6.13.2009

refleksi kaul 2008

DIPANGGIL DALAM HIDUP SEHARI-HARI

Saya bersyukur kepada Tuhan, karena berkat bimbingan dan campur tangan-Nya, saya dapat melihat kembali perjalanan hidup panggilan ini dalam terang hidup sehari-hari. Saya juga bersyukur atas doa St.Montfort dan Bunda Maria yang membantu saya dalam hari-hari refleksi ini. Dipanggil dalam hidup sehari-hari adalah judul refleksi saya kali ini. Judul ini, mau menggambarkan pergulatan panggilan yang saya alami selama ini. Pergulatan antara jatuh-bangun, kegagalan-keberhasilan, suka-duka, baik-buruk dan lain-lain sebagainya. Saya sadari bahwa Allah selalu menyapa saya lewat pristiwa-pristiwa sehari-hari. Pristiwa-pristiwa itu, tercermin dalam poin-poin yang saya refleksi di bawah ini.

1. Hidup rohani
Pasang surut perjalanan hidup rohani bukan hal baru bagi saya. Pengalaman pasang surut membawa saya pada sebuah kesadaran bahwa hidup yang sedang saya jalani bukanlah suatu perjalanan yang mulus dan aman. Bukan pula harga mati yang hanya bergerak lurus ke depan. Perjalanan hidup rohani saya bagaikan ombak yang selalu naik turun. Ada waktu di mana hidup rohani mengalami pengalaman puncak, tetapi juga mengalami kekeringan. Pengalaman puncak di mana saya mengalami persatuan yang mesra dengan Tuhan, hidup terasa punya arti dan dan penuh gairah. Dampaknya dalam seluruh tugas harian yang mana segalanya dijalankan dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Ketika saya mengalami pengalaman puncak, rasanya saya tak ingin agar saya mengalami apa yang dinamakan desolasi. Akan tetapi, lambat laun dengan pengalaman puncak saya juga disadarkan akan pengalaman kekeringan dalam hidup rohani yang tak mungkin dielakkan.
Jikalau saya ingin kembali merujuk ke belakang perjalanan hidup rohani selama masa Novisiat dengan sekarang, saya dapat mengatakan bahwa hidup rohani sekarang sungguh-sungguh menantang. Banyak hal yang dituntut yang jikalau tidak disingkapi dengan serius dan penuh tanggung akan dapat menelantarkan atau membuat hidup rohani menjadi kering. Contohnya tuntutan akademis dari kampus yang begitu tinggi. Selain itu, kondisi jalan yang sangat menantang, yang menguras banyak tenaga dan waktu.
Saya mengalami kekeringan hidup rohani saat-saat awal menjalani masa perkuliahan. Terus terang saja bahwa hidup doa terasa hambar dan tak karu-karuan. Berhadap dengan banyak tugas doa dinomorduakan. Doa menjadi sebuah tantangan bagi saya untuk boleh sejenak meluangkan waktu duduk dan hadir di hadapan Allah. Di tengah kesibukan tugas dan proses penyesuaian diri dalam banyak hal, sebersit pertanyaan terlontar dari dalam hati; mampukah saya menghadapi semuanya ini? Apakah saya mampu mempertahankan hidup doa yang telah ditanam selama ini? Dapatkah saya mengatur atau membagi waktu belajar dan doa dengan seimbang? Pertanyaan ini terus bergulat dalam hari-hari perjalanan hidup saya. Saya mencoba untuk menenumukan jawabannya dan menyingkapi dengan cara-cara baru, misalnya memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Namun, yang saya temukan adalah ketidakpastian. Dalam keadaan seperti inilah, saya sadar bahwa tidak mungkin semuanya ini diselesaikan oleh saya sendiri. Kemampuan ratio saya tak mungkin menjawab misteri dibalik kenyataan yang sedang saya alami. Saya pun bangun dan mencoba menata kembali hidup ini. Jalan yang saya tempuh adalah dengan membuat roster belajar. Saya membawa dan mempersembahkan segala persoalan ini dalam doa dan ternyata dalam doa saya menemukan dan mendapat kekuatan, terang, jalan dan arah bagi perjalanan saya ke depan. Di dalam doa, hati saya kembali disegarkan.
Saya menyadari bahwa perjumpaan yang nyata dengan Yesus terjadi dalam perayaan ekaristi di mana Ia hadir dalam rupa roti dan anggur lambang tubuh dan darah-Nya. Di sanalah saya dapat mengalami bagaimana cinta-Nya yang begitu besar terhadap saya. Dan pada saat yang sama Ia pun mengajak saya untuk mengambil bagian dalam seluruh hidup-Nya, “memikul salib-Nya dan mengikuti Aku.” Menjadi murid-Nya memang tidak gampang, membutuhkan ketabahan, kesetiaan, pengorbanan diri. Dalam pergulatan hidup yang saya hadapi, saya mau menyatukannya dengan seluruh Cinta-Nya. Selain santapan ekaristi, juga firman-Nya yang dapat saya renungkan dalam meditasi dan juga sabda yang dibacakan saat perayaan ekaristi memberikan arah yang jelas bagi hidup saya, bahwa hidup yang sedang saya hidupi ini bukan tanpa arah dan tujuan. Meskipun setiap hari terus bergulat dengan materi kuliah dan mencoba mengekplorasi segala kemampuan untuk memperoleh nilai yang baik, namun bukan itulah tujuan yang utama. Tujuan utama tidak lain tidak bukan adalah untuk mencapai suatu persekutuan yang mendalam dengan Dia yang memanggil saya. Seluruh usaha dan perjuangan ini hanya sebagai sarana yang memungkin saya mencapai nilai yang lebih tinggi dari apa yang saya alami sekarang ini.
Bagaimana dengan ofisi? Di dalam doa inilah saya boleh mengungkapkan isi hati, perasaan dan harapan dengan penuh kebebasan. Doa-doa yang ada, nyata mewakili apa yang sedang saya alami. Serentak pada saat yang sama, saya juga mewakili seluruh umat manusia memohon keselamatan orang-orang yang tidak mempunyai harapan hidup, ketidakberdayaan dan yang inkorelasi dengan Tuhan, bagi mereka yang diekskomunikasi dalam masyarakat serta menjadi perwakilan bagi mereka yang sedang bahagia, dan gembira. Singkat kata, bahwa seluruh bentuk doa dan kegiatan rohani lainnya mau mengarahkan dan menghantar saya pada suatu perjumpaan yang dalam dengan Dia.
Ketika saya mengalami pengalaman desolasi/kekeringan muncul perasaan kurang menyenangkan dalam bati dan sungguh menyakitkan. Namun dalam pengalaman seperti ini Tuhan tak berpaling muka dari saya. Tuhan selalu menyapa saya dengan cara yang sederhan dan ada di luar kemampuan akal budi saya. Misalnya dengan sharing kamisan saya sungguh merasakan kehadiran-Nya yang nyata dalam diri konfrater yang dengan setia mendengarkan sharing saya atau yang dengan hati terbuka mau menasehati saya. Perjumpaan seperti ini kelihatannya sangat sederhana dan kadang terkesan biasa-biasa saja dan kadang hanya mengikuti aturan, tetapi bagi saya inilah saat yang paling tepat untuk belajar mendengarkan telebih mendengarkan sapaan Tuhan dalam menghadapi situasi kekeringan atau pengalaman padan gurun hidup rohani.
Kekayaan hidup rohani St. Montfort menjadi sumbangan yang berharga bagi saya. Apa yang berharga? Tidak lain adalah pengalaman jatuh bangun antara karya dan doanya. St. Montfort lewat pengalamannya secara tidak langsung mengajak saya untuk mengatur waktu antara belajar dan doa. Di tengah kesibukannya ia masih sempat meluangkan waktu untuk berdoa. Lebih dari pada itu, dalam pengalaman jatuh bangun hidupnya, ingin agar saya sedapat mungkin untuk bertahan dalam segala kesulitan apapun. Inilah yang sungguh menyetuh hati saya dari pergulatan hidupnya.
Dalam kehidupan sehari-hari saya di komunitas ini, saya menyadari bahwa para formator telah memberikan keluasan/kebebasan kepada setiap pribadi. Di sini sungguh dituntut kedewasan dalam mengatur diri. Pada poin ini saya menyadari bahwa sebenarnya pemimpin/yang memimpin tidak lain adalah diri sendiri. Diri sendirilah yang mengatur segalanya dan formator hanyalah sebagai pendamping. Dalam konteks ini, saya lebih menyoroti soal waktu luang ketika tidak ada aturan untuk berdoa rosario bersama. Sebuah kebanggaan bagi saya ialah muncul kesadaran untuk tetap menjalankan doa rosario secara pribadi. Mengambil waktu sejenak di tengah kesenangan pribadi. Awalnya amat berat dilakukan. Namun, saya mencoba dan terus mencoba dan akirnya saya mampu membendung hasrat hati untuk mengikuti kehendak pribadi. Inilah buah dari wawancara dengan para pembimbing/formator.

II. pemahaman dan penghayatan atas spiritualitas Montfortan.
Jujur saja saya mengatakan bahwa spiritualitas Montfortan sangat kaya. Hal ini dengan jelas sebagaimana St. Montfort ungkapkan dalam seluruh karyanya. Di sanalah ia selalu menggambarkan kerinduan untuk bersatu dengan Tuhan, dan kerinduan untuk selalu datang kepada-Nya. Ia melukiskan hal ini dengan sangat indah dalam “doa menggelora”. Namun, saya menyadari keterbatasan untuk secara intensif mengggali dan terus menggali kekayaan itu, untuk dijadikan kekayaan pribadi dalam menjawab panggilan ini. Akan tetapi, poin-poin di bawah ini turut mewarnai perjalanan dan penghayatan spiritualitas selama ini.
a. Evangelisasi;
Pada poin ini saya mencoba bertanya siapakah St. Montfort bagi saya? Pertanyaan ini bukan bermaksud untuk diulas dengan panjang lebar. Akan tetapi, pertanyaan ini mencoba untuk melihat bagaimana pergulatan hidupnya dalam mewartakan Yesus sang kebijaksaan. Hidup St. Montfort hampir seluruhnya tercurah dalam karya misi demi menyerbarkan kerajaan Allah, membawa orang kepada persatuan dengan Yesus, dan membawa Yesus lewat tangan Bunda Maria agar setiap orang dapat menggunakan sarana yang sama untuk sampai pada Yesus.
Bagaimana saya menghayati poin di atas selama ini? Saya mencoba mulai melihat dalam ruang lingkup yang lebih luas yakni dalam relasi dengan orang-orang di luar komunitas. Untuk menjadi saksi dan pewarta di tengah umat yang mayoritas Islam bukanlah perkara yang mudah. Namun sedikitnya ada hal-hal yang bagi saya sangat membantu untuk secara perlahan membangun sebuah relasi yang baik dengan mereka. Hal-hal itu antara dengan mengunjungi mereka pada hari-hari raya keagamaan. Menyapa mereka ketika bertemu. Dengan ini, secara tidak langsung saya mau menunjukan diri sebagai pengikut Kristus. Sebagimana Yesus hadir kedunia bukan kepada orang-orang tertentu, demikian pun saya tanpa memandang agama, suku dan golongan membangun relasi dengan mereka. Meskipun bentuk pewartaan di sini jauh berbeda ketika berhadapan dengan orang-orang seagama, namun dengan hadir secara fisik saat silahturahmi bagi saya itu salah satu bentuk pewartaan saya.
Bagaimana dengan hidup berkomunitas? Sharing pengalaman adalah salah satu kesempatan untuk membangi pengalaman dengan sesama konfrater, dan lebih dari sekedar menseringkan pengalaman bahwa kesempatan seperti ini sangat tepat untuk membawa Yesus pada sesama lewat pengalaman perjumpaan pribadi dengan-Nya dalam kerja dan doa serta kuliah. Ketika makan bersama adalah kesempatan yang baik juga untuk membagi pengalaman, informasi, mewartakan pesan injil yang didengar pada saat perayan ekaristi lewat sikap dan tutur kata yang sopan terhadap konfrater, semangat melayani dalam satu meja, menciptakan suasana yang aman, menyenangkan bagi sesama konfrater dan mau mengambil bagian dalam hidup sesama. Dengan kata lain, kesaksian hidup sehari-hari adalah bentuk pewartaanku terhadap sesama konfrater.
b. Marial;
Sebagai Montfortan saya sadar bahwa peran Bunda Maria amat besar dalam misteri Kristus dan misteri gereja. Ia dipilih oleh Allah jauh sebelum ia dikandung oleh ibunya. Allah telah mempersiapkan dirinya bagi kedatangan sang juru selamat. Oleh karenanya seluruh hidupnya secara total dipersembahkan kepada Allah semata. Hal ini nampak dalam kesediaannya untuk menyediakan rahimnya untuk didiami oleh Yesus. Keutmaan-keutamaan yang dapat saya temukan dalam dirinya antara lain; Kerendahan hatinya, ketaatan, kesetiaan, kemurahan hatinya, semangat doa yang terus menerus, keterbukaan dan lain-lain sebagainya yang merupakan kekayaan yang luar biasa dari Bunda Maria. Kekayaan-kekayaan inilah yang juga menjadi cermin bagi saya dalam menapaki panggilan ini. Dalam hidup berkomunitas sikap kerendahan hati ciri kepribdian saya dan tidak pernah terpisah dari diri saya. Saya mengartikulasikan sikap ini lewat tutur kata, sopan santun terhadap siapa pun. Contoh konkret banyak kakak tingkat dalam komunitas ini yang jauh lebih muda dari saya. Namun dalam pergaulan saya tidak memasang gensi, tidak gila hormat karena lebih tua dari mereka, tidak memasang wibawa, tidak menciptakan gap dalam pergaulan. Sebaliknya dengan penuh kerendahan hati saya bersedia untuk masuk dalam kedirian mereka, bersedia untuk dikritik, melayani dan memberikan diri sepenuhnya dalam kerja sama.
Keterbukaan; penting bagi saya untuk menciptakan keharmonisan dalam hidup bersama, hidup berdampingan dalam suka-duka, hidup penuh persaudaraan, kekeluargaan dan kedamaian. Hal yang paling konkret adalah keterbukaan untuk memaafkan dan dimaafkan ketika ada masalah sehinggga tidak menciptakan permusuhan. Akan tetapi, saya menyadiri bahwa terkadang pula oleh sikap dan tutur kata, cara bertindak, berbicara saya dapat menyakiti hati konfrater. Hal ini tak dapat dielakan dalam kehidupan bersama. Dan bagi saya inilah keindahan dalan hidup bersama. Saya melihat hal ini bukan sebagai tantangan melainkan membuat hidup ini lebih hidup, dan bermakna.
Ketaatan dan kesetiaan; menarik bahwa dalam hidup di komunitas ini ada sejumlah aturan yang sungguh memberikan arah dan petunjuk yang jelas bagi perjalanan para konfrater. Aturan-aturan yang ada bagi saya bukan untuk mengekang kebebasan saya dalam mengekplorasi diri. Aturan yang ada sungguh membantu dalam mengarahkan diri saya. Saya menyadari bahwa setia dan taat pada aturan dan para formator berarti saya setia pada Allah yang berkarya lewat para formator dan sebagai bentuk keterlibatan dan peran aktif Allah dalam hidup saya. Dalam diri pemimpin dan segenap aturan yang ada, Allah hadir untuk menyapa, mengundang dan menuntun saya dalam menapaki panggilan ini.
Doa yang terus menerus; betapa besar peran doa dalam hidup saya. Saya menyadari bahwa segala kesuksesan dan pengalaman lainnya yang saya alami berkat campur tangan Allah dalam hidup saya. Saya menyadari akan keterbatasan, dan kekurangan yang ada dalam diri ini. Berkat kekuatan doa membuat saya kuat dalam mengahadapi segala tantangan, persoalan dan kesulitan. Namun dalam hal ini saya tidak pasif. Segenap kemampuan, saya satukan dengan doa. Dengan demikian, doa dan kamampuan ini bagaikan dua sayap burung yang memungkinkan saya boleh terbang ke mana saja Roh Kudus kehendaki dan membawa saya.

c. Komunitas;
Hidup berkomunitas amat kaya. Kaya karena masing-masing pribadi mempunyai kekayaan tersendiri dalam bentuk bakat dan talenta. Bakat dan talenta masing-masing pribadi memberikan warna tersendiri dan memperkaya dalam hidup bersama. Saya salut dengan kekayaan spritualitas St. Montfort dalam hal ini. Persaudaraan amat ditekankannya. Persaudaraan yang mencerminkan persekutuan Allah Tritunggal. Bentuk persekutuan ala Allah Tritunggal semacam inilah yang baru saya temukan dan rasakan. Inilah gambaran hidup komunitas yang saya alami dan menjiwai perjalanan hidup saya selama ini.
Saya menyadari bahwa banyak kekurangan dalam diri ini. Kekurangan ini hanya mungkin disempurnakan dan dilengkapi oleh sesama konfrater. Keterlibatan dan partisipasi para konfrater nyata dalam bentuk kritikan, saran dan nasehat. Semuanya ini diperoleh dalam hidup berkomunitas. Inilah yang merupakan kebanggaan terbesar bagi saya, yang mungkin tidak diperoleh dan dialami oleh teman-teman saya yang hidup di luar kemunitas. Selain itu, kehadiran para konfrater dalam hidup saya merupakan bentuk dukungan atas panggilan yang sedang saya jalani. Inilah sisi positif dalam hidup komunitas.
Hal yang tak dapat dipungkiri bahwa silang pendapat juga turut mewarnai hidup bersama di komunitas ini. Mengapa hal ini terjadi? Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki karakter, watak dan tabiat tersendiri. Dan tentu sifat, watak saya jelas berbeda dengan teman-teman yang lain. Kelemahan yang saya sadari dan akui adalah bahwa terkadang saya menuntut agar orang lain berbuat sesuai dengan apa yang saya inginkan. Akan tetapi, justru yang lahir adalah konflik dalam diri saya dalam bentuk parasaan tidak aman dan tenang. Setelah melewati pengalaman seperti ini, saya disadarkan untuk pertama-tama menuntut diri berbuat baik kepada sesama. Yesus bersabda: jangan kamu perbuat kepada orang lain, apa yang kamu tidak ingin agar orang lain perbuat kepada kamu (bdk.
Hidup komunitas sebagai hidup bersama tidak cukup dengan ikatan kebersamaan. Saya menyadari hidup komunitas lebih dari sebuah ikatan kebersamaan. Hidup komunitas mau menunjukan kepada setiap orang siapa dia di hadapan Allah dan sesama.
Komunitas merupakan suatu disiplin. Sebagai suatu disipin di sana saya menciptakan ruang yang bebas dan kosong bagi anggota yang lain. Ruang yang bebas dan kosong adalah seluruh kedirian saya agar orang lain dengan bebas pula masuk dalam diri saya sehingga kekurangan yang ada dalam diri saya menjadi penuh berkat kehadiran teman. Ruang yang kosong dan bebas juga adalah ketulusan, keterbukan hati untuk siap menerima teman dalam hidup saya.
d. Kesiap-sediaan;
Bagi saya pembaktian diri yang diucapkan setiap hari terkandung suatu makna yang amat dalam. Makna yang bersyarat. Makna yang dasar. Suatu pengucapan yang menuntut sikap kesiap-sediaan. Kesiap-sediaan untuk memberikan diri secara total pada Allah, dibentuk dalam tangan Bunda Maria dan membiarkan diri dibimbing oleh roh kudus.
Ketika saya meninggalkan tempat kelahiran, orang tua, kenalan dan segala keinginan saya, pada saat yang sama saya disadarkan akan pentingnya sikap kesiap-sediaan. Dengan mempelajari hidup dan karya St. Montfort, saya memperoleh kekuatan St. Montfort selalu menginginkan misionaris-misionaris yang Liberos. Hal ini diteguhkan lagi saat saya teringat pesan Yesus yang berbunyi: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku(bdk Mat16:24).” Inilah yang menguatkan hati saya, membuat langkah saya semakin teguh dan kokoh dalam menapaki panggilan ini. Dengan hati yang bebas saya meninggalkan hal-hal di atas demi suatu tujuan yang mulia yakni persatuan dengan Allah. Yesus berkata: “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal (Mat.19:29).
Saya tidak mungkin berada di tempat tinggal yang sekarang, seandainya saya masih terikat pada hal-hal di atas. Dan saya mampu meninggalkan semuanya itu oleh karena berkat campur tangan Allah. Jujur saja ketika saya meninggglkan hal-hal di atas memang agak berat. Namun bukan berarti saya datang ke tempat yang baru ini dengan terpaksa. Tidak, sama sekali tidak. Sebagai manusia saya mengakui bahwa ikatan batin dengan hal-hal seperti itu hampir pasti ada dalam diri. Saya sungguh mengalami ini. Namun, Di sinilah pertama kali saya merasakan arti terdalam sebuah sikap lepas bebas untuk secara penuh menyerahkan diri pada Allah sebagaimana yang terungkap dalam setiap pembaktian diri.
Dalam hidup di komunitas ini, sikap kesiap-sediaan diwujudkan dalam kerelaan untuk dengan sepenuh hati menerima tugas yang dibagikan oleh konfrater. Meskipun tugas itu tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, namun justru di sini saya dilatih, dibina dan dibentuk untuk menerimanya sebagai bentuk perutusan, sebagai suatu panggilan. Bagi saya bukan pekerjaan yang dilihat di sini, melainkan kesediaan hati untuk menerima pekerjaan itu. Kelihatannya sangat sederhana, tetapi justru dalam hal yang sederhan ini, sikap kesiap-sediaan mulai ditanam dalam diri ini. Kecenderungan manusiawi untuk menginginkan hal-hal yang baik, menyenangkan dan membahagiakan, pasti saja ada dalam diri. Akan tetapi, kecenderungan ini diolah dan diarahkan lewat hal-hal yang sederhana seperti di atas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah saya belajar untuk bersikap rendah hati, untuk tidak terikat pada apa yang menurut saya baik. Juga saat yang tepat untuk membina sikap yang selalu terbuka akan segala kemungkinan yang tidak menyenangkan sekalipun.

III. Kepribadian
Hidup bersama memang menuntut suatu sikap kejujuran terhadap banyak hal, misalanya kejujuran dalam menggunakan uang saku, meminta izin sesaui dengan tujuan, mengatakan tidak senang bila ada hal-hal yang tidak senang. Sikap-sikap seperti ini sungguh saya alami selama masa pembinaan. Saya merasa tidak nyama jikalau ada sikap dan tutur kata saya yang tidak berkenan pada sesama. Saya mudah cemas. Akibatnya, pikiran tidak tenang dalam doa dan kerja jikalau apa yang menurut saya baik ternyata bagi orang lain hal itu menyakitkan. Di sinilah mencul problem dalam diri saya karena saya selalu berpikir apa kata mereka, bagaimana perasaan meraka, sikap mereka dan bagaimana pandangan mereka terhadap diri saya. Yang saya pikirkan bukan takut diekskomunikasikan melainkan hati mereka yang terluka. Saya cenderung memikirkan pribadi orang yang saya sakiti ketimbang persoalan yang dialami. Maka bagi saya adalah penting untuk tidak memperpanjang masalah dan dengan jujur dan terbuka memaafkan dan dimaafkan serta mengembalikan situasi. Selaim itu, peka untuk membaca situasi batin teman.
Dalam hal penggunaan keuangan, bagi saya jumlah uang saku sudah cukup banyak. Ada suatu kebangggaan bagi saya di mana segala keperluan sehari-hari terpenuhi. Namun, sesuatu yang tak dapat disangkal bahwa ada banyak keinginan dalam hati ini untuk mendapat sesuatu yang indah dan serba baru. Akan tetapi, dengan uang saku yang ada, saya dilatih untuk mengekang segala keinginan itu, merem segala hasrat untuk memperoleh barang baru. Selain itu, membatu saya agar sedapat mungkin dapat memanage segala keperluan dari keterbatasan. Di sini pula saya diajar untuk menghayati hidup dalam kesederhanaan. Mencintai hidup apa adanya, mencintai apa yang telah ada sehingga hati sungguh diarahkan pada Tuhan dan sepenuhnya bergantung pada penyelenggaraan Allah. Dengan mencintai apa yang ada, saya mencoba untuk mengambil bagian dalam kemiskinan Yesus dan sauadara-saudara yang sungguh miskin.
Sejak Novisiat hingga memasuki masa perkuliahan saya merasa yakin bahwa saya termasuk tipe IV. Ciri-ciri dari tipe IV hampir seluruhnya menggambarkan jati diri saya. Banyak hal di dalamnya yang menurut saya membantu menemukan siapakah saya. Dengan penuh keyakinan saya telah merefleksikan keseluruhan dinamika dari tipe ini. Namun, setelah saya merefleksis lebih dalam ternyata bukan ini tipe saya. Hal yang memperkuat refleksi saya ini ketika saya wawancara dengan formator dan mengatakan bahwa saya tipe VI. Keyakinan saya semakin kuat. Hal yang mencolok adalah kalau sebelumnya saya selalu melihat diri sebagai orang yang introfet, mudah cemas, mudah tersinggung, kaku dalam pergaulan dan lain-lain justru bertentangan dengan kenyataan yang saya alami dalam hidup sehari-hari. Contoh ketika saya menarik diri dalam pergaulan, membatasi diri, dan tidak mengambil secara penuh dalam kebahagian dan hidup teman, yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan yang bukan-bukan. Mempertanyaan akan kedirian saya. Mempertanyakan apa sebab yang mendasar. Kadang perasaan-perasaan seperti di atas lahir secara spontan dlam diri saya. Berbarengan dengan itu, lahir juga persoalan dalam diri saya. Batin tidak aman. Pikiran-pikiran yang buruk bersemburan dalam hati. Hidup terasa kering dan kaku serta tidak bergairah dalam kerja. Ini semua berawal dari pengalaman yang saya angkat di atas. Saya cenderung memikirkan apa yang sebenarnya tak perlu dipikirkan.
Dalam tipe VI saya yakin bahwa di sanalah saya dapat mengenal diri secara utuh. Gambaran diri baik positif maupun negatif semuanya terkandung di sini. Usaha saya kedepan adalah ingin mengasah secara dalam dan mantap poin-poin dalam tipe ini yang juga ada dalam diri saya. Saya menyadari bahwa masih belum cukup bagi saya untuk menemukan jati diri. Akan tetapi, suatu perkembangan yang membanggakan bagi saya akhir-akhir ini adalah kesesuaian antara kenyataan yang dialami dalam hidup sehari-hari dengan apa yang ada dalam diri saya. Hal ini justru dibantu ketika saya mereflkesikan tipe VI.
Selain itu, adanya keterbukaan untuk menerima kritikan dari teman-teman dan para formator. Bagi saya teman-teman dan para formator adalah orang tua yang terdekat yang setiap saat saya boleh mengalami bimbingan dan penyertaan. Di samping tanpa ragu dan segan saya meminta bantuan dan campur tangan mereka dalam tugas/dalam hal apapun. Maka bentuk kritikan atau nasehat bagi saat itu merupakan hal yang wajar, di mana dalam keluarga saya sendiri, juga pernah mengalami seperti itu. Kritikan bukan hal baru bagi saya. Saya selalu mengedapkan prinsip seperti ini, bahwa kritikan mereka bukan karena mereka benci, jengkel, marah, dan tidak senang dengan saya, melainkan karena mereka mencintai saya. Melihat saya sebagai anak oleh para formator, adik oleh kakak tingkat, kakak oleh adik tingkat, sebagai saudara kandung sendiri dan terlebih karena teman seperjalanan yang mempunyai tujuan sama dan pada jalan yang sama untuk memcapai persataun dengan Kristus lewat tangan Bunda Maria. Inilah yang sungguh meneguhkan saya dalam menapaki panggilan ini.
Dalam hal pengembangkan diri, potensi-potensi yang ada, saya sadar bahwa saya tidak mempunyai talenta yang betul-betul dapat memberikan sesuatu yang berarti dalam komunitas ini. Dengan kata lain, saya tidak mempunyai keahlian kusus/bakat yang sungguh saya miliki. Namun, itu bukan berarti bahwa saya tidak memberikan warna lain dalam kehidupan bersama. Kerjasama adalah bentuk partisipasi saya terhadap teman. Kendatipun tidak seberapa nilainya, namun itulah sumbangan saya dalam kehidupan bersama.
Keterbatasan dan kekurangan yang saya miliki, saya yakin ini semua diatur oleh Tuhan dan Tuhan yang maha adil telah mencurahkan rahmat-Nya sesuai dengan kemampuan masing masing pribadi. Bagi saya kekayaan adalah kekuranganku. Dalam kekurangan ini saya ingin mempersembahkan diri secara total ke dalam tangan Tuhan. Biarlah Dia sendiri yang bekerja dalam diri ini.
Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari? Saya merasa banggga dengan teman yang mempunyai banyak bakat. Hati ini ingin agar paling kurang bisa mengerjakan yang jauh lebih buruk dari buruknya pekerjaan mereka. Ada kemauan untuk mengembangkan, tetapi seringkali terbentur dengan keterbatasan ini. Lalu apakah saya hanya pasif? Keterlibatan dalam kerjasama adalah sumbangan berarti menurut saya yang mungkin bagi orang lain itu tidak berarti sama sekali. Dalam tugas yang saya embankan, di sanalah saya mempersembahkan diri, dan mengekpresikan diri secara total. Sebuah persembahan dari kekurangan. Berhadapan dengan hal ini, saya tidak pernah merasa minder dengan teman-teman yang mempunyai banyak talenta. Malahan banyak hal yang dapat saya pelajari dari kepribadian mereka. Salah satunya adalah adanya dorongan untuk mengembangkan apa yang ada.

V. Penghayatan terhadap Kaul-Kaul Kebiaraan
a. Kaul Kemurnian.
Pilihan nilai religius sebagai suatu bentuk hidup mengugkapkan hidup ”hanya pada Allah”, suatu persembahan tanpa syarat kepadanya. Dalam penghayatan kaul kemurnian ini, hanya satu hal saja yang saya kehendaki yakni Kristus. Kaul kemurnian yang saya ikrarkan sebagai bentuk jawaban saya atas Cinta Allah. Dengan kata lain, hanya satu motivasi yakni ingin menjadi pengikut-Nya yang sejati.
Bagaimana dengan motivasi? Keinginan untuk menjadi imam Montfortan adalah impian terdalam saya. Keinginan ini terungkap dalam kesetiaan terhadap janji kaul kemurnian yang saya ikrarkan. Menjaganya dengan hati yang bebas, tanpa dipaksa oleh orang lain. Contohnya dalam pergaulan dengan orang-orang di luar komunitas saya selalu menjaga status saya sebagai seorang biarawan, menjaga jarak dalam pergaulan dengan lawan jenis. Lewat kaul kemurnian ini saya ingin mempersembahkan dan membaktikan diri secara penuh kepada Tuhan. Hanya satu saja yang hendak saya capai yakni Kristus. Akan tetapi, saya sadari bahwa begitu banyak tawaran dunia yang menggiurkan. Tawaran-tawaran yang seakan-akan menuntut saya untuk mengikuti tren, perubahan zaman dan gaya zaman sekarang. Dalam menyingkapi terhadap tawaran-tawaran dunia ini, lantas saya bertanya dalam hati: apakah jalan hidup yang sedang saya jalani dan pilih ini bertentangan dengan realitas yang tengah terjadi dan berlangsung sekarang ini? Dan apakah saya dibilang ketinggalan zaman? Jawaban yang saya temukan adalah tidak. Sama sekali tidak bertentangan dengan zaman. Terhadap pertanyaan di atas saya berani mengatakan ini soal pilihan hidup. Pilihan hidup yang tidak ditentukan oleh perkembangan zaman/oleh orang lain. Pilihan hidup yang lahir dari suatu kesadaran pribadi dan kesadaran pribadi inilah yang mendorong sehingga saya berani mengikrarkan dan menghayati kaul-kaul kebiaraan terutama kaul kemurnian.
Saya terinspirasi dari ungkapan seorang kudus yang mengatakan: ”janganlah engkau mengharapkan untuk memiliki dunia, karena dunia bukan milikimu.” Kata-katanya ini sungguh menarik dan menyentuh hati saya. Di samping menarik dan menyentuh juga menantang. Menantang karena apakah saya mampu menghayati kaul kemurnian di tengah realita dan zaman ini? Sebagai manusia saya sadari dan akui bahwa ada juga keinginan dan hasrat untuk mengalami seperti yang dialami oleh orang-orang yang tidak menempuh jalan kusus seperti ini. Dunia saya ini seolah-olah berbeda dunia orang yang bukan biarawan. Namun, di balik ungkapan ini, tersirat suatu makna yang mendalam, menguatkan dan meneguhkan bagi saya yakni tawaran-tawaran dunia menjadi tidak berarti apa-apa sekalipun baik dan indah, ketika saya hanya memiliki Yesus dalam hidup dan hidup bersatu dengan-Nya.
b. Kaul Kemiskinan.
Seluruh hidup Yesus selalu menggambarkan dinamika hidup religius. Hidup Yesus telah menunujukan kemiskinan Bapa-Nya. Ia hadir dalam diri seorang perawan yang sederhana, di dalam kemiskinan material, keterbatasan fasilitas, dalam kensunyian, kesendirian, keterpencilan. Ini semua mau mengungkapkan nilai-nilai kemiskinan. Ia meninggalkan rasa aman untuk memperkaya yang miskin tanpa minta balasan. Keopda para rasul Ia mengajarkan kesederhanaan (Luk. 9:57-58), jangan kwatir akan hidup kita ( Mat.6: 25-34). Penyerahan diri-Nya sampai wafat di kayu salib adalah puncak kemiskinan yang Ia nyatakan kepada orang lemah, miskin dan tak berdaya.
Bagaimana dengan saya? Bagi saya kemiskinan bukan berarti tidak memiliki barang melainkan suatu sikap yang tumbuh dari suatu relasi antara saya dan Tuhan. Relasi yang mempersatukan kemiskinan harta rohani saya dengan kelimpahan harta surgawi-Nya. Hal ini saya sadari di mana Tuhan telah mengambil inisiatif untuk mengasihiku lewat pemberian diri-Nya yang nyata dalam diri Yesus Kristus putera-Nya. Tuntutan di sini bagi saya adalah sikap penyerahan dan pemberian diri sepenunhya untuk dibimbing dan dikasihi-Nya. Ini sungguh saya hayati dalam pembaktian diri yang diucapkan setiap hari. Lewat pembaktian diri ini saya ingin mepersembahkan kemiskinan saya untuk mencapai kepenuhan di dalam Dia, karena hanya dalam Dia-lah sumber dari segala kepenuhan. Dalam penyerahan diri lewat tangan Bunda Maria saya mengenal arti kemiskinan sebagai makluk di hadapan Tuhan sekaligus mengenal kekayaan yang dimiliki Kristus dalam diri Maria.
Kemiskinan bagi saya adalah pembebasan. Pembebasan diri dari ketergantungan yang berlebihan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, teman dan sahabat. Sehingga kaul kemiskinan yang saya hayati selama ini adalah suatu bentuk kesaksian dan tanda akan nilai yang dalam dan lebih tinggi yakni Yesus Kristus. St. Montfort menggambarkan cinta Yesus dengan suatu ungkapan yang menarik: Aku mengasihi mereka yang sengsara dan menderita. Mereka yang menjadi terakir, bagi-Ku adalah yang pertama. Mereka yang miskin adalah saudara-saudara-Ku (Kid. 108:3). Hal konkret yang dapat saya alami adalah dengan mengunjungi orang miskin. Memberikan sesuatu kepada pengemis di jalan.
Lewat injil saya belajar untuk memandang Allah sebagai yang tertinggi, kebaikan yang mutlak, yang maha kuasa yang dapat memenuhi kebutuhan saya setiap hari dan pada masa yang akan datang. St. Montfort juga mengajarkan bahwa barang-barang lain yang berharga menjadi relatif, simbolis dan sebagai pelengkap/sarana untuk sampai pada Allah. Maka dengan penuh keyakinan bahwa penyerahan diri pada Allah akan memperoleh buah-buah roh seperti pengampunan, rahmat, pengetahuan, kebijaksaan, kebajikan. Inilah harta sejati masih terus kucapai.
Hidup St. Montfort menurut saya sangat radikal. Dengan total ia menghayati arti kemiskinan. Kemiskinan bukan hanya soal materi, melainkan kemiskinan untuk menghampakan diri pada Allah semata ”Deo Soli.” Luar biasa penghayatan kemiskinannya. Dalam hidupnya ia tidak hanya mengajarkan orang untuk hidup dari penyelanggaraan Allah, tetapi juga ia sungguh menjadi miskin dan bahkan menjadi miskin di antara yang miskin. Hidup dan dirinya telah menunjukan kemiskinan. Dalam diri orang-orang yang ia layani, ia menemukan Yesus yang miskin.
Bagaimana dengan penghayatan saya selama ini? Saya kadang bertanya dalam hati, apakah masih cocok penghayatan kemiskinan di tengah segalanya telah tersedia oleh serikat? Segala fasilitas terjamin, makan-minum, tempat tinggal nyaman. Pertanyaan ini lahir manakala mata saya terbuka dengan melihat realitas, di mana banyak orang yang sungguh-sungguh miskin, mendapat sesuap nasi saja setengah mati, tempat tinggal yang sangat menyedihkan. (Jujur saja ketika saya berada di Flores saya belum sungguh melihat orang miskin seperti yang ada di jawa. Berhadapan dengan kenyataan ini, adalah suatu tantangan besar bagi saya dalam menghayati kemiskinan. Saya membawa pengalaman ini ke dalam diri saya.) Lalu apa bentuk partisipasi saya? Mendoakan bagi orang miskin, mungkin itulah yang dapat saya persembahkan bagi mereka. Dalam kaitan dengan segala fasilitas yang ada, saya disadarkan bahwa itu semua tidak menjadikan diri ini sombong, dan meninabobohkan diri. Dengan merawat, memelihara, menjaga segala apa yang ada tanapa harus menuntut untuk mendatangkan yang baru adalah bentuk solidaritas saya dengan orang miskin.
Bagi saya kemiskinan adalah sebuah sikap batin artinya saya ingin mepersembahkan sepenuhnya diri ini dalam penyelenggaran Allah. Menguburkan kecenderungan untuk terikat pada barang dan memberikan diri cuma-cuma pada Tuhan karena Ia telah memberikan kepada saya dengan cuma-cuma. Mengutip kata-kata St.Monfort: ”Bila kebijaksanaan masuk ke dalam hati seseorang, Ia membawa serta segala harta milik dan memberikan kekayaan yang tak terhingga. Bersamanya datang pula kepadaku segala harta milik dan kekayaan yang tak berhingga ada di tangan-Nya (CKA 90)”. Bentuk konkret lain penghayatan kemiskinan yang saya alami yakni dengan menshyaring kekayaan apa yang dimiliki. Dengan ”mensyaringkan kekayaan” saya diperkaya oleh yang lain. Misalnya ketika teman mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan dengan hati terbuka mengulurkan tangan untuk membantu. Dalam kemiskinan saya dipanggil untuk memberi, membagi, berkomunikasi dan bersolidaritas dengan sesama konfrater. Selain itu, dengan menerima keadaan speda apa adanya tanpa harus menuntut untuk mendapatkan yang baru. Inilah nilai-nilai kemiskinan yang saya hayati.
c. Kaul Ketaatan.
“tidaklah sukar mentaati, apabila apa yang diperintahkan itu dicintai”. Sepenggal kalimat ini telah menjadi dasar penghayatan ketaatan saya selama ini. Saya salut dengan para formator yang dengan setia mendampingi, mangarah, dan membimbing saya. Dari sikap mereka tercermin sikap ketaatan, ketaatan pada pimpinan dan lebih daripada itu yakni ketaatan kepada Tuhan yang telah mempercayai mereka sebagai perpanjangan tangan-Nya. Dalam kaul ketaatan ini saya menghayatinya sebagai sautu tanda yang dalamnya menekankan besarnya hubungan keluhuran sang pencipta dengan saya sebagai ciptaan-Nya. Hubungan keluhuran ini secara nyata saya alami dalam relasi dengan sesama konfrater. Relasi dengan sesama konfrater adalah suatu relasi yang dibangun di atas dasar yang sama yakni Yesus Kristus sendiri. Dan di atas dasar ini saya sebagai seorang religus memperlihatkan kepada dunia dan menolong dunia untuk secara mendalam membangun relasi dengan Tuhan.
Ketaatan bagi saya adalah mendengarkan. Mendengarkan teman saat berbicara, dan ketika menyampaikan pendapat. Mendengarkan pimpinan. Dalam hidup sehari-hari saya mengakui bahwa Kristus hadir dalam diri pemimpin. Allah bekerja melalui mereka. Allah hadir menyapa saya lewat teguran, nasehat, bimbingan mereka. Allah terlibat secara penuh dalam panggilan saya yang nyata lewat pengabdian yang total para formator. Dukungan teman-teman seperjalanan juga menunjukan betapa Allah mencintai dan bersahabat dengan saya. Dalam menghadapi kesulitan, peroalan dan sakit, teman seperjalananlah yang pertama saya boleh mensyharingkannya dan dari mereka pulalah pertama saya mendapat peneguhan, dan kekuatan.
Dalam komunitas ini ada sejumlah aturan yang sudah menjdai kesepakatan bersama. Karena sudah menjadi kesepakatan bersama maka yang dituntut dari saya adalah kesetiaan dan kepatuhan. Penghayatan kaul ketaatan saya dalam kontek aturan yang ada yakni aturan bukan untuk mengekang kebebasan saya melainkan agar saya semakin mendekatkan diri dengan Dia yang memanggil. Aturan yang ada mampu mengarahkan saya pada ketaatan yang total pada Tuhan. Taat pada aturan hanyalah pengejawantahan dari apa yang pernah saya ikrarkan dalam kaul ketaatan. Aturan yang ada semuanya bermaksud baik yakni agar saya tidak bertindak menurut kesenangan dan kehendak sendiri. Dengan demikian bagi saya seluruh proses pelaksanaan aturan menjadi tanda kehadiran Allah yang berwujud dalam waktu.
Ketaatan tidak terlepas juga dari kontek hidup bersama. Saya menyadari bahwa sebagi makluk sosial saya membutuhkan orang lain. Sebagai makluk sosial saya membutuhkan perhatian, sahabat, keterlibatan orang lain dalam hidup saya. Saya baru mempunyai arti ketika saya ada bersama “aku yang lain”. Diri ini tidak mempunyai arti apa-apa manakala selalu membentengi diri, tertutup, dan menarik diri dari hidup bersama. Aku yang lain adalah cerminan/gambaran diriku. Mengapa? Karena saya menyadari dan mengakui bahwa saya tak mampu menyingkapi seluruh realitas baik kekurangan maupun kelebihan dalam diri saya. Saya sungguh mengetahui kekurangan ketika apa yang tidak saya miliki, dimiliki oleh orang lain dan saya bisa mengetahui kelebihan dalam diri ini ketika apa yang saya miliki mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Saya sadari bahwa perkembangan pribadi ini banyak ditentukan dari luar diri saya. Dalam kaitan dengan ketaatan bahwa ketaatan dimaksud bukan saja menerima orang lain, tetapi ketaatan untuk membatasi diri supaya dapat memenuhi dan menuruti kodrat hidup bersama. Hal ini saya alami dan sadari dengan adanya sikap kepekaan untuk melihat dan menjawabi tuntutan hidup bersama, merelakan kepentingan diri sendiri dan minat pribadi demi tercapaianya kebaikan hidup bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar