6.13.2009

ASG

Bab I
ASAL-USUL GEREJA, KEPRIBADIAN GEREJA
DAN KODRAT TEANDRIK GEREJA

A. Asal-usul Gereja
Gereja merupakan suatu “misteri”, karena ia adalah perwujudan dan pelaksanaan pertimbangan yang mahabebas dan rahasia. Allah sejak semula memutuskan untuk mengankat manusia untuk berpartisipasi dalam hidup ilahi. “sejak semula, semua yang dipilih telah Bapa ketahui dan tentukan terlebih dahulu untuk menjadi seupa dengan citra PutraNya, supaya Ia menjadi yang sulung diantara banyak saudara(Rm 8:29). Bapa memutuskanuntuk mengumpulkan mereka yang percaya kepaa Kristus dalam Gereja Kudus. Atas dasar itu, Gereja masuk dalam misteri besar. Pelaksanaan misteri besar dan ajaib ini menuntut sebab-sebab yang memadai dan pencipta-penciptanya yang sesuai. Gereja tidak semata sebagai realitas manusiawi, sosial, politis, melainkan memiliki unsur adikodarti, transenden dan ilahi.
I. Asal-usul Transenden Gereja
1.1 Asal-usul Gereja dari Tritunggal Mahakudus
Pencipta utama Gereja adalah Allah Tritunggal. Adanya Gereja sesuai dengan rencana keselamatan yang dipikirikan Allah bagi manusia. Causa efficiens rencana keselamatan itu bukan hanya Bapa atau Putra atau Roh Kudus, melainkan ketiga Pribadi ilahi. Hal itu secara gamblang dinyatakan dalam Ad Genter 3-4. Dalam kutipan tersebut, seperti dalam kutipan-kutipan paralelnya LG2-4 dan UR tentang “genesis Gereja”, Kosili Vatikan II membedakan tiga tahap yang masing-masing dihubungkan dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, yaitu:
 Kehendak untuk menyelamatkan yang universal dihubungkan dengan BAPA
 Dan pengutusan untuk menebus dihubungan dengan PUTERA
 Dan pengutusan untuk menguduskan dihubungakn dengan ROH KUDUS
Namun hal itu tidak boleh mengaburkan kebenaran fundamental bahwa Gereja itu adalah hasil karya kolektif dan konstan ketiga pribadi ilahi;dari awalnya sampai akhirnya Gereja itu seutuhnya adalah karya Allah Tritunggal.
1.2 Asal-usul Gereja dari Yesus Kristus
Gereja yang direncanakan dan dikehendaki sejak semula oleh Allah Tritunggal Mahakudus, menerima eksistensi historisnya berkat karya Kristus. Pada genap zamanya,Kristus melaksanakan rencana Tritunggal secara lengkap dan sempurna. Dia mempertaruhkan hidupNya bagi manusia, membebaskan manusia dari dosa dan perbudakan setan; Ia mengutuskan Roh Kudus ke GerejaNya. Dengan semuanya itu, Kristus sudah melahirkan Gereja, mengembangkan serta membina Gereja. Maka pada level historis “causa efficiens’ utama Gereja adalah Kristus.
Mengapa Gereja berasal-usul dari Kristus? Kita orang beriman tahu bahwa Gereja berasal-usul pada Kristus karena identitasnya, karena apa yang dibuat-Nya, dank arena apa yang dianugerahkanNya kepada komunitas para murid-Nya.
o Identitas Yesus adalah Putra Allah yang menjadi manusia. Dalam Dia manusia dipersatukan secara pribadi dengan Allah. Kristus adalah manusia baru, “Adam Baru” dari manusia baru bahkan kepala manusia baru, umat Allah yang baru, aritnyan Gereja.
o Berkat identitas itu Yesus dapat melakukan dan melaksanakan apa yang mustahil bagi orang lain; menebus manusia, membebaskan manusia dari belenggu dosa, dan memasukan kita kedalam kehidupan ilahi.
o Karena segala sesuatu yang Yesus anugerahkan kepada manusia baru itu,umat Allah yang baru; yaitu; sakramen-sakramen, jabatan-jabatan, hokum-hukum,dan nilai-nilai, KRISTUS menjadi “causa efficiens”.
o Hubungan antara Kristus dan Gereja dianalogikan dengan hubungan antara seorang ayah dengan anaknya.
1.3 Asal-usul Gereja dari Roh Kudus
Pada tingkat sebab-sebab trnsenden asal-usul Gereja, sesudah Kristus dan atas inisistifNya, Roh Kuduslah yang tampil sebagai pencipta Gereja yang utama (bdk LG 4). Gereja dilahirkan ketika Roh Kudus tutun atas para Rasul; hanya pada waktu itulah para Rasul sadara secara defenitif bahwa mereka membentuk umat Allah yang memiliki Kristus sebagai kepalanya. Dengan perantaraan Roh itu, Bapa mengghiduypkan manusia. Roh Kudus hidup dalam Gereja, mengajarkan Gereja berdoa, membawa gereja pada semua kebenaran, dan menjaga Gereja sampai akhir zaman. Gereja membawa persatuan dalam Gereja, gereja menjadi sebuah “communnio”. Karena dilahirkan karena Roh Kudus Gereja berkembang dan bertumbuh. Roh Kudus menyempurnakan struktur-struktur, menyusun bahasa sendiri, dan menentukan simbiol-simbol. Roh Kudus adalaj jiwa Gereja.
1.4 Asal-usul Gereja dari Santa Perawam Maria
Bunda Maria menyumbangkan secara langsung dalam genesis Gereja, sebab Gereja pada embrionya dimulai pada peristiwa inkarnasi, pada saat Maria setuju pada sabda ilahi. Maria memungkinkan pendirian Gereja yang merupakan mansia yang dipersatukan dengan Kristus. Hal itu secara jelas diungkapkan oleh para Bapa Gereja dalam Bab VIII “Lumen Gentium”. Maria juga menjadi “causa efficiens” Gereja. Selain menjadi “causa efficiens” , Maria menjadi “causa exemplaris”, model dan contoh yang sempurna gereja. Juga dari segi causa finalis, Gereja tergantung pada Maria. “Bunda Maria telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwa, menjadi citra serta awal penyempurnaan Gereja di masa mendatang.
II. Asal-usul Historis Gereja
2.1 Asal-usul Gereja dari para Rasul (apostolis)
Sejak awal Yesus diiringi oleh suatu kelompok kecil para murid-Nya. Mereka dipilih untuk diserahi tugas sebagai fundasi Gereja atau umat Allah yang baru. Matius menyebut dalam injilnya nam-nama kedua belas murid Yesus. Para rasul itu bukan hanya murid-murid yang pertama, melainkan mereka yang Ia kehendaki mendampingiNya untuk mengajar dan membimbing umat Allah yang baru. Mereka diserahi tugas khusus, mereka diberi otoritas untuk mengajar. Oleh karena itu, para Rasul mendapat kedudukan yang istimewa dalam Gereja. Para Rasul adalah pemula-pemula dan fondasi Gereja.Para rasul menjadi “causa efficiens” dalam hidup Gereja. Selain itu, para Rasul juga menjadi “causa exemplaris” Gereja. Iman Gereja akan kristus, cinta kasih satu sama lain,sukacita penebusan, harapan akan kedatangan Kerajaan Allah melewati pengalaman para Rasul. Maka jelas bahwa keapostilikan itu merupakan suatu struktur Gereja itu sendiri.
2.2 Asal-usul Gereja yang Sosial
Gereja sebagai sebuah institusi yang eksis di tengah dunia tentu memiliki aspek-aspek social. Prinsip-prinsip sosial berlaku juga bagi Gereja. Sesungguhnya umat Allah yang baru yaitu Gereja merupakan suatu realitas yang nyata dan kelihatan. Umat ini terbentuk oleh para pengikut Kristus yang menerima doktrin, ritus-ritus, struktur, hokum-hukum serta nilai-nilai. Ada beberapa implikasi dari asal-usul Gereja yang social ini;
 Gereja pada hakikatnya adalah social. Gereja merupakan suatu tubuh yang hidup, suatu “civitas” yang tersusun dengan baik, suatu ‘domus” yang amatfungsional dimana tiap bagian berhubungan satu dengan yang lain.
 Gereja itu adalah social dalam asal-usul dan pengembanganya, sebaik baik asal usul maupun pengembanganya tergantung pada kerjasama antara anggota.
 Gereja juga sosial dalam tujuanya, karena mempunyai tujuan untuk menginkorporasikan seluruh umat manusia dalam Kristus.
2.3 Asal usul Gereja dari Kaum Awam
Kaum awam merupakan unsur yang menjelaskan aspek historis Gereja dan unsur imanen Gereja. Awam (yang artinya umat) adalah mereka yang berkat asal usul serta hakikatnya yang terutama adikodrati, berbeda dengan semua umat yang lain. Dengan demikian,istilah “awam” menunjukkan hakikat Gereja sendiri yaitu umat Allah. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan,, dalam kaitanya dengan kaum awam ini;
o Di dalam Gereja, hirarki itu melayani kaum awam dan bukan sebaliknya.
o Apa yang terjadi dalam Gereja adalah juga tanggung jawab kaum awam. Sebab sakramen keselamatan itu, kelihatan serta effisien lewat kehadiran serta keterlibatan semua orang Kristen.
B. Kepribadian Gereja
Istlah “pribadi” tidak dikenal oleh Kitab Suci. Istila ini baru muncul dalam kesusastraan patrisktik. Istilah “pribadi” diartikan sebagai sesuatu keberadaan yang lengkap, otonom, unik, dan berakal budi. Dalam perkembangannya, istilah ini diberikan juga kepada Gereja. Apa arti istilah “pribadi” bila dikenakan pada Gereja? Siapa yang memberikan istilah itu kepada Gereja? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dengan bertolak pada kitab suci dan tafsiran teologis.
1. Ajaran Kitab Suci
 Berbicara tentang Gereja, Kitab Suci mempergunakan beberapa istilah,misalnya “tubuh’, ‘populus’, “ekklesia”, yang menunjuk pada suatu realitas social yang istimewa sekali. Asal usul uamt atau Gereja bukan dari motivasi ekonomi, bahasa, social atau politis, melainkan dari inisiatif ilahi yaitu panggilan Putera Allah dan jawaban manusia untuk mengikuti Dia lewat pengakuan akan ke-AllahanNya.
 Berbicara tentang Gereja, rasul Paulus amat sering menggunakan ungkapan”tubuh” (soma) atau”tubuh Kristus”. Dalam ungkapan “tubuh Kristus”, subjek yang sebenarnya adalah Kristus. Dia-lah yang memiliki tubuhNya. Prinsip ontologis kesatuan umat beriman, dan prinsip”inkorporasi mereka adalah Kristus.
 Paulus menyebut gereja sebagai “tubuh Kristus” bukan arti Yunani melainkan dalam arti semitis. Oleh karena itu dengan menyatakan gereja sebagai”tubuh Kristus”, Paulus menekankan bahwa orang Kristen atau umat beriman menjadi milik Kristus secara ontologism dan bukan hanya secara Yuridis.
2. Tafsiran Teologis
Selain sebagai tubuh mistik Kristus Gereja juga disebut “pribadi”, namun bukan dalam arti yuridis melainkan dalam arti ontologis. Namun fondasi ontologism apakah yang mendasari kepribadian Gereja? Fundasi ontologism Gereja terletak dalam level kualitas. Lebih dari itu, fondasi ontologism Gereja adalah “rahmat Kristus”. Rahmat Kristus menghidupi seluruh anggota Gereja dan membuat mereka berkembang. Ada tiga fungsi rahmat Kristus yaitu biologis, egemonis, dan arsitekturis. Berhubungan dengan adanya satu jiwa, karena adanya satu rahmat Kristus. Fondasi ontologism Gereja yaitu pada rahmat Kristus menuntut sebuah upaya identifikasi dengan jiwa Kristus sendiri.
C. Kodrat Teandrik Gereja
Gereja memiliki kodrat yang kompleks artinya Gereja memiliki dua kodrat yaitu unsur manusia dan unsur ilahi. Unsur manusia terletak dalam kelompok sosial yang membentuk Gereja yaitu manusia-manusia. Sedangkan unsur ilahi yaitu bahwa Gereja pada dasarnya didasarkan pada realitas-realitas ilahi yaitu Allah Tritunggal dan rahmat-rahmat yang mengalir daripada-Nya. Kodrat teandrik Gereja dianalogikan dengan dua kodrat Kristus. Karena teandrik adanya, maka juga Gereja bertindak seperti Kristus, yaitu menjalankan kegiatan-kegiatan yang adalah serentak manusiawi dan ilahi.
1. Dimensi Ilahi dan Triniter
Gereja itu ilahi dan Triniter. Hal ini dapat disebut, Karen Gereja memiliki hubungan ekstrintik maupun intrinsik dengan Tritunggal.Gereja adalah triniter secara ekstrintik karena dikehendaki dan direncanakan oleh Allah sejak kekal dan diwujudkan oleh Putra Allah, Yesus Kristus setelah genap waktunya. Gereja adalah ilahi secara intrinsic, karena pribadi-pribadi ilahi termasuk di dalamnya. Sesungguhnya yang termasuk di dalam Gereja bukan hanya mereka yang percaya kepada Kristus, yang menyembah Allah dan berseru kepada Roh Kudus, melainkan juga Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Bdk. 1Yoh1:3).
2. Dimensi Manusiawi
Gereja itu manusiawi karena terdiri atas diri manusia dan diperuntukan bagi manusia. Namun sifat manusiawi Gereja lebih berkenan dengan dimensi sosialnya daripada dengan pribadi-pribadi masing-masing (bdk LG, 9). Dimensi manusiawi hadir dalam Gereja beserta segala sesuatu yag dimiliki manusia, unsure rohani dan jasmani, kesenian, agama, kultur, politik, sejarah, filsafat, dll. Hal ini membawa implikasi yang jelas bahwa Gereja menanggapi persoalan-persoalan social. Hal ini sangat nyata dengan munculnya teologi-teologi pembebasan yang berusaha menjawab dalam terang refleksi teologis aneka persoalan manusiawi.
3. Dimensi Historis
Dimensi historis Gereja adalah konsekuensi langsung dari aspek manusiwi Gereja. Gereja terdiri dariorang-orang yang adalah suatu realitas histories. Karena manusia itu menyejarah, yang hidup dan bergantung pada waktu. Gereja bertumbuh dan berkembang dalam waktu. Namun itu tidak berarti bahwa unsure ilahi atau kodrati tidak terlibat dalamnya. Dengan demikian kita dapat melihat bahwa Gereja itu histories karena asal usulnya, karena eksistensiinya sendiri, dan karena perkembanganya.
4. Dimensi Kultural
Sebagai umat Allah, Gereja juga memiliki kulturnya sendiri yang tidak dapat berbeda dari kultur-kultur bangsa-bangsa lain. Sesungguhnya kultur umat Allah mencakup beberapa aspek mendasar yaitu simbolis, etis, politis dan aksiologis.
o Umat Allah (Gereja) memiliki bahasa (Injil) dan ritus sendiri (sakramen-sakramen sebagai unsure simbolis.
o Gereja memiliki hukum-hukum khusus (mandatum novum) sebagai unsur etis.
o Gereja memiliki organisasi dan struktur-strukturnya (ministry; jabatan) sebagai unsure politis.
o Gereja memiliki nilai-nilai istimewa, seperti misalnya iman, harapan dan kasih sebagai unsure aksiologis.

BAB II
CIRI-CIRI HAKIKI GEREJA
(Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik)

2.1 Aku Percaya kepada Gereja
Dalam Credo kita menyebut bahwa “Aku percaya pada Gereja “ yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Apakah arti keyakinan iman ini? Apakah Gereja disamakan dengan Allah? Ketika saya mengatakan bahwa “Aku percaya akan Allah Bapa”, pada saat itu saya menerima dan mengakui apa yang diwahyukan-Nya dalam ke-Mahakuasaan-Nya. Dalam konteks inilah kita memahami keyakinan kita akan Gereja. Ketika kita mengatakan bahwa “aku percaya kepada Gereja” pada saat itu kita yakin bahwa Gereja adalah sebuah misteri. Gereja adalah sebuah elemen dalam ekonomi keselamatan yang dalamnya Allah turut berkarya.
2. 2 Satu-satunya Gereja Kristus berada dalam (subsistit in) Gereja Katolik
Paus Pius XII membela gagasan kesatuan dan keserupaan antara Tubuh mistik Kristus dengan Gereja katolik., seperti yang termuat dalam dokumen Mystic corporis (1928). Gereja Katolik Roma adalah Tubuh mistik Kristus dan hanya satu-satunya yaitu katolik Roma mempunyai hak disebut sebagai Gereja. Namun, hal ini menimbulkan banyak pertentangan. Dalam persiapan pembaharuan Gereja saat konsili Vatikan II, gagasan ini mulai dipertimbangkan lagi dan menggati the church of Christ is the catholic church menjadi the church of Christ substist in the Chatolic church. Akhirnya diakui bahwa diluar Gereja Katolik ditemukan juga elemen-elemen kebenaran dan pengudusan. Dengan ini jelas sekali bahwa Gereja katolik mengakui adanya karunia-karuni kas diluar Gereja Katolik (LG 8).
2. 3 Gereja yang satu: Persekutuan gereja-gereja
Konsili Vatikan II menggunakan istilah”Gereja-gereja” untuk Gereja ritus Timur baik yang terpisah maupun yang bersatu dengan Roma. Kesatuan Gereja Katolik dipaparkan oleh KV II saat berbicara mengenai pelayanan para imam Paroki (LG 28). KV II memaksudkan bahwa jemaat parochial adalah Gereja semesta di tempat mereka, hanya saja mereka belum utuh. LG 23 juga menyebut keberadaan pelbagai Gereja yang didirikan diberbagai tempat oleh para Rasul serta para penggati mereka yang tergabung menjadi kelompok yang mempunyai tata tertib, liturgy, warisan teologis dan rohani mereka sendiri. Gereja-gereja itu disebut sebagai Gereja Katolik ritus Timur.
Apa artinya persatuan gerejani dalam dokumen KV II? Persekutuan gerejanidi dalam Gereja Katolik disebut oleh KV II dalam LG 14. Orang katolik ada dalam persekutuan sempurna dengan Gerejanya jika:
 Menerima Roh Kudus (hidup dalam keadaan rahmat)
 Ada dalam ikatan pengakuan iman, sakramen-sakramen (persekutuan teologis)
 Ada dalam ikatan kepeimpinan gerejani (persekutuan yuridis)
 Ada dalam persekutuan (hidup dalam persekutuan komunitas)
Lalu apa artinya Gereja yang satu? Dapatkah batas Gereja Kristus yang satu diperluas mencakup juga jemaat-jemaat gerejani yang tidak menghidupi Ekaristi yang sejati dan penuh? Kongregasi Ajaran Iman menyatakan bahwaorang-orang katolik tidak seharusnya membayangkan bahwa Gereja Kristus tidak lebih dari kumpulan gereja-gereja dan jemaat-jemaat gerejani. Jemaat-jemaat gerejaniyang disatukan dalam persekutua gerejani di situ Gereja Kristus hadir secara real, namuntidak sempurna. Dalam pemahaman persekutuan teologis, yuridis, hirarkis, kehadiran Gereja Kristus secara real dan sempurna ditemukan tetap di dalam Gereja Katolik.
2.4 Gereja yang Katolik: Kesatuan Katolik Umat Allah
1. Arti istilah “katolik”
Istilah “katolik’ berasal dari kata Yunani katolikos yang berarti “merujuk keseluruhan dalam konteks universal. Kata sudah digunakan oleh Iganitius dari Antiokia dalam suratnya kepada umat di Smyrna. Kata Katolik ini bukan dalam arti universal secara geografis, melainkan kesatuan dan ketiadabandingan; menjadi katolik berarti menjadi satu Gereja seluruh dunia. Kehidupan Yesus selama berada di dunia ini juga menghadirkan dimensi universalitas dari Gereja. Yesus hadir untuk semua orang tanpa kecuali. Hal ini tentu membawa konsekuensinya yaitu bahwa kekatolikan berarti karunia dan tugas.
Konsili Vatikan II lewat dokumen LG no. 13 menegaskan dimensi Trinitaris dari kekatolikan itu. Kekatolikan berarti penerimaan semua ras, bangsa dan bahasa. Kekatolikan berarti bhineka tunggal ika. Gagasan mengenai sifat kekatolikan Gereja ini, tentu mendorong Gereja untuk merenungkan pemahamananya mengenai orang-orang katolik sendiri, orang-orang Kristen yang lain, dan orang yang bukan krsitiani.
2.5 Kekudusan Gereja; Gereja ditandai oleh kekudusan yang sesungguhnya meskipun tidak sempurna (LG 48)
Keyakinan bahwa Gereja ditandai oleh kesucian yang sesungguhnya menegaskan sifat eskatologis Gereja. Dan keyakinan bahwa kekudusanya tidak sempurna adalah konsekuensi dari keberadaanya sebagai Gereja peziarah. Ada tiga hal yang merefleksikan kekudusan Gereja:
 Gereja adalah kudus karena kekudusan elemen-elemen pembentuknya
 Gereja adalah kudus karena kekudusan mereka yang dikuduskan oleh Allah
 Gereja adalah kudus karena Rahmat dan Keutamaan
Mengapa Gereja tidak kehilangan kekudusanya? Ada beberapa alasan yang membuat kekudusan tidak dapat hilang:
• Kekudusan Gereja adalah buah dari penebusan Kristus
• Kristus menyatu-ragakan Gereja sebagai mempelainya
• Kristus mengaruniakan rahmat Roh Kudus
2. 6 Apostolisitas Gereja
Keapostolikan gereja berarti segala sesuatu yang dimilikinyasecara hakik yaitu umat Allah yang baru diturunkan langsung oleh para rasul, lewat suatu kontinuitas suksesi dan tradisi yang sah. Hal itu secara gamlang ditegaskan oleh Konsili dalam LG 20. keapostolikan itu dapat dilihat dalam berbagai aspek; historis, teologis dan antropologis.

BAB III
MISTERI ESKATOLOGIS GEREJA:
(Kerajaan Allah dan Gereja)

Konsili Vatikan II menggunakan seluruh Bab VII konstitusi “Lumen Gentium” guna membahas doktrin katolik tentang sifat eskatologis Gereja. Yang sangat ditekankan adalah hubungan Gereja dengan Kerajaan Allah. Gereja adalah eskatologis karena kodratnya sendiri.Gereja mempunyai hubungan yang erat sekali dengan rencana keselamatan Allah. Hal itu dapat kita lihat pada LG 48; pertama; Gereja merealisasikan sekarang juga rencana keselamatan Allah; Gereja merupakan permulaan kerajaan, Gereja adalah tubuh mistik Kristus. Kedua; Gereja tertuju seluruhnya kepada kepenuhannya yang sempurna di surga, pada akhir zaman.
3.1 Eskatologi dalam Eksegese akhir-akhir ini
Eskatologi dapat dibedakan bermacam-macam; namun yang penting untuk dibedakan adalah;
• Eskatologi “in actu” apabila realitas terakhir sudah tercapai (misalnya dalam Gereja Jaya).
• Eskatologi “in potential” apabila realitas terakhir belum mulai dan sedang dinantikan (misalnya sebelum kedatangan Kristus)
• Eskatologi “in divinere’ apabila realitas terakhir sedang direalisasikan, tetapi kepenuhanya belum tercapai (misalnya, dalam Gereja Musafir).
Dalam ilmu eksegese dewasa ini, tema eskatologi ini sangat menarik begitu banyak orang untuk mendalaminya,misalnya Schwizer, Bultman, Culmann. Dan Moltman- lah yang merintisnya lewat karyanya “Teologi Pengharapan”. Moltman mendasari bangunan teologis pada dua hal yaitu:
o Prinsip Eskatologis sebagai prinsip arsilektis. Prinsip eskatologis menegaskan bahwa eskatologis itu bukan suatu aksesori atau sesuatu yang kurang relevan, melainkan menjadi nucleus atau sentral pewartaan Kristen.
o Prinsip Elpidis atau prinsip pengharapan sebagai prinsip hermeneutis. Prinsip Elpidis menyatakan bahwa manusia modernterarah seluruhnya kepada manusia mendatang dan oleh karena itu adalah manusia yang berpengharapan.
3.2 Pengaruh Eskatologi terhadap Eklesiologi
Teolog-teolog yang paling mempergunakan eskatologi dalam membahas eklesiologi adalah Hans Kungdan karl Rahner. Menurut Hans Kung,Gereja tercakup dalam realitas terakhir (eschaton) yang masuk kedalam sejarah dengan inkarnasi Putra Allah. Akan tetapi Kung menambahkan juga bahwa di satu pihak dari Perjanjian Baru, nampak jelas bahwa Gereja tercakup dalam realitas terakhir, dilain pihak nampak pula bahwa Gereja tidak identik dengan realitas terakhir itu, sebab realitas terakhir itu adalah kerajaan Allah yang emncakup seluruh dunia dan seluruh umat manusia. Karl Rahner sependapat dengan pembedaan antara Gereja dan Kerajaan Allah dan berdasarkan perbedaan tersebut dia mengembangkan suatu gamar Gereja yang sangat dinamis. Rahner tidak setuju dengan pendapat bahwa dimensi histories dapat dikenakan hanya kepada anggota-anggotanya dan bukan kepada Gereja itun sendiri. Rahner tidak meragukan bahwa Gereja memiliki juga unsure yang stabil dan kekal dalam sejarah, akan tetapi unsure yang kekal dan tak dapat binasa itu gereja miliki dalams suatu bentuk histories yang autentik dan real. Dalam sifat eskatologis, Gereja memperoleh bukan hanya alas an untuk memperbahurui diri, melainkan suatu criteria yang kuat untuk menguji dan menilai berbagai rencana pembaharuan, pembangunan dan perubahan masyarakat yang disusun oleh penguasa dunia
3.3 Gereja itu Sakramen dan Permulaan Kerajaan Allah
Pemahaman diri Gereja ini dapat kita gali dari pemikiran Cultman, Moltman, Kung dan Rahner yaitu;
 Yesus Kristus adalah eskathon itu, yaitu pelaksanaan radikal dari realitas terkahir yang dikehendaki Allah bagi manusia. Dengan Dia kerajaan Allah masuk dalam dunia ini; hadir secara aktif dalam sejarah.
 Sebagai umat Allah dan tubuh Kristus, Gereja termasuk dalam realitas terkahir itu walaupun tidak sama dengannya. Realitas eskatologis adalah Allah yang meraja di seluruh duniadan di seluruh umat manusia. Kerajaan ini dimulai dengan kerajaan Kristus, yaitu dengan kelompok murid yang telah menerima InjilNya dan percaya akan Dia dalam perutusanya.
 Perbedaaan antara Gereja dan Kerajaan Alla termasuk baru. Hal itu sangat nyata dalam pandangan Konsili Vatikan II yaitu; pertama: Gereja menjadi benih serta awal kerjaan ini di bumi (LG 5), kedua: Umat Mesias yaitu Gereja mempunyai tujuan Kerajaan Allah yang telah dumulai oleh Allah sendiri di bumi ini, dan yang harus diperluas selanjutnya, sampai akan disempurnakan oleh-Nya sendiri pad akhir zaman. Ketiga; kerajaan Allah itu adalah realitas terakhir dalam aktualisasinya yang sempurna dan defenitif. Dengan demikian kita dapat peran sacramental dari Gereja dalam menghadirkan Kerajaan Allah itu.
3.4 Kerajaan dan Kebudayaan Cinta Kasih.
Gereja itu terdiri atas umat manusia yang berkat karya Kristus dan kegiatan Roh Kudus sudah berpegang pada prinsip-prinsip kultural Kerajaan Allah. Pada masa ini Gereja dipanggil untuk menunai tugasnya pada tingkat kultur; tugas mesias, tuas soteriologis, tugas sacramental dan tugas misi. Pada tingkat kultur, Gereja masa sekarang diberikan suatu kesempatan yang luar biasa untuk memenuhi kekosongan cultural yang dialami umat manusia karena kehilangan identitas cultural. Berkat dimensi eskatologisnya, gereja memiliki prinsip-prinsip kultual kerajaan Allah serta sunggup membantu manusia meletakan dasar suatu kulutr “sekosmos” yang memperhatikan semua nilai fundamental yang diperlukan oleh manusia. Kultur baru yang Gereja maksudkan adalah menawarkan kepada umat manusia cinta kasih. Agama Kristen mendasari pandanganya pada kebenaran bahwa “Allah adalah Kasih” (I Yoh 4;8).






BAB IV
GEREJA SAKRAMEN SEBAGAI
KESELAMATAN UNIVERSAL

4. 1 Gereja sebagai Sakramen dalam Eklesiologi Dewasa ini
Gagasan Gereja sebagai sakramen muncul pada abad XIX berkat karya beberapateolog dari Jerman. Namun dapat kita katakan bahwa Otto Semmelroth pada abad ini adalah teolog yang menyebarkan gagasan dan istilah sakramental. Semmelroth menggarisbawahi beberapa fungsi sakramental Gereja yaitu:
o Aspek personal dari fungsi sakrammental;ia menegaskan bahwa dalam ruang lingkup iman, fungsi tanda itu bukan hanya gnesilogis, melainkan juga eksistensialis. Dengan kata lain, tanda itu itu bukan hanya sekadar menarikperhatian terhadap suatu realitas yang tidak kelihatan, melainkan suatu himbauan untuk melekat pada dan memeluk apa yang ditandai.
o Aspek dogmatik berkenan denganarti ungkapan “extra ecclesia nulla salus”. Ungkapan dilihatnya secara positif, yaitu bahwa perlunya Gereja untuk keselamatan, terutama terdiri atas fakta bahwa gereja kelihatan merupakan tanda yangditawarkan kepada manusia.
o Dalam sakramentalitas Gereja termasuk bukan hanya ketujuh sakramen yang ditetapkan Yesus Kristus, melainkan juga Sabda Allah dan struktur-struktur gereja itu sendiri, karena mereka ini menampakan jaminan dan himbauan Allah yang hendak menyelamatkan manusia.
o Melalui kategori sakramentalitas, Semmlroth menerangkan dengan baik kesatuan, pebedaan serta komplementeritas kedua unsur realitas Gereja; kelihatan dan tak kelihatan, interior dan eksterior, institusional dan karismatis, kodrati dan adikodrati.
4.2 “Sakramentalitas” Keselamatan
Berkaitan dengan tema ini, kita dapat bertanya; mengapa Allah menghendaki bahwa karya keselamatanNya mempunyai struktur sacramental? Sebab-sebabnya harus dicari dalam dimens somatik dan sosio-politis. Kodrat manusia terdiri dari roh dan zat, dan manusia berhubungan dengan dunia roh melalui dunia zat. Manusia juga adalah mahluk social-politis yanghidupdan merealisasikan diri dalam berkomunikasi dengan orang lain. Gagasan sakramentalitas justru sesuai dengan kedua tuntutan tersebut, artinya tuntutan somatis dan tuntutan sosio-politis.
Hal yang perlu mendapat penekan adalah sesungguhya Kristuslah aktualisasi keselamatan kita, komunikasi kita dengan Allah, Allah yang menjelma menjadi manusia, Kristus menyatakan dan mengaktualkan misteri yang luar biasa ini. Menurut St. Thomas ada tiga fungsi sakramen:
 Sakramen adalah tanda yang mengenangkan yang lampau yaitu wafat Kristus.
 Tanda yang menunjukkan buah yang dalam diri kita dihasilkan sengsara-Nya, yaitu rahmat;
 Tanda kenabian atau yang mewartakan kemuliaan yang akan datang.
Ketiga fungsi itu dijalankan secara unggul oleh Gereja, yaitu oleh komunitas; yang memelihara kenangan akan Kristus, yang meneruskan karya keselamatan yang dimulai oleh Kristus, dan yang mewartakan serta membuat Gereja mencicipi kedatangan Kerjaan Allah.
4.3 Umat Allah: Martabatnya dan fungsi-fungsinya yang menyelamatkan
Kristus adalah sakramen awal, pertama dan terutama keselamatan. Dari Kristus sebagaimana dari sumber, keselamatan kepada semua bangsa lewat suatu kanal yaitu Gereja. Dalam perspektif sakramentalitas, mudah memahami doktrin tentang tugas imam, nabi, dan raja. Dalam Perjanjian lama, ketiga tugas itu merupakan tugas keramat yang diterima melalui pengurapan suci. Ketiga tugas itu menjalanakan fungsi-fungsi soteriologis. Dalam Perjanjian Baru, pemegang paling pantas dan sah ketiga tugas tersebut adalah Putra Allah. Yesus Kristus menjalankan tiga tugas tersebut;
• Nabi yang mewartakan kedatangan Kerajaan Allah
• Imam yang mempersembahkan diri sendiri,kurban tak bernoda, di kayu Salib bagi seluruh umat manusia.
• Raja dari umat allah yang baru, kepala Gereja,dan Gembala yang baik.
Umat Allah yang baru menjadi ahli waris langsung ketiga fungsi mesias (imam, nabi dan raja). Mereka menjalankan tiga fungsi tersebut secara kolektif dan individual.
4. 4 Sakramentalitas Gereja
1. Tata Sakramentalitas Gereja
Tata keselamatan adalah rangkaian jalan insani yang dipilih Allah untuk menyatukan kemanusiaan yang cacat karena dosa dengan diriNya. Allah memilih jalan inkarnasi Putra Allah dalam diri Yesus Kristus. Tata keselamatan ini bernilai sakramental karena keberadaanya dalam perjalanan sejarah manusia menjadi sarana insani tempat berlangsungnya sejarah atau karya ilahi. Gereja mempunyai nilai sakramental karena Gereja adalah tanda dan sarana rahmat ilahi dalam tata keselamatan yang dilembagakan Allah dengan inkarnasi Putra-Nya.
2. Sakramen Keselamatan Universal
Keberadaan Gereja dalam tata keselamatan menjadikanya sebagai tanda kepenuhan karya keselamatan yang dikerjakan Allah di dunia dan membuatnya terlibat dalam karya itu. Kehadiran Gereja sebagai tanda keselamatan mempunyai beberapa dimensi pokok;
 Pesan Rekonsiliasi; Allah menawarkan perdamaian dan rahimnya bagi kemanusiaan yang cacat karena dosa.
 Kehadiran Jemaat kristiani sebagai buah rekonsiliasi antara Allah dan manusia. Persekutuan Gereja mennjadi tanda adanya perdamaian dan keadilan.
 Kekudusan Jemaat kristiani dengan landasan asas kasih. Hal itu secara sangat jelas dinyatakan oleh Yesus sendiri.
3. Gereja sebagai Instrumen Keselamatan
Keselamatan selalu merupakan buah rahmat Yesus Kristus yang ditawarkan dan digelorakan dalam hati manusia oleh Roh Kudus. Sarana insani dalam rupa keberadaan Gereja membuahkan keselamatan bagi manusia yang dilayaninya. Namun, dalam kompleksitas tat kehidupan, rentang pelayanan Gereja tak mampu menjangkau semua umat manusia. Gereja mendorong para putranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberikan kesaksian tentang iman serta peri hidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta kekayaan rohani dan moral dan nilai-nilai sosial budaya. (NA 2).
4. Kekatolikan sebagai Motif Evangelisasi
Gereja tidak membatasi layanan rohaninya hanya dikalangan jemaat kristiani. Kekatolikan Gereja dalam saat bersamaan adalah rahmat namun sekaligus mandate (LG 13). Gereja tidak boleh mengendorkan usahanya untuk hadir sebagai suatu komunitas kristiani yang hidup dan tampil menjadi saksi Kristus dihadapan semua orang melalui teladan hidup sehari-hari.
LG menyatakan bahwa Gereja itu dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia (LG 1).

BAB V
PERSEKUTUAN UMAT ALLAH

5. 1 Misteri Persekutuan
Konsili Vatikan II merefleksikan karya Roh Kudus di dalam Gereja dengan menggunakan juga gagasan communio, yang sangat disukai oleh Kitab Suci dan para Bapa Gereja, tetapi agak diabaikan oleh eklesiologi masa modern sebelum Konsili Vatikan II. Ada beberapa unsur communio:
A. Communio: Persekutuan Allah dengan Manusia
Gagasan communio terletak pada hati pengertian Gereja tentang dirinya; sebagai misteri persatuan personal setiap insan dengan Tritunggal ilahi dan dengan orang lain. Persatuan ini dilmulai oleh iman dan terarah kepada kepenuhan eskatologis dalam Gereja surgawi. Pada dasarnya gagasan communio itu berarti persekutuan dengan Allah, (bdk LG 2). Tujuan persekutuan itu adalah menciptakan manusia dengan tujuan agar ia dapat memperoleh kebahagian dalam kommunio Allah Tritunggal sendiri; dalam hal ini Gereja menjadi tanda dan sarana tercapainya tujuan itu. Communio inilah yang merupkan tujuan universal seluruh sejarah umat manusia, terlaksana secara istimewa dalam pribadiYesus Kristus. Yesus Kristus adalah pengantara. Komunio antara Allah dan manusia yang diciptkan oleh Yesus Kristus dalam hidupNya yang unik dan historis konkret, dilanjutkan oleh Roh Kudus yang berdiam dalam hati setiap orang beriman.
Suatu hal yang menarik dalam eklesiologi KV II adalah refleksi tentang Gereja sebagaisuatu realitas yang kompleks yang terdiri dari unsur manusiawi dan unsur ilahi. Communio ini dapat kita lihat sebagai communio eklesial karena di dalamnya Gereja bersatu dalam persekutuan dengan semua orang beriman. Dimana setiap orang beriman dimasukan melalui iman dan permandian, berakar dan berpusat pada Kristus.
B. Communio: Gereja Universal dan Gereja Partikular
Dalam bagian kita mau melihat communio dengan mana Gereja-Gereja katolik partikular merupakan Gereja katolik yang satu. Karena itu beberapa poin yang harus dilihat:
 Tanda kelihatan bahwa “semua paroki keuskupan tertentu membentuk suatu Gereja katolik partikular, yang mana pastor paroki yang bersangkutan berada dalam communio penuh dengan uskupnya.
 Communio yuridis yang mempersatukan uskup-uskup katolik satu sama lain dan mereka semua dengan sri Paus disebut kommunio hirarkis dan mempunyai pengakuan timbal balik tentang kewajiban masing-masing yang satu terhadap yang lain.
 Communio semua Gereja partikular yang bersatu dalam Gereja Katolik yang satu itu adalah communio penuh, baik teologis maupun yuridis. Namun yang harus diperhatikan adalah communio yang penuh itu tidak menuntut keseragaman dalam tradisi kanonik, liturgis, teologis, dan spiritual.
Dari prinsip-prinsip itu, surat Konggregasi ajaran Iman menarik beberapa kesimpulan:
• Makanya Gereja Universal adalah tubuh yang terdiri dari Gereja-gereja dan oleh karena itu, gagasan communio dapat dikenakan secara analogis kepada persatuan di antara gereja-gereja partikular dan mengerti Gereja universal sebagai suatu comunio antar gereja.
• Akan tetapi tidak berarti gagasan communio antar gereja partikular dapat dipahami sedemikian rupa sehingga gagasan kesatuan Gereja diperlamahkan pada tingkat kelihatan dan isntitusional.
• Dalam setiap Gereja partikular, Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik dan apostolik benar-benar ada dan bekerja. Oleh karena itu, Gereja universal tidak dapat dimengerti sebagai jumlah atau federasi Gereja partikular.
C. Communio Eklesial dan Ekumenis
Kristus menghendaki supaya umat Allah bersatu.Namun sejak awal masa apostolik kita melihat adanya perselisihan dan perpecahan. Namun setelah memperlihatkan asal usul Gereja, konsili menegaskan “Inilahsatu-satunya Gereja Kristus yang syahadat kita akui sebagai satu, kudus, katolik dan apostolik. Gereja ini, yang dibentuk dan ditata di dunia ini sebagai satu masyarakat terdapat (subsitit) dalam gereja katolik yang persaudaraanya dibimbing oleh penggati Petrus dan para Uskup, walaupun diluar lingkupnya ditemukanbanyak unsur pengudusan dan kebenaransebagai khas Gereja Kristus, mendorong ke arah kesatuan katolik(LG8).
Sebagaimana dapat dilihat dalamteks-teks tersebut, Gereja yang didirikan Kristus tidak melulu disamakan dengan Gereja Katolik. Konsili hanya menegaskan bahwa Gereja Kristus terdapat yaitu hadir secara integral dalam gereja Katolik, akan tetapi tidak meniadakan sifat Gereja atau umat Allah pada komunitas-komunitas eklesial yang lain yang terpisah dari Gereja Katolik, bahkan diakui bahwa mereka itu memiliki unsur pengudusan dan kebenaran.
Dengan demikian kita dapat melihat bahwa Gereja adalah sebuah persekutuan umat Allah(eklesial). Akan tetapi mempunyai unsur ekumenis yaitu adanya pengakkuan bahwa dalam gereja-gereja lain, ada unsur pengudusan dan kebenaran. Gereja-gereja lain juga dipandang sebagai sarana atau sakramen keselamatan. “Maka walaupun menurut iman kita mereka memiliki cacat, Gereja-gereja dan persekutuan-persekutuan yang terpisah itu sama sekali bukan tanpa makna dan bobot dalam misteri keselamatan.Karena Roh Kristus tidak menolak untuk memanfaatkan mereka sebagai sarana penyelamatan. Tenaganya diperoleh dari kepenuhan rahmat dan kebenaran itu yang dipercayakan kepada Gereja Katolik (UR 3).
5.2 Struktur Gereja yag Hirarkis dan Karismatis
Keberdaan Gereja dipandang dalam dua segi yaitu hirarkis dan segi karsmatis. Perbedaan fungsi hirarkis di antara anggota-anggota Gereja, tidak tergantung pada fungsi-fungsi Mesias, sebab fungsi-fungsi ini dimiliki oleh semua orang beriman, melainkan tergantung pada “potestas” (kekuasaan) merayakan beberapa perbuatan mesias (perbuatan sakramental).


A. Struktur Hirarkis
Arti etimologis hirarkis diambil dari penjelasan yang diberikan oleh St. Thomas Aquinas: Ia memberikan penjelasan bahwa Hierarki hampir sama dengan kepengeran suci dari kata haeron yang berarti suci, dan kata archen yang berarti pengeran. Ada beberapa pemahaman mengenai hirarki:
o Di dalam Gereja struktur hirarkis bukan hasil suatu persetujuan atau perampasan, melainkan termasuk unsur-unsur kultural fundamnetal yang dikehendaki Kristus bagi umat Allah yang baru dan yang dianugerahkan Kristus Kepalanya.
o Susunan hierarkis Gereja merupakan suatu dogma iman yang sudah didefenisiskan secara resmi oleh Konsili Trente melawan pendirian Luther. Melawan pendirian Luther, Konsili Trente menjawab dengan tegas” jika seseorang mengatakan bahwa dalam gereja Katolik tidak ada hirarki yang terdiri atas para uskup, para imam dan para ministri, anathema sit (dikucilkan dia” Hal itu ditegaskan lagi dalam Konsili Vatikan II, dalam konstitusi dogmatik, Lumen Gentium, yang bab tiganya diperuntukan secara eksplisit bagai “hirarki Gereja”.
o Berkenan dengan strukutr Gereja pada umumnya, kita dapat menyimpulkan bahwa dua kebenaran yang perlu dipegang pasti secara dogmatikadalah;
• Asal-usul strukutur hirarkis yang ilahi
• Struktur hirarkis itu terdiri atas tiga derajat yaitu; para uskup, para imam,dan para diakon
o Berkaitan dengan dewan atau korps para Uskup. Siapakah pemimpin terdiri tinggi dalam Gereja? Pertanyaan inilah yang menimbulkan perselisihan antara orang-orang Katolik dengan orang-orang Kristen. Gereja katoliksecara dogmatik menegaskan bahwa pemimpin tertinggi berada di tangan Paus. Namun Gereja Katolik juga menegaskan bahwa puncaknya ada dua yaitu; Sri Paus dan dewan para Uskup. Hal ini lah yang kemudian memunculkan konsep collegialitas Episcourum yaitu suatu jabatan yang bersifat mewakili. Jabatan para uskup dijalankan atan nama Kristus, lewat jabatan para uskup, Kristus sendiri yang mewartakan Injil, yang menguduskan, yang memimpin orang beriman. Bersama dengan kepalanya Paus Roma, dan tak pernah tanpa kepala ini, jajaran para uskup adalah juga pemangku kekuasaan tertinggi dan penuh terhadap seluruh Gereja.
o Jabatan Para Uskup. Yesus Kristus memberikan kepada GerejaNya struktur-strukutur esensial yang diperlukan oleh setiap masyarakat manusiawi pada umumnya. Episkopat adalah “ministerium” suci yang diberikan kepada kepada penggati para Rasul yang sah lewat tahbisan meriah;bersama dengan tugas menguduskan, tahbisan Uskup juga memberikan kewajiban mengajar dan memimpin (LG 21). Mereka dipilih juga oleh komunitas, tetapi hanya melalui Roh Kudus yang diberikan kepada mereka, para uskup adalah guru iman, imam agung yang sejati dan otentik (CD 2).
o Jabatan Para Imam. Tentang imamat dan asal-usul ilahinya, KHK menetapkan serta menjelaskan sbb:
 Kan-1008: Dengan sakramen imamat menurut ketetapan ilahi beberapa orang beriman diangkat menjadi pelayan-pelayan rohani; dengan ditadnai oleh meterai yan tak terhapuskan, yakni dikuduskan dan ditugaskan untuk selaku pribadi Kristus sang Kepala, menurut tingkat-tingkat masing-masing.
 Kan-10009: Sakramen imamat meliputi epsikopat, presbiterat dan diakonat.
B. Dimensi Pneumatis dan Karismatik
Roh Kudus termasuk di antara pencipta utama Gereja, bahkan adalah pencipta yang terutama sebab Gereja adalah “communio Sanctorum, yaitu persekutuan mereka yang dikuduskan oleh rahmat Kristus berkat karya Roh Kudus. Kebenaran ini diteguhkan juga dengan jelas oleh Perjanjian Baru. Roh Kudus menjadi nyata dan “ efficax”, yaitudalam pemberian karisma-karisma dan dalam praktek nasihat-nasihat Injil.
1. Kehadiran Roh Kudus dalam Gereja
Gereja purba amat sadar akan kehadiran Roh Kudus dan akan “ efficacitas” karya-Nya di antara anggotanya. Kehadiran Roh Kudus dan karya-Nya disadari bukan hanya dalam bentuk-bentuk yang luar biasa misalnya karisma-karisma, melainkan sebagai suatu kejadian fundamental dan kontinu dalam hidup kristen. Jadi, peran utama yang Roh Kudus mainkan dalam Gereja, baik dalam struktur maupun dalam kegiatanya, nampak jelas dan tidak dapat dibantah.
2. Karisma-karisma dan Jabatan-jabatan
Istlah karisma dipungut dari bahasa Yunani (charisma) dan artinya “karunia”. Istilah ini sering dipakai oleh rasul Paulus dan kemudian oleh pengarang gerejawi. Pada umumnya , istilah karsime berarti setiap anugerah yang manusia terima dari kemurahan ilahi. Ada tiga cirikhas suatu karisma; adikodrati (yang dihasilakan oleh kekuatan Roh Kudus), sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan Gereja, demi kepentingan umum (Karisma itu tidak diberikan hanya untuk kepentingan pribadi saja, melainkan untuk kepentingan seluruh gereja.
Gereja diberikan karunia untuk merasul, bernubuat, mengajar, menasihati, membedakan bermaca-macam roh, menggembalakan dan melayani. Dengan demikian kita melihat bahwa pada hakikatnya Gereja adalah suatu realitas teandrik, yaitu terdiri atas realitas ilahi dan manusiawi. Sebagai suatu realitas manusiawi, Gereja perlu suatu struktur somatis yang kelihatan; sebagai suatu realitas ilahi, gereja adalah spiritual, adikodrati dan tak kelihatan. Maka dari itu, setiap unsur struktur hirarkis dan setiap jabatan resmi selalu disertai unsur pneumatis, yaitu kharisma yang memungkinkan jabatan tersebut dapat dijalankan.

BAB VI
MISTERI SABDA ALLAH
DAN PEWARTAANYA DALAM GEREJA

6.1 Gereja sebagai Sabda (Jawaban)
Dalam diri Yesus dari Nazareth sabda Allah tamapak secara konkret. Penampakan itu menjadi puncak dari seluruh sejarah pewahyuan sabda Allah. Setelah penampakan (penjelmaan) itu, semua sabda selanjutnya tidak bisa lain daripada menghadirkan , menghidupkan dan melayani sabda Allah. Sama seperti sebelum inkarnasi, begitu juga sesudahnya Sabda Allah tampak sebagaisebagai sabda manusiawi. Bentuk baru dari sabda itu adalah gereja. Kristus sabda Allah menciptakan Gereja lewat mana Ia bisa hadir dan berbbicara dalam sejarah manusia. Dan dipihak lain Gereja pada hakikatnya, tidak lain tidak bukan adalah jawaban atas panggilan Yesus, Sabda Allah yang menjelma. Seluruh hidup dan eksistensinya merupakan jawaban. Maka bisa dikatakan bahwa Gereja seluruhnya merupakan sabda. Di dalamnya Sabda Allah yang abada bergema. Karena itu dapat dikatakan bahwa Gereja seluruhnya merupakan pewartaan dan kesaksian tentang Yesus Kristus.
6.2 Bentuk-bentuk Sabda Allah dalam Gereja
Sabda yang merupakan hakikat Gereja, mendapat perwujudanya dalam tiga bentukyang berbeda yaitu;
1.Sabda atau pewartaan Para Rasul sebagai daya yang membangun Gereja.
Dasar dari eksisitensi Gereja adalah Yesus Kristus sebagai Sabda Allah yang menyelamatkan . Tetapi secara empiris –historis gereja dibangun oleh rasul-rasul dalam kuasa Roh Kudus.Mereka mendirikan Gereja menurut kehendak Allah berdasarkan peristiwa yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus.Karena itu mereka disebut fundamen gereja. Para rasul mempunyai peran fundamntal dalam proses pengembangan Gereja yang benih sudah ada sebelumnya.Sabda para Rasul itu bukan sekadar informasi, melainkan berdaya guna karena Kristus sendiri hadir dan bekerja di dalamnya. Sabda itu merupakan sbda Allah dalam manusia. Menurut Paulus, panggilan itu terjadai dalam penampakan Kristus yang bangkit kepada para Rasul. Sebagai dasar Gereja, sabda Rasul-rasul membawa suatu konsekuensi yaitu bahwa sabda para Rasul itu harus dipertahankan Gereja sebagi norma hidup.
2. Sabda dalam Kitab Suci sebagai Kesaksian Normatif
Pewartaan para Rasul ternyata mengalami proses peralihan kepada pewartaan Gereja. Proses itu dibarengi dengan suatu proses yang penting sekali untuk kehidupan Gereja.
a. Jadinya kanon Kitab Suci
Proses pembentukan Kitab Suci terjadi dan berlangsung selama zaman patristik. Terutama setelah Petru dan Paulus wafat. Saat itu muncul tulisan-tulisan yang berisikan pewartaan para rasul mengenai Yesus Kristus. Tulisan-tulisan itudikumpulkan gereja dalam proses yang agak lama. Proses pembentukan kanon baru selesai pada akhir abad IV. Sebelumnya masih ada beberapa tulisan yang dipersoalkan. Kriterinya adalah kepengarangannya yaitu apakah para Rasul atau tidak. Ada sebuah kriteria apostolik. Kriteria ini menjadi pedoman atau norma pembentukan kanon Kitab Suci. Dengan demikian wahyu Yesus Kristus berakhir atau selesai dengan kematian Rasul terakhir.
b. Kitab Suci dan Gereja
Bagaimana hubungan antara Gereja dan Kitab Suci. Jelas bahwa Kitab Suci merupakan pedoman normatif untuk hidup dan pewartaan Gereja. Dalam Kitab suci kita menemukan wahyu Allah dalam cermin iman jemaat-jemaat perdana. Gereja menghasilakan Kitab Suci sebagai pengungkapan imannya. Tetapi imanya itu berasal dan secara fundamental bergantung pada pewartaan para Rasul. Karena itu, Gereja, selalu mendengarkan Kitab Suci dan berorientasi kepadanya sebagai norma. Namun, Kitab Suci tidak menafsirkan dirinya sendiri. Kitab suci membutuhkan pewartaan aktual Gerejadan tafsiran resmi gereja.
c. Inspirasi Alkitab
Teori mengenai inspirasi Kitab Suci sudah tua sekalidalam Gereja. Pada permulaan inspirasi itu dijelaskan dengan bahwa Sabda Allah adalah aktor atau penyebab dari Kitab Suci. Lama kelamaan Allah dengan semakin tegas dianggap sebagai penyebab literalis sebagai pengarang dari tulisan-tulisan itu. Gagasan ini ditolak Gereja. Ajaran resmi Gereja mengajarkan bahwa pengrang mamnusiwi adalah sungguh-sungguh pengarang dan tulisan itu dilihat sebagai karyanya.
Paus Leo XIII dalam ensiklik providentissmus Deus tahun 1893, menggambarkan bahwa “dengan kekuatan-Nya yang atas kodrati, Dia (Roh Kudus) mendorong dan menggerakan mereka(pengarang-pengarang) untuk menulis dan membantu mereka sementara menulis sedemikian, sehingga mereka menangkap secara benar di dalam akalnya, ingin menulis dengan setia dan mengunkapkan secara tepat dalam kebenaran yang tidak dapat sesat, semua hal dan hanya hal-hal yang Dia sendiri perintahkan; kalau tidak demikian, tidak mengkin ia sendiri adalah pengarang dari Kitab Suci seluruhnya” (ND 227).
d. Sabda Allah Pewartaan Aktual Gereja pada setiap zaman
Ada perbedaan antara sabda Allah dalam Alkitab dan Sabda Allah dalam kotbah dan pewartaan aktual Gereja. Oleh karena wahyuselesai dengan kematian rasul, dasar normatifsudah diletakan. Segala pewartaan selanjutnya bergantung dari normaitu; tugas pewartaan tidak lain daripada mengaktualisasikan apa yang disampaikan Allah dalam Kristus sebagaimana diwartakan para rasul. Sabda Allahsungguh datangkepada manusia dan menyelamatkan setiap orang yang mendengarkan pewartaan Gereja.
Pewartaan Sabda Allah oleh Gereja, bukan hanya sekadar informasi mengenai Allah dan Yesus Kristus, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Kristus yang mulia. Salah satu cara untuk mengatualisasikan Sabda Allah di dalam Gereja yaitu pembacaan Kitab Suci secara resmi dan publik di dalam liturgi. Sabda Allah yang tetap dan sama dimasukan ke dalam situasi konkret dari zaman tertentu melalui kotbah. Dalam kotbah, Sabda Allah disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok umat tertentu. Oleh kesaksian pribadi dari seorang manusia yang ditugaskan secara resmi, Sabda Allah mendapat nada dan warna aktual.
Di dalam dan melalui kotbah, aktualitas yang dimiliki Sabda Allah seolah-olah dibebaskan. Jadi, dalam kotbah Sabda Allah mendatangi kita dalam perkataan manusia, menyerahkan dan merendahkan diri kepada kemampuan dan kerelaan manusia yang lemah. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah kepribadian dan kelayakan seorang pengkotbah. Tidak seorang pun bisa menjadi pewarta Sabda Allah atas inisiatif sendiri dan kuasanya sendiri. Sebab yang paling dalam dan penting bagi seorang untuk bisa memaklumkan Sabda Allah dalam kotbah terletak pada pemberian kuasa melalui panggilan dan perutusan Kristus.

@@@@@@@@@@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar