6.13.2009

sosiologi paper

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
DALAM KOMUNITAS SMM-MALANG


Abstraksi

Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya. Pada satu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik secara horizontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Pada sisi lain budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk kelompok tertentu. Komunikasi antarbudaya, dalam konteks kehidupan anggota dalam komunitas SMM, merujuk pada bentuk sosialisasi nilai, norma budaya dari individu ke individu yang lain secara horizontal.

1. Pendahuluan

Salah satu fenomena sosial yang penting adalah kebudayaan. Dikatakan penting karena kebudayaan senantiasa dimengerti dalam konteks kehidupan manusia dan dalam relasinya dengan orang lain. Masyarakatlah yang membentuk kebudayaan dan selanjutnya kebudayaan membentuk individu dalam masyarakat. Tanpa kebudayaan tentu tidak adanya kelompok masyarakat, karena tidak ada sarana yang mampu mengatur pola interaksi anggota masyarakat itu sendiri. Atau dengan kata lain, kebudayaan tidak bisa diandaikan tanpa adanya masyarakat yang membentuk kebudayaan tersebut dans ebaliknya. Bisa dibayangkan bagaimana suatu kelompok masyarakat yang tidak memiliki sarana pengatur yang memungkinkan adanya relasi dan interaksi antaranggota masyarakat. Tentu saja tidak akan terjalin suatu komunikasi yang baik di dalamnya. Oleh karena itu, kebudayaan dapat dikatakan sebagai jiwa yang menghidupkan suatu masyarakat
Kebudayaan memiliki peran yang amat penting demi kehidupan bersama dalam suatu masyarakat. Kebudayaan memiliki peran karena dalam kebudayaan itu terkandung nilai, norma dan lain-lain. Inilah yang menjadi sebab kebudayaan mesti dihidupkan terus-menerus. Maksudnya adalah bahwa unsur-unsur kebudayaan, baik material maupun non material perlu diwariskan dan diteruskan agar dapat menyesuaikan dengan konteks zaman suatu masyarakat. Selain itu juga, proses pengkomunikasian ini penting sebagai jembatan yang dapat menghubungkan segala perbedaan, baik yang timbul dari individu maupun dari budaya itu sendiri.
Edward T. Hall dalam bukunya yang berjudul The Silent Language (1959) mengatakan bahwa kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan. Pernyataan ini mau menegaskan bahwa kebudayaan tidak mungkin terbangun tanpa adanya komunikasi. Kebudayaan selalu mengandaikan adanya komunikasi. Komunikasi merupakan bagian dari kebudayaan karena kebudayaan selalu dikaitkan dengan konteks relasi antarsesama baik dalam suatu masyarakat sosial, keluarga maupun kelompok atau komunitas.
Dalam tulisan ini, penulis hendak mengulas komunikasi antarbudaya dalam komunitas Serikat Maria Montfortan-Malang. Bagaimana komunikasi antarbudaya terjadi, dan sejauh mana komunikasi tesebut sungguh-sungguh menjadi sarana yang memungkinkan nilai-nilai budaya diterima sehingga pada akhirnya mampu menciptakan suatu relasi sosial antaranggota dalam komunitas SMM.

2. Pembatasan Masalah
Kami membatasi pembahasan mengenai tema ini dalam tiga bagian, yakni pengertian komunikasi, pemahaman komunikasi antarbudaya dan peran komunikasi antarbudaya dalam komunitas SMM.

3. Metode Pembahasan
Dalam menyusun makalah ini, penulis menggunakan metode kepustakaan. Berdasarkan gagasan-gagasan yang bisa diperoleh dari berbagai sumber, terutama gagasan dari para ahli, penulis merefleksikan tema komunikasi antarbudaya secara khusus dalam konteks kehidupan para anggota komunitas dalam komunitas SMM. Selain itu juga, tulisan ini didasarkan pula pada pengalaman konkret yang dialami penulis sebagai anggota komunitas. Berdasarkan pergulatan pengalaman konkret yang dialami tersebutlah penulis mendasarkan tulisan dalam makalah ini.

4. Komunikasi Antarbudaya Dalam Komunitas SMM

4.1 Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan dasar semua interaksi sosial. Sebagai dasar interakasi sosial, maka dalam kehidupan bersama atau kelompok, komunikasi tak dapat dilepaspisahkan. Di bawah ini ada beberapa pengertian komunikasi antara lain;
Pertama; Menurut Saundra Hybels dan Richard L. Weafer II, komunikasi merupakan setiap proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses ini meliputi informasi yang disampaikan baik secara lisan, tulisan, bahasa tubuh, gaya penamapilan dan lain-lain.
Kedua; menurut Billie J. Walhstrom, komunikasi adalah pernyataan diri yang efektif, pertukaran pesan-pesan yang tertulis, pesan-pesan dalam percakapan, pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain, pertukaran makna antarpribadi dengan system simbolik.

4.2 Pemahaman Komunikasi Antarbudaya
Pertama; menurut Samovar dan Porter (1972) komunikasi antarbudaya:

Terjadi manakalah bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi tersebut membawa serta latar belakang budaya pengalaman yang berbeda yang mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya berupa pengalaman, pengetahuan, dan nilai (intercultural communication obtains whenever the parties to a communications act to bring with them different experiential backgrounds that reflect a long-standing deposit of group experience, knowledge, and values).”

Kedua; menurut Stewart (1974)

Komunikasi antara budaya yang mana terjadi di bawah suatu kondisi kebudayaan yang berbeda bahasa, norma-norma, adat istiadat dan kebiasaan (interculture communications which accurs under conditions of cultural difference-language, cunstoms, and habits). :

Ketiga; menurutYoung Yung Kim, 1984
Komunikasi antarbudaya menunjuk pada suatu fenomena komunikasi di mana para pesertanya memiliki latar belakang budaya yang berbeda terlibat dalam suatu kontak antara satu dengan lainnya, baik secara langsung atau tidak langsung.
Keempat; menurut Sitaram, 1970. Komunikasi antar budaya adalah seni untuk memahami dan dipahami oleh khalayak yang memiliki kebudayaan lain.
Batasan-batasan di atas, mau menegaskan bahwa perbedaan kebudayaan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dan menentukan berlangsungnya proses komunikasi antarbudaya. Dalam pembahasan ini, kami tidak bermaksud mengabaikan perbedaan dan persamaan karakteristik kebudayaan dari setiap orang. Namun, kami membatasi dan menitikberatkan pada proses komunikasi individu-individu atau kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan dan mencoba untuk melakukan interaksi.

4.3. Peran Komunikasi Antarbudaya Dalam Komunitas SMM

Kehidupan bersama dalam komunitas Seminari Montfort ditandai oleh aneka perbedaan. Dalam konteks ini, perbedaan yang dimaksud lebih pada perbedaan kebudayaan yang membentuk kepribadian individu setiap anggota. Latar belakang yan berbeda yang membentuk kehidupan setiap indivudu tersebut tidak jarang dapat menimbulkan kesalahpahaman atau bahkan konflik. Di sini peran komunikasi menjadi penting untuk menyampaikan nilai-nili budaya tersebut kepada setiap individu yang tentu memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Dalam makalah ini, ada beberapa unsur kebudayaan yang penting yang coba ditelisik karena selalu menjadi pergumulan setiap hari .

a) Bahasa
Bahasa mempunyai peran yang sangat penting karena bahasa menyajikan pengalaman, menyalurkan kepercayaan, nilai dan norma. Selain itu juga, dikatakan penting karena orang tak mungkin dapat berkomunikasi dengan baik kalau ia tidak mempunyai bahasa.
Dalam komunitas SMM, setiap anggota komunitas mempunyai latar balakang bahasa yang berbeda. Ada yang menggunakan Bahasa Jawa, Kalimantan dan Flores. Bagaimana komunaksi antaranggota dapat dibangun tatkala di satu pihak anggota komunitas di hadapkan dengan keberagaman bahasa tersebut yang tentunya membentuk pola pikir yang beragam tersebut? Pentingnya komunikasi budaya terungkap dalam konteks ini. Maksudnya adalah bagaimana kebudayaan tersebut diperkenalkan dan selanjutnya dibagikan satu terhadap yag lain, sehingga nilai-nilai kebudayaan tersebut membentuk suatu nilai baru dalam kehidupan berkomunitas.
Bertolak dari pengalaman konkret, perbedaan bahasa yang melatarbelakangi kehidupan setiap individu akhirnya dapat saling diterima sebagai konsekuensi dari komuniksi sosial yang dibangun di dalamnya. Anggota komunitas tidak lagi menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai sarana komunikasi, tetapi menggunakan bahasa yang diterima bersama yakni Bahasa Indonesia. Komunikasi inilah yang telah memungkinkan adanya suatu relasi timbak balik yang baik antaranggota dalam komunitas.


b) Sikap, perilaku dan Pembawaan diri,
Setiap orang dan daerah mempunyai budaya yang berbeda-beda. Budaya itu turut membentuk sikap, perilaku dan pembawaan diri seseorang. Dengan kata lain, budaya amat mempengaruhi seluruh eksisitensi seseorang. Tatkala seseorang hidup dalam lingkungan tertentu, maka seluruh dirinya juga dipengaruhi oleh lingkungan tersebut. Maka tak jarang, orang kerap memandang budaya yang dimiliki dalam suatu tempat tertentu, yang telah mendarah daging dalam dirinya, sebagai sesuatu yang baik, unik, khas daripada budaya yang lain. Dampaknya ia tidak bisa keluar dari frame berpikir demikian dan akhirnya ia membentengi diri dalam pergaulan. Akibat lebih lanjutnya dapat dirasakan dalam pembawaan diri, sikap dan perilakunya.
Ketika seseorang keluar dari lingkungan hidup yang sebelumnya, ia akan terbentur dengan budaya lain. Dampaknya orang membentengi diri dalam pergaulan dengan sesama. Orang tidak lagi melihat segala perbedaan sebagai sesuatu yang indah dan kaya dalam kehidupan bersama, tetapi membuat pengkotak-kotakan dalam pergaulan. Komunitas merupakan tempat untuk meresosialisasikan kembali budaya bagi setiap anggotanya dan merupakan wadah yang dapat menyatukan segala perbedaan. Komunikasi mempunyai peran yang penting untuk mengambil jalan tengah terhadap segala perbedaan. Dengan adanya komunikasi antarbudaya, dapat mengurangi frekuensi pertentangan dan konflik satu dengan yang lain.
Komunikasi antarbudaya merupakan usaha untuk meminimalisir konflik yang terjadi dalam komunitas. Selain itu, komunikasi antar budaya itu membantu kita untuk saling menghargai budaya orang lain apa adanya, menerima budaya orang lain sebagai bagian yang turut membentuk prilaku saya sebagai anggota komunitas. Konflik yang terjadi hendaknya dipandang sebagi katalisator untuk memperbesar pemahaman dan pengertian kita terhadap budaya, dan pada akhirnya membawa pada sebuah kerjasama yang efektif.

c) Nilai
Nilai adalah hal yang dianggap penting. Dianggap penting karena karena dilihat sebagai sesuatu yang luhur dan oleh karenanya ia dikejar. Setiap orang mempunyai nilai yang berbeda-beda. Maksudnya adalah setiap kebudayaan memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat menilai sesuatu dan memberi arti terhadap apa yang dianggap penting tersebut. Komunikasi antarbudaya yang efektif sangat ditentukan oleh pemahaman anggota akan nilai yang dikejar. Setiap anggota komunitas adalah pelaku dari komunikasi itu sendiri. Pemahaman ini berkaitan dengan makna dan terutama dalam meletakan nilai kebudayaan yang siap diterima. Nilai merupakan unsur yang sangat penting dalam membimbing setiap orang dalam menilai dan melihat apakah sesuatu itu boleh atau tidak dilakukan. Nilai memang merupakan sesuatu yang abstrak. Setiap orang menganut nilai-nilai tertentu yang mendorongnya untuk bersikap terhadap suatu peristiwa dalam hidupnya. Tentu nilai yang ditonjolkan di dalamnya itu adalah kekhasan budaya (nilai-nilai yang mendasar) setiap anggota. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya yang ada menjadi titik berangkat bagi seluruh anggota komunitas untuk menciptakan kesamaan persepsi meskipun hidup dalam keberagaman yang ada. Keberagaman yang ada dipadukan di dalam satu pandangan dengan menonjolkan nilai kekeluargaan, persaudaraan, dan kebersamaan. Nilai pada taraf ini membawa setiap anggotanya untuk menampilkan diri dalam bingkai nilai yang khas.

d) Norma
Nilai dan norma berbeda. Nilai hanya bergumul pada poin baik
buruk sesuatu sedangkan norma merupakan standar perilaku. Jadi, dalam kehidupan komunitas norma yang dipertukarkan adalah nilai-nilai budaya yang kemudian menjadi unsur yang khas dari suatu komunitas. Di sinilah terjadi pertukaran sosial. Misalnya komunitas menetapkan norma/aturan agar setiap anggota komunitas tidak boleh merokok dalam komunitas. Namun, dalam kenyataannya bahwa ada anggota yang masih merokok. Jadi dapat disimpulkan bahwa kebiasan buruk itu merupakan pelanggaran terhadap norma. Contoh ini mau menegaskan bahwa tidak merokok dalam komunitas merupakan suatu norma yang ideal. Maka, dalam pandangan sosiologis hal itu merupakan gagasan kebudayaan yang seharusnya ada dalam setiap anggota komunitas. Itu berarti, jikalau ada yang melanggar maka akan menadapat sanksi.


5. Refleksi

Penulis menyadari bahwa komunikasi sangat penting dalam kehidupan bersama yang memiliki latar belakang yang berbeda. Komunikasi memang bukanlah perkara yang mudah. Dalam membangun suatu komunikasi yang baik, efektif dan tepat sasar tidaklah cukup dengan berbekalkan pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang dalam tidak menjamin terciptanya komunikasi yang baik. Komunikasi sangat membutuhkan keterlibatan segala aspek.
Dalam perjalanan hidup berkomunitas, perbedaan pandangan, sikap, cara menaggapai reaksi terhadap orang lain, seringkali hal itu tidak dapat dikomunikasikan secara tepat, maka tak heran konflik pun terjadi. Harus diakui bahwa konfllik merupakan bagian dari seluruh proses komunikasi. Konflik tidak hanya membawa kehancuran terhadap hidup berkomunitas, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi hidup bersama. Kami mengakui bahwa konflik terjadi justru ketika terjadi komunikasi antara yang satu dengan yang lain.
Komunikasi antarbudaya merupakan jalan yang dapat menyatukan segala perbedaan. Ini tidak bermakud bahwa dengan adanya komunikasi segala perbedaan harus disamakan. Komunikasi yang dimengerti ialah komunikasi yang sungguh mengakomodasikan segala perbedaan sehingga tidak terkesan memiliki jurang pemisah satu dengan yang lain. Oleh karena itu, keterbukaan setiap pribadi sangat menentukan penyatuan segala perbedaan.
Komunikasi memainkan peran yang sangat besar dalam hidup berkomunitas. Komunikasi dapat membuka cara pikir kami dalam menghadapi dan menanggapi sesuatu yang baru. Komunikasi memberikan pemahaman yang baru akan realitas yang melingkupi diri kami sebagai anggota komunitas. Dengan membangun komunikasi antarbudaya dapat menambah wawasan, pengertian yang menyeluruh tentang sesuatu yang baru.
Komunitas SMM merupakan komunitas majemuk. Komunitas majemuk karena di dalamnya terdiri dari orang-orang yang mempunyai latar belakang yang berbeda baik budaya, bahasa, nilai, maupun cara berpikir. Latar balakang yang berbeda-beda ini disatukan dalam semangat hidup, visi-misi dan tujuan hidup yang sama. Dengan demikian, komunikasi antarbudaya mempunyai keterarahan yang jelas.





















DAFTAR PUSTAKA


Budiyanto, Antonius Sad. Dikta perkuliahan Sosiologi semester II. STFT Widya Sasana-Malang, 2006.
Josef Eilers, Frans. Berkomunikasi Antara Budaya. Ende: Nusa Indah, 1993.
Liliweri, Alo. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LkiS, 2003.
Lunandi, A.G. Komunikasi Mengena. Yokyakarta: Kanisius, 1987.
Mulyana, Deddy, dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1989.

DATA INTERNET

http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/1412200795304_MULTIKULTURALISME_DAN_KOMUNIKASI_ANTAR_BUDAYA.rtf, akses Jumat, 24-10-2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar