaksanaan hari Tuhan tidak tetap. Alasan mengapa umat kristen berkumpul sebelum matahari terbenam? Karena didasarkan pada Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Para Bapa gereja mendasari tulisan mereka tentang misteri paskah pada Kitab Suci yang sama. Dalam konteks inilah hari Kebangkitan Kristus mempunyai nilai doktrinal dan simbolis serta mengungkapkan seluruh misteri umat Kristiani dalam konteks yang baru (No.21-22).
b. Perbedaan hari sabat dan hari minggu.
Hari minggu lebih unggul daripada hari sabat Yahudi. Keunggulan hari minggu terletak pada hal ini bahwa Umat Yahudi berkumpul di Sinagoga pada hari sabat karena diharuskan oleh hukum, sedangkan umat kristen berkumpul pada hari minggu karena Kristus. Inilah yang ditekankan dalam katekese abad-abad pertama. St. Ignatius dari Antiokia mengatakan: “ kalau mereka yang sedang hidup dalam keadaan hal-hal sebelum ini, telah mempunyai harapan yang baru, tidak lagi mematuhi hari sabat, tetapi menguduskan hari Tuhan, hari hidup kita telah nampak melalui Dia beserta wafat-Nya...misteri itu yang daripadanya telah kita terima iman kita dan kita tetap bertahan supaya dinilai sebagai murid-murid Kristus satu-satunya guru kita, lalu bagaimana kita dapat hidup tanpa Dia, mengingat bahwa nabi-nabi pun sebagai murid-Nya dalam Roh, mendambakan Dia sebagai guru? St. Agustinus menambahkan bahwa “oleh karena itu Tuhan pun telah menaruh meterai-Nya pada hari-Nya yakni hari yang ketiga sesudah sengsara-Nya, tetapi dalam lingkaran mingguan, hari kedelapan sesudah hari ketujuh, yakni seusai hari sabat dan hari pertama minggu itu.” (No. 23).
c. Hari penciptaan baru.
Hari minggu kristiani dikaitkan dengan pandangan sabat dalam Perjanjian Lama, secara khusus hubungan kebangkitan Kristus dengan penciptaan. Kebangkitan sebagai awal penciptaan baru yang terwujud dalam diri Yesus Kristus sebagai buah pertama dari segala ciptaan dan yang pertama bangkit dari antara orang mati (Kol 1:15,18). Pembaptisan yang diterima membuat kita harus mati bagi diri sendiri dan hidup bagi Allah. Dengan pembaptisan kita membuang manusia lama dan mengenakan manusia baru. Oleh karena itu, baptisan sesunggunya merupakan anugerah keselamatan karena dalam pembaptisan kita dikuburkan bersama Kristus dan mengalami kebangkitan bersama Dia pula. Dimensi pembaptisan digarisbawahi dalam hari minggu pada Paskah (No. 24-25)
Hari yang kedelapan: citra keabadian. Hari minggu bukan hanya disebut hari pertama, tetapi juga disebut “hari ke depan.” Suatu hari yang unik dan transenden yang bukan hanya mencakup awal mula kurun waktu, tetapi juga “zaman yang akan datang. St. Basilius mengatakan bahwa hari minggu melambangkan hari yang sungguh istimewa, yang nyata sekarang dan tanpa akhir sepanjang zaman. Oleh karena itu, hari minggu menyatakan hidup tanpa akhir dan terkandung dalamnya harapan umat kristiani. Harapan hidup eskatologis, yang sudah dimulai sekarang dan mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Atau oleh St. Agustinus disebut Eschaton, di mana ada damai, sabat, ketenangan, yang pertama maupun yang kedelapan (No.26).
d. Hari Kristus—Terang.
Konsep hari minggu sebagai hari Kristus Terang, bertitik tolak dari pandangan orang Romawi, di mana mereka menyembah dewa matahari. Praktik ini sangat berkembang dalam kalangan orang kafir. Konsep ini kemudian dikristenisasi sebagai “hari Sang Surya.” Sang Surya itu adalah Kristus sendiri. Untuk menghindari konsep yang keliru mengenai hari minggu, sebagaimana dijalankan oleh orang Kafir, di mana mereka berkumpul pada hari-hari yang disebut menurut matahari, St. Agustinus memberikan makna baru mengenai perayaan orang Kafir itu dan berlandaskan Injil. Hari minggu adalah hari untuk mengenangkan kebangkitan Kristus. Kristus adalah Sang Surya sejati yang cahayanya tidak pernah padam dan mati (No.27 )
e. Hari Karunia Roh Kudus.
Hari minggu juga merupakan hari pencurahan Roh Kudus atau disebut “api” roh dan berhubungan dengan terang Kristus. Dua lambang ini (api dan roh) mempunyai makna terhadap hari minggu. Pencurahan Roh Kudus secara khusus terjadi pada malam Paskah dan Pentakosta kepada para murid-Nya. Pentakosta pertama bukan hanya peristiwa didirikannya gereja, tetapi juga misteri yang terus-menerus memberikan hidup kepada gereja. Jadi, paskah Mingguan dalam arti tertentu merupakan “pentakosta mingguan” di mana umat Allah yang berkumpul menerima Roh-nya (No. 28).
f. Hari Iman.
Hari minggu adalah hari iman yang paling luhur karena pada saat itulah kita menerima kekuatan Roh Kudus. Dikatakan sebagai hari iman karena umat beriman yang merayakan ekaristi pada hari minggu bersama-sama mengucapkan syahadap iman. Syahadat menyatakan ciri pembaptisan dan paskah (No.29-30).


BAB III
HARI GEREJA;JEMAAT EKARISRTI; JANTUNG HARI MINGGU

a. Kehadiran Tuhan yang Bangkit
Hari minggu bukan hanya kenangan akan peristiwa masa lalu, tetapi perayaan kehadiran Tuhan yang bangkit di tengah umat saat ini. Kehadiran Tuhan yang bangkit tidak cukup dikenangkan secara peribadi dalam doa-doa pribadi, tetapi mesti dihayati secara komunal, karena di sinilah akan diungkapkan jati diri sepenuhnya gereja sebagai jemaat yang dipanggil bersama oleh Tuhan yang bangkit “satu dalam Tuhan” (No.31).
Ekaristi bukan hanya kenyataan hidup gereja, tetapi juga santapan untuk membentuk gereja. Dimensi gerejawi yang intrinsik dinyatakan dalam ekaristi, sehingga jemaat yang berkumpul untuk merayakan ekaristi adalah jemaat ekaristi karena di sinilah umat Kristen secara istimewa mengenangkan kebangkitan Yesus (No.32-33).
Ekaristis hari minggu. Ekaristi hari minggu tidak berbeda dengan ekaristi hari-hari lain. Ekaristis adalah penampakan gereja dan ini dinyatakan lewat keikutsertaan umat untu mengambil bagian secara utuh dan penuh serta aktif dalam perayaan ekaristis bersama. Jadi, ekaristi hari minggu sungguh mengungkapkan dimensi gerejawi dan di sana gereja dihadirkan secara konkret (No. 34).
b. Hari gereja
Dies domini sekaligus Dies ecclesiae. Artinya gereja (jemaat) yang menghadirkan dan mengenangkan Kristus. Karya pastoral sungguh menekankan aspek jemaat perayaan hari minggu. Jemaat yang merayakan ekaristi pada hari minggu merupakan “sacramentum unitatis” (sakramen kesatuan) yang didasarkan pada kesatuan Bapa, Puetra dan Roh Kudus. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk tidak melayani perayaan ekaristi untuk kelompok-kelompok tertentu dalam tempat tertentu pula (No.35-36).
Umat peziarah. Gereja yang adalah umat Allah yang merayakan kebangkitan Kristus merupakan gereja yang berziarah menuju kehidupan eskatologis. Hal ini terungkap dalam ekaristi, di mana dalam ekaristis kita juga mengantisipasi perjamuan bersama Tuhan pada akhir zaman. Gereja sebagai mempelai wanita dalam arti tertentu juga mengantisipasi kehidupan eskatologis (No. 37).

Hari harapan. Hari minggu adalah hari harapan kristiani. Dengan mengikutsertakan dalam ekaristi, kita mengantisipasi pesta zaman terkahir “pernikahan Anak Domba” (Why 19:9). Umat yang mengenangkan dan merayakan kebangkitan dan kenaikan Yesus, juga menanti dengan penuh harapan akan kedatangan kedua Yesus (No. 38).
Santapan Sabda. Ekaristi hari minggu merupakan santapan sabda dan roti hidup. Baik liturgi ekaristi maupun liturgi sabda sama-sama merupakan satu tindakan ibadat. Ada dua aspek yang dikatakan di sini yakni perayaan dan penerapan secara pribadi. Pada nomor-nomor ini yang dianjurkan adalah soal penerapan praktis bagaimana mempersiapkan umat dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai ekaristi, bagaimana membawakan dan mewartakan sabda Allah dengan baik sehingga sabda Allah sungguh menjadi santapan bagi semua orang yeng mengambil bagian dalam perayaan ekaristi (No.39-41).
Santapan Tubuh Kristus. Hari minggu merupakan hari bersyukur dan sambil memuliakan Dia melaui, bersama, dalam Kristus, dalam kesatuan dengan Roh Kudus. Dalam ekaristi bukan hanya santapan sabda tetapi juga santapan tubuh dan darah Kristus. Kristus dihadirkan kembali secara nyata dalam rupa roti dan anggur. Karena itu, syukur dalam ekaristi merupakan suatu gerak ”naik” ke hadapan Allah. Dalam ekaristi kita mengenangkan korban salib. Korban Kristus ini menjadi korban bagi anggota tubuh-Nya (No. 42-43)
c. Perjamuan Paskah dan himpunan persaudaraan
Ciri kejemaatan ekaristi tampil secara khas bila dipandang sebagai perjamuan Paskah, tempat Kristus sendiri menjadi santapan kita. Kristus mempercayakan korban ini kepada gereja agara melalui gereja umat berkumpul sebagai satu saudara. Persatuan dengan sesama merupakan perwujudan konkret persatuan kita dengan Kristus. Melalui ekaristi kita semakin bersatu dengan Yesus yang telah mengorbankan diri-Nya kepada kita (No. 44a).
Dari Misa ke “misi.” Perayaan ekaristis bermuara pada tindakan konkret yakni mewartakan Kristus kepada segala bangsa. Mewartakan Kristus adalah misi kita agar kerajaan Allah semakin disebarluaskan kepada segala bangsa. Umat Allah harus keluar dari senakel dan senakel yang baru adalah orang-orang yang kepadanya injil diberitakan (No. 45).
Kewajiban hari minggu. Ekaristi merupakan jantung hari minggu. Karena itu merupakan kewajiban bagi setiap uamt kristen untuk berkumpul dan merayakan ekaristi pada hari minggu (No. 46-49).
d. Perayaan gembira disertai nyanyian.
Pada point-point ini dokumen ini berbicara mengenai hal-hal praktis. Hal praktis itu antara perayaan yang disertai nyanyian yang meriah dalam perayaan. Nyanyian adalah cara yang khas untuk mengungkapkan hati yang gembira, cita rasa iman bersama dan saling cinta kasih (no 50). Selain itu, perayaan ekaristi juga melibatkan baik orang tua maupun anak-anak. Dengan kata lain, tidak ada pengecualian dalam perayaan ekaristi, sebab semua telah menerima imamat umum melalui pembaptisan “mereka ikut serta dalam persembahan ekaristi” (no 51). Pada no. 53 berbicara mengenai pelaksanaan ekaristi tanpa imam. Dianjurkan agar sedapat mungkin umat tetap menjalankan ibadat meskipun imam tidak ada dan jikalau umat yang sakit tidak dapat mengikuti perayaan ekaristis dapat menggunakan sarana seperti radio atau tv. Umat yang demikian dapat menerima tubuh dan darah Kristus. Ia tetap menjadi bagian dari saudara-saudara yang mengikuti langsung perayaan ekaristi ( no. 54).

BAB IV
HARI MANUSIA; HARI MINGGU; HARI KEGEMBIRAAN, ISTIRAHAT DAN SOLIDARITAS

A. Hari minggu sebagai hari kegembiraan penuh Kristus (no. 55-58)
Hari minggu merupakan hari kegembiraan penuh Tuhan yang bangkit. Tertulian mengatakan bahwa pada hari pertama dalam mingguan, hendaklah anda semua bergembira, desak “dedaskalian.” Alasan hari minggu sebagai hari gembira karena pada hari ini kita merayakan kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkita Yesus inilah kegembiraan penuh umat manusia. Jadi, hari minggu bukan hanya hari istirahat, tetapi juga hari penuh kegembiraan dalam Kristus (no.55).
Meskipun bentuk-bentuk perayaan hari minggu selalu berubah-ubah, tetapi gema hari minggu yang ditandai oleh perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit selalu ditandai dengan kegembiraan. Kegembiraan merupakan salah satu corak dari ekaristi yang disalurkan kepada gereja melalui Roh Kudus sehingga kegembiraan adalah buah dari Roh Kudus(no. 56).
Hari minggu sebagai hari Tuhan yang bangkit, merayakan karya penciptaan Allah dan penciptaan baru. Di sinilah kita akan menemukan nilai unggul dan ulung serta mendasar bagaimana ekaristi sebagai ungkapan kegembiraan. Kegembiraan bukah soal puas, kenikmatan dangkal, tetapi hati yang tak dapat terpenuhi dan bahkan pahit. Meskipun demikian, tidak dimaksudkan bahwa kegembiraan kristiani dan kegembiraan manusiawi bertentangan karena semuanya ini didasarkan pada kegembiraan, yang dimuliakan, citra dan perwahyuan manusia yang sempurna.
Paus paulus VI mengatakan bahwa “pada hakekatnya kegembiraan kristiani adalah saling berbagi dalam kegembiraan yang tak terduga, sekaligus Ilahi dan insani, terdapat dalma hati Kristus yang dimuliakan. Ekaristi sebagai perjamuan cinta kasih Allah dan manusia merupakan tanda dan sumber kegembiraan kristiani, suatu tahap dalam perjalanan menuju pesta yang kekal. Maka hari minggu adalah “waktu yang sesungguhnya untuk perayaan”, hari yang dikaruniakan oleh Allah kepada manusia. (no. 58).
Hari minggu merupakan pemenuhan hari sabat. Dalam Perjanjian Lama seperti peristiwa exodus, karya penciptaan mendapat pemenuhannya dalam Perjanjian Baru yang terlaksana dalam misteri Paskah Kristus. Perayaan penciptaan dalam Perjanjian Lama tidak dihapuskan, tetapi ini mendapat perspektif baru yakni Kristosentris. Kenangan pembuangan Israel mempunyai makna baru dan penuh dalam Perjanjian Baru di mana melaui sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus dimensis pembebasan yang dibawa Yesus sifatnya Universal. Jadi hari minggu merupakan pemenuhan hari sabat dalam arti tertentu merupakan perluasan sejarah keselamatan yang mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus (no. 59).
Jadi, dalam konteks itulah sabat menemukan makna teologis. Makna teologis, di mana kita menaruh hormat terhadap misteri awal mula, sabda kekal Allah, karya penciptaan. Karya penciptaan dimeterai dalam pengudusan di mana Allah beristirahat, (no. 60). Dengan menciptakan manusia, dimana manusia digambarkan sebagai “citra keserupaan-Nya” shabbat menutup karya penciptaan. Hubungan itu dapat digambarkan seperti “hari Tuhan dan hari manusia”, maka sabat adalah hari yang menguduskan, hari istirahat. Hari istirahat yang ditetapkan oleh Allah untuk menghormati hari yang dibaktikan kepada Allah. Dengan menghormati hari yang dibaktikan kepada Allah, manusaia menemukan diri sepenuhnya dengan-Nya. Dengan demikian, hari Tuhan membawa materai berkat Allah yang mendalam (no. 61).
No. 62. Dalam Kitab Ulangan 5:12-15, di sana terungkap suatu relasi antara sabat dan pembebasan yang dilakukan oleh Allah terhadap bangsa Israel. Jadi, sabat meskipun diganti dengan hari minggu, namun tetaplah untuk menguduskan sabat.
Kristus datang untuk melakukan Exodus baru melalu mujiksat yang dilakukan oleh Yesus. Mukjisat yang dilakukan oleh Yesus seringkali bertentangan dengan hukum yang berlaku. Oleh karen itu, sabat mendapat pemaknaan yang baru di mana Yesus adalah “Tuhan atas hari Sabat.” Dari sinilah umat kristiani dipanggil untuk memwartakan Yesus sang pembebas sejati. Pembebasan yang dilakukan oleh Yesus, sungguh-sungguh luar bisa dengan mati di kayu salib dan darah-Nya membebaskan semua orang. Oleh karena itu, sabat mendapat makna baru yakni kebangkitan. (no.63).

b. Hari minggu sebagai hari Hari istirahat (64-68)
Hari minggu adalah hari istirahat. Inilah yang sangat ditekankan dalam no 64. Manusia telah bekerja selama enam hari, maka hari ketujuh yakni hari minggu sungguh-sungguh hari istirahat, dengan membaktikan diri dalam doa bersama.
Hubungan antara hari Tuhan dan hari istirahat. Keduanya tidak bertentangan. Keduanya mempunyai hubungan di mana hari istirahat itu merupakan bagian yang dilakukan oleh Allah dalam kisah penciptaan. Kerja dan istirahat adalah kodrat manusiawi manusia. Kata istirahat mempunyai makna yang sakral, sebab pada hari itu orang mengudurkan diri dengan melepaskan hal-hal yang bersifat duniawi, sebab segala sesuatu adalah karya Allah. Namun, ada bahaya di era sekarang bahwa umat lupa pada Allah dan orang sangat tergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi. (no.65)
Ketidakadilan, pemerasan dan kondisi kerja para buruh teryanta ini semua dikaitkan dengan “kerja” yang dipandang telah menindas manusia. Gereja sungguh memperhatikan ini dengan menyusun hukum-hukum mengenai istirahat pada hari minggu (no.66). Di sinilah gereja menanamkan sikap solidaritas terhadap nasib sesama.
Istirahat pada hari minggu menemukan pokok-pokok yang baru; dari hal-hal materil dengan nilai-nilai rohani di mana orang akan menikmati damai dengan Allah, sesama dan alam sekitar. Dengan kata lain, hari minggu harus ada keseimbangan antara kerja dan doa. Oleh karena itu, adalah kewajiban umat manusia untuk menguduskan hari minggu dengan mengambil bagian dalam perayaan ekaristi (no.67). Dengan mengambil bagian dalam perayaan ekaristi, maka istirahat pada hari minggu menjadi “kenabian” dengan meneguhkan bukan hanya bahwa Allah mutlak berada di atas segala-galanya, tetapi juga prioritas dan martabat pribadi manusia dalam sikap menghormati tuntutan-tuntutan hidup sosial dan ekonomi dan dalam arti tertentu merupakan antisipasi akan “bumi baru” dan “langit baru” (no.68).
c. Hari minggu sebagai hari Hari solidaritas (no. 69-73)
Perayaan ekaristi ternyata menuntut agar bermuara pada karya konkret. Umat beriman dipanggil untuk mewujudkan cinta kasih Allah dalam kehidupan nyata. Jadi, hari minggu bukan hanya membebaskan manusia dari tugas-tugas untuk mewartaan cinta kasih Allah, tetapi lebih untuk mendorong mereka untuk menjalankan semua amal cinta kasih, kesalehan dan kerasulan. (no. 69).
Hari minggu sebagai hari solider, memiliki dasar yang kuat dalam kehidupan para rasul perdana. Mereka bukan hanya berkumpul pada hari minggu, tetapi juga memberikan derma kepada orang miskin. (no.70). Ajaran para rasul tetap digemakan oleh bapa-bapa gereja. Bapa-bapa gereja kadang sangat kejam dan kasar menyampaikan sesuatu kepada umat, terutama bagi yang kaya.
Ekaristi adalah medan yang paling baik untuk mengembangkan sikap persaudaraan (no.71). Ekaristi peristiwa dan program persaudaraan yang sejati, jikalau hari minggu sebagai hari gembira, maka umat harus nyatakan itu dalam hidup konkret dan dari perayaan hari minggulah mengalir cinta kasih kepada sesama (no.72). Jikalau ini sungguh dipraktikan, maka bukan hanya ekaristi hari minggu, tetapi seluruh hari minggu menjadi sekolah agung cinta kasih, keadilan dan damai. Kehadiran Tuhan yang bangkit, sesungguhnya Dia sendiri mengusahakan solidaritas, kekuatan, inspirator (no 73).

BAB V
HARI DI ANTARA HARI-HARI; HARI MINGGU, PESTA PRIMORDIAL, MEWAHYUKAN MAKNA WAKTU.

a. Kristus Alfa dan omega waktu

Kristianitas waktu mempunyai relevansi yang mendasar. Dalam dimensi waktu dunia diciptakan. Di dalamnya berkembanglah sejarah keselamatan, sambil menemukan puncaknya dalam kepenuhan waktu, penjelmaan Sang Sabda Allah dan kembalinya Sang Putera dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman. Dalam Yesus, waktu menjadi dimensi Allah yang Dia sendiri bersifat kekal abadi. Yesus adalah pusat waktu (no. 74).
Hari minggu adalah paskah mingguan, mengenangkan dan menghadirkan Kristus yang bangkit. Maka, hari minggu Kristiani bersumber pada kebangkitan Kristus, dan melampui waktu manusiawi manusia. Konsep hari minggu sebelumnya adalah hari terkahir, hari “parousia” yang sudah diantisipasi oleh kemuliaan Kristus pada peristiwa kabangkitan Kristus. Sesungguhnya akhir Zaman sudah dimulai sekarang, dan tidak lebih dari perluasan dan perkembangan apa yang terjadi hari ketika Yesus bangkit dari alam maut oleh Roh. Manusia tidak perlu menantikan waktu keselamatan lain, karena sesungguhnya dalam dunia yang sedang berlangsung ini, mereka hidip dalam zaman akhir. Jadi, menguduskan hari minggu adalah kesaksian penting dan mereka dipanggil untuk mengemban itu, sehingga setiap sejarah manusiawi akan tetap ditopang oleh harapan (no. 75)
b. Hari minggu sebagai hari istirahat (no. 64-68)
Hari Tuhan berakar dalam tradisi Gereja yang paling kuno. Namun, kemudian perayaan hari minggu berdasarkan lingkaran Tahun Liturgi. Lingkaran tahun liturgi itu antara lain hari-hari raya tahunan Paskah Yahudi, Pentakosta. Sejak abad II, perayaan paskah tahunan dirayakan dalam paskah mingguan. Hari raya Paskah erat kaitan dengan hari raya Pentakosta di mana kita menantikan kedatangan Roh Kudus (no.76).
Oleh karen itu, Konsili Vatikan II mengingatkan agar Gereja hendaknya memaparkan selama kurun waktu setahun” seluruh misteri Kristus,” dari Penjelmaan serta kelahiran-Nya hingga kenaikan-Nya, sampai Pentakosta dan sampai penantian kedatangan Tuhan yang bahagia dan penuh harapan. Sesudah Perayaan Paskah dan Pentakosta umat merayakan pesta kelahiran Tuhan (no. 77)
Selian itu, dalam lingkaran tahun liturgi gereja juga memberikan penghormatan secara khusus kepada Bunda Maria yang terlibat dalam karya penyelamatan Puteranya, juga mengenangkan para kudus, martir. Paulinus dari Nola mengatakan “segala sesuatu lewat, tetapi kemuliaan para kudus tetap berlangsung dalam Kristus yang membaharui segala sesuatu, sementara Ia sendiri tetap tidak berubah.” (no.78). Oleh karena itu, hari minggu muncul sebagai pola untuk memahami dan merayakan hari-hari raya Tahun Liturgi yang begitu bernilai bagi hidup kristiani, sehingga Gereja telah memilih untuk menekankan relevansinya, misalnya kondisi sosial ekonomi, perayaan hari-hari raya yang tidak bertepatan dengan hari minggu dan sebagainya (no. 79). Bukan hanya itu, memperhatikan konteks pastoral yang khas sesuai dengan konteks. Misalnya budaya dan tradisi. Oleh karena itu, katekese liturgi penting agar umat tidak mencampuradukan antara unsur-unsur asing dengan iman kristiani (no. 80).

PENUTUP

Hari minggu ternyata mempunyai kekayaan rohani yang dalam. Dari ulasan di atas itu sangat jelas. Dengan memahami konsep hari Tuhan sebagaimana yang telah dijabarkan di atas, kita dengan mudah menemukan relevansi pelaksanaannya dalam kehidupan bersama. Ekaristi adalah realisasi penuh ibadat, yang sudah selayaknya oleh umat manusia dipersembahkan kepada Allah dan itu tidak dapat dibandingkan dengan pengalaman religius lainya. Oleh karena itu, dengan didasari kesadaran yang mendalam pelaksanaan menguduskan hari minggu juga memperhatikan kebudayaan terntentu, sehingga nilai Injili dapat diterima dengan baik.
Hari minggu hendaknya menjadi jiwa hari-hari lain hidup kita. Origenes mengatakan “orang kristiani yang sempurna selalu berada pada hari Tuhan dan selalu merayakan hari Minggu.” Namun, komunitas “Diaspora” mengalami kesulitan dan ujian karena para murid Yesus tercerai berai. Oleh karena itu, persauadaraan yang dialami dalam perayaan hari minggu sungguh-sungguh bantuan untuk mempersatukan umat.
Hari minggu menjadi kesaksian dan pewartaan. Melaui persekutuan dan kegembiraan umat memantukan daya kekuatan kepada dunia. Melalui pewartaan bahwa waktu dan saat Dia yang tampil dalam sejarah bukanlah ilusi belaka, melainkan tempat lahirnya masa depan yang selalu baru, sehingga bersama Kristus kita dapat berseru” Maranatha” datanglah yang Tuhan.
Sambil mengejar tujuan, gereja ditopang oleh Roh. Roh itulah yang menghidupkan dan membangun setiap anggota dalam gereja dan memenuhi hati mereka dengan cinta kasih. Roh itu juga yang akan membaharui gereja. Akhirnya, gereja juga mengakui bahwa Maria sebagai pengantara harus diterima, karena Maria juga hadir pada hari Minggu Gereja. Misteri Kristus sendirilah yang meminta ini; sungguh, bagaimana dia yakni “Mater Dei, Bunda Allah dan “Mater Ecclesiae”, Bunda Gereja, tidak dapat hadir secara istimewa pada hari yang sekaligus “dies Domini” hari Tuhan, dan sekaligus “dies Ecclesiae (hari Gereja).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar